NovelToon NovelToon
Suara Yang Tak Pernah Terucap

Suara Yang Tak Pernah Terucap

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: See You Soon

Seorang kurir yang lelah oleh hiruk-pikuk jalanan menemukan jeda tak sengaja di sebuah perpustakaan kota.

Di tempat yang sunyi itu, ia bertemu dengan seorang gadis pemalu. Dia yang berbicara sedikit, namun berpikir terlalu banyak.

Pertemuan mereka dipenuhi salah paham kecil, kecanggungan, dan dialog yang tak pernah diucapkan.

Di balik sikap luar yang tampak biasa, kepala mereka dipenuhi suara-suara lain. Kadang pikiran yang berdebat, menyesal, dan ingin dipahami.
Dan saat kata-kata gagal terucap, perasaan justru tumbuh diam-diam.

Dan di antara rak buku, senyum canggung, serta keheningan yang terlalu panjang, dua insan belajar bahwa terkadang, cinta dimulai bukan dari apa yang diucapkan, melainkan dari apa yang disimpan.

Note: novel slow burn. visual karakter sering di beberapa bab. bikin pembaca gak lupa siapa aja yang sedang berbicara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon See You Soon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keluh Kesah Kurir

Pukul enam lewat sepuluh pagi. Gudang pos belum sepenuhnya terang, tapi suara sudah lebih dulu bangun: bunyi lakban ditarik, plastik digesek, motor kurir dipanaskan di luar, seseorang bersin karena debu kardus.

"Hatchuuu anjayy!" ucapnya setelah bersin.

Yuda melirik dengan tatapan aneh ke rekannya yang ada di sudut lain.

"God bless you," sahut Yuda. Bolpoinnya berhenti menari diatas kertas.

"Huft! Thanks, Yud," ucapnya sembari mengusap ingusnya yang meluber hingga siku. "Keknya gue harus segera bersiap deh," imbuhnya mempercepat pekerjaannya.

Yuda yang berdiri di meja sortir hanya menggeleng sejenak. Rompi oranyenya sudah dipakai. Di depannya, ada tumpukan paket setinggi dada. Ia menarik satu kardus kecil.

"Nama: R. Hartono. Jalan: Melati 3, Gang 4."

Dia tulis di lembar distribusi.

Centang. Geser. Ambil lagi.

"Nabila Putri. Perumahan Citra Indah Blok F12."

Coret kecil di peta lipatnya. Pikirannya membayang suasana di area yang sudah ia hafal sebagian besar wilayahnya: warna cat rumah, sifat penerima paket, dan gang-gang tikus yang ada disekitarnya.

Tapi ia tetap mencatat. Karena kesalahan kecil bisa jadi komplain panjang. Bahkan, beberapa customer bebal malah ingin memviralkan kurir karena paketnya tidak sesuai.

Di sebelahnya, kurir lain mengeluh.

“Dapet daerah pasar lagi, Cik. Macet parah.”

Yuda cuma mengangguk tak peduli. Alisnya terangkat, sekedar menghargai keluhan yang terjadi dalam dunia kurir yang terbiasa dialami. Meskipun paket itu belum diantar.

Tangannya terus bergerak.

Ambil. Membacanya sekilas, lanjut tulis, dan mengelompokkannya bersama paket lain yang searah.

Ritme yang tenang, dan sudah berulang.

Lalu satu paket berhenti lebih lama di tangannya. Bukan karena berat, melainkan alamatnya.

"Jalan Veteran, dekat Perpustakaan Kota."

Tangannya tidak langsung mencentang. Matanya turun ke tumpukan lain. Ia mulai membaca lebih pelan. Bukan lagi sekadar menyortir, tapi mencari.

"Jalan Ahmad Yani. Gang Kenanga. Belakang Kantor Pajak. Skip!" Mulutnya bergumam.

"Komplek Graha Pertiwi. Dekat Stadion. Skip!"

Dia menggeser tumpukan sebelah kanan. Lebih pelan sekarang. Seolah tidak ingin terlihat mencolok. Hanya seperti seseorang yang ingin memastikan pembagian rute efisien. Padahal yang ia cari bukan efisiensi.

