NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:15.4k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden jendela ruang makan, menyinari meja kayu besar yang biasanya riuh oleh suara celotehan anak-anak. Namun, pagi ini suasana di dalam rumah mewah berlantai tiga itu terasa begitu sepi, bahkan cenderung senyap. Hanum duduk sendirian di kursi makan, menatap piring rotinya yang baru tersentuh separuh. Tidak ada suara tawa melengking dari Kayla yang biasanya merengek minta disuapi, juga tidak ada suara Kenzie yang sibuk memukulkan sendok ke meja sambil meminta susu cokelatnya.

​Rumah itu mendadak terasa begitu luas dan kosong. Semalam, sesuai dengan janji yang diucapkan oleh Papa mertuanya, Kayla dan Kenzie langsung dibawa menginap di salah satu hotel bintang lima paling mewah di pusat kota. Mereka tidak pergi berdua saja, melainkan ditemani dan dijaga ketat oleh Tian.

​Hanum menghela napas pelan, mengaduk teh hangatnya yang mulai mendingin. Dia tahu persis apa alasan mendasar mengapa Papa mertuanya dan Tian memilih untuk memesan kamar presidential suite di hotel daripada tinggal di rumah mewah yang selama bertahun-tahun ini ditempati oleh Ibu Rahma. Jawabannya sangat sederhana namun menohok. Papa mertuanya sudah terlalu jijik untuk menginjakkan kaki di atas tanah properti itu lagi.

​Bagi pria paruh baya yang terpandang itu, rumah yang pernah dia sediakan untuk menjamin martabat Ibu Rahma kini telah dikotori oleh aroma pengkhianatan yang busuk. Rumah itu telah menjadi saksi bisu di mana konspirasi pernikahan siri Hanif dan Sarah direncanakan dengan penuh kelicikan. Kemarin malam, sebelum meninggalkan rumah Hanum, Papa mertuanya bahkan sempat membisikkan sebuah rencana besar yang membuat Hanum terenyuh. Pria tua itu berniat untuk segera menjual rumah mewah yang sempat ditempati Ibu Rahma tersebut melalui agen properti kepercayaannya.

Uang hasil penjualannya sama sekali tidak akan diberikan kepada Hanif atau ibunya, melainkan akan dialokasikan untuk membeli sebuah rumah baru yang terletak di dalam kompleks perumahan elit yang sama dengan rumah Hanum saat ini. Alasannya hanya satu Papa mertuanya ingin tinggal sedekat mungkin dengan kedua cucu kembarnya agar bisa memantau pertumbuhan mereka tanpa sekat.

​Hanum menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, matanya menerawang menatap langit-langit ruang makan. Sebuah senyuman miris sekaligus haru terukir di bibirnya yang pucat.

"​Dunia ini kadang selucu dan sekejam itu," batin Hanum berdialog dengan dirinya sendiri.

​Jika dilihat dari garis keturunan atau hukum nasab, Papa mertuanya dan Kak Tian sebenarnya adalah orang lain bagi dirinya. Mereka tidak memiliki hubungan darah setetes pun dengan Hanum, bahkan dengan Kayla dan Kenzie. Mereka hanyalah keluarga tiri yang terikat karena pernikahan Ibu Rahma yang serakah itu. Sementara Hanif, laki-laki yang berstatus sebagai suami sahnya, pria yang mengalirkan darahnya ke dalam tubuh kedua anak kembarnya, justru menjadi sosok yang paling tega menikamnya dari belakang. Laki-laki sedarah yang seharusnya menjadi pelindung terdepan justru bertingkah layaknya iblis tak tahu diri, sedangkan dua pria yang secara nasab adalah orang asing, justru menjadi pihak yang paling tulus berdiri pasang badan untuk melindunginya dari kehancuran. Mereka memberikan kasih sayang yang murni, tanpa pamrih, dan tanpa syarat.

​Hanum mengalihkan pandangannya ke arah dinding ruang makan. Di sana, sebuah foto keluarga besar yang baru dipasang setelah izin poligami menggantikan foto lama. Kini, yang terpajang di dinding itu hanyalah foto berukuran besar yang memperlihatkan dirinya yang sedang menggendong Kayla dan Kenzie yang masih bayi, dengan latar belakang taman yang asri. Tidak ada lagi ruang untuk para pengkhianat di dalam rumahnya, begitu pula di dalam hidupnya.

