Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Ditinggalkan
Suasana kamar rawat itu terasa berbeda pagi itu—lebih ringan, tapi juga menyisakan sisa-sisa ketegangan yang belum benar-benar hilang. Koper besar sudah terbuka di atas sofa kecil, sementara Tante Leni dengan gerakan cekatan melipat satu per satu baju Aldo, memasukkannya dengan rapi, seolah ingin segera menutup semua yang terjadi di tempat itu.
Aldo duduk di tepi ranjang, masih mengenakan pakaian pasien yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Tatapannya beberapa kali mengarah ke ponsel di tangannya, layar yang sejak tadi gelap, tanpa pesan dari orang yang ia tunggu.
Percakapan mereka tadi masih menggantung di udara, seperti sesuatu yang belum selesai. Namun Tante Leni tidak memberi ruang untuk itu. Setelah koper ditutup dengan bunyi klik yang tegas, ia berdiri dan menatap anaknya.
"Sudah, ayo kita urus administrasi!” ucapnya singkat.
Aldo hanya mengangguk pelan.
—
Koridor rumah sakit siang itu cukup ramai. Perawat berlalu-lalang, suara roda ranjang pasien berderit pelan, dan aroma khas antiseptik masih terasa menyengat. Aldo berjalan di samping Tante Leni, langkahnya tidak secepat biasanya. Sesekali ia menoleh ke belakang, seolah berharap seseorang akan memanggil namanya.
Tapi tidak ada.
Setelah semua proses administrasi selesai, mereka keluar menuju area parkir. Matahari siang menyambut dengan cahaya terang yang sedikit menyilaukan, kontras dengan suasana dingin di dalam rumah sakit.
Mobil hitam milik mereka sudah menunggu.
Supir segera turun dan membuka bagasi, memasukkan koper Aldo dengan sigap. Tante Leni langsung masuk ke kursi belakang tanpa banyak bicara, sikapnya tegas, seakan tidak ingin memberi kesempatan pada keraguan sekecil apa pun.
Aldo masih berdiri beberapa detik di luar mobil.
Tangannya menggenggam ponsel lebih erat. Ia membuka layar, menatap nama Amanda di daftar kontak. Jempolnya sempat berhenti di sana… lama.
Helaan napas panjang keluar dari dadanya.
Namun pada akhirnya, layar itu kembali padam tanpa satu pesan pun terkirim.
Aldo masuk ke dalam mobil.
—
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil terasa sunyi. Mesin mobil berdengung halus, menemani pikiran Aldo yang berisik sendiri.
Ia menatap keluar jendela, melihat gedung-gedung kota yang berlalu satu per satu, tapi yang terlintas di benaknya justru wajah Amanda—cara gadis itu tersenyum, cara ia menjaga jarak, cara ia berbeda dari yang lain.
Sementara itu, Tante Leni duduk di sampingnya dengan wajah lurus ke depan. Sesekali ia melirik Aldo, lalu kembali menatap jalan. Dalam hatinya, keputusan ini sudah bulat—tidak boleh ada celah lagi.
"Aldo,” panggilnya akhirnya, suaranya lebih lembut dari sebelumnya.
Aldo menoleh pelan. “Iya, Mi?”
"Kita mulai yang baru di Jerman. Tinggalkan yang di sini.”
Aldo tidak langsung menjawab.
Matanya kembali menatap keluar jendela, tapi kali ini lebih kosong.
"Iya, Mi…” jawabnya lirih.
Mobil itu melaju menjauh dari rumah sakit, membawa mereka pulang—dan tanpa mereka sadari, juga menjauhkan Aldo dari sesuatu yang mungkin belum sempat benar-benar ia selesaikan.
Sepanjang hari di kantor, pikiran Amanda tidak pernah benar-benar fokus. Di sela-sela pekerjaannya, ia berkali-kali melirik ponselnya, mencoba menelepon Aldo lagi—dan lagi. Namun hasilnya tetap sama: panggilan tidak tersambung.
Perasaan tidak enak mulai menggerogoti.
Begitu jam kerja selesai, Amanda hampir berlari keluar gedung. Ia bahkan tidak sempat berganti pakaian, hanya merapikan rambut seadanya sebelum segera memesan kendaraan menuju rumah sakit.
—
Langit mulai meredup saat Amanda tiba di sana. Lampu-lampu gedung sudah menyala, memberikan kesan dingin dan asing. Dengan langkah cepat, ia masuk ke dalam, melewati lorong yang tadi pagi masih terasa akrab.
Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia menekan tombol lift berulang kali, seolah itu bisa membuat lift datang lebih cepat.
Begitu pintu terbuka, Amanda langsung masuk dan menatap angka lantai dengan gelisah. Kakinya bergerak kecil, tangannya menggenggam tas erat.
Semoga belum pulang… semoga masih ada… batinnya berulang kali berdoa.
—
Pintu lift terbuka. Amanda melangkah cepat menuju kamar rawat Aldo. Nafasnya sedikit terengah, tapi ia tidak peduli. Yang penting, ia harus bertemu.
Namun langkahnya tiba-tiba melambat saat sampai di depan pintu.
Nomor kamar itu benar. Tapi…Ada sesuatu yang terasa berbeda. Dengan ragu, Amanda membuka pintu.
Yang ia lihat bukan Aldo. Seorang pasien lain terbaring di sana, ditemani keluarga yang asing baginya. Barang-barang di dalam ruangan juga sudah berubah—tidak ada lagi tas, tidak ada lagi jejak Aldo, seolah ia tidak pernah ada di sana.
Amanda berdiri terpaku di ambang pintu.
"Maaf, Mbak cari siapa?” tanya salah satu keluarga pasien dengan sopan.
Amanda tersadar, menelan ludah.
"Pasien sebelumnya… Aldo…?” suaranya pelan, hampir seperti bisikan.
"Oh, yang tadi siang ya? Sudah pulang, Mbak. Kamarnya langsung dipakai lagi,” jawab orang itu tanpa curiga.
Seperti ada sesuatu yang jatuh… bukan benda, tapi harapan.
Amanda mengangguk pelan. “Oh… iya… makasih…”
Ia menutup pintu perlahan.
Langkahnya mundur, lalu berhenti di tengah koridor. Dunia di sekitarnya tetap berjalan—perawat lewat, suara sepatu bergema di lantai, orang-orang berbicara—tapi semuanya terasa jauh.
Tangannya perlahan mengambil ponsel. Ia mencoba menelepon lagi. Masih tidak bisa. Amanda menatap layar itu lama, matanya mulai berkaca-kaca.
"Jadi… bener ya…” gumamnya lirih.
"Beneran ditinggal…”Ia tertawa kecil, tapi terdengar hambar.
Punggungnya bersandar ke dinding koridor, seolah tubuhnya tiba-tiba kehilangan tenaga. Semua yang tadi ia tahan sejak siang—cemas, kesal, berharap—bercampur jadi satu.
"Minimal… pamit aja gak bisa…” suaranya bergetar.
Amanda menunduk, menggigit bibirnya sendiri, berusaha menahan sesuatu yang hampir tumpah. Namun yang paling terasa bukan marah. Melainkan… kosong.
Perlahan, ia mendorong tubuhnya untuk berdiri tegak lagi. Ia tidak ingin menangis di tempat itu. Tidak di depan orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Dengan langkah pelan, Amanda berjalan menuju lift. Link lKali ini, tidak ada lagi terburu-buru.
Karena orang yang ingin ia temui… sudah tidak ada di sana.
Langkah Amanda terasa berat sejak turun dari mobil. Bahunya sedikit merosot, wajahnya pucat, dan matanya kosong seperti seseorang yang baru saja kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia genggam sepenuhnya.
Suasana parkiran apartemen cukup sepi. Hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri yang bergema pelan di antara deretan kendaraan. Ia berjalan tanpa semangat, tasnya menggantung lemah di bahu.
Saat melewati area parkir sepeda, langkahnya terhenti.
"Man.”
Suara itu membuatnya menoleh cepat.
Kamil berdiri di sana, bersandar santai di dekat sepeda miliknya, seolah sudah lama menunggu. Tatapannya langsung mengunci Amanda, memperhatikan setiap perubahan di wajah perempuan itu.
Amanda menghela napas pelan, rasa lelahnya seakan bertambah.
"Mau apalagi ke sini?” tanyanya dingin, tanpa basa-basi.
Kamil mengangkat bahu ringan. “Mau ambil sepeda.”
Nada bicaranya santai, tapi matanya tetap meneliti Amanda dari atas sampai bawah.
"Lesu banget, Man?” lanjutnya, sedikit menyeringai. “Ditinggal sama Aldo ya?”
Amanda menatapnya tajam, meski sorot matanya tidak sekuat biasanya.
"Sok tahu.”
Kamil terkekeh pelan, lalu melangkah mendekat satu langkah.
