Lima tahun yang lalu, akibat satu malam penuh kesalahpahaman yang dijebak oleh orang lain, Alana Kirana menyerahkan kesuciannya kepada Devran Adhitama, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa. Takut dituduh sebagai wanita penghibur, Alana melarikan diri ke luar negeri dalam kondisi mengandung. Kini, Alana kembali sebagai desainer interior berbakat demi membiayai pengobatan putranya yang genius namun sakit-sakitan, Leo. Saat Devran menyewa jasanya, pria itu tidak tahu bahwa bocah berwajah sangat mirip dengannya yang sering menyelinap ke kantornya adalah darah dagingnya sendiri. Di tengah intrik mantan kekasih Devran dan rahasia masa lalu, cinta lama yang sempat padam kembali membara dengan taruhan rahasia besar yang siap meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Malam baru saja melewati puncaknya ketika keheningan di dalam Adhitama Mansion pecah oleh suara tangisan tertahan dari kamar tidur lobi atas.
Leo, yang beberapa jam lalu masih tampak ceria meretas kamera fotografer di taman, kini terbaring lemah di atas ranjang besarnya. Tubuh mungil bocah itu mendadak menggigil hebat, sementara peluh dingin membanjiri keningnya yang terasa sangat panas saat disentuh.
"Leo... Leo, dengar Mommy, Sayang? Buka matamu," bisik Alana dengan suara bergetar. Ia menempelkan kain kompres basah ke dahi anaknya dengan tangan yang gemetar hebat.
"Mommy... dingin... badanku sakit semua," rintih Leo dengan mata yang setengah tertutup.
Napasnya memburu, pendek-pendek dan terasa berat. Tablet militer yang biasanya tidak pernah lepas dari genggamannya kini tergeletak begitu saja di lantai karpet.
BRAAAK!
Pintu kamar terbuka kasar. Devran masuk dengan kemeja yang sudah kusut dan dasi yang telah dilonggarkan.
Wajah tegap yang biasanya selalu tenang dan penuh perhitungan itu kini memancarkan kepanikan yang luar biasa.
"Bagaimana kondisinya, Alana?! Mengapa dokter pribadi keluarga belum tiba di atas?!" tanya Devran, suaranya meninggi karena rasa cemas.
"Suhunya mencapai 40 derajat, Devran! Dia mendadak ambruk setelah memakan es krimnya tadi!" Alana mendongak dengan air mata yang mulai luruh membasahi pipinya.
"Dia kelelahan, tubuhnya tidak sekuat otaknya, Devran! Selama di Swiss, dia tidak pernah beraktivitas sepadat ini dalam sehari!"
Devran melangkah cepat ke tepi ranjang, lalu menempelkan punggung tangannya ke leher Leo.
Detik itu juga, rahang Devran mengeras. Panas tubuh anaknya seolah membakar kulitnya sendiri.
"Om... seram..." bisik Leo lirih, mengenali aroma parfum cendana ayahnya.
"Maaf... aku tidak bisa... mengajari Om berdansa besok..."
Mendengar kalimat rapuh dari anak kandungnya yang biasanya begitu sarkas dan penuh percaya diri, dada Devran terasa seperti dihantam godam besar.
Ego Adhitamanya runtuh seketika, digantikan oleh naluri seorang ayah yang ketakutan setengah mati.
"Jangan bicara dulu, Leo. Simpan tenagamu, Nak," ucap Devran, suaranya mendadak serak dan bergetar.
Tanpa membuang waktu satu detik pun, pria itu menyelimuti tubuh Leo dengan selimut tebal, lalu mengangkat tubuh mungil itu ke dalam dekapan lengannya yang kekar.
"Kita tidak bisa menunggu dokter datang ke sini. Reno!! Siapkan helikopter atau mobil lobi utama sekarang juga!"
"Helikopter sudah siap di landasan atap, Tuan Besar!" sahut Reno yang langsung muncul di ambang pintu dengan wajah yang sama pucatnya.
"Kita ke Adhitama Medical Center sekarang!" perintah Devran, melangkah lebar keluar kamar sembari mendekap Leo dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang mendekap jantung pisahnya sendiri.
