NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Gaun Hitam

Sabtu sore tiba dengan langit yang berangsur temaram di atas langit ibu kota. Sesuai dengan isi surat undangan yang dikirimkan tiga hari lalu, sebuah mobil sedan Mercedes-Benz Maybach berwarna hitam legam—lengkap dengan bendera kecil berlogo Pradipta Group di bagian kap depannya—telah terparkir manis di pelataran lobi apartemen tempat tinggal Ayana.

Dua orang pria tegap berpakaian batik lengan panjang dengan alat komunikasi earpiece terpasang di telinga kanan mereka berdiri tegap di samping pintu penumpang. Mereka bukan sopir biasa; mereka adalah tim pengaman khusus (close protection) yang dikirim langsung oleh kediaman Hermawan Pradipta.

"Selamat sore, Dokter Ayana. Kami diutus oleh Tuan Besar Hermawan untuk menjemput Anda," ucap salah satu pria bertubuh tegap itu sembari membungkuk hormat begitu melihat Ayana melangkah keluar dari lobi lift.

Ayana mengangguk anggun. Sore ini, ia sengaja menanggalkan jas putih dokternya yang biasa. Sebagai gantinya, ia mengenakan sebuah gaun midi berwarna hitam formal dengan potongan kerah tinggi yang sopan, dipadukan dengan blazer berwarna abu-abu gelap yang memberikan kesan profesional namun tetap elegan. Rambut cokelatnya disanggul modern dengan rapi, menyisakan beberapa helai poni yang membingkai wajah manisnya yang hanya dipoles riasan tipis alami.

Di tangan kanannya, Ayana tetap menggenggam sebuah tas jinjing kulit berukuran sedang—yang di dalamnya, tentu saja, tetap terselip stetoskop perak, beberapa lembar rekam medis perkembangan Arka, dan sebotol minyak kayu putih cadangan. Baginya, pakaian boleh berganti, namun identitasnya sebagai seorang dokter medis adalah pelindung mutlak yang tidak boleh ditinggalkan.

"Perjalanan kita akan memakan waktu sekitar satu setengah jam, Dok. Tuan Besar saat ini sedang berada di vila peristirahatan keluarga di kawasan Megamendung, Bogor," lapor sang pengawal sembari membukakan pintu mobil penumpang yang berat untuk Ayana.

Ayana sempat tertegun sejenak sebelum melangkah masuk. “Megamendung? Berarti keluar kota. Si kakek tua ini benar-benar sengaja menarikku keluar dari zona nyaman Jakarta,” batin Ayana sembari mendudukkan dirinya di atas kursi kulit mewah Maybach yang teramat empuk.

Begitu mobil meluncur membelah jalanan tol menuju arah selatan, Ayana meraih ponsel pintarnya dari dalam tas. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan singkat yang dikirimkan oleh Arkananta tepat tiga puluh menit yang lalu.

>

Pak Bos Kaku:

Jangan menandatangani dokumen apa pun yang beliau sodorkan. Jangan minum tehnya jika aromanya terlalu pekat. Dan jika pria tua itu mulai mengintimidasi kariermu, telepon saya saat itu juga. Saya sudah menyuruh tim IT melacak posisi GPS ponselmu secara real-time.

>

Ayana tidak bisa menahan senyum tipisnya membaca pesan yang sarat akan kepanikan terselubung itu. Karakter Arka benar-benar tidak berubah; pria itu selalu ingin memegang kendali atas segala hal, namun fakta bahwa Arka sampai mengerahkan tim IT perusahaan hanya untuk memantau pergerakannya ke kediaman kakeknya sendiri membuktikan bahwa sang CEO sedang sangat cemas.

>

Ayana:

Tenang saja, Pak Kapitalis. Fokus saja pada makan malam rendah natrium Anda di penthouse. Ingat, saya punya mata-mata (Karina) yang memantau menu makanan Anda malam ini. Jangan coba-coba memesan piza atau kopi hitam! Serahkan kakek Anda kepada ahlinya.

>

Ayana menyimpan kembali ponselnya, memilih untuk memejamkan mata sejenak sepanjang sisa perjalanan, mengumpulkan seluruh energi mentalnya untuk menghadapi sang naga tua Pradipta Group.

