Tiga tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Alya bertahan hanya karena menghormati wanita yang telah menyatukan mereka.
Namun, tepat setelah sang nenek meninggal dunia, suaminya menjatuhkan talak dan mengakhiri hubungan yang selama ini hanya dianggap sebagai kewajiban.
Dengan satu kaki palsu dan hati yang hancur, Alya meninggalkan rumah yang tak pernah benar-benar menerimanya. Ia tak menyadari bahwa di dalam rahimnya sedang tumbuh kehidupan baru.
Saat dunia seolah menutup semua pintu untuknya, Alya memilih bertahan demi seorang anak yang bahkan belum lahir. Anak itu ia beri nama Senja.
Ini adalah kisah tentang seorang ibu yang berjuang melawan keterbatasan, kesepian, dan kerasnya kehidupan. Sebab bagi Alya, Senja bukan sekadar anak. Senja adalah alasan mengapa ia terus hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Di Tengah Ancaman
Malam semakin larut, suasana terasa sepi hanya terdengar hembusan angin dari taman belakang. Sementara itu Dewa berdiri tegak masih terjaga entah kenapa ucapan Alya beberapa jam tadi masih terngiang di pikirannya.
"Bawa aku pergi sejauh mungkin."
Dewa memejamkan mata sejenak, saat mengingat permohonan itu. Ia tidak bisa hanya diam tanpa melakukan apapun. Jika terlambat sedikit saja pasti Arlan akan mengerahkan semua kemampuannya.
Tanpa berpikir lama, ia mengambil ponselnya lalu mencari satu nama yang selama ini hanya ia hubungi untuk urusan penting. Panggilan tersambung.
"Halo, Tuan."
"Maaf mengganggu malam-malam."
"Tidak masalah, Tuan. Ada perintah apa?"
Dewa menatap kembali ke arah jendela sebelum akhirnya berbicara dengan suara tenang.
"Aku butuh bantuanmu."
"Silakan, Tuan."
"Mulai malam ini siapkan semua dokumen untuk keberangkatan ke luar negeri."
Suara di seberang telepon sempat terdiam beberapa detik seolah heran dengan apa yang barusan didengar.
"Ke luar negeri, Tuan?"
"Iya."
"Untuk perjalanan bisnis?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Aku akan membawa seseorang pergi."
Pria di seberang sana tidak bertanya lebih jauh. Selama bertahun-tahun bekerja bersama Dewa, ia tahu atasannya bukan orang yang senang menjelaskan sesuatu yang belum waktunya diketahui.
"Baik, Tuan. Negara tujuannya?"
"Kita tentukan nanti. Yang terpenting semua persiapan harus selesai secepat mungkin."
"Baik."
Dewa kembali melanjutkan. "Aku juga ingin semua proses dilakukan diam-diam."
"Siap, Tuan."
"Tidak boleh ada satu pun informasi yang bocor."
"Termasuk kepada pihak perusahaan?"
"Termasuk siapa pun," jelas Dewa.
Pria itu langsung mengerti. "Baik, Tuan."
Belum selesai sampai di situ, Dewa kembali memberi instruksi pada pria itu untuk mengelabuhi lawan, dan dengan taktik seperti ini Dewa yakin setidaknya dalam waktu beberapa hari ini Arlan tidak fokus ke kota ini.
"Sebarkan informasi kalau perempuan yang sedang dicari itu sudah pindah ke Surabaya."
"Maaf, Tuan... itu berarti kita sengaja membuat jejak palsu?"
"Iya."
"Kalau orang itu mengejarnya?"
"Biarkan."
Dewa memejamkan mata sejenak. "Semakin lama dia mengejar alamat yang salah, semakin banyak waktu yang kita punya."
"Baik, Tuan. Saya mengerti."
Panggilan pun berakhir. Dewa meletakkan ponselnya di atas meja. Sesaat kemudian ia melangkah menuju balkon lantai dua. Dan dari sana lampu kamar Alya masih terlihat menyala redup.
Pria itu memandang ke arah jendela kamar tersebut cukup lama. "Aku tidak tahu sampai kapan bisa melindungimu," gumamnya pelan.
"Tapi selama kamu berada di bawah tanggung jawabku... tidak akan kubiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
☘️☘️☘️☘️☘️
Di sisi lain kota, Arlan masih duduk di dalam ruang kerjanya, hari pernikahannya dengan Amara semakin dekat, namun hatinya masih belum ada tanda-tanda kebahagiaan, karena ia tahu keturunan lebih penting dari pada apapun. Apalagi jika keturunannya itu berjenis kelamin laki-laki, pastinya akan menjadi penerus perusahaan keluarga.
"Pokoknya cepat atau lambat aku harus segera menemukan Alya,' gumamnya pelan.