​Hanum baru saja hendak menyuap potongan roti terakhirnya ketika langkah kaki terburu-buru dari Bik Sumi, kepala pelayan rumahnya, memecah keheningan.

​"Permisi, Nyonya Hanum," ucap Bik Sumi dengan sikap hormat, menundukkan kepalanya sedikit.

​Hanum meletakkan garpunya kembali ke piring. "Ada apa, Bik?"

​"Itu... di depan, Tuan Tian sudah datang, Non. Beliau sekarang sedang menunggu di dalam mobil di depan teras," lapor Bik Sumi.

​Hanum sedikit terkejut, melirik sekilas ke arah jam tangan digital yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi lewat lima belas menit. Cepat sekali, pikirnya. Sesuai dengan rencana yang mereka sepakati semalam, hari ini Hanum memang akan dijemput untuk pergi ke hotel terlebih dahulu guna menjemput anak-anak dan Papa mertuanya, sebelum mereka bersama-sama berangkat menuju rumah orang tua kandung Hanum untuk menjelaskan seluruh prahara rumah tangga ini.

​"Oh, Kak Tian sudah sampai? Kenapa tidak disuruh masuk saja ke dalam, Bik? Suruh tunggu di ruang tamu saja," kata Hanum sambil bersiap berdiri.

​"Sudah saya tawari tadi, Non. Tapi Tuan Tian bilang tidak usah, beliau mau menunggu di mobil saja. Katanya tanggung," jawab Bik Sumi dengan ekspresi agak canggung, sepertinya agak segan dengan aura kaku yang dipancarkan oleh kakak tiri Hanif itu.

​Hanum mengangguk paham. Watak Tian memang seperti itu kaku, efisien dan tidak suka membuang waktu untuk basa-basi yang tidak perlu. Hanum segera bangkit dari kursi makannya, merapikan blus rajut berwarna mocca yang dipadukan dengan celana kulot hitam yang membuatnya tampak sangat elegan namun tetap bersahaja. Dia berjalan menuju pintu depan untuk menyambut pria yang kini menjadi pelindungnya itu.

​Begitu pintu utama terbuka, Hanum melihat mobil SUV hitam besar milik Tian sudah terparkir rapi di depan undakan teras. Kaca mobil bagian pengemudi tampak diturunkan setengah, memperlihatkan profil samping wajah Tian yang tegas dan rahangnya yang mengeras. Pria itu tampaknya menyadari kehadiran Hanum, karena sedetik kemudian dia membuka pintu mobil dan melangkah keluar.

​Pagi ini Tian terlihat sangat rapi namun dengan kesan yang lebih santai daripada kemarin malam. Dia mengenakan kemeja slim-fit berwarna biru dongker yang lengannya digulung hingga sebatas siku, memperlihatkan jam tangan melingkar yang mahal serta urat-urat tangan yang menonjol maskulin. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi, seolah-olah dunia di sekitarnya sedang baik-baik saja.

​"Pagi, Kak Tian," sapa Hanum dengan senyum tipis yang sopan saat dia menuruni anak tangga teras.

​Tian menatap Hanum dengan tatapan matanya yang tajam namun tidak lagi menusuk seperti saat dia menatap Hanif kemarin. "Pagi," jawabnya pendek, suaranya terdengar berat dan bariton merdu memenuhi udara pagi yang masih bersih.

​"Cepat sekali datangnya, Kak. Aku bahkan baru saja menyelesaikan setengah sarapanku," ucap Hanum mencoba mencairkan suasana yang selalu mendadak kaku jika berhadapan dengan Tian. Hanum menunjuk ke arah dalam rumah dengan ibu jarinya. "Kak Tian sudah sarapan belum? Kalau belum, ayo masuk dulu ke dalam. Kebetulan Bik Sumi bikin nasi goreng sosis kesukaan anak-anak, dan porsinya masih banyak di meja makan. Kakak bisa sarapan dulu sambil menunggu aku bersiap-siap sebentar."

​Tian diam sejenak, menatap Hanum dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan yang sulit diartikan, sebelum akhirnya dia mendengus pelan sebuah kebiasaan khasnya saat hendak mengeluarkan kata-kata yang sarat akan sarkasme.

​"Tidak usah," jawab Tian dengan nada suara yang terdengar dingin dan datar, tipikal gaya bicaranya yang biasa. "Saya tidak terbiasa sarapan dengan makanan berat di pagi hari. Berbeda dengan adik tiri saya yang sangat terbiasa menyantap apa saja yang ada di depannya tanpa berpikir panjang apakah makanan itu higienis atau hanya sampah jalanan."