Alana berlari cepat di belakangnya, terus menggenggam jemari dingin Leo yang terkulai lemas.
Adhitama Medical Center, rumah sakit internasional swasta paling elit di Jakarta yang seluruh sahamnya dimiliki oleh keluarga Adhitama mendadak gempar di sepertiga malam tersebut.
Begitu helikopter mendarat, belasan dokter spesialis anak dan perawat senior sudah berbaris di koridor darurat, langsung mengambil alih tubuh Leo ke atas brankar dorong.
Dua jam berlalu di depan pintu ruang perawatan intensif (ICU) terasa bagai siksaan abadi bagi Alana dan Devran.
Alana terus berjalan mondar-mandir sembari meremas jemarinya yang dingin, sementara Devran berdiri kaku bersandarkan dinding kaca, matanya tidak pernah lepas dari sosok Leo yang kini dipasangi berbagai selang medis di dalam ruangan.
Cklek.
Dokter Utama rumah sakit, Dr. Adrian, keluar dari ruang ICU dengan wajah yang dipenuhi oleh gurat kecemasan yang mendalam. Ia melepas masker medisnya dengan tangan yang tampak ragu.
"Dokter! Bagaimana keadaan anak saya?!" Alana langsung maju, mencengkeram lengan jas putih Dr. Adrian dengan pandangan memelas.
"Kenapa dia belum sadar juga?!"
Dr. Adrian menghela napas panjang, lalu melirik ke arah Devran yang kini sudah berdiri tegak di samping Alana dengan tatapan yang sanggup menguliti siapa saja.
"Tuan Besar, Nona... kondisi Master Leo mengalami komplikasi akut akibat kelelahan fisik ekstrem yang memicu kegagalan fungsi sel darah merahnya secara mendadak."
"Ini adalah dampak dari kelainan bawaan langka yang dideritanya sejak kecil," jelas Dr. Adrian dengan nada hati-hati.
"Langsung ke intinya, Adrian. Apa yang harus dilakukan untuk menyelamatkannya?!" potong Devran, suaranya rendah namun penuh dengan getaran kemarahan yang dipicu oleh rasa takut yang luar biasa.
"Master Leo mengalami penurunan kadar hemoglobin yang sangat drastis, Tuan Besar. Tubuhnya mengalami syok anemik."
"Kita harus melakukan transfusi darah darurat dalam waktu satu jam ini, atau organ dalam tubuhnya akan mulai kekurangan pasokan oksigen secara permanen," jawab Dr. Adrian, suaranya sedikit gemetar menghadapi aura mematikan Devran.
"Kalau begitu lakukan! Ambil dari bank darah rumah sakit ini!"
"Ini adalah rumah sakit terbaik di negeri ini, jangan katakan padaku kalau kalian kekurangan stok darah?!" bentak Devran, matanya berkilat tajam.
"Masalahnya bukan pada ketersediaan stok darah biasa, Tuan Besar," Dr. Adrian menelan ludahnya dengan susah payah sebelum melanjutkan, menyampaikan medis yang membuat atmosfer koridor itu seketika membeku.
"Golongan darah Master Leo adalah tipe rhesus negatif yang sangat langka, dan setelah kami melakukan uji kecocokan silang, struktur antibodi di dalam darahnya menolak semua sampel donor standar yang ada di bank darah kami."
"Tubuhnya mendadak mengembangkan reaksi imun yang sangat agresif."
Alana seketika menutup mulutnya, air matanya kembali tumpah.
"Lalu... lalu bagaimana? Darahku rhesus positif, aku tidak bisa mendonorkan darahku untuknya!"
"Benar, Nona Kirana. Karena itulah, satu-satunya jalan pintas yang aman untuk menghindari penolakan imunokompatibilitas yang fatal adalah mendapatkan transfusi darah langsung segar dari garis keturunan murninya," Dr. Adrian membalikkan tubuhnya sepenuhnya menghadap Devran, menunduk hormat.
"Tuan Besar Devran. Master Leo membutuhkan pasokan darah darurat langsung dari Anda selaku ayah kandungnya. Struktur genetik darah Anda adalah satu-satunya kunci yang bisa diterima oleh tubuhnya saat ini tanpa memicu reaksi penolakan."