Beberapa menit kemudian salah satu dari anak buahnya mengetuk pintu, mereka berjalan tegap sambil menyerahkan laporan terbaru.
"Tuan, kami mendapat informasi baru."
Arlan langsung mengangkat wajahnya, seolah meminta pada anak buahnya itu untuk menjelaskan kabar apa yang sedang ia dapatkan hari ini.
"Nyonya Alya diduga sudah meninggalkan kota."
"Ke mana?"
"Sumber kami mengatakan... dia pindah ke Surabaya."
Sorot mata Arlan langsung berubah tajam, bibirnya terangkat tipis baru saja ia memikirkan wanita itu, dan saat ini kabar baik mulai datang padanya.
"Siapkan mobil."
"Malam ini juga, Tuan?"
"Iya."
"Aku tidak akan memberinya kesempatan menghilang lagi."
Kabar itu meluas begitu cepat bahkan lebih dari yang diduga. Namun tak seorang pun menyadari bahwa informasi itu hanyalah jejak palsu yang sengaja disebarkan.
Sementara Arlan bersiap mengejar bayangan, Dewa justru sedang menyusun langkah berikutnya untuk membawa Alya pergi jauh... sebelum semuanya terlambat.
☘️☘️☘️☘️
Pagi hari. Dewa sudah rapi dengan setelan jasnya, sementara Alya dan juga Emil duduk di ruang tamu sambil menikmati cemilan, namun dari raut wajahnya Alya masih terlihat ketakutan. Dewa pun menghampiri keduanya lalu berkata pelan.
"Al, hari ini aku harus keluar sebentar. Ada urusan penting."
Alya mengangguk akan tetapi begitu Dewa benar-benar hendak melangkah ke pintu jantung Alya mendadak berdebar, bayangan Arlan yang menggedor kost, ancaman, serta video yang ditunjukkan Emil semalam kembali memenuhi pikirannya.
Tanpa sadar ia memanggil Dewa kembali.
"Mas..."
Dewa berhenti seketika, pria itu menoleh cemas. "Iya?"
Alya menggenggam ujung bajunya sendiri. Beberapa detik ia hanya menunduk, entah kenapa ingin mengucapkan sesuatu tapi terasa malu, karena ia tahu selama ini dirinya selalu menjaga jarak, dan beranggapan bisa melakukannya sendiri. Tapi tidak untuk kali ini.
"...boleh gak... jangan lama-lama?"
Dewa sedikit terkejut, pasalnya wanita itu selalu keras kepala menolak bantuannya, tapi kali ini dia sendiri yang meminta.
Sementara Alya buru-buru menjelaskan. "Bukan... bukan maksudku melarang Mas kerja."
"Aku cuma..." kalimat itu terhenti begitu saja, air matanya mulai menggenang. "Aku takut."
Kalimat sederhana itu langsung membuat suasana hening. Emil dan Mbok Ina saling berpandangan, sementara Dewa perlahan berjalan kembali menghampiri Alya. Ia berjongkok agar sejajar dengan wajah perempuan itu.
"Apa yang kamu takutkan?"
Dengan suara lirih Alya menjawab. "Aku takut... dia datang dan kalau Mas Dewa pergi lama..."
"Al," ucap Dewa pelan, tatapannya kali ini benar-benar dalam. "Aku pergi hanya sebentar setelah itu pasti kembali," ujarnya.
Namun Alya tetap menggelengkan kepalanya, seolah takut jika Dewa akan ada urusan lama di luar sana.
"Tapi aku takut," kata Alya berulang kali.
"He, lihat wajahku Al," suruh Dewa. "Apa nampak sorot mataku ini menyembunyikan sesuatu?"
Alya pun mulai menatap mata pria itu, entah kenapa rasa takut yang merayap di hatinya perlahan runtuh, karena dari sorot mata itu Alya tidak menemukan kebohongan apapun.
Menyadari Alya yang sedikit berubah, Dewa pun mulai mengusap kepala Alya pelan, lalu berkata.
"Dengar aku."
"Aku memang harus pergi."
"Tapi sebelum berangkat, aku sudah menambah penjagaan di rumah ini."
"Selama aku belum kembali..."
"Tidak ada siapa pun yang bisa menyentuhmu."
Lalu Alya berkata lirih, "Janji?"
Dewa tersenyum tipis. "Aku janji."
Entah kenapa setelah mendengar janji Dewa Alya mulai melepas kepergian pria itu dengan hati sedikit lega. Meskipun ia tahu ketakutan itu belum hilang semuanya tapi ia yakin jika apapun yang dilakukan Dewa, untuk kebaikannya juga.
Bersambung ....
Selamat sore semoga suka ya.