Gerbang besi raksasa setinggi empat meter dengan ukiran burung elang emas terbuka perlahan saat mobil Maybach yang membawa Ayana memasuki area kompleks vila Megamendung. Udara di luar mendadak berubah menjadi sangat dingin dan berkabut tipis, khas wilayah pegunungan.

Vila tersebut berdiri megah di atas bukit pribadi, dikelilingi oleh hamparan pohon pinus dan taman bunga krisan yang ditata dengan simetri sempurna. Arsitektur bangunannya mengombinasikan gaya kolonial Belanda dengan sentuhan modern minimalis, memancarkan kemewahan yang tenang namun sangat intimidatif bagi siapa pun yang baru pertama kali datang ke sana.

Mobil berhenti tepat di depan teras utama yang berbatu marmer putih. Seorang pelayan paruh baya berpakaian jas pelayan resmi menyambut Ayana, lalu menuntun langkah kakinya menyusuri selasar panjang yang dindingnya dipenuhi oleh lukisan-lukisan cat minyak bernilai seni tinggi.

Langkah kaki Ayana akhirnya berhenti di sebuah ruangan paviliun kaca yang luas di bagian belakang vila. Ruangan itu dikelilingi oleh pemandangan langsung menuju lembah pegunungan yang lampu-lampunya mulai menyala seperti kunang-kunang di bawah kegelapan malam.

Di tengah ruangan, duduk seorang pria tua di atas kursi roda elektrik bermaterial kayu premium. Pria itu mengenakan kemeja batik sutra lengan panjang berwarna gelap, rambutnya sudah memutih seluruhnya namun dipotong dengan sangat rapi. Meskipun usianya sudah menginjak kepala delapan dan tubuhnya bertumpu pada kursi roda, sepasang mata tua milik Hermawan Pradipta masih memancarkan kilat ketajaman yang luar biasa dingin—sepasang mata yang identik dengan milik Arkananta.

Di atas meja melingkar di depannya, sebuah teko keramik Cina kuno sudah mengepulkan asap beraroma harum teh krisan emas.

"Selamat malam, Tuan Besar Hermawan," sapa Ayana dengan suara yang lantang dan tenang. Ia membungkuk hormat dengan sudut kemiringan yang sempurna, tidak menunjukkan tanda-tanda kegugupan sedikit pun.

Hermawan Pradipta memutar kursi rodanya perlahan, menghadap penuh ke arah Ayana. Pria tua itu menatap Ayana dari ujung kepala hingga ujung kaki selama beberapa detik yang terasa sangat panjang dan mencekam. Keheningan di paviliun kaca itu mendadak terasa begitu padat.

"Duduklah, Dokter Ayana Sheenaz," suara Hermawan terdengar berat, serak, namun memiliki gaung otoritas yang mutlak. "Ketepatan waktumu sangat bagus. Cucu saya, Arkananta, biasanya selalu terlambat lima menit jika saya panggil ke tempat ini hanya untuk menunjukkan sifat pemberontaknya."

Ayana mendudukkan dirinya di kursi seberang Hermawan, meletakkan tas jinjingnya di samping kursi dengan rapi. "Terima kasih, Tuan Besar. Di dalam dunia kedokteran, selisih lima menit bisa menentukan apakah sebuah organ tubuh masih bisa berfungsi atau mati. Jadi, terlambat bukan bagian dari gaya hidup saya."

Hermawan terkekeh pelan—sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya. Ia meraih teko keramik, lalu menuangkan teh krisan emas itu ke dalam cangkir porselen di depan Ayana. "Sifat bicaramu yang lugas ini... Dokter Hendra tidak berbohong saat mengatakan bahwa kamu adalah dokter muda paling berbakat sekaligus paling keras kepala yang dimiliki Rumah Sakit Utama Jakarta saat ini."

Pria tua itu meletakkan kembali tekonya, lalu menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan di atas meja. "Namun, berbakat saja tidak cukup untuk berada di lingkaran utama keluarga Pradipta, Ayana. Kamu pasti tahu, sejak kecelakaan belasan tahun lalu, Arka tidak pernah mengizinkan satu pun dokter pribadi bertahan lebih dari satu minggu di dekatnya. Mereka semua menyerah karena tidak kuat menghadapi temperamen buruk dan serangan panik cucu saya."