Mendengar penuturan dokter, Devran mendadak mematung. Pria penguasa Adhitama Group yang biasanya selalu memiliki jawaban atas segala masalah itu kini terdiam seribu bahasa.
Sorot matanya bergerak gelisah, menatap lengannya sendiri, lalu beralih menatap Leo di balik kaca.
Ada kilat keraguan dan bayang-bayang trauma masa lalu yang melintas di matanya, kenyataan bahwa darah Adhitamalah yang selama ini membawa kutukan konspirasi dan bahaya bagi orang-orang di sekitarnya membuat Devran mendadak dilanda ketakutan batin yang mendalam.
Bagaimana jika darahnya justru memperburuk kondisi Leo? Bagaimana jika ikatan ini justru mengikat Leo ke dalam takdir kelam keluarganya?
Alana yang melihat keheningan Devran salah mengartikan ekspresi pria itu. Ia mengira Devran sedang menimbang-nimbang ego, atau masih meragukan status Leo sebagai anak kandungnya. Rasa panik dan amarah Alana pun meledak.
"Devran! Kenapa kamu diam saja?!" jerit Alana, maju dan mencengkeram kerah kemeja Devran dengan histeris.
"Dokter bilang dia butuh darahmu! Darah dari ayah kandungnya! Apa yang sedang kamu pikirkan di saat anakmu sedang bertaruh nyawa?!"
Devran tetap diam, rahangnya mengetat rapat, matanya menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa? Kamu masih ragu kalau Leo itu anakmu?! Kamu mau tes DNA dulu di saat dia hanya punya waktu kurang dari satu jam?!" Alana memukul dada Devran dengan kepalan tangannya yang bergetar, air matanya membanjiri wajah.
"Aku mohon, Devran... buang egomu yang setinggi langit itu! Jika kamu membenciku, hancurkan aku saja! Tapi jangan korbankan Leo! Dia tidak bersalah!"
"Alana, cukup," ucap Devran akhirnya, suaranya begitu rendah dan sarat akan emosi yang tertahan.
"Tidak! Aku tidak akan diam!" Alana berteriak semakin kencang, suaranya menggema di koridor rumah sakit yang sepi.
"Kamu menahan kami di mansion, menyita paspor kami dengan alasan proyek, bertingkah seolah kamu ingin melindungi kami!"
"Tapi sekarang, saat anakmu benar-benar membutuhkanmu untuk bertahan hidup, kamu justru berdiri di sini seperti patung es tanpa hati! Di mana hati nuranimu, Devran?!"
"Tutup mulutmu, Alana Kirana!"
Bentakan Devran yang menggelegar seketika menghentikan histeris Alana.
Dr. Adrian dan beberapa perawat di sekitar mereka refleks mundur satu langkah karena ketakutan. Napas Devran memburu, matanya memerah menahan badai emosi yang berkecamuk di dalam dadanya.
Devran mencengkeram kedua pergelangan tangan Alana yang tadinya memukul dadanya, menatap wanita itu lurus-lurus dengan tatapan yang begitu tajam namun rapuh.
"Kamu pikir aku diam karena meragukannya? Kamu pikir aku diam karena memikirkan egoku?!" desis Devran, suaranya bergetar hebat karena rasa sakit yang mendalam.
"Aku diam karena aku ketakutan, Alana! Selama hidupku, setiap orang yang memiliki hubungan darah denganku atau berada di dekatku selalu berakhir dalam bahaya!"
"Ibuku meninggal, Siska menjadi gila kekuasaan, dan kakek buyutku... aku hanya takut darahku justru membawa kutukan yang sama untuk anakku!"
Alana tertegun, cengkeramannya pada kemeja Devran perlahan melemas.
Ia baru menyadari bahwa di balik topeng keangkuhan seorang Devran Adhitama, ada seorang pria yang hancur oleh trauma masa lalunya sendiri.
Devran melepaskan pergelangan tangan Alana perlahan. Ia menarik napas panjang, mencoba menguasai kembali kendali atas dirinya sendiri.
Sambil menatap Leo di balik dinding kaca, perlahan ketakutan di matanya berganti menjadi tekad yang mutlak dan tak tergoyahkan.