NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:402
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 24

Ketiga orang teliksandi itu terkejut hingga bergerak mundur beberapa langkah. Mereka tidak menyangka bisa ketahuan dengan begitu cepat.

"Kenapa kalian terkejut seperti itu? Siapa yang memberi kalian perintah untuk mengawasiku?" tanya Dharmaseta.

Ketiga orang teliksandi itu diam dan saling berpandangan satu sama lain. Mereka bingung harus berbuat apa untuk menjauhi masalah, bahkan menjauhkan mereka dari kematian. Melawan jelas merupakan suatu hal yang sia-sia, mengingat sosok yang berdiri di depan meraka saat ini adalah mantan Senopati Agung yang secara kekuatan jelas jauh di atas mereka bertiga.

"Sebagai Teliksandi istana, kalian terlalu bodoh dan gegabah! Apa kalian lupa siapa orang yang kalian awasi saat ini? Aku yang mengajari semua ilmu dan kemampuan yang kalian miliki, dan sekarang kalian ingin menerapkannya padaku?"

Menelan ludah, hanya itu yang bisa mereka lakukan saat ini. Lutut mereka bergetar kuat didera ketakutan yang teramat sangat.

"Kami hanya melaksanakan perintah yang diberikan Tuan Senopati Jalaksora, Tuan Dharma." Akhirnya salah seorang teliksandi itu memberanikan diri untuk bersuara.

"Atas dasar apa!?" bentak Dharmaseta.

"Paduka curiga jika Tuan membelot dan memberitahu rencana penyerangan kerajaan Kanjuruhan kepada Raja Gajayana!"

"Bajingan kau Barawijaya!" umpat Dharmaseta geram. Tak sedikitpun ada dalam pikirannya jika dia akan dicurigai sebagai penghianat. Seolah semua jasanya kepada kerajaan Gandara tidak ada artinya sama sekali.

"Aku tahu kalian bertiga hanya seorang bawahan dan wajib mematuhi perintah pemimpin. Tapi kalian juga pasti tahu apa resiko terburuk menjadi bawahan?" Tatapan Dharmaseta tajam melucuti keberanian yang dimiliki 3 teliksandi di depannya.

Dharmaseta mencabut golok yang sedianya akan digunakannya untuk memotong kayu, lalu mengarahkannya kepada 3 orang teliksandi di depannya. "Kalian harus mati di sini!" ucapnya dingin.

Ketiga teliksandi itu bergidik ketakutan. Tapi mereka harus melawan jika tidak mau mati sia-sia. Pedang yang tergantung di pinggang pun akhirnya mereka keluarkan dari sarungnya.

Pertarungan pun tak terhindarkan. Tidak pernah ada dalam bayangan Dharmaseta jika harus membunuh prajurit kerajaan Gandara. Namun hari ini dia harus melakukannya, karena apa yang mereka bertiga lakukan telah membuatnya sakit hati.

Usia 60 tahun nyatanya tidak membuat pergerakan Dharmaseta menurun. Bahkan dengan semakin matangnya usianya, semakin matang pula pengalamannya. Belasan pertempuran sudah dijalaninya dengan posisi sebagai panglima perang. tentunya menghadapi 3 orang teliksandi saja bukan menjadi suatu masalah berarti buatnya.

Tingginya kemampuan ilmu kanuragan akhirnya menjadi pembeda, Dharmaseta tanpa kesulitan berhasil membunuh ketiga teliksandi itu bahkan tanpa perlu keluar keringat. Dia membiarkan jasad mereka bergeletakan di tanah dengan harapan akan dimakan binatang buas yang hidup di dalam hutan.

Dharmaseta tiba-tiba teringat akan anak dan istrinya. Dia berlari cepat meninggalkan tempat itu menuju rumahnya. Pikirannya dipenuhi rasa was-was dan ketakutan, jika anak istrinya menjadi korban dari keputusannya meninggalkan istana dan jabatannya.

Sesampainya di rumah, Dharmaseta akhirnya bisa bernafas lega. Nafasnya yang memburu menjadi pertanyaan dalam benak istrinya.

"Kakang kenapa cepat kembali? Mana kayu bakarnya?"

Tidak mau membuat istrinya ketakutan, Dharmaseta pun berbohong jika dia masih kangen dengan anak dan istrinya.

Sementara itu di atas sebuah pohon yang tinggi dan letaknya tidak jauh dari rumah Dharmaseta, dua orang teliksandi lainnya dibuat bertanya-tanya setelah mereka melihat Dharmaseta sudah kembali.

Setelah menunggu cukup lama dan tak terlihat 3 orang teman mereka ikut kembali mengikuti Dharmaseta, mereka berdua memutuskan untuk mencari ketiga temannya.

Tak pernah ada dalam firasat mereka berdua jika ketiga temannya sudah tidak bernyawa. Pada akhirnya, keterkejutan yang besar pun tercetak di raut wajah kedua teliksandi itu setelah jasad ketiga temannya sudah terbujur kaku tidak bernyawa.

