NovelToon NovelToon
Kisah Tanpa Dirimu

Kisah Tanpa Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.

Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.

Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.

Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?

Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?

yuk simak....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

langkah baru

Hari itu, tanda tangan terakhir di atas kertas perceraian terasa lebih berat daripada beban yang selama ini dipikulnya. Maara, perempuan berusia 25 tahun, meninggalkan kantor advokat Kenan & Friends dengan langkah pelan. Di tangannya tergenggam salinan surat keputusan yang secara resmi mengakhiri pernikahan yang berlangsung selama beberapa bulan ini.

Sebuah pernikahan yang menurutnya lebih daripada neraka dan kepalsuan.

Mulai hari itu, Maara berjanji dalam hatinya, bahwa tak akan ada lagi air mata yang jatuh sia-sia demi laki-laki bernama Revan Adiyasa.

Maara bertekad ingin memulai hidup baru, jauh dari bayang-bayang keluarga Adiyasa.

Kehidupan pasca perceraian bukanlah jalan buntu. Bagi banyak wanita, itu adalah proses menyembuhkan luka, menemukan kembali kekuatan diri, dan membangun masa depan yang lebih mandiri. Setiap langkah yang diambil dengan keberanian dan usaha akan membawa kepada kehidupan yang lebih bermakna. Itulah yang Maara yakini.

Dia percaya bahwa Tuhan telah memilihkan jalan yang terbaik untuknya meski harus dimulai dengan hati yang patah.

Maara menjalani hari seperti biasa.

Pagi mengajar dan pulang sore harinya.

Di kamar kos kecil ini, dia mulai meniti masa depan.

Dilayar laptop yang menyala, Maara menorehkan huruf-huruf membentuk sebuah rangkaian kalimat yang menjadi sebuah cerita.

Bagi Maara, menulis membuatnya lupa akan rasa sepi dan kesedihan dan perlahan bangkit dari keterpurukan dan juga membantu uang tabungan lebih bertambah untuk modalnya kelak ditempat yang baru.

...********^*^********...

Dua bulan setelahnya....

"Sa... Aku berencana pindah ke pinggiran kota...." ucap Maara pada Lisa suatu siang ketika keduanya bertemu di sebuah coffee shop disekitaran tempatnya mengajar.

Oh ya, Lisa sudah tidak bekerja lagi sejak dirinya dipinang oleh sang kekasih. Kata Rio, Lisa tidak harus susah payah bekerja karena gajinya cukup untuk masa depan mereka. Rio selain bekerja sebegai pegawai di pemerintah, dirinya juga membuka usaha car wash dan bengkel mobil yang dijalankan oleh saudara sepupunya.

Kembali kepada Lisa dan Maara.

Lisa yang sedang menyedot milk shake stroberi mengerjap sejenak.

"Kamu mau kemana?" tanyanya.

Maara menekan-nekan sedotan pada minumannya.

"Lembang?" sahut Maara ringan.

Mata Lisa mengerjap lucu.

Maara terkekeh dengan reaksi bumil satu ini.

"Jauh Ra... Nanti kalau aku kangen gimana? Atau kalau tengah malam mau ketemu kamu gimana...?" Lisa memelas lucu.

Maara menaikkan sebelah alisnya.

"Jangan lebay ih... Kan weekend aku bisa main kesini atau setelah dedek lahir kamu bisa susul main ketempat aku..."

Lisa terlihat cemberut. Bibir bumil nampak maju beberapa centi dan itu membuatnya semakin lucu dimata Maara.

Maara yang gemas mencubit pipi Lisa yang mulai berisi karena doyan ngemil dan makan apa saja tanpa ada pantangan layaknya bumil pada umumnya karena yang ngidam serta mual sudah diambil alih oleh suaminya, Rio.

"Kamu kalau kangen bisa video call atau kalau mas Rio lagi luang bisa datang kerumah kok, tapi kayaknya nggak usah deh, kasihan mas Rio dan dedek...." bujuk Maara awalnya namun di ralat mengingat kondisi Rio yang sering pusing dan mual jika lama-lama di dalam mobil.

"Kamu disana sama siapa? Dan nanti tinggal dimana?" tanya Lisa khawatir mengingat Maara tak memiliki sanak saudara lain.

