Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Aliansi Darah dan Bayang-Bayang dari Laut Selatan
Langit di atas ibu kota Kadipaten Blambangan tidak lagi menampakkan warna biru fajar yang bersih.
Gumpalan awan hitam pekat bercampur semburat ungu kelam menggantung rendah, seolah-olah kubah langit itu sendiri hendak runtuh menimpa atap-atap bangunan kota.
Bau amis darah yang sangat pekat, yang tadi dirasakan oleh Dyah Sekar Ayu dari Dataran Tinggi Watu Tulis, kini telah menjelma menjadi kabut tipis yang menyelimuti seluruh kompleks istana dalam.
Para penduduk kota luar telah mengunci diri di dalam rumah-rumah bambu mereka. Sisa-sisa prajurit rendahan yang tidak ikut ke medan laga selatan tampak berlarian tanpa arah, melarikan diri dari aura kematian yang memancar dari balik dinding batu istana pusat. Mereka tahu, ketika para Senopati agung telah tewas dan sang Adipati mulai menggunakan cara-cara ghaib terlarang, maka tidak ada lagi tempat yang aman di Blambangan.
Di pelataran luas istana dalam, tepat di depan Altar Batu Hitam yang kini telah terangkat ke permukaan tanah, Adipati Bhre Wirabhumi berdiri dengan tubuh yang terus bergetar. Kulit wajahnya yang semula keriput kini tampak semakin menyusut dan pucat, sebuah harga fisik yang harus dibayarnya karena telah mengalirkan sebagian besar darah ranahnya untuk mengaktifkan segel pemanggil kuno.
Di depannya, sosok berjubah abu-abu koyak yang mengenakan topeng tulang ikan raksasa—Kultivator Ranah Senopati Tahap 5 dari Faksi Bajak Laut Laut Selatan—sedang melayang rendah setinggi satu jengkal dari permukaan lantai marmer yang digenangi darah. Di kedua tangan kultivator tersebut, dua buah bola api hitam berdenyut pelan, memancarkan daya hancur yang mampu mengintimidasi siapa pun yang melihatnya.
"Mereka sudah berada di gerbang kota luar, Wirabhumi," suara mendesis dari balik topeng tulang ikan itu memecah kesunyian yang mencekam. "Dua Senopati bodohmu itu tidak mampu menahan bocah itu bahkan untuk waktu satu cangkir teh. Sungguh sekumpulan sampah yang tidak berguna."
Bhre Wirabhumi mengertakkan gigi, rasa ngeri dan terhina bercampur aduk di dalam dadanya. "Utusan Agung Surokolo... mohon jangan remehkan bocah bajingan itu. Dia memiliki pedang rasi bintang tingkat ghaib dan ilmu kebal yang sangat merepotkan. Sisa-sisa pasukan hamba melaporkan bahwa Kebo Marcuet dipotong layaknya hewan ternak!"
"Hehehe... ilmu kebal tingkat rendah di tanah Dwipantara ini tidak ada apa-apanya di hadapan Sihir Pengikis Tulang milik Faksi Laut Selatan kami," sahut Surokolo dengan tawa kering yang meremehkan. "Ranah Wira Tahap 7? Di mataku, dia tidak lebih dari seekor semut yang sedikit lebih besar. Begitu dia melangkah masuk ke pelataran ini, aku akan mencairkan dagingnya menjadi genangan air raksa."
BOOOM!
Belum sempat Surokolo menyelesaikan tawa sombongnya, suara ledakan dahsyat terdengar dari arah gerbang utama istana dalam. Dinding batu setinggi lima meter yang dilapisi mantra pelindung tingkat biasa itu hancur berantakan menjadi puing-puing abu yang beterbangan.
Dari balik kepulan debu runtuhan, sesosok kuda hitam besar melangkah masuk dengan tenang. Satria Pamungkas duduk di atas pelana dengan tangan kanan bertumpu santai pada gagang Pedang Bintang Tujuh Kedewaan di punggungnya. Caping bambunya yang sedikit miring memperlihatkan sepasang mata hitamnya yang berkilat dingin penuh penghinaan. Di samping kudanya, Dyah Sekar Ayu berjalan dengan langkah seringan kapas, selendang sutra hijaunya telah dialiri energi Mantra Cundamani yang siap meledak kapan saja.
Satria menyapu pandangannya ke sekeliling pelataran istana yang dipenuhi mayat para perawan suci dan genangan darah. Ia tidak merasa jijik, melainkan merasa muak dengan ketidakberdayaan sang penguasa Blambangan yang harus meminta bantuan dari entitas luar hanya untuk mempertahankan posisinya.
"Bhre Wirabhumi," suara Satria bergema rendah, memotong aliran energi hitam yang menyelimuti tempat itu. "Tiga hari yang kuberikan belum habis, namun tampaknya kau sudah tidak sabar untuk menyerahkan kepalamu."
Bhre Wirabhumi melangkah mundur ke belakang tubuh Surokolo, wajahnya yang pucat memancarkan kombinasi rasa takut dan amarah yang mendalam. "Satria Pamungkas! Bajingan dari Alas Purwo! Kau telah menghancurkan seluruh garis pertahanan kadipatensku! Tapi hari ini, langkahmu akan terhenti di sini! Di depan Utusan Agung dari Faksi Laut Selatan, kau tidak lebih dari seonggok daging yang menunggu giliran untuk dikuliti!"