Lalu menemukan satu lagi.

"Toko Buku Cahaya Ilmu. Sebrang Perpustakaan Kota."

Matanya berbinar. Sudut bibirnya bergerak sedikit. Bukan senyum penuh, cuma… lega kecil.

Ia tarik dua paket itu dan meletakkan di kelompok rutenya sendiri.

Kurir lain melirik.

“Ambil pusat kota lagi, Yud?”

Yuda mengangkat bahu.

“Sekalian biar gak bolak-balik.”

Alasan masuk akal. Tak ada yang curiga. Namun di balik alasan efisiensi itu, ada niat lain.

Perpustakaan kota. Tempat gadis jurusan psikologi itu mungkin sering singgah.

Yuda menuliskan nomor rute dengan lebih rapi dari biasanya.

“Jam tujuh jalan semua!”

Yuda mengikat tali paket di motornya. Mengencangkan simpul. Lalu memeriksa ulang daftar.

Tapi sebelum naik motor, ia melirik sekali lagi ke arah dua paket itu.

Dekat perpustakaan. Dekat kota. Dekat kemungkinan.

Mesinnya menyala. Hari kerja dimulai.

Dan di antara puluhan alamat, ada satu tujuan yang lebih ia inginkan dari yang lain.

...****************...

Matahari meninggi, tapi Yuda belum bergerak menuju perpustakaan. Ia memutuskan untuk menyelesaikan beberapa paket di rute lain dulu.

Motor bututnya berdengung pelan saat ia meninggalkan pos. Daftar alamat menempel di dasbor motor, tapi matanya kadang melirik layar peta digital di ponsel.

“Huft semoga aja gak ada kejadian ngawur lagi deh." Ia menghela napas kasar. "Tapi... kalau sehari aja nggak ada drama, rasanya aneh juga,” gumamnya sambil menyalip truk sampah yang bergerak seperti kura-kura di jalan utama.

"Hoekk! Bau banget jir! Bau bangke! Parfum gue luntur sudah," gerutunya menyesali keputusannya untuk menyalip sebuah sedan, dan malah terjebak dibelakang truk sampah.

Pertigaan sudah terlihat. Ia langsung memutarnya dengan presisi seperti pembalap motor Rossi.

"Kak Melati ya?" sapanya.

"Iya, Mas. Makasih ya," sahutnya sembari tersenyum manis.

"Masama, Kak."

Yuda memotret paket itu dengan tangan yang diperlihatkan terjulur sebagai bukti kuat, bahwa paket sudah ditangan penerima.

Paket selesai diantar. Memeriksa paket selanjutnya.

Yuda melirik peta, menarik napas panjang. “Mungkin nrabas aja deh,” pikirnya.

Motornya belok. Meliuk diantara gang sempit. Suara kesibukan aktivitas tiap penduduk memenuhi kepalanya. Dan sesekali, tembok bata hampir menggores spion.

Seekor anjing kecil menyalak seperti menghadapi invasi asing.

“Woi, Anjing!" gertak Yuda sambil menghindar.

Karena kehilangan fokus, motornya malah nyasar ke dapur rumah tetangga.

Seorang ibu paruh baya menatapnya dengan ekspresi campur aduk antara terkejut dan keheranan.

“Loh! Mau ngapain mas? Kamu mau maling ya?!” Wanita itu mengangkat sotil. Bersiap untuk menerima serangan yang seharusnya tak akan terjadi.

Yuda hanya bisa cengar-cengir karena kekeliruannya dalam memilih jalan.

“Eh… salah gang, Bu… maaf…”

Dia memutar setang, dan dengan segera tancap gas sebelum diteriaki maling di siang bolong.

"Aduhh. Ini siapa sih yang bikin jalur trabasan malah lewat dapur? Ngawur banget dah," gerutu Yuda. Tanpa ia ketahui, di lain waktu sebelum ia datang, petugas map itu pun juga sebenarnya nyasar dan sedang mencari jalan di sekitaran gang itu.

