⚠️ PERINGATAN
Cerita ini mengandung unsur Dark Romance & Visualisasi Horor.
Dipaksa menikah dengan pembunuh berdarah dingin demi menyelamatkan klan yang dibencinya.
Aiko Kurogawa hanya ingin hidup normal, jauh dari dunia kelam Yakuza yang mengalir di darah keluarganya.
Namun keinginan sang ayah yang sekarat memupuskan semua itu, ia dinikahkan paksa dengan Ren Tachibana, pemimpin muda Yakuza yang dingin, kejam, dan hidup hanya untuk membalas dendam.
Ren memperlakukannya sebagai aset, bukan istri. Sementara Aiko harus menyembunyikan satu rahasia besar yang bisa membuatnya dianggap gila. sejak lahir, ia dikutuk untuk bisa melihat arwah orang-orang mati.
Dan di sekeliling Ren, arwah-arwah itu tidak pernah berhenti berbisik.
Ketika bisikan para arwah mulai mengungkap rahasia kelam masa lalu.
Aiko dihadapkan pada pilihan.
bertahan diam demi keselamatannya, atau menggali lebih dalam dan mempertaruhkan nyawa demi kebenaran yang mengikat mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 5
Daichi yang menyaksikan hal itu dari jarak beberapa meter hanya bisa menghela napas pelan sambil menggelengkan kepala. Bosnya memang sama sekali tidak memiliki kelembutan jika menyangkut urusan wanita.
Aiko diam mendengarkan setiap untaian kata-kata pedas yang keluar dari bibir pria di hadapannya. Di belakang bahu Ren, arwah pria berwajah rusak tadi kembali muncul, tertawa melengking seolah mengejek ketidakberdayaan Aiko.
Perlahan, ketakutan di wajah Aiko memudar, berganti oleh ekspresi tenang dan datar yang sangat berbeda dengan dugaan Ren. Aiko menatap lurus ke dalam mata Ren tanpa ada sedikit pun keraguan atau riak emosi ketakutan dari tatapan matanya.
"Kau salah, Tuan Tachibana," ucap Aiko dengan suara yang mengalir tenang, begitu jernih di dalam koridor yang sunyi. "Aku tidak pernah mengharapkan dongeng romantis dari pernikahan yang diawali dengan selembar kertas kontrak bisnis. Aku tahu persis siapa dirimu, dan aku tahu persis dunia seperti apa yang kau jalani."
Aiko maju selangkah, membuat jarak di antara mereka menjadi sangat tipis. Di mata Aiko, keberadaan arwah-arwah mengerikan di sekitar Ren justru menjadi bukti nyata betapa hancurnya masa lalu pria ini.
"Aku tidak akan meminta Ayah untuk membatalkan pernikahan ini. Aku akan tetap datang ke kediaman Tachibana bulan depan sebagai istrimu yang sah," lanjut Aiko, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang misterius. "Kau tidak perlu repot-repot mengurusku atau menjadikanku beban. Aku hanya meminta satu hal darimu setelah kita menikah nanti."
Ren mengerutkan alisnya, sedikit terkejut dengan perubahan sikap Aiko yang mendadak menjadi begitu berani dan tenang. "Apa yang kau inginkan?"
"Jangan pernah mencampuri urusan pribadiku, dan beri aku ruang untuk hidup dengan caraku sendiri di rumahmu," jawab Aiko tegas. "Selama kau memenuhi hal itu, aku akan memastikan peranku sebagai istrimu berjalan dengan baik di depan publik demi kepentingan klanmu."
Ren terdiam selama beberapa detik, mengamati setiap jengkal ekspresi di wajah pucat Aiko.
"Menarik," gumam Ren lirih, aura intimidasinya perlahan menyusut berganti oleh rasa penasaran. "Kuharap kau bisa memegang kata-katamu setelah kakimu melangkah masuk ke wilayahku, Nona Aiko."
Aiko tidak membalas lagi. Ia berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya memandu Ren dan Daichi hingga sampai di halaman depan.
**
Satu bulan kemudian, musim gugur mulai menyapa Kyoto dengan embusan anginnya yang menusuk tulang. Namun, hawa dingin di luar sana tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan suasana yang menyelimuti kamar utama kediaman Kurogawa pagi itu.
Aiko berdiri kaku di depan cermin besar. Tubuhnya dibalut oleh Shiromuku, sebuah gaun pernikahan tradisional Jepang berupa kimono sutra berlapis berwarna putih bersih, lengkap dengan penutup kepala yang senada.
Di dalam tradisi kuno, warna putih itu melambangkan kesucian. Namun di dunia Yakuza, kain putih itu memiliki makna lain yang jauh lebih kelam, yaitu sebuah simbol bahwa sang pengantin wanita telah mati bagi keluarganya sendiri dan siap melebur ke dalam warna klan suaminya.
"Nona Aiko, Kumicho sudah menunggu di aula utama," suara pelayan paruh baya yang membantunya berpakaian memecah keheningan.