Satria tidak mengindahkan gertakan sang Adipati. Sepasang matanya kini beralih dan mengunci sosok melayang di depan altar.
"Sistem, analisis target baru di depan. Identifikasi ranah kultivasi dan jenis energi yang digunakannya," perintah Satria di dalam kesadarannya.
[Bip! Memindai Target 'Surokolo' (Kultivator Faksi Bajak Laut Laut Selatan):]
Ranah Kekuatan: Ranah Senopati Tahap 5 (Setara dengan tingkat puncak pendekar Dwipantara).
Atribut Energi: Prana Hitam Pengikis Tulang (Memiliki efek korosif tinggi terhadap pertahanan fisik biasa).
Kelemahan Taktis: Gerakan melayangnya mengandalkan sirkulasi energi di titik meridian kaki luar. Gunakan ketajaman Pedang Bintang Tujuh Kedewaan dipadukan dengan Ajian Pedang Pembelah Lautan tebasan ketiga untuk memutus jalur energinya secara instan.
Catatan Poin: Menumpas target ini akan memberikan 60.000 Poin Sistem secara instan karena keterlibatan faksi luar alur utama Dwipantara.
Melihat angka 60.000 poin yang tertera pada layar hologramnya, seulas senyum kejam dan penuh kepuasan tersungging di wajah tampan Satria. Saldo poinnya saat ini berada di angka 69.000, dan jika ditambah dengan hasil dari kepala kultivator bertopeng ini, ia akan memiliki cukup poin untuk membuka Toko Kategori 3 yang menyimpan rahasia Ranah Senopati puncak.
"Kultivator benua luar..." Satria melompat turun dari atas kudanya, mendarat dengan suara dentingan logam yang halus akibat berat ghaib tubuhnya yang telah ditempa pil Segoro Wedi. "Kalian seharusnya tetap berada di atas kapal-kapal perompak kalian di tengah samudra, daripada datang ke tanah ini hanya untuk menjadi pupuk bagi perkebunan baruku."
Surokolo yang mendengar ucapan meremehkan dari seorang pemuda Ranah Wira langsung merasakan hawa membunuh di dalam dirinya meledak. Bola api hitam di kedua tangannya membesar hingga seukuran roda kereta, memancarkan suara mendesis ghaib yang mengeringkan tanaman di sekitar pelataran istana seketika.
"Bocah sombong! Kau tidak tahu seberapa luasnya langit di luar Dwipantara ini!" raung Surokolo.
Dengan satu hentakan tangan, kedua bola api hitam itu melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa, memotong jarak seratus langkah dalam sekejap mata. Udara yang dilewati oleh bola api tersebut tampak terdistorsi dan mengeluarkan asap beracun yang sangat pekat.
Satria tidak menghindar sedikit pun. Ia maju satu langkah, menempatkan tubuhnya tepat di depan Dyah Sekar Ayu. Ajian Kebal Jolo Sutro diaktifkan hingga ke batas maksimalnya; kilau warna perunggu kuno yang membungkus kulitnya kini tampak berkilau keperakan karena beresonansi dengan sisa esensi Darah Suci yang didapatnya melalui penyelarasan sukma.
BLAAAAM!
Dua bola api hitam itu menghantam dada Satria dengan telak, menciptakan ledakan asap hitam korosif yang membubung tinggi hingga setinggi sepuluh meter, menenggelamkan sosok sang pemuda di dalam pusaran energi beracun tersebut.
"Hahaha! Kena kau!" Bhre Wirabhumi berteriak kegirangan dari balik altar. "Ilmu kebal macam apa pun akan meleleh di hadapan api pengikis tulang Utusan Agung!"
Namun, tawa sang Adipati langsung terhenti di tenggorokannya ketika dari dalam kepulan asap hitam yang pekat itu, terdengar suara langkah kaki yang sangat mantap menapak di atas lantai marmer.
Sret... Sret...
Satria Pamungkas melangkah keluar dari dalam asap beracun tanpa ada satu pun goresan di jubah hitamnya. Asap hitam korosif yang mampu melelehkan zirah besi itu bahkan tidak mampu membakar ujung benang jubahnya, meluruh begitu saja ketika menyentuh lapisan pelindung ghaib Jolo Sutro miliknya yang kini telah diperkeras setebal dinding baja suci.
"Hanya sebegini kemampuan dari faksi luar yang kau banggakan, Wirabhumi?" tanya Satria, suaranya terdengar begitu tenang di tengah lapangan yang hancur.
Surokolo yang menyaksikan hal tersebut dari balik topeng tulang ikannya langsung merasakan sentakan ngeri yang amat sangat di dalam jiwanya. Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di Dwipantara, ia menyadari bahwa ia baru saja memprovokasi sesosok monster yang mengenakan kulit seorang pemuda fana.
"Tidak... tidak mungkin! Ranah Wira tidak akan bisa menahan Sihir Pengikis Tulang milikku tanpa terluka!" teriak Surokolo, mulai kehilangan ketenangannya saat melihat Satria perlahan-lahan menarik Pedang Bintang Tujuh Kedewaan dari balik punggungnya. Tujuh permata rasi bintang di bilah pedang itu mulai menyala satu per satu, memancarkan cahaya perak murni yang bersiap memotong kegelapan malam terlarang Blambangan.