Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Sepulang kerja, Aurel tidak langsung menuju rumah. Ia sengaja mengalihkan arah mobilnya ke sebuah supermarket.
Persediaan pakaian Raka yang berada di rumah orang tuanya mulai berkurang. Selain itu, ada beberapa kebutuhan mandi dan makanan ringan yang perlu dibeli.
Sesederhana apa pun alasannya Aurel memang belum sanggup pulang ke rumahnya. Rumah itu masih dipenuhi kenangan. Setiap sudutnya mengingatkannya pada Mahesa. Dan saat ini, ia belum siap jika harus bertemu dengan Mahesa.
Aurel mendorong troli perlahan menyusuri lorong-lorong supermarket. Tangannya sibuk memilih sabun, pasta gigi, susu, hingga camilan kesukaan Raka.
Sesekali Aurel membuka daftar belanja di ponselnya agar tidak ada yang terlewat.
Saat hendak berbelok ke lorong kebutuhan rumah tangga, langkahnya mendadak terhenti. Beberapa meter di depan Aurel. Seorang perempuan yang sangat dikenalnya sedang memilih kopi di rak. Dia adalah Najwa.
Aurel mengembuskan napas lega. Ia baru saja hendak menghampiri sahabatnya itu. Namun, sebelum sempat melangkah, matanya menangkap sosok lain yang berdiri tidak jauh dari Najwa. Yaitu Kayla.
Jantung Aurel seolah berhenti berdetak. Dalam sekejap, berbagai kenangan pahit kembali memenuhi kepalanya. Wajah Kayla yang menangis sambil mengaku telah menjalin hubungan dengan Mahesa. Alat tes kehamilan yang diletakkan di atas meja. Ucapan bahwa perselingkuhan itu telah berlangsung selama tujuh tahun. Semuanya berputar tanpa henti di dalam pikiran Aurel.
Refleks Aurel memalingkan wajah. Ia mendorong troli ke arah lain. Ia tidak ingin bertemu. Tidak ingin berbicara. Bahkan tidak ingin saling bertatap mata. Baginya, luka itu masih terlalu baru.
Namun takdir seolah memiliki rencana lain. Di saat Aurel berusaha menghindar. Justru Kayla yang lebih dulu melihat Najwa.
"Wah, Najwa?" Kayla tersenyum sambil melangkah mendekat.
Najwa yang sedang memilih barang langsung menoleh. "Kayla?" Sapanya singkat.
"Ya ampun, lama banget nggak ketemu." Kayla mencoba bersikap senatural mungkin.
Najwa membalas dengan senyum tipis. "Iya."
Belum sempat percakapan berlanjut, Najwa menangkap sosok Aurel yang berdiri beberapa meter di belakang Kayla.
Tatapan mereka bertemu. Najwa langsung memahami keadaan. Aurel hanya menggeleng pelan. Isyarat sederhana yang berarti. Aku tidak ingin terlibat.
Najwa mengerti. Ia kembali mengalihkan pandangan kepada Kayla.
"Kamu belanja juga?" tanya Najwa.
"Iya." Kayla tertawa kecil.
"Lagi cari beberapa kebutuhan." Tatapan Kayla kemudian bergerak ke samping.
Baru saat itulah Kayla menyadari seseorang yang sejak tadi berusaha menghindarinya. Yaitu Aurel.
Senyum Kayla perlahan memudar. Sedangkan Aurel menggenggam erat pegangan troli. Tak satu pun dari mereka mengucapkan sepatah kata.
Jarak beberapa meter itu terasa begitu jauh. Namun juga terasa begitu sesak. Najwa berdiri di antara keduanya. Ia menyadari bahwa pertemuan ini bukan lagi sekadar kebetulan. Melainkan awal dari sebuah percakapan yang bisa membuka luka yang belum sempat sembuh.
Suara ponsel Najwa tiba-tiba memecah keheningan. Najwa melihat nama yang muncul di layar, lalu menghela napas pelan.
"Maaf." Najwa menatap Aurel dan Kayla bergantian.
"Aku harus angkat ini." Najwa berjalan beberapa langkah menjauh.
Namun raut wajah Najwa perlahan berubah serius. "Iya... sekarang?"
"Baik, saya ke sana."