​Hanum sempat tertegun selama beberapa detik mendengar kalimat sarkas yang keluar dari bibir Tian. Otaknya yang cerdas langsung menangkap maksud tersembunyi dari ucapan pria itu. Adik tiri yang dimaksud Tian jelas adalah Hanif, dan kata menyantap sampah jalanan adalah sindiran maut yang ditujukan untuk kelakuan bejat Hanif yang menyantap pesona murahan Sarah hingga rela menghancurkan rumah tangganya sendiri.

​Tian memang selalu seperti itu. Dia jarang berbicara panjang lebar, namun sekali dia membuka mulut untuk menyindir, kata-katanya akan terasa jauh lebih tajam dan menyakitkan daripada tusukan pisau belati.

​Hanum hanya bisa tersenyum simpul, menyadari bahwa meskipun Tian terdengar sangat sarkas dan dingin, kalimat itu sebenarnya adalah bentuk pembelaan dan rasa muak Tian yang teramat sangat terhadap apa yang telah menimpa Hanum.

​"Baiklah kalau begitu, kalau Kakak memang tidak mau sarapan," ucap Hanum lembut, tidak ingin memperpanjang pembahasan tentang Hanif yang hanya akan merusak suasana paginya. "Tunggu sebentar ya, Kak. Aku ambil tas di dalam dulu. Setelah itu kita langsung berangkat ke hotel jemput Papa dan anak-anak."

​Tian tidak menjawab dengan kata-kata, dia hanya memberikan anggukan kepala yang sangat minimalis sebagai tanda setuju, lalu berbalik kembali untuk membukakan pintu penumpang depan mobilnya untuk Hanum dengan gerakan yang sangat jantan dan penuh hormat. Di balik sikap kakunya yang menyerupai gunung es, Hanum tahu bahwa pria di depannya ini adalah salah satu jangkar terkuat yang akan membantunya melewati badai perceraian yang akan segera dimulai hari ini.

1
sunaryati jarum
Semoga prosesnya cepat sesuai harapan
Noey Aprilia
Reader aja ikutn jngkel tau ga....
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
Arin
Salah lawan nih......Hanif dimiskinkan semiskin miskinnya😁😁😁
Muft Smoker
gengsiny jgn byk2 kak tian ,, nnti org gx kebagian ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
meski kaku Dan dingiin ,, tp tian sosok laki2 yg tanggung jawab ,,
Noey Aprilia
Iye...iye....
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
Ma Em
Ternyata Hanif dan Bu Rahma itu sebenarnya dulunya orang miskin namun setelah menikah lagi Bu Rahma diangkat derajat dan jadi orang kaya dan terhormat dan kelakuannya jadi sombong dan sekarang Hanif dan Bu Rahma kembali ke awal lagi , semoga Hanum berjodoh dgn Tian karena Tian sdh menyayangi anak2 Hanum .
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Noey Aprilia
Mau heran,tp gtulh knytaannya....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
sat set 😍😍
Noor hidayati
anak anak hanum itu umur 9th apa 5th,kok tingkahnya kayak masih balita,kalau 9th kan berarti sudah kelas 3 SD
Noor hidayati
kembar telat itu apa ya,apa sama dengan kembar tidak identik
Himna Mohamad
good kkk
Muft Smoker
udh kak ,, hanum ma tian aj ,, meski kaku , dingiin , bak kulkas 100 pintu ,, tp Dari sikap ny dy begitu menghargai hanum , menyayangi si kembar ,, udh pas tuh jd bpa Dan suami idaman 👍👍👍😁😁😁😁
Muft Smoker
waah ad apa niih ,, tian klo suka jgn lama2 di pendam ,, takut keburu jdii Batu ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
susi ana
apakah nantinya Tian akan bersama Hanum?
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
blcak areng: makasih kakak🙏🙏
total 1 replies
Noey Aprilia
Mngknkh sbnrnya tian udh ska hanum dr dlu,cma dia mngalah dmi yg onoh???
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....
Noey Aprilia: Gabut.....🤣🤣🤣
total 2 replies
cinta semu 2
Hanif u sengaja gali lubang buat kematian u sendiri🤭
cinta semu 2
hanum kecerdasan u mampu membuat Hanif gila...🤣🤣🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!