Motor kembali melaju. Pelan, karena fokusnya terbagi antara aplikasi maps dengan jalanan di depannya.

"Katanya jalur sini lebih cepet. Belok aja deh,"

Sampai di ujung, terlihat papan kayu bertuliskan “Pemakaman Umum Kampung Tengah.”

“Loh? Kok malah disuruh lewat sini jir?" Yuda melongo.

Namun karena malas untuk putar balik, dia menerobos pemakaman dengan pohon kambpja yang ada di beberapa sudut kuburan. Suasana hening. Angin siang membawa aroma tanah basah.

Ia menoleh ke peta lagi. Memang, aplikasi itu ngotot: ini jalan tercepat.

"Assalamualaikum, Mbah. Cucumu cuma pengen nganter ini kok." Suaranya bergetar. Mencoba untuk tetap tenang diantara kepungan nisan.

"Ya Allah Ya Tuhanku. Berilah kekuatan kepada hambamu ini yang lemah dan tak berdaya dalam menghadapi jin dan syaitan yang terkurung," gumamnya tanpa ia sadari bahwa doanya keliru.

Seekor kucing hitam menatap tajam dari atas nisan. Seekor burung gagak terbang, mengacak-acak dedaunan.

“Eta kucing, eta kucing, kucing hideung." Yuda terus bersenandung meskipun suaranya tercekat. Pandangannya lurus. Bahkan menoleh pun enggan.

Setelah beberapa menit, jalan itu benar-benar menuntun ke gang lain yang akhirnya mempermudah rute.

Yuda menghela napas panjang, mengusap dahi.

"Seharusnya gue bawa tasbih juga deh tiap kerja,"

Di sela keluh kesah itu, senyum kecil muncul di bibirnya.

“Tapi seenggaknya, masih ada satu tujuan yang benar-benar bikin gue semangat. Satu tempat yang bikin semua drama ini terasa… gak ada apa-apanya.”

Dan Yuda pun menancapkan gas motor, membawa paketnya dengan hati-hati. Menuju jalan yang akan membawanya dekat perpustakaan kota, dan kemungkinan untuk pertemuan sore yang... Ia harap tak terlalu canggung.

1
mmmmuuuuu
sehat² dah para kurir
Writer_lynn
Tempat terbaik untuk merenung☺️
saya orang gila baru
perpustakaan memang semenenangkan itu
saya orang gila baru
"di di"/Slight/
saya orang gila baru
apakah namanya benar² rahasia/Sly/
saya orang gila baru
klo diganti "sudut bibirnya terangkat" pasti lebih bagus😌
Pengabdi Uji
km jutek jg kali jd org2 tktduan😭😭
Pengabdi Uji
ooohh si cewe di omelin bosnya ya
Pengabdi Uji
wkwk enggak lg ngulek itu bk. fashion show🤣
Mingyu gf😘
hahaha😆😆emang suka gitu kalau mengikuti maps yang banyak belokan
Mingyu gf😘
hayoo nazwa🤭🤭🤭
Mingyu gf😘
tapi perasaan kurir gak ada libur
Cecilia
ANJERRRRR NANGGUNG BANGETTT
Chimpanzini Sudah Hiatus: /Shy//Shy//Shy/
total 1 replies
Cecilia
dia lucu banget sihh😭
Chimpanzini Sudah Hiatus: adekku kok. makanya lucu/Proud/
total 1 replies
Cecilia
aku jga mww
Chimpanzini Sudah Hiatus: wkwk author pun jga mau🤣🤣
total 1 replies
Cecilia
mari kita juluki romi si uler coklat
Chimpanzini Sudah Hiatus: mana boleh kek gitu
total 1 replies
Cecilia
BU LINA CANTIKKK BANGETTT
Chimpanzini Sudah Hiatus: /Awkward//Awkward//Awkward/
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
cantik nya😍😍😍😍😍
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
ya itu akan timbul alami ketika bertemu orang baik
𝐇⃟⃝ᵧꕥ🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
senyuman formalitas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!