Panggilan itu berakhir. Najwa kembali menghampiri Kayla dan Aurel.
"Rel, maaf. Ada klien yang harus segera aku temui. Keadaannya mendesak."
Aurel mengangguk pelan. "Nggak apa-apa, Wa."
Najwa sempat menatap Kayla beberapa saat, lalu kembali kepada Aurel.
"Kalau ada apa-apa, telepon aku."
"Iya." jawab Aurel.
Najwa pun pergi meninggalkan lorong supermarket.
Kini..Tinggallah Aurel dan Kayla. Dua perempuan yang dulu begitu akrab. Namun kini berdiri seperti dua orang asing.
Aurel memilih kembali mendorong troli. Baginya, tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Semuanya sudah selesai.
"Aurel."
Suara Kayla menghentikan langkahnya. Aurel tidak menoleh.
"Aku lagi nggak ingin ngobrol." jawab Aurel.
"Tapi aku ingin ngomong." kata Kayla.
Aurel mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya berbalik. "Apa?"
Kayla berdiri tegak. Entah untuk menyembunyikan gugup atau memang ingin terlihat percaya diri.
"Aku cuma mau kasih tahu."
"Aku dan Mahesa akan segera menikah."
Aurel tidak bereaksi. Wajahnya tetap tenang.
Kayla kembali melanjutkan. "Orang tua Mahesa juga sudah setuju." Kalimat itu sengaja diucapkan dengan penuh keyakinan. Seolah berharap melihat Aurel marah. Atau menangis. Atau setidaknya kehilangan kendali.
Namun..Yang terjadi justru sebaliknya. Aurel hanya menatap Kayla beberapa detik.
Tatapannya datar. Tidak ada kebencian. Tidak pula kemarahan.
"Terserah kamu." Jawab Aurel singkat.
Kayla sedikit terkejut.
Aurel melanjutkan dengan nada yang tetap tenang. "Kalau memang itu yang kamu inginkan...selamat."
Kayla mengernyit. Ia tidak menyangka akan mendapat respons seperti itu.
Aurel menggenggam pegangan troli lebih erat.
"Lagipula..."
"...anakmu nanti memang butuh sosok ayah."
Kalimat Aurel membuat Kayla sedikit mengangkat dagunya.
Namun sebelum Kayla sempat berkata apa-apa, Aurel kembali berbicara.
"Tapi..."
"...anakku tidak butuh sosok ayah seperti Mahesa." lanjut Aurel yang membuat Kayla terdiam.
Suasana mendadak hening. Kayla membeku. Aurel tidak meninggikan suara. Tidak menghina. Tidak mencaci. Namun setiap kata yang keluar terasa jauh lebih tajam.
Aurel menatap Kayla dengan tenang.
"Raka berhak punya ayah."
"Tapi dia juga berhak tumbuh tanpa melihat ibunya terus disakiti." kata Aurel lagi.
Kayla kehilangan kata-kata. Selama ini ia mengira Aurel akan memohon agar Mahesa kembali. Atau menunjukkan bahwa ia masih ingin mempertahankan rumah tangganya.
Nyatanya..Perempuan di hadapannya justru sedang belajar melepaskan.
Aurel menarik troli pelan.
"Sekali lagi..."
"Selamat kalau memang itu pilihan kalian."
"Lain kali, kita tidak perlu saling menyapa lagi."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Aurel berbalik dan berjalan menuju kasir.
Aurel tidak sekali pun menoleh ke belakang.
Sementara Kayla masih berdiri di tempatnya. Semua kalimat yang telah ia siapkan seolah lenyap begitu saja.
Kayla datang dengan keyakinan bahwa dirinya telah menang. Namun hanya dengan beberapa kalimat yang diucapkan Aurel tanpa emosi. Kayla justru merasa seperti orang yang kalah telak. Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya dalam hati Apakah benar ia telah memenangkan sesuatu?
Aurel merasa puas melihat Kayla yang kalah telak, bagi Aurel pria yang sudah berkhianat pasti akan terus berkhianat, meskipun Aurel cinta dan sayang ke Mahesa, tapi apa yang dilakukan Mahesa sudah cukup bagi Aurel, luka yang dibuat Mahesa terlalu dalam.