Pangeran Nicholas Veer Ralph, putra bungsu dari Raja Luther pemimpin Kerajaan Tharvis, terkenal sebagai seorang yang angkuh, pemarah, dan pemberontak. Bahkan reputasinya sebagai seorang pemain wanita telah tersebar luas di seluruh negeri. Sikapnya yang sangat berbeda dari kedua saudara kandungnya membuatnya menjadi sorotan. Demi mengubah perilakunya, Raja Luther berencana menjodohkannya dengan Putri Madeleine, dengan harapan bahwa pernikahan akan membawa perubahan. Namun, Nicholas menolak dengan keras dan malah mencari pasangan yang bisa dia kendalikan. Dalam pencariannya, Nicholas bertemu dengan Anastasia Rosalie, seorang perempuan baik hati dan lembut dari kalangan bawah. Dia menjebak Anastasia agar mau menikah dengannya untuk memenuhi ambisi pribadi, tanpa memikirkan konsekuensi yang mungkin akan terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon micemicu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Manis
...⚜️⚜️⚜️...
FAJAR menyingsing, meski sang surya belum sepenuhnya naik dari cakrawala. Nicholas terbangun karena terusik oleh suara isak tangis tertahan di sebelahnya. Perlahan ia membuka mata dan menemukan punggung Anastasia yang bergetar hebat, jemari gadis itu meremas erat selimut sutra yang membungkus tubuh polosnya.
Jauh di lubuk hatinya, Nicholas mendengus kesal karena waktu tidur nyenyaknya terganggu. Namun, demi kelancaran misinya menjebak gadis itu ke pelaminan, ia segera memasang kembali topeng pangeran yang penuh perhatian.
"Stasia..." panggilnya lirih, mengusap bahu gadis itu lembut.
Anastasia tidak menyahut. Ia tetap menangis dalam diam sembari memunggungi sang pangeran. Bagaimana bisa ia menyerahkan kehormatannya secepat ini? Di titik ini, ia merasa dirinya begitu hina. Pikiran tentang mendiang kedua orang tuanya membuat rasa bersalah itu kian mencekik lehernya. Ia membenci kelengahan hatinya sendiri, mudah tertipu oleh pesona semu.
Karena tidak mendapat jawaban, Nicholas mengulurkan lengan kokohnya. Ia menarik lembut tubuh ringkih Anastasia dan mendekapnya erat ke dada bidangnya. Anastasia terlalu lelah karena menangis sepanjang malam, hingga untuk sekadar menolak dekapan sang pangeran pun, ia sudah tidak memiliki daya lagi.
"Apa yang kau tangisi, Stasia? Kita melakukannya karena saling menginginkan," ucap Nicholas lembut, lalu mendaratkan kecupan penenang di puncak kepala Anastasia.
Anastasia membatin getir. Ia sendiri tidak yakin apakah penyatuan semalam terjadi karena mereka benar-benar saling menginginkan, atau karena dirinya yang terpaksa menyerah kalah?
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Hapus air matamu." Nicholas mengelus punggung Anastasia berulang kali. "Aku sudah berjanji akan menikahimu, bukan? Tidak ada yang perlu kautakutkan."
Anastasia mendongak, memberanikan diri menatap Nicholas. Sepasang mata cokelatnya tampak sembab dan merah, menyiratkan duka yang mendalam namun tetap terlihat begitu cantik di mata sang pangeran.
"Tuanku... apakah ajakan pernikahan anda sungguh-sungguh?" tanya Anastasia ragu.
Tatapan tulus Anastasia seketika membuat Nicholas terpaku. Sesuatu di dalam diri gadis itu seolah menarik Nicholas masuk terlalu dalam, hingga memicu rasa gugup yang asing di dadanya. Nicholas yang biasanya lihai menguntai janji manis pada banyak wanita, mendadak merasa lidahnya kelu. Sorot mata Anastasia malam ini terasa terlalu suci untuk dikotori oleh bualannya.
Nicholas berdeham kecil, mencoba mengusir kecanggangan yang tiba-tiba melanda. "Kau tidak memercayai ucapanku?"
"Hamba hanya takut, Tuanku. Pernikahan bukanlah perkara yang mudah. Hamba tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Menjadikan hamba sebagai istri... hanya akan menjadi sebuah kesalahan besar dan mendatangkan aib bagi Tuanku Pangeran."
Nicholas menangkup kedua pipi Anastasia, memaksa gadis itu menatap lekat ke arahnya. "Aku tidak peduli dengan omongan sialan di luar sana, Stasia. Percayalah padaku, aku akan membahagiakanmu. Kau tidak akan pernah sendirian lagi. Menikahlah denganku. Setelah ini, aku akan langsung menghadap Raja untuk menyampaikan niatku. Aku akan memastikan beliau tahu bahwa kaulah wanita yang tepat untukku."
Anastasia bungkam, mencoba menyelami sepasang mata elang di hadapannya demi menemukan secercah kesungguhan.
"Stasia?" panggil Nicholas lagi, menuntut kepastian. "Kau mau, kan?"
Lagipula, pilihan apa yang Anastasia miliki sekarang? Penyatuan mereka semalam membawa risiko besar. Jika dari sana benih kehidupan baru mulai tumbuh di rahimnya, Anastasia tidak akan sanggup membesarkan anak sebatang kara tanpa figur seorang ayah. Ia tidak ingin buah hatinya kelak menanggung aib, sementara dirinya sendiri terancam dikucilkan dan menjadi bahan gunjingan masyarakat sebagai wanita yang hamil di luar pernikahan.
Satu bulir air mata meluncur membasahi pipi Anastasia saat ia akhirnya mengangguk pasrah. Entah ini keputusan yang tepat atau justru awal dari petaka, ia memilih untuk menaruh sisa kepercayaannya pada Nicholas.
