NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24.Merasa kehilangan dan drama Oliv.

Sesuai kesepakatan yang telah diucapkan, malam harinya Ivy benar-benar melangkahkan kakinya menuju kediaman utama keluarga Cahya. Dengan membawa sedikit buah tangan, ia menyampaikan alasan kedatangannya hanya sekadar ingin menjenguk Kakek Candra yang sudah menaruh perhatian besar padanya. Sejak tiba, ia duduk setia mendampingi kakek tua itu, mendengarkan cerita-cerita masa lalu sambil sesekali tersenyum dan merespons dengan lembut. Di dalam hatinya, ia terus menghitung waktu, menunggu sampai suara kendaraan memasuki halaman rumah menandakan Rama telah pulang dari kantor.

Begitu mobil Rama berhenti dan pintu terbuka, Ivy tidak membuang waktu sedikit pun. Ia beranjak dari tempat duduknya, melangkah cepat mendekat, lalu tanpa ragu langsung menggenggam lengan dan tangan Rama seolah sedang dimabuk asmara. Tindakan itu membuat Rama tertegun sejenak, namun ia tidak menepisnya, hanya mengangkat alisnya heran melihat sikap gadis itu yang begitu berani dan terus terang.

Demikianlah rutinitas baru yang terjalin. Setiap siang, Ivy selalu hadir di kantor dengan alasan mengantarkan makanan, padahal tujuan utamanya adalah bersentuhan agar angka umurnya terus bertambah. Dan setiap malam, tanpa gagal ia menunggu di ruang tamu kediaman keluarga Cahya, hingga Rama pulang dan memberinya kesempatan untuk memegang tangannya lebih lama.

Awalnya, kehadiran Ivy terasa mengganggu dan membuat Rama merasa tidak nyaman. Ia merasa ruang pribadinya terus diterobos, dan ia sering kali menghela napas panjang melihat gadis itu muncul kembali di depan matanya. Namun, berhari-hari berlalu, dan kebiasaan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang tidak disadarinya. Rama mulai terbiasa—bahkan tanpa sadar matanya sering melirik jam dinding menunggu waktu istirahat tiba, berharap pintu ruang kerjanya segera terbuka. Saat pulang kerja, kakinya tanpa sadar melangkah lebih cepat, matanya langsung tertuju ke arah ruang tamu, merindukan suara tawa Ivy yang mampu menghangatkan suasana rumah besar yang biasanya sunyi dan kaku itu.

Namun, kebiasaan itu terputus mendadak pada hari ketujuh. Ivy tidak datang ke kantor seperti biasanya. Menjelang malam, ia juga tidak muncul di kediaman keluarga Cahya. Pesan yang dikirim tidak dibaca, dan telepon yang dihubungi hanya berdering tanpa jawaban.

Rama mulai merasa gelisah. Sepanjang hari, ia merasa ada sesuatu yang hilang dan mengganjal di hatinya. Di kantor, ia menjadi lebih mudah marah seperti kesalahan kecil yang biasa dimaafkan kini langsung menjadi alasan untuk memarahi stafnya. Saat pulang, ia hanya duduk termenung di kursi ruang tamu, menatap kosong ke arah tempat biasa Ivy duduk, dengan rasa lelah yang terasa lebih berat dari biasanya.

"Sebenarnya ada apa dengan ku, gadis ingusan itu seperti telah menyihirku. " Gumam rama pelan yang hanya bisa didengar oleh nya.

Pagi berikutnya, untuk pertama kalinya dalam karirnya, Rama mengabaikan rapat penting dengan klien besar. Ia memanggil Larry dengan nada dingin namun tergesa.

“Larry, pergilah ke rumah keluarga Dermawan. Lihat apa yang terjadi dengan Ivy. Cari tahu mengapa ia tidak datang kemarin dan hari ini,” perintahnya, lalu menambahkan dengan nada sinis seolah tidak peduli, “Mungkin hanya sedang malas atau mencari alasan agar diperhatikan.”

Larry hanya tersenyum tipis mendengar nada bicara bosnya. Saat berjalan keluar, ia bergumam pelan, “Katakan saja kalau Tuan Rama rindu, tidak perlu berpura-pura bersikap dingin seperti itu.”

Saat Larry akan pergi Rama langsung memanggilnya.

"Tunggu Larry!. "

Larry langsung menoleh kearah Rama, Rama lalu beranjak dari kursi kerjanya dan mengambil jasnya.

"Sebaiknya biar aku pergi sendiri kesana, segera batalkan rapat hari ini. "

"Baik pak. "

Rama pun pergi meninggalkan kantornya, dengan diikuti Larry dari belakang.

Sementara itu, di kediaman keluarga Dermawan, suasana sedang memanas. Sebuah drama telah dipentaskan dengan rapi. Oliv duduk di sofa dengan tangan yang dibalut perban, matanya merah sehabis menangis. Ia menuduh Ivy telah mendorongnya dari tangga hingga membuat tulang tangannya retak.