Hermawan menjeda kalimatnya, kilat matanya mengunci pandangan Ayana. "Tapi kamu... kamu bertahan. Bahkan dalam waktu singkat, kamu sudah berani membawanya masuk ke UGD di tengah badai pasien kecelakaan, dan kemarin sore, mata-mata saya melaporkan kalau kamu mengunci diri bersamanya di ruang tengah penthouse untuk melakukan sesuatu yang disebut 'terapi hantu'. Apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan terhadap pewaris tunggal kekayaan saya, Dokter?"

Pertanyaan itu dijatuhkan seperti sebuah vonis tuduhan konspirasi tingkat tinggi.

Ayana tidak mengedipkan matanya sama sekali. Ia justru meraih cangkir porselen berisi teh krisan hangat itu, mendekatkannya ke hidung untuk menghirup aromanya—memastikan tidak ada kandungan zat penenang berbahaya seperti yang dicemaskan Arka—lalu menyesapnya perlahan sebelum meletakkannya kembali dengan ketukan yang solid di atas meja.

"Tuan Besar Hermawan," ucap Ayana, suaranya terdengar sangat jernih di dalam ruangan sunyi itu. "Rencana saya sangat sederhana, dan sudah tertulis jelas di lembaran kontrak kerja yang ditandatangani oleh cucu Anda sendiri. Rencana saya adalah menyembuhkan pasien saya."

Ayana mencondongkan tubuhnya ke depan, membalas tatapan intimidasi sang naga tua dengan binar mata yang penuh keteguhan seorang tabib. "Arkananta Pradipta bukan sekadar 'pewaris tunggal kekayaan' di mata saya. Di dalam ruangan medis saya, dia hanyalah seorang pria muda yang mengidap Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) akut akibat trauma masa lalu yang dibiarkan membusuk selama belasan tahun oleh keluarganya sendiri."

Mendengar kata 'dibiarkan membusuk oleh keluarganya sendiri', rahang Hermawan Pradipta seketika mengencang. Atmosfer di dalam paviliun kaca itu mendadak turun drastis hingga mendekati titik beku.

"Kamu berani menuduh keluarga saya mengabaikannya?" desis Hermawan dengan nada suara yang bergetar menahan amarah. "Kami memberikan Arka fasilitas terbaik di dunia! Psikiater terbaik dari Harvard, obat-obatan penenang paling mahal dari Swiss, semua kami sediakan untuknya!"

"Dan semua itu gagal karena Anda dan keluarga Anda memperlakukan trauma Arka sebagai sebuah aib yang harus disembunyikan di balik dinding-dinding mewah korporat!" potong Ayana tanpa rasa takut sedikit pun, suaranya memotong argumen sang konglomerat tua bagai pisau bedah yang tajam.

"Anda memberinya obat penenang agar dia bisa tetap bekerja menghasilkan miliaran rupiah untuk Pradipta Group, bukan untuk membuatnya benar-benar sembuh dari rasa bersalah atas kematian ibunya," lanjut Ayana, matanya memancarkan kesungguhan yang mendalam. "Kemarin sore, saya tidak melakukan 'terapi hantu'. Saya sedang memegang tangannya, menemaninya berdiri di tengah badai memorinya sendiri, memastikan bahwa kali ini... Arka tidak sendirian menghadapi ketakutannya. Dan jika Anda menganggap tindakan medis saya itu sebagai sebuah ancaman bagi stabilitas perusahaan Anda... maka silakan pecat saya malam ini juga, Tuan Besar."

Hermawan Pradipta tertegun di atas kursi rodanya. Sepanjang hidupnya memimpin imperium bisnis raksasa dan berhadapan dengan ribuan orang yang selalu membungkuk patuh demi uangnya, ia belum pernah menemukan sosok manusia seperti Ayana Sheenaz—seorang dokter muda yang tidak bisa dibeli dengan kemewahan Maybach, tidak bisa digertak dengan ancaman karier, dan memiliki nyali yang cukup besar untuk menampar realita keluarganya langsung di depan wajahnya.

Pria tua itu menatap Ayana lekat-lekat dalam keheningan yang panjang, hingga akhirnya... sebuah senyuman tipis yang sangat misterius perlahan terukir di wajah keriput sang naga tua. Babak interogasi di Megamendung ini baru saja dimulai, dan sang pemegang saham tertinggi tampaknya baru saja menyadari bahwa ia telah

mengundang lawan bicara yang teramat sepadan.

Bersambung.

1
Susilawati Susilawati
up lagi thor
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!