Nicholas menyembunyikan binar kepuasan di balik wajah tenangnya. Sungguh mangsa yang naif. Sambil memeluk tubuh Anastasia, benak Nicholas melontarkan cemoohan kasar. Anastasia benar-benar tidak sadar diri jika berpikir sang pangeran tulus menginginkannya. Semua ini murni demi bidak catur politiknya. Bagi Nicholas, gadis di pelukannya ini hanyalah kaum papa kasta rendahan yang gampang ditekuk lututnya hanya dengan iming-iming kemewahan istana. Nicholas membenci semua wanita; baginya mereka semua sama-sama serakah, kecuali mendiang ibunya.
Tepat ketika mereka hendak kembali memejamkan mata, keheningan fajar itu pecah. Pintu kamar dihantam dari luar hingga terbuka paksa dengan suara berdentam keras. Anastasia yang ketakutan langsung menarik selimut tinggi-tinggi untuk menyembunyikan wajahnya, di ambang pintu, berjejer puluhan prajurit kerajaan berpakaian zirah lengkap dengan senjata di tangan.
Berbanding terbalik dengan Anastasia, Nicholas justru tersenyum licik di dalam hati. Tepat seperti dugaannya. Pengawal kerajaan menemukannya di sini, pada pagi buta, dalam kondisi yang sangat menguntungkan. Dan berkat kepolosan Anastasia yang berhasil diperdaya, skandal ini akan menjadi senjata mutlaknya. Semuanya akan jauh lebih mudah sekarang.
"Pangeran Nicholas! Apa kau sudah kehilangan akal?!" Eilish berteriak, menatap nanar pemandangan di atas ranjang.
Ia berdiri di barisan terdepan berdampingan dengan Stephen. Dua kesatria kebanggaan Kerajaan Tharvis itu adalah simbol kekuatan, ketangguhan, dan keberanian prajurit negeri, sekaligus tangan kanan keluarga Ralph yang paling setia.
"Aku benar-benar tidak percaya kau senekat ini," gumam Stephen pelan. Selama ini pihak istana tidak pernah mendapatkan bukti konkret atas rumor miring tentang kelakuan Nicholas, dan kini, skandal itu terpampang nyata di depan mata mereka. Raja Luther pasti akan murka besar.
Menghadapi kepungan itu, Nicholas hanya memasang raut wajah acuh tak acuh yang menyebalkan. Ia sama sekali tidak terusik. Lagi pula, kejutan ini memang bagian dari skenarionya.
"Kalian berdua, cepat berpakaian! Setelah itu ikut kami kembali ke istana. Raja Luther sudah menunggumu, Pangeran," titah Eilish tegas. Sebagai sesama wanita, kilat iba sempat melintas di matanya saat melihat Anastasia yang gemetar, bersembunyi di balik gulungan selimut. Benaknya bertanya-tanya, apakah gadis itu dipaksa?
"Aku mengerti. Sekarang, keluar," usir Nicholas dingin.
Biasanya, Nicholas akan langsung memberontak jika diberi perintah oleh Eilish dan Stephen yang kerap bertindak semena-mena padanya. Ia pasti akan meneriaki mereka sebagai manusia tidak tahu diri karena berani mengatur seorang pangeran yang memiliki kasta jauh lebih tinggi. Namun, kali ini ia memilih untuk langsung patuh demi kelancaran rencana besarnya.
Pintu kamar akhirnya tertutup rapat, menyisakan keheningan yang kembali merayap di antara mereka berdua. Nicholas memutar tubuh, menoleh ke arah Anastasia yang masih meringkuk gemetar, tampak begitu terguncang mencoba mencerna kejadian
yang baru saja melanda hidupnya dalam semalam.
Nicholas mendekat, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus puncak kepala Anastasia dengan kelembutan yang menenangkan. Ia mencondongkan tubuh dan sekali lagi mendaratkan kecupan hangat di kening gadis itu.
"Kau akan aman bersamaku, Stasia. Sekarang, mari kita bersiap, ya?" bisik Nicholas dengan intonasi suara yang begitu meyakinkan. "Aku akan meminta pelayan di luar untuk mencarikan pakaian yang layak bagimu. Karena... maaf, kau tidak mungkin memakai gaunmu yang semalam. Aku terlalu lancang merobeknya karena perasaanku yang terlalu menggebu-gebu."
Mendengar pengakuan itu, Anastasia hanya bisa mengangguk pelan seraya menggigit bibir bawahnya untuk menahan gejolak rasa. Di dalam hatinya, rasa takut dan canggung pada Nicholas masih tersisa pekat. Janji manis sang pangeran terdengar indah, namun semua ini bergulir terlalu ekstrem bagi logikanya.
Melihat ekspresi polos yang menggemaskan itu, Nicholas menyunggingkan senyum tipis. Dengan nada santai yang sengaja diakrab-akrabkan, ia berbisik, "Bagaimana kalau kita mandi bersama?"
Refleks, Anastasia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Penolakan yang begitu jujur dan polos itu spontan membuat Nicholas terkekeh gemas.
"Ya sudah, kalau begitu aku mandi lebih dulu, ya," ujar Nicholas sembari bangkit berdiri dari tepi ranjang.
Begitu Nicholas bergerak menjauh dari selimut, Anastasia refleks langsung membuang pandangannya ke arah dinding batu yang kosong. Wajahnya seketika merona merah padahal hatinya sedang kalut, ia benar-benar masih belum terbiasa melihat sosok sang pangeran tanpa balutan busana sehelai pun.
Di atas ranjang itu, Anastasia hanya bisa meremas selimut sutranya kencang-kencang, meratapi nasibnya yang kini sepenuhnya berada di tangan pria tersebut.