"Sepertinya mereka terpergok dan akhirnya dibunuh Tuan Dharmaseta. Kita harus melaporkan hal ini kepada Tuan Senopati," ucap seorang dari mereka berdua.

"Kau benar. Kita harus pergi ke istana sekarang juga." sahut temannya.

Sementara itu di istana kerajaan Kanjuruhan, Arya terus melatih jurus kedua yang ada dalam kitab Cambuk Api. Pemuda berambut kemerahan tersebut berlatih dengan keras siang dan malam tanpa merasa lelah.

Arya bisa merasakan besarnya perbedaan dalam mempelajari jurus kedua setelah dia berhasil menguasai jurus pertama. Jurus kedua memerlukan waktu yang cukup lama untuk menguasainya karena begitu banyak gerakan yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan, serta pengerahan kekuatan tenaga dalam yang tidak sedikit.

Tanpa terasa, waktu berjalan hingga satu bulan lamanya. Arya sedikit lagi akan bisa menguasai jurus kedua, dan itu berarti dia sudah satu langkah lebih maju untuk menguasai semua jurus yang ada dalam kitab Cambuk Api.

Dalam latihan terakhirnya untuk menguasai jurus kedua, Cambuk Inti Api Neraka, kerusakan parah terjadi di tempat latihan yang dilakukan Arya.

Beberapa bangunan yang terbuat dari kayu, terbakar terkena imbas panasnya api yang dikeluarkan Arya. Rerumputan yang tumbuh di tanah lapang tersebut juga bernasib sama, mengering dan kemudian terbakar.

Putri Citra yang kebetulan baru datang untuk menonton Arya berlatih, berteriak sekencang-kencangnya memanggil prajurit untuk memadamkan api yang sudah berkobar.

Dari jarak sedikit jauh, mata gadis cantik tersebut berkeliling untuk mencari keberadaan Arya di antara kobaran api yang membakar rumput dan juga bangunan. Namun asap tebal yang mengepul membuatnya kesulitan untuk melihat lebih jelas. Dia hanya bisa menunggu sampai para prajurit memadamkan kobaran api yang hampir saja merembet ke bangunan utama istana.

Di antara kepulan asap yang tebal, Arya berjalan keluar setelah meditasi yang dilakukannya selesai. Dia tidak menyangka jika apa yang dilakukannya sudah membuat tempatnya berlatih itu mengalami kerusakan parah.

Putri Citra berlari hendak menyambut keluarnya Arya dari tempat tersebut. Namun dia tiba-tiba bergerak mundur karena tubuh Arya masih memancarkan hawa panas yang tinggi.

Pemuda berambut kemerahan itu sadar, lalu berkonsentrasi untuk mendinginkan tubuhnya. Dia sendiri merasa heran karena tidak merasakan dampak panas yang terjadi, tapi kenapa orang lain bisa merasakannya?

Keesokan harinya, Arya meminta ijin kepada Raja Gajayana dan juga putri Citra untuk pergi beberapa lama. Dia harus mencari tempat yang jauh dari pemukiman dan juga hutan agar tidak terjadi kerusakan dampak dari latihannya.

Setelah berpikir beberapa saat, Raja Gajayana memberi usul agar Arya berlatih di suatu tempat yang lumayan jauh. Tempatnya berbatu dan gersang serta terletak di atas bukit tandus.

Arya menyetujui usul Raja Gajayana. Dengan diantar dua orang prajurit, pemuda itu memacu kudanya cepat menuju tempat yang diusulkan Raja Gajayana.

Tidak sesuai bayangan Arya, tempat yang ditujunya ternyata memakan waktu hingga 5 hari lamanya. Beruntung dia memiliki ingatan yang kuat, dan tak perlu takut tersesat jika kembali menuju istana kerajaan Kanjuruhan.

Setelah mengantarkan Arya, kedua prajurit itu kembali menuju istana.

Tidak mau membuang waktu lebih lama, Arya membuka kitab Cambuk Api dan mulai menghapalkan jurus ketiga yang harus dikuasainya.

Waktu berjalan begitu cepat. Tanpa terasa hampir satu bulan lamanya Arya berlatih sendirian di tempat yang gersang dan tidak tersentuh kehidupan. Pemuda itu berlatih begitu giat untuk menyelesaikan tahap akhir jurus pedang Cambuk Api yang tingkat kesulitannya lebih tinggi dari pada dua jurus sebelumnya.

Di suatu siang, latihan yang dilakukan Arya harus terhenti, ketika telinganya menangkap adanya jeritan suara wanita yang bersahutan dengan dentingan suara logam yang beradu.

Pemuda tersebut memutuskan untuk menghentikan latihannya, dan berlari cepat menuju sumber suara yang berasal dari bawah bukit tempatnya berlatih.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!