Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kabar yang Mengguncang Musuh dan Kepribadian yang Tak Berubah
Meskipun dilakukan secara rahasia, skala pengangkutan bongkahan giok raksasa dan sedimen emas alluvial dari lahan tepi sungai itu terlalu masif untuk disembunyikan selamanya. Truk-truk kontainer berlapis baja yang keluar masuk area proyek mulai memicu desas-desus. Hanya dalam waktu singkat, berita tentang ledakan harta karun di "lahan sampah" milik keluarga Tang itu akhirnya bocor dan meledak di kalangan elite kota, termasuk mendarat langsung di telinga Long Wang.
Prang!
Di dalam ruang kerjanya yang mewah, Long Wang membanting gelas kristal ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Wajahnya merah padam, urat-urat di lehernya menegang hebat karena amarah yang memuncak.
"Bagaimana mungkin lahan sampah itu berisi giok kaisar dan emas murni?!" raung Long Wang kepada para anak buahnya yang tertunduk ketakutan.
Ia baru saja memeriksa laporan keuangan keluarganya. Lahan tambang atas yang baru mereka beli dari Liu seharga seratus lima puluh juta yuan ternyata benar-benar menguras kas tunai mereka, dan biaya operasionalnya membengkak gila-gilaan karena struktur tanah yang terlalu dalam. Di saat Keluarga Wang mulai terengah-engah kehabisan modal, Liu dan pemuda bernama Chen itu justru sedang memanen harta karun bernilai ratusan juta yuan.
Long Wang mencengkeram tepi mejanya dengan erat. Rasa benci dan dendamnya kepada Liu kini bercampur dengan rasa frustrasi yang amat sangat. Namun, sekor naga tua yang licik seperti dirinya sadar betul: untuk saat ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Posisi hukum lahan itu mutlak milik Liu, dan kas keuangan Keluarga Wang yang menipis membuat mereka tidak memiliki kekuatan untuk melakukan pergerakan besar tanpa memicu kehancuran mereka sendiri. Long Wang hanya bisa menahan napas dalam amarah, menunggu momentum yang tepat.
Perayaan dan Saham Kehormatan
Sementara Keluarga Wang sedang dirundung awan hitam, atmosfer di bar mewah milik Liu justru berbanding terbalik. Malam itu, musik berdentum riang mengiringi pesta privat yang diadakan untuk merayakan keberhasilan mutlak mereka. Hanya ada Liu, Chen, dan beberapa orang kepercayaan yang ikut serta.
"Chen! Sahabatku, penasihatku, dewa keberuntunganku!" seru Liu yang sudah setengah mabuk, mengangkat gelasnya tinggi-tighti. "Tanpa mata dan insting gila milikmu, aku pasti sudah menjadi bahan tertawaan di seluruh kota!"
Liu kemudian meletakkan gelasnya dan mengeluarkan sebuah dokumen resmi bersampul kulit dari balik jasnya. Ia menyodorkannya ke hadapan Chen dengan tatapan yang sangat serius dan penuh rasa hormat.
"Ini adalah surat perjanjian legal. Sesuai janjiku, aku memberikanmu tiga puluh persen saham kepemilikan penuh dari hasil tambang giok dan emas di lahan sungai tersebut," ujar Liu tegas. "Jangan pernah berpikir untuk menolaknya. Ini adalah hak murni atas keahlianmu yang telah menyelamatkan masa depan keluargaku."
Chen menatap dokumen itu sejenak. Tiga puluh persen dari tambang raksasa itu setara dengan aliran uang miliaran rupiah yang tidak akan habis tujuh turunan. Kali ini, Chen tidak menolak. Ia tersenyum tipis dan menandatanganinya. "Baiklah, Liu. Terima kasih atas kepercayaanmu."
Detik itu juga, Chen resmi bertransformasi menjadi salah satu miliarder baru di kota itu. Namun, meski status sosial dan isi rekeningnya telah berubah drastis, ada satu hal yang tidak berubah: kepribadiannya. Di balik pakaian kasualnya, Chen tetaplah Chen yang dulu—pribadi yang tenang, sederhana, tidak sombong, dan tidak silau oleh gemerlapnya harta penemuan tersebut. Baginya, kekayaan ini hanyalah alat untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi.
Kepulangan yang Dinanti
Pesta berakhir ketika jarum jam hampir menyentuh angka tiga pagi. Chen menolak tawaran Liu untuk menginap di hotel bintang lima miliknya. Dengan mengendarai mobil sport mewah, Chen membelah keheningan malam kota, kembali menuju satu-satunya tempat yang ia sebut sebagai rumah: kamar kosan sempitnya.
Chen melangkah koridor kosan yang sepi dengan langkah sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara. Namun, saat ia berdiri di depan pintunya, ia melihat seberkas cahaya lampu masih mengintip dari celah bawah pintu kamar sebelah—kamar milik Mei.
Klek.
Belum sempat Chen mengetuk, pintu kamar tersebut perlahan terbuka.
Mei berdiri di sana, masih mengenakan pakaian santai rumahannya. Wajah cantiknya tampak sedikit letih dengan kantung mata yang samar, pertanda jelas bahwa gadis itu sama sekali belum tidur sejak sore tadi. Ia menolak terpejam sebelum memastikan pria yang dicintainya kembali dengan selamat.
Begitu melihat sosok Chen berdiri di depannya dalam keadaan utuh tanpa kurang suatu apa pun, wajah letih Mei seketika berganti dengan senyuman manis yang begitu tulus dan menenangkan.
"Kamu sudah pulang, Chen?" bisik Mei lembut agar tidak membangunkan penghuni kos lain.
Melihat kesetiaan dan ketulusan murni yang terpancar dari wajah kekasihnya, seluruh rasa lelah Chen setelah seharian menghadapi intrik dunia tambang seolah menguap tuntas. Chen melangkah maju, meraih kedua tangan Mei, dan menatapnya dengan binar mata yang penuh dengan kehangatan cinta. Di sinilah harta karun terbesarnya yang sesungguhnya berada.
👍😁