"Aku diminta ngajar di cabang yayasan yang ada disana karena lagi kekurangan guru. Dan untuk tempat tinggal nanti disediain mess buat yang dari luar kota... Aku cuma pengen nenangin diri sejenak Sa.... Setelah pisah dari mas Revan, aku sering dapat teror pesan tanpa nomor... Dan hal itu semakin buat aku takut... Aku nggak mau suudzon tapi hatiku bilang itu dari keluarga mas Revan... " tutur Maara.

"Kenapa kamu nggak bilang Ra... ?" ujar Lisa kaget sekaligus geram.

"Cuma teror pesan WA belum yang parah-parah banget... Makanya aku mau pergi dari kota ini, biar hatiku juga tenang..."

"Apa pak Teguh tahu hal ini?"

Maara menggeleng "Jangan sampai tahu... Aku malas berurusan lagi dengan keluarga mas Revan... Capek Sa..." pinta Maara.

"Iya sih... Mereka itu kok lama-lama nyebelin ya... " gerutu Lisa.

Lisa meraih tangan Maara.

"Aku harap kamu selalu hati-hati dan kabarin aku setiap harinya... Kita jangan sampai putus kontak ya... Aku nggak mau kehilangan kamu dan baby aku kehilangan aunty-nya..." pinta Lisa sendu.

"Iya.. Aku juga nggak sabar nunggu kelahiran baby kamu.." balas Maara.

Usai puas melepas kangen, keduanya berpisah dikarenakan Lisa yang dijemput oleh suaminya Rio.

Maara memilih pulang naik ojol karena tak ingin terus-terusan merepotkan pasutri tersebut meskipun sempat ada drama Lisa yang memaksa ingin mengantar Maara balik ke kosan. Setelah perdebatan panjang, akhirnya Lisa menerima keputusan Maara dan tak lagi memaksanya.

Maara memilih berjalan di sisi trotoar menikmati sejenak kesejukan kota yang mungkin akan dirindukannya setelah pindah nanti.

"Maara?" sebuah suara membuat langkahnya terhenti.

Dia kemudian berbalik dan mendapati seorang laki-laki tinggi berkemeja putih berdiri dibelakangnya. Wajahnya terlihat lelah dari biasanya.

"Benar ternyata ini kamu... Aku tadi sempat ragu buat nyapa... Apa kabar kamu?" ucap si laki-laki melangkah maju ke arah Maara.

"Kabarku baik... Mas Denis apa kabar?" tanya Maara balik kepada sepupu Revan itu.

Senyum manis terukir dibibir laki-laki yang lebih sering berkata pedas bernama Denis Ferdinan.

"Aku, alhamdulilah baik, seperti yang kamu lihat. Oh ya, kamu mau kemana, biar aku antar" tawar Denis.

Maara memasang wajah waspada membuat Denis terkekeh.

"Tenang, aku nggak bakalan macam-macam kok... Cuma nawarin tumpangan buatmu, mengingat sebentar lagi maghrib..." jelas Denis.

"Aku cuma mau jalan-jalan sebentar... Sudah lama nggak hirup udara sore, sekalian singgah ke masjid di ujung sana... " sahut Maara tanpa balasan menanyakan hal yang sama kepada Denis.

Bagi Maara, berkomunikasi secukupnya adalah cara agar tidak terlalu akrab dengan anggota keluarga Adiyasa lagi.

"Canggung ya...?" tebak Denis seketika.

Mata Maara membola namun secepatnya mengubah ekspresi jadi biasa, karena laki-laki ini bisa menebak isi kepalanya.

"Wajar juga sih kalau kamu canggung ketemu aku.. Mengingat kita cuma ketemu beberapa kali dan itupun hanya sekedar menyapa bukan ngobrol layaknya teman... Kemarin aku menghormati Revan tapi setelah tahu jika kalian sudah pisah, aku mau kita akrab sebagai teman, gimana menurut mu?"

"Maaf sebelumnya mas... Aku nggak bisa... Aku nggak terbiasa berteman dengan lawan jenis apalagi sekarang statusku sudah beda... Aku tidak ingin di cap sebagai perempuan tak bermoral... Dan lagipula, aku bertekad untuk tidak lagi berhubungan dengan keluarga Adiyasa termasuk mas Denis... Sekali lagi maaf jika sikapku yang lancang... Aku harap mas Denis mengerti... Aku permisi, assalammualaikum " ucap Maara bergegas pamit dan tak ingin berlama-lama bicara dengan Denis.

Denis yang ditinggal begitu saja tentu terbengong namun dirinya juga tak bisa memaksa Maara untuk menerima tawaran pertemanannya barusan.

