"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.16. Ruangan itu.
Kara, Usi dan Caca memposisikan tubuh mereka di ranjang dengan Caca yang mereka tempatkan di tengah - tengah.. Usi dan Caca sudah memejamkan matanya, tidur. Sementara Kara, dia masih memikirkan apa yang baru saja Usi katakan padanya mengenai Nurma yang di anggap aneh di mata Usi.
FLASHBACK ON..
''Aku nggak tau kita yang masuk ke alam lain atau dia yang masuk ke alam kita, Ra.. tapi aku merasa teh Nurma itu bukan manusia." Ucap Usi dengan wajah serius.
"Sejak awal aku ketemu dia, aku udah ngerasa aneh.. dan tadi aku lihat dia lagi, aku makin yakin. Aku memang nggak begitu tajam, tapi memang dia terlalu janggal. Coba kamu ingat - ingat.. dia nggak pernah ketahuan kapan datang nya dan perginya." Ucap Usi lagi.
"Dan aku saranin, kamu tanya langsung sama Putri.. bener nggak dia punya kakak perempuan, atau bener nggak teh Nurma itu kakak nya Putri." Imbuh Usi lagi, dan Kara hanya bisa diam mendengar itu.
FLASHBACK OFF..
Kara akhir nya tidak bisa sama sekali tidur dan terus - terusan memikirkan semua ucapan Usi, memang benar Nurma sangat aneh.. Kara pun merasakan nya. Hanya saja Kara selama ini hanya bisa menelan bulat - bulat keraguan nya itu dan memilih untuk berpikir positif, tapi setelah di telaah lagi.. memang benar - benar semua nya terasa janggal.
Kara bangun dari ranjang nya dan kemudian dia berjalan menuju ke arah jendela, dia melihat dari sana.. melihat ke arah bangunan yang di sebelah. Kara melihat jam di hp nya dan itu sudah menunjukan pukul 23.55. Yang mana sebentar lagi.. jam ding dong di lantai satu akan berbunyi.
'Kalo bener memang ada yang salah.. apa mungkin ada rahasia yang nggak aku tau dari rumah kakek?' Batin Kara.
Dan secara tiba - tiba.. tanpa Kara berpikir dua kali, dia keluar dari kamar nya dan menuruni tangga dalam keadaan gelap - gelapan. Kara mengesampingkan rasa takut nya dan lebih penasaran dengan semua teka - teki atas hal ganjil yang selalu terjadi setelah ding dong jam 12 malam berakhir. Kara membuka pintu utama dan dia keluar di teras, dia tidak melihat ada siapapun di sana.
'Bentar lagi jam itu bunyi, jadi pasti bentar lagi orang yang pake baju hitam itu juga dateng.' Batin Kara, dia mengendap - endap dan sembunyi di pilar rumah yang tertutup juga dengan tanaman.
Dan benar.. jam pun akhir nya berbunyi, Kara menghitung jumlah suara ding dong yang berbunyi sambil mata nya melihat kesana kemari.. mencari orang yang berpakaian serba hitam yang sudah beberapa malam itu dia lihat.
'Itu dia..' Kara melihat ada orang yang menggunakan pakaian serba hitam, dia berjalan masuk ke bangunan sebelah dan Kara langsung mengikutinya.
Dan karena Kara melihat pintu itu nyaris tertutup, dia menyelinap masuk kedalam ruangan di bangunan sebelah, dan sekarang dia sudah berada di dalam ruangan itu. Kara terdiam saat dia menyadari pada akhir nya dia bisa masuk ke dalam, dan saat itulah jantung Kara nyaris copot saat dia mendengar suara teriakan perempuan yang sering dia dengar.
"AAARGGHHHH!!!"
"AAAARRGHH!! SAKITT!!!"
Ternyata, Teriakan itu berasal dari ruangan itu. Kara gemetar sambil menelan ludah nya dengan susah payah dan menahan isakan tangis nya karena saat ini Kara benar - benar ingin menangis.
"AAARGGHH!!"