Tuan Tio, ayah mereka, tanpa menyelidiki lebih lanjut langsung mempercayai ucapan putri angkatnya itu. Saat itu, Nyonya Lusi sedang berada di luar negeri mencari dokter spesialis yang diharapkan bisa memberikan kesembuhan bagi penyakit Ivy, sehingga gadis itu kini berdiri sendirian tanpa ada yang membelanya.

“Aku tidak melakukannya! Jangan menuduh sembarangan!” bantah Ivy dengan nada tegas, meski di dalam hatinya ia merasa terjebak.

Oliv terisak lebih keras, lalu menatap Ivy dengan tatapan menyakitkan sekaligus penuh kebencian. “Kau iri padaku, bukan? Iri karena Brian bisa melindungiku, sedangkan Rama hanya memandangmu dengan dingin. Kau mendekatinya terlalu agresif, namun tetap diabaikan. Itu sebabnya kau melampiaskan kemarahanmu padaku!”

Kata-kata itu menusuk hati Ivy, namun ia tidak dapat menyangkalnya. Ia hanya bisa menahan amarah dan kesal yang membara di dadanya.

“Cukup! Ivy, minta maaf sekarang juga pada Oliv!” perintah Tuan Tio dengan nada keras.

“Tidak! Aku tidak akan meminta maaf untuk kesalahan yang tidak pernah aku lakukan. Dia jatuh sendiri!” jawab Ivy tetap teguh.

Di tengah perdebatan itu, suara langkah kaki terdengar cepat. Brian datang tergesa-gesa setelah mendengar kabar itu. Ia langsung menghampiri Oliv dan memegang bahu gadis itu dengan cemas.

“Kenapa bisa terjadi? Siapa yang berani menyakitimu?” tanyanya, lalu mendengar tuduhan yang sama dari mulut Oliv.

Brian langsung menoleh ke arah Ivy dengan tatapan marah. “Kau benar-benar keterlaluan, Ivy!”

Ivy sudah tidak tahan lagi. Ia melangkah maju dan menatap mereka berdua dengan tajam. “Brian, apakah kau melihat dengan matamu sendiri aku mendorongnya? Apakah ada sidik jariku yang tertinggal di tubuhnya atau bukti nyata lainnya? Kalian hanya mendengar ucapan satu orang dan langsung menghakimiku tanpa berpikir panjang!”

“Jangan merasa hebat hanya karena menjadi calon istri pamanku!” bentak Brian. “Jika Rama tahu kejadian ini, dia pasti akan lebih percaya pada kami daripada dirimu!”

“Cukup! Ivy, jangan mempermalukan keluarga ini lagi!” tegas Tuan Tio.

Saat itu juga, Ivy menyadari segalanya. Ia menatap Oliv dengan pandangan tajam. “Sekarang aku mengerti. Kau melakukannya saat mama dan Bibi Nora sedang pergi agar tidak ada saksi. Kau memanggilku mendekat, lalu pura-pura terjatuh tepat saat aku muncul. Kau menjebakku, Oliv! Kau benar-benar licik!”

“Kau gadis tidak tahu diri!” teriak Tuan Tio, lalu tanpa ragu melayangkan tamparan keras ke pipi Ivy. Suara itu menggema di ruangan.

Ivy terkejut, tangannya memegang pipinya yang terasa perih dan panas. Air matanya mengalir, namun ia menatap ayahnya dengan pandangan kecewa yang mendalam. “Apa hakmu menamparku? Aku ini anak kandungmu, bukan dia! Kenapa hatimu selalu buta melihat kebenaran? Aku sangat kecewa padamu, Ayah!”

Brian yang merasa terganggu melihat keberanian Ivy, segera melangkah maju dan mendorong tubuh gadis itu hingga ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang.

Namun, sebelum tubuhnya menyentuh lantai, sebuah tangan yang kuat dan hangat segera menopang pinggang dan bahunya. Ivy mendongak, dan matanya bertemu dengan tatapan Rama yang berdiri di sana dengan wajah dingin namun penuh perhatian.

“Kau baik-baik saja?” tanya Rama dengan suara lembut yang hanya bisa didengar oleh Ivy.

Melihat sosok itu datang, rasa lelah, sakit hati, dan kesepian yang selama ini ditahannya seketika meledak. Ivy tidak lagi berpura-pura tegar. Ia langsung memeluk pinggang Rama dengan erat, menyandarkan wajahnya di dada bidang itu, dan menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang akhirnya menemukan tempat berlindung yang aman.

Rama menyambut pelukan Ivy, dengan lembut dirinya membelai rambut tunangannya itu.

1
𝒁𝒆𝒍𝒊𝒏𝒆
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!