Wajar saja Maara memilih menjaga jarak karena keluarganya cukup banyak menoreh luka pada perempuan itu.

"Aku harap kamu selalu bahagia Ra.. Dan maafkan keluargaku yang telah menyakitimu..." batin Denis menatap kepergian Maara yang terburu-buru.

...*******^*^********...

Ditempat berbeda terlihat Kenan sedang uring-uringan tidak jelas bahkan saat rapat pun, laki-laki itu nampak tak antusias padahal mereka kini sedang dihadapkan pada sebuah kasus yang cukup pelik dari klien yang membayar jasa mereka.

"Oi... lama-lama kantor kita jadi horor karena pimpinannya yang sering melamun dan uring-uringan tanpa sebab.. Aku sih nggak mau tinggal disini, ngeri ah" ujar Teguh bergidik sendiri dengan isi pikirannya.

"Ck... Apa sih Guh...? Jangan lebay! Jangan kebanyakan nonton canel tipuan itu sehingga otakmu yang tadinya cerdas jadi buntu karna kebanyakan di rasuki hal-hal berbau settingan kamera ilusi...!" tutur Kenan mengejek tontonan Teguh akhir-akhir ini.

"Key... Kasih tahu bos kamu itu, kalau mukanya jauh lebih horor dari tontonan ku... Iiih syeyem...." timpal Teguh meniru gestur putrinya kalau lagi takut.

Kenan bukannya tersinggung dengan ucapan Teguh tapi justru tambah ilfil pada bapak anak satu itu.

"Sudahlah... Aku pulang duluan... Lebih baik aku main dengan Loli daripada debat sama kamu... Key, kirim hasil meeting ke email saya... Saya pulang duluan... Selamat sore semua..." ujar Kenan bergegas pulang, meninggalkan Teguh dan asistennya Keyla yang hanya bisa menghela nafas panjang.

"Selamat berjuang Key... Harap maklum, karena bos kamu lagi patah hati..." ujar Teguh menepuk bahu gadis manis asisten Kenan itu.

"Udah biasa pak..." sahut Keyla datar namun tersadar dengan kalimat terakhir Teguh.

"Tapi, kok bisa pak Kenan patah hati?" Keyla melirik kesana-kemari agar tak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka "Memangnya pak Kenan punya pacar? Setahuku, dia selalu nolak perempuan yang mendekatinya..." tanyanya kepo.

"Bukan pacar juga sih... Bisa dibilang, kalau kata anak gen z itu namanya crush... " ujar Teguh lagi-lagi meledek Kenan yang orangnya mungkin saja sudah tiba diparkiran.

"Siapa?" Keyla semakin kepo.

Brakkkk....

Pintu ruang meeting terbuka lebar.

"Jangan gosipin orang dibelakang! Jatuhnya fitnah, nggak baik. Dosa! Nambah-nambahin kerja malaikat aja!" ujar Kenan yang tiba-tiba muncul dengan wajah semakin masam. Dia kelupaan sesuatu sehingga harus kembali ke ruang meeting. Namun saat hendak membuka pintu, sayup-sayup dia mendengar namanya disebut-sebut.

"Dan kamu Key, jangan dekat-dekat sama Teguh! Dia ini biang gosip, nanti kamu jadi nambah dosa kalau bergaul dengannya.... Cukup saya saja yang berteman dengannya...." tutur Kenan melirik horor keduanya.

Keyla hanya bisa mengangguk lemah "Baik pak..."

Kenan memicingkan mata kala melewati Teguh yang nampak menahan senyum.

"Jangan pengaruhi asisten ku..! Sudah, sana, kembali ke ruanganmu!" titah Kenan yang keluar mendahului semuanya.

"Key, saya duluan.." " Kenan....!!! Tunggu...!"

Teguh nampak sedikit berlari mengejar Kenan yang sudah masuk kedalam lift, meninggalkan Keyla yang menggeleng melihat keakraban keduanya.

Dikantor ini hanya Teguh atau Rio saja yang bisa meredam amarah bos mereka.

Kenan Jayadi itu sosok bos yang sebenarnya baik, tapi tetap tegas pada bawahan terutama yang tidak disiplin. Dia juga royal dan mau memberikan kesempatan pada pengacara muda untuk lebih maju meski tetap dipantau olehnya.

Definisi ganteng, tajir dan royal namun susah didekati.

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!