Sebuah kisah menarik....☺☺👍👍
Rajab Ambarawa tidak bisa melupakan masa lalu yang ia cintai yaitu Sofia yang sudah tiada meninggalkan nya. dua tahun berlalu kehidupan Rajab harus berjalan lanjut yaitu menikah dengan Luna seorang model terkenal di kotanya. Keinginan Oma yang harus Rajab turuti.
Kemudian sang adik Sofia kembali ke keluarga nya dimana dirinya akan membalas kan dendam kematian kakaknya yang sudah tiada. tindakan Vendra mendekati Luna Calon istri Rajab untuk mencari tahu kebenaran yang ada untuk minta keadilan.
Pertemuan mereka akan memulai hal menarik saling selisih antara saudara dan pertemanan saling salah paham terutama pada Vendra, Elisa dan Kasih tiga wanita memiliki sifat Antagonis merebutkan keinginan dari Rajab dan Luna...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon as2357zzjdj, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 KENANGAN TAK TERLUPA KAN
DUA TAHUN YANG LALU...
Dengan kening saling menempel, Rajab mengamati jemari tangannya, Sofia. yang bebas menelusuri pola-pola bertinta di lengan Rajab. Rajab memiringkan kepala dan mencium bibir Sofia, lidahnya menggoda. Sofia senang memainkan saat mereka berciuman, dan cemberut saat Rajab memberitahu bahwa dirinya harus melepaskannya.
"Aku mencintaimu". Rajab berkata mendesah di bibir Sofia.
Mata mereka bertemu dan tangan Rajab naik untuk membelai wajah Sofia.
Sofia memandang dengan arti ia mengungkapkan tanpa suara. dirinya siap menyatakan itu padanya, tetapi tidak yakin bagaimana caranya. itu bukan sesuatu yang pernah Sofia katakan pada seorang pria tampan di depannya ini.
"mengapa? hanya mencintai ku? ". suara nada lembut Sofia rasanya konyol harus mengatakan seperti itu, rasanya salah.
Senyum manis di bibir Rajab, sedikit menjauh dari pandangan nya dan berkata_____
" karena kamu satu-satunya wanita yang pernah aku temui". senyuman Rajab semakin manis merasa bahagia bersama Sofia, ia tarik dan peluk tubuh Sofia dengan hangat dan nyaman, Sofia membalas peluk Rajab ia begitu erat dan nyaman
Di masa sekarang...
Membayangkan masa lalu dua tahu lalu bersama Sofia sesuatu hal yang paling indah tak pernah di lupakan baginya. Rajab melamun duduk depan meja kerja di ruang kantor nya sembari membayangkan Sofia wajah cantik dan tersenyum indah di bibir nya.
Tubuh punggung Rajab menyender di kursi yang ia duduk sembari membayangkan Sofia tanpa henti.
Tok
Tok
Tok
Saat membayangkan wajah Sofia, dirinya tersadar oleh suara ketokan pintu dari seseorang.
"Masuk!! ". Sahut nada berat
Seorang karyawan perempuan datang dengan membawa sebuah berkas hitam di tangan kanannya. Dia melangkah menghampiri Rajab yang terdiam duduk.
" maaf, Bos! ini ada berkas yang harus di tanda tangan nin ". Ucap nya memberikan berkas itu pada Rajab. Rajab pun mengmbil berkas di tangan dia dan membuka lembaran.
" Pak bos!! boleh tanya enggak?? ". Dia bertanya pada Rajab dengan senyum
" hmmm! ". Jawab Rajab dingin yang hanya melihat berkas itu dengan teliti
"Pak bos! mau datang di acara nya. Kak luna? ". Rasa penasaran bergejolak di perasaannya rasa ingin tahu harus dapatkan info itu.
" Apa itu penting? ". Setelah selesai tanda tangan di berkas, Rajab memberikan berkas pada dia dan berkata____." dari pada kepo! sana kerja! ". Perintah Rajab dengan tatapan mata datar pada dia. Dia pun mengangguk kepala dengan rasa malu dan tidak enak. Dia melangkah pergi meninggalkan ruang kantor Rajab.
Berdering
Setelah karyawan nya pergi, ponsel Rajab berdering, ia ambil ponsel di atas meja samping nya, langsung ia angkat telepon dari Omanya.
"iya, oma! ". Jawab Rajab dari dalam telepon
" besok bersama oma akan datang ke acara luna iya! ". Ujar oma
" iya oma! ". Perasaan berat yang tidak ingin hadir di acara luna, namun terpaksa Rajab turuti kemauan omanya. Rajab tutup telepon dari omanya dan meletakkan di atas meja.