Aiko mengangguk pelan tanpa senyuman. Ia membalikkan tubuh, lalu meraih sebuah kotak kayu kecil dari atas meja riasnya. Di dalam kotak itu tersimpan tusuk konde peninggalan neneknya dan album foto ibunya. dua benda yang menjadi jangkar di hidupnya agar tidak gila di tengah kutukan ini. Dengan langkah yang sengaja diperlambat, ia berjalan keluar.
Di aula utama, Hiroshi Kurogawa sudah menunggu. Pria tua itu mengenakan kimono formal hitam dengan lambang klan Kurogawa terukir di dadanya. Wajahnya luar biasa pucat, dan napasnya terdengar putus-putus. Aiko tahu, demi bisa berdiri tegak hari ini tanpa terbatuk darah di depan umum, ayahnya telah meminta dokter pribadi klan untuk menyuntikkan obat pereda nyeri dengan dosis tertinggi ke tubuhnya.
"Kau tampak sangat cantik, Aiko. Mirip sekali dengan ibumu saat hari pernikahan kami dulu," ucap Hiroshi, suaranya parau namun matanya memperlihatkan rasa bangga sekaligus kepedihan yang mendalam.
Aiko menatap ayahnya dengan pandangan sayu. "Aku melakukan ini karena permintaan Ibu, Ayah. Bukan karena aku menerima dunia ini."
Hiroshi terdiam sesaat, Ia tahu putrinya terluka, namun ia juga tahu ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa Aiko di masa depan. "Aku tahu. Maafkan ayahmu yang tidak berguna ini, Aiko. Sekarang, mari kita pergi. Pengantin priamu sudah menunggu di kuil."
Upacara pernikahan dilakukan secara tertutup di sebuah kuil Shinto kuno yang terletak di dalam area privat milik klan Kurogawa. Tidak ada ratusan tamu undangan, musik perayaan yang meriah, dan juga tawa.
Yang terlihat hanyalah barisan pria berjas hitam dari kedua faksi yang berjaga ketat di sepanjang anak tangga kuil dengan tangan yang siap menarik pelatuk senjata kapan saja.
Ren Tachibana sudah berdiri di dekat altar. Pria itu mengenakan Montsuki Haori Hakama, sebuah kimono formal pria berwarna hitam dengan lambang klan Tachibana di pundaknya. Rambut hitam pendeknya disisir rapi ke belakang, membuat dahi dan rahang tegasnya terlihat semakin jelas.
Ketika Aiko melangkah masuk ke dalam aula kuil, sepasang mata tajam Ren langsung tertuju padanya. Tatapan itu masih sama seperti satu bulan lalu.
Namun, begitu kaki Aiko menginjak lantai kayu kuil, bulu kuduknya mendadak berdiri tegak.
Kuil yang seharusnya menjadi tempat suci itu justru dipenuhi oleh kabut tipis tak kasat mata yang sangat dingin. Di sudut-sudut pilar kuil yang gelap, arwah para leluhur klan Kurogawa berdiri berjajar dengan wajah kaku. Mereka tidak menatap Aiko, melainkan menatap Ren dengan pandangan yang dipenuhi aura permusuhan.
"Waktunya telah tiba... lingkaran darah akan dimulai..." bisik suara-suara gaib itu, saling bersahutan hingga membuat telinga Aiko berdengung kesakitan.
Bukan hanya arwah keluarga Kurogawa. Di belakang punggung Ren, tiga sosok arwah korban pembunuhan yang waktu itu ikut datang lagi. Kali ini, mereka tampak lebih agresif. Darah segar menetes dari pakaian mereka yang robek, mengotori lantai kuil yang suci dalam penglihatan Aiko. Salah satu arwah wanita dengan luka tembak di dada merangkak di dekat kaki Ren, menatap Aiko dengan mata melotot merah.
Aiko mengepalkan tangannya di balik lengan kimono yang lebar, mencoba menahan tubuhnya agar tidak gemetar di hadapan sang pendeta kuil. Ia melangkah maju hingga akhirnya berdiri tepat di samping Ren.
Prosesi ritual San-san-kudo, di mana pengantin pria dan wanita bergantian meminum arak Jepang dari tiga cawan yang berbeda. dimulai dengan keheningan yang mencekam. Saat giliran Aiko mengangkat cawan itu, jemarinya sedikit bergetar karena di dalam pantulan air arak tersebut, ia bisa melihat wajah hancur arwah di belakang Ren ikut mengintip.
Ren, yang menyadari keterlambatan gerakan Aiko, melirik sekilas dari sudut matanya. Ia melihat keringat dingin kembali bercucuran di pelipis istrinya. Ren membatin dengan sinis, mengira bahwa ritual pernikahan tradisional yang sakral ini terlalu berat untuk dihadapi oleh mental seorang putri manja.
Setelah bertukar sumpah setia yang terasa palsu di telinga masing-masing, pendeta menyatakan mereka telah resmi menjadi suami istri. Ren Tachibana dan Aiko Kurogawa kini telah terikat oleh hukum dunia bawah.
ada tegang dari dunia yakuza plus horor sekaligus
bedanya karakternya lebih manusiawi 🤣🤣 ga kaya ren kaya 😈