Kara berjalan mengikuti arah suara itu, ternyata suara nya semakin masuk ke dalam dan ternyata juga di dalam ruangan itu ada sebuah anak tangga yang menuju ke bawah. Tapi di bawah sana sangat gelap, Kara mengepalkan tangan nya ragu - ragu.. tapi di hatinya berkata jika perempuan itu sedang terluka atau sedang dalam kesulitan, mungkin dia bisa menolong nya.
Kara pun menelan ludah nya dan memberanikan dirinya untuk akhir nya dia turun ke bawah, pelan dia menuruni anak tangga itu.. di sana juga pintu nya tidak begitu tertutup rapat sehingga suara teriakan perempuan itu terdengar sangat melengking.
"AAARGH!! AMPUN! AMPUN!"
Kara memberanikan dirinya mengintip, dan ternyata.. di dalam ruangan itu ada aktivitas. Ada beberapa orang yang menggunakan pakaian serba hitam yang tidak bisa Kara lihat dengan jelas wajah nya, mereka sedang mengelilingi meja hitam bundar, Kara bisa melihat ada seorang perempuan yang sedang meronta di tengah - tengah mereka.
Kara bisa tahu itu perempuan karena rambut nya panjang dan tentu saja dari suara nya, suara yang terus berteriak itu.. adalah suara wanita yang sedang berada di tengah meja yang sedang di kelilingi oleh beberapa laki - laki. Lalu tak lama, Kara melihat ada seorang laki - laki yang datang membawa sebilah kapak.. dia menghampiri meja dan tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan.. dengan satu ayunan kapak, suara perempuan itu berhenti.
"Hhh! Hhh!" Kara menutup mulut nya dengan mata yang berkaca - kaca..
Kara gemetar, dia ikut lemas setelah dia melihat tangan dari perempuan yang ada di atas meja itu juga terkulai lemas menggantung, darah lalu menetes dari ujung jari - jari tangan perempuan itu. Saat itulah Kara.. pingsan!
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Kara bangun dan langsung terkesiap setelah dia sadar, Dia mengira dia masih berada di tempat yang sama saat dia jatuh pingsan dan langsung panik menoleh kesana kemari. Tapi ternyata dia sudah berada di ruang tamu di bangunan utama.
"Teteh nggak apa - apa?" Tanya Putri, rupanya Putri sudah sampai.
"Hhh!!" Kara malah terkejut saat Putri menyentuh nya.
"Putri!?" Gumam Kara, Putri pun mengangguk - angguk dengan kebingungan.
"Teteh kenapa? Kok teteh bisa ke kunci di dalam ruangan sebelah?" Tanya Putri, mendengar itu.. Kara pun terdiam dan menatap Putri dengan wajah bertanya - tanya.
"Aku kekunci?" Tanya Kara balik, karena dia ingat dia mengikuti orang berpakaian hitam yang masuk dengan cara membuka pintu.
"Iya, Putri teh panik nyari teteh sama temen - temen teteh kemana.. Pas Putri nggak sengaja lewat samping sana, Putri teh lihat teteh kegeletak di dalam." Ucap Putri, Kara kebingungan tapi kemudian dia terkesiap.
"Temen - temen aku, mana!? Caca sama Usi, mereka mana?!" Tanya Kara dengan panik, Putri tentu tak kalah bingung.
"Putri sudah lihat ke kamar, mereka teh nggak ada." Ucap Putri..
DEG!!
Kara langsung bangun dan mencari hp nya, dia mencoba menelepon Usi tapi ternyata suara dering hp Usi terdengar dan itu ada di lantai dua. Kara bergegas naik, dia membuka kamar nya dan ya.. Hp Usi ada di atas kasur dan di meja ada hp Caca.
"Hp mereka ada." Gumam Kara, dia panik. Kara kemudian menoleh ke arah teras bangunan sebelah dimana disana lah garasi mobil berada.. Dan mobil Usi, masih ada.
"Mereka.. Mereka kemana??"
...BERSAMBUNG!...
di aku g ada notif lho kk