"Tahu lah,” kemarin pas aku ke sana, ibunqya bilang, "ambil aja Manda buat kamu. Aldo dah gak butuh." katanya lebih serius sekarang. "Kelihatan banget ibunya Aldo itu gak suka kamu, Man. Masa masih mau bertahan sama orang kayak gitu?”
Amanda langsung memalingkan wajah, rahangnya mengeras.
"Itu bukan urusanmu.”
Jawabannya cepat, tegas, tapi ada nada rapuh yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Kamil terdiam sejenak, menatapnya lebih dalam. Kali ini tanpa senyum, tanpa sindiran.
"Ya urusanku lah,” ucapnya pelan, suaranya berubah lebih rendah. “Karena sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu, Man.”
Kata-kata itu menggantung di udara.
Amanda membeku. Untuk beberapa detik, ia tidak bergerak. Hanya suara napasnya yang terdengar sedikit tidak teratur.
Perlahan, Amanda menoleh kembali ke arah Kamil.
Tatapan mereka bertemu. Namun kali ini, tidak ada kehangatan di mata Amanda.
Yang ada hanya lelah… dan sesuatu yang sulit dijelaskan.
"Kamu datang di waktu yang salah, Mil…” ucapnya lirih.
Kamil mengernyit, sedikit tidak menyangka. Amanda melanjutkan, suaranya pelan tapi jelas, "Cintaku sekarang hanya untuk Aldo."
"Tapi kalau cinta Aldo gak untuk kamu gimana, Man?"
Ia menggeleng kecil, menahan emosinya.
"Udah ah aku capek…”
Suasana di parkiran itu mendadak terasa lebih sunyi dari biasanya. Suara kendaraan yang lalu lalang seolah menjauh, menyisakan hanya ketegangan di antara mereka berdua.
Kamil berdiri dengan tatapan tajam, penuh tanya yang selama ini ia pendam. Sementara Amanda berusaha terlihat tenang, meski sorot matanya mulai gelisah.
"Manda, sebenarnya sudah berapa lama kamu sama Aldo?" suara Kamil terdengar datar, tapi jelas menyimpan sesuatu yang berat.
"Itu bukan urusanmu, Mil."
"Dulu waktu di kantin aku nembak kamu, kamu bilang: "buktikan kalau kamu benar-benar mencintaiku. Aku mau tahu pengorbananmu sampai mana?" Itu kamu udah sama Aldo belum, Manda?"
Amanda terdiam.
Ucapan Kamil seperti menampar sesuatu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat. Tangannya yang sejak tadi menyilang di dada perlahan turun, jemarinya saling menggenggam, seolah mencari pegangan.
"Kamu ngapain bahas itu sekarang?" suaranya lebih pelan, tapi masih berusaha terdengar tegas.
Kamil tersenyum miring, matanya tidak lepas dari wajah Amanda.
"Karena aku baru sadar… mungkin dari dulu aku cuma dijadiin alat buat ngebuktiin sesuatu."
Amanda menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya.
"Kamu terlalu lebay, Mil."
"Lebay?" Kamil terkekeh pelan, tapi tak ada tawa di matanya.
"Aku serius nunggu kamu. Aku berusaha jadi yang kamu mau. Tapi ternyata… kamu udah punya Aldo? Aku menceraikan Raya di hari pernikahannya."
Hening.
Amanda menelan ludah, rahangnya mengeras.
"Aku gak pernah janji apa-apa sama kamu."
"Iya, kamu gak janji," potong Kamil cepat, "tapi kamu kasih harapan."
Kali ini Amanda menatapnya lagi, sorot matanya mulai goyah.
"Aku cuma minta kamu buktiin perasaan kamu. Itu salah?"
"Kamu minta aku berjuang," suara Kamil merendah, lebih dalam, "sementara kamu sendiri… udah milih orang lain."
Kalimat itu menggantung di udara.
Amanda tak langsung menjawab. Dadanya terasa sesak, tapi egonya menahan semuanya tetap utuh di permukaan.
"Aku kenal Aldo setelah itu," akhirnya ia berkata, lirih namun jelas.
Kamil mengangguk pelan, seolah potongan puzzle yang selama ini hilang akhirnya menemukan tempatnya.
"Jadi aku… cuma jeda ya?"
Amanda mengepalkan tangan.
"Kamu yang terlalu berharap."
Kamil tersenyum lagi—kali ini tipis, pahit.
"Bukan berharap, Man. Aku cuma percaya sama kata-kata kamu."
mantappp