Kemudian, Rajab melangkah di lorong setiap melewati ruang kantor bersama seorang teman prianya. yaitu Zurich, mereka berdua akan makan siang di luar kantor, melangkah memasuki lift
"Gimana hubungan kamu sama luna?? ada perkembangan nya..? ". Zurich merasa kasian terhadap Rajab yang masih merenung kehilangan seseorang dalam hidup dia. bukan karena penasaran tapi ingin memastikan perasaan Rajab bisa moveon dari masa lalu itu.
" begitu lah! ". Jawaban Rajab begitu datar tidak ada reaksi sama sekali seakan-akan tidak ada nyawa tapi tubuh nya yang hidup.
Ting
Pintu lift terbuka, mereka berdua keluar dari dalam lift melangkah di area gedung kantor.
" Rajab!! aku tidak ingin hidupmu seperti ini terus, aku khawatir dengan mu! ". Ujar Zurich melangkah bersama keluar gedung kantor, ia merasa pedih harus melihat keadaan Rajab jauh berbeda dari sebelumnya
"mengapa, harus peduli padaku? urus saja hidup mu saja! ". Minta Rajab melangkah bersama membelok satu tangan Rajab sudah berada di dalam saku celana.
" sudah lah... kamu memang seperti itu! ". Jawab Zurich merasa lelah harus menasehati teman nya yang masih keras batu.
mereka berdua melangkah masuk ke dalam resto sembari melihat mencari tempat duduk, Mereka berdua menemukan tempat duduk melangkah menghampiri meja itu dekat jendela kaca. Sampai di meja yang mereka ingin kan, kini mereka berdua duduk berhadapan. Tidak lama seorang karyawan resto prempuan datang membawa buku menu
"Silahkan! ". Dia meletakkan buku menu di atas meja depan mereka.
Rajab ambil buku menu melihat-lihat apa saja yang ia akan pesan makanan. Tidak cukup lama melihat-lihat.
" Saya mau pesan yang ini dan ini iya!! ". Rajab tunjukin apa yang ia mau pada karyawan resto.
" saya samain saja! ". Minta Zurich sembari memberikan buku menu pada karyawan resto.
" baik di tunggu! ". Jawabnya langsung melangkah pergi.
Sambil menunggu pesanan makanan mereka datang, Rajab mengecek ponsel.
" Rajab! coba kamu cari wanita lain dengan pilihan dirimu". Zurich memiliki ide terhadap Rajab agar Rajab tidak di jodoh kan tidak harus mengikuti keinginan oma nya, Rajab.
"Tidak mudah di bayangkan, aku tidak mau! ". Jawab Rajab menegaskan pada Zurich bahwa dirinya tidak tertarik mencari wanita.
Tidak lama kemudian pesan makanan mereka datang, karyawan resto itu meletakkan makanan mereka di atas meja mereka.
*****
*****
Paginya kini vendra berpelukan hangat pada kedua orang tuanya di setasiun kereta api, dirinya akan pamit pergi meninggalkan kedua orang tuanya lagi. Vendra merasa berat harus meninggalkan mereka berdua.
"kamu hati-hati iya di sana! ". Ucap Vena pada anaknya dengan raut wajah sedih yang harus berpisah kembali.
" iya! tenang saja ibu! ya sudah aku mau naik, ayah ibu! ". Pamit vendra pada kedua orang tuanya, ia melangkah naik sembari melambai kan tangan untuk perpisahan.
Buzzzzz
Tuuuddd
Suara sirine terdengar jelas yang artinya siap untuk berangkat jalan. Tampaknya vendra duduk di samping jendela kaca, kereta api pun berlahan jalan, terlihat vendra nongol di balik jendela kaca sembari melambai kan tangan berpisahan pada kedua orang tuanya dengan raut wajah sedih.
vendra menatap kedua orang tua dari kejauhan, mengamati mereka semakin kecil. kereta api semakin cepat meninggalkan setasiun. vendra kembali duduk dengan benar, lalu mengeluarkan ponsel nya di saku baju, ia pun menelepon seseorang.
"hallo, jemput aku di stasiun yang aku katakan! ". Perintah vendra dari dalam telepon pada seseorang. vendra langsung menutup telepon.
Tidak lama akhirnya kereta api berhasil di stasiun tidak jauh dari stasiun sebelum nya. vendra turun dari dalam kereta terlihat Denis menunggu vendra.
Ternyata vendra membohongi kedua orang tuanya dirinya tidak akan pergi ke luar kota melainkan akan kembali untuk minta keadilan. Vendra melangkah menghampiri Denis.
"apa kamu yakin!? ". Tanya Denis meragukan apa yang di rencana kan vendra.
" sudah.. jangan terlalu berfikir. pesan aku hotel ". Minta vendra pada Denis. mereka berdua pun melangkah jalan pergi meninggalkan stasiun kereta.