NovelToon NovelToon
Isi Ulang Hidup Ku

Isi Ulang Hidup Ku

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anastasia

"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25.Perlindungan yang lain.

Tubuh Ivy terguncang hebat dalam pelukan Rama, air matanya mengalir deras membasahi kemeja pria itu. Semua rasa sakit hati, kekecewaan, dan rasa tidak berdaya yang selama ini ia pendam rapat akhirnya meledak begitu saja. Rasanya baru kali ini ia merasa benar-benar aman, seolah di balik tubuh tegap itu tidak ada lagi yang bisa menyakiti atau menghakiminya tanpa alasan. Rama hanya berdiri diam, tangannya dengan lembut membelai punggung dan rambut Ivy, memberikan ketenangan yang tak terucapkan lewat sentuhannya.

Namun, suasana itu segera terganggu saat Brian melangkah maju mendekat, wajahnya terlihat cemas sekaligus tidak puas melihat kedatangan pamannya. Ia mencoba menenangkan keadaan dengan nada yang terkesan sopan namun tetap memihak.

“Paman Rama, kami tidak bermaksud menyakiti siapa pun. Semua ini terjadi karena Ivy yang terlebih dahulu bertindak kasar sampai membuat Oliv terluka parah. Kami hanya ingin keadilan ditegakkan di rumah ini,” jelas Brian, berusaha terlihat masuk akal di hadapan Rama.

Rama tidak menoleh sedikit pun ke arah Brian. Ia seolah tidak mendengar penjelasan itu, matanya tetap tertuju pada gadis yang masih menangis di pelukannya. Perlahan, ia mendorong tubuh Ivy sedikit menjauh agar bisa melihat wajahnya, lalu menyeka sisa air mata di pipi gadis itu dengan lembut sebelum akhirnya menoleh dengan tatapan tajam dan dingin menatap Brian.

“Jelaskan lagi apa