NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:931
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan untuk Bima

Wira menarik tubuhnya menyamping dua langkah untuk menghindari serangan tersebut dengan cepat. Setelah itu, dia langsung melepaskan tendangan kuat dari bawah yang tepat mengenai pergelangan tangan kanan Bima.

Lelaki bertubuh tinggi besar itu memekik pelan setelah pedangnya terlontar tinggi ke atas. Tanpa disangkanya, Wira melakukan pukulan susulan yang kembali mengenai dadanya dengan telak. Kali ini Wira menambahkan kekuatannya hingga membuat Bima yang bertubuh tinggi besar itu terhuyung ke belakang.

"Apa kau akan melanjutkan pertarungan ini?" Suara Wira pelan terdengar di telinga Bima.

Pendekar andalan dari perguruan Macan Putih itu hanya bisa menelan ludahnya, setelah merasakan benda dingin menempel di lehernya.

"Cepat sekali!"

Wira memanfaatkan terhuyungnya tubuh Bima dengan melompat ke atas, dan menangkap pedang lawannya yang masih berada di udara. Setelah itu dia mendarat tepat di belakang lelaki bertubuh setengah raksasa itu dan menempelkan bilah pedang tersebut di leher Bima.

"A-aku menyerah!" ucap Bima lirih. Dia dipaksa untuk mengakui kekalahan yang tak pernah diduganya.

Kekalahan yang dialami Bima juga tidak disangka-sangka oleh pendukungnya yang sedari tadi berteriak memberi dukungan. Pemuda yang sudah mereka hina sejak sebelum menaiki panggung, ternyata telah membuat mereka tertunduk malu.

"Ambil pedangmu! Aku tidak ingin melukaimu lebih parah meski sebenarnya itu sangat gampang aku lakukan. Dan ingatlah, pertarungan tidak hanya berbekal kemampuan dan fisik saja, tapi juga pikiran."

Bima meraih pedang yang di berikan kepadanya. Dia sangat malu dengan kekalahan yang dialaminya. Tapi apa mau di kata, dia menyadari kemampuannya masih jauh di bawah lawannya tersebut.

"Dan ingat satu hal lagi, jangan meremehkan siapapun lawanmu. Tubuh besarmu itu bukan jaminan kau bisa menang dalam sebuah pertarungan."

"Aku akan mengingat semua pesanmu. Kenalkan namaku Bima..." Lelaki tinggi besar itu menjulurkan tangannya.

Wira tersenyum, lalu menjabat tangan Bima. "Namaku, Wira Dewandaru."

Bima membalas senyuman Wira dengan senyuman hangat, "Maafkan aku dan juga teman-temanku, Wira. Ke depannya kami akan menjaga sikap agar tidak melukai perasaan orang lain."

"Sudahlah. Tidak usah dipikirkan masalah itu. Sekarang ayo kita turun dari panggung ini!"

Pemandangan yang mengharukan itu dilihat oleh ratusan mata. Dari lawan menjadi kawan adalah hal yang tidak biasa. Umumnya yang terjadi adalah dari kawan menjadi lawan. Dan hari ini, sebuah contoh yang begitu baik ditunjukkan oleh mereka berdua.

Pembawa acara bergegas naik ke atas panggung setelah pertandingan antara Wira dan Bima berakhir. Dikarenakan hari sudah mendekati malam, pertandingan untuk hari itu disudahi hingga sesi tiga saja. Penyisihan babak pertama akan dilanjutkan besok pagi hingga tinggal 32 peserta yang tersisa. Untuk peserta yang sudah berhasil lolos ke babak kedua akan kembali bertarung dua hari kemudian.

Jarak kediaman Lesmana dan alon-alon Kotaraja tempat berdirinya 4 panggung besar yang begitu dekat, membuat Wira bisa dengan cepat sampai di rumah besar tersebut. Setelah itu dia langsung menemui Sinta yang berada di dalam kamar.

"Kau sudah kembali, bagaimana hasil pertandingannya?" tanya Sinta sambil memeriksa setiap bagian tubuh Wira, kecuali itunya.

"Berkat doamu aku bisa memenangkannya. Pertandingan berikutnya akan diadakan lusa, jadi besok aku mau mengajakmu keluar untuk melihat pertandingan dan juga berjalan-jalan di sekitar.

Sinta menganggukkan kepalanya. Dia tidak akan menolak kemanapun kekasihnya itu mengajaknya pergi

Seiring datangnya malam, keriuhan yang terjadi seharian tadi di sekitar panggung arena itu pun berakhir sudah. Para penonton sudah kembali ke rumahnya masing-masing, dan para pedagang juga sudah mengemasi barang dagangannya.

Di dalam rumah besar itu, Wira dan Sinta yang sedang bersantai di sebuah taman kecil, didatangi Lesmana yang baru saja kembali dari istana. Wajah lelaki setengah baya itu menyiratkan keletihan yang amat sangat.

"Suasana di istana sekarang begitu rumit, Wira. Yang Mulia sudah begitu sepuh, namun belum diketahui siapa yang kelak akan menggantikannya." ucap Lesmana tiba-tiba.

"Apa beliau tidak punya penerus?" tanya Wira.

"Beliau sudah tidak punya siapa-siapa sekarang. Putri beliau satu-satunya pergi entah kemana dengan pengawal pribadinya. Gusti Ratu Tunggadewi juga sudah meninggal beberapa tahun yang lalu."

"Kalau putra dari selir bagaimana?"

Lesmana menggeleng pelan, "Beliau tidak memiliki selir satu pun. Meski kekuasaannya begitu besar dan bisa dengan mudah mencari selir, namun beliau tidak mau melakukannya. Yang Mulia tidak mau menyakiti hati istrinya dan menjaga betul perkawinannya."

Mendengar hal itu, Wira semakin ingin lebih cepat menunjukkan kalung milik ibunya kepada Raja Dharmawangsa. Dia tidak punya niatan sedikitpun untuk menjadi raja jika Raja Dharmawangsa mangkat, tapi hanya ingin penguasa kerajaan Sanggawana itu tahu jika masih memiliki keluarga kandung yang masih hidup.

"Sejak kemarin sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian. Sebenarnya hubungan kalian berdua ini bagaimana?Apakah kalian sepasang suami istri?"

Wira dan Sinta saling berpandangan. Kebaikan yang sudah diberikan Lesmana kepada mereka berdua, membuat Wira tidak bisa untuk berbohong kepada lelaki tersebut.

"Kami hanya sepasang kekasih dan belum menikah, Tuan."

"Tapi bukankah kalian sudah tidur sekamar?"

Mengetahui maksud pertanyaan Lesmana yang arahnya tentang hubungan intim suami istri, Wira langsung menyanggahnya.

"Tapi kami tidak pernah melakukan perbuatan itu, Tuan. Aku berani bersumpah untuk itu." jawabnya malu-malu.

"Apa kalian ada niatan untuk menikah?"

"Ada, Tuan. Tapi aku tidak tahu kapan. Biar waktu yang nanti akan menjawabnya."

Lesmana menghela nafasnya. Dia sepertinya tidak mempermasalahkan tentang keduanya yang tidur sekamar.

"Lalu di mana orang tua kalian? Apa mereka tahu kalau kalian berdua ke Kotaraja?"

Wira sedikit heran dengan pertanyaan yang dilontarkan Lesmana. Tapi dia tidak bisa menyimpulkan ke arah mana muara pertanyaan tersebut.

"Kedua orang tuaku sudah meninggal 15 tahun yang lalu, Tuan. Begitu juga dengan orang tua Sinta yang juga sudah meninggal," jawab Wira.

Lesmana memandang wajah Wira lekat-lekat. Tapi dia tidak melihat adanya kebohongan di mata pemuda tampan tersebut. Yang membuatnya heran, semakin dia memandang wajah Wira, bayangan wajah sahabatnya yang sudah menghilang semakin terlihat jelas.

"Kalian boleh melanjutkan bersantai di sini. Aku mau beristirahat dulu!" ucapnya pelan.

Sebelum melangkahkan kaki, Lesmana kembali berkata kepada Wira, "Besok malam ada yang mau aku bicarakan secara pribadi denganmu."

"Baik, Tuan," balas Wira.

Lesmana meninggalkan mereka berdua dengan berbagai pertanyaan di pikirannya. Lelaki setengah baya itu juga masih mengingat sikap yang ditunjukkan Raden Sanjaya kepadanya.

Keesokan paginya, suasana di sekitar panggung sudah mulai dijubeli penonton. Wira dan Sinta yang baru saja keluar dari rumah Lesmana, tidak langsung menuju tempat turnamen itu dilaksanakan. Mereka memilih untuk berjalan-jalan terlebih dahulu menyusuri jalanan Kotaraja yang begitu riuh dengan hiruk pikuk manusia.

Di saat sedang menikmati keramaian di sekitarnya, Wira dan Sinta dikejutkan dengan teriakan minta tolong dari sebuah gang yang sempit dan sepi.

Samar-samar suara teriakan wanita minta tolong tersebut bergerak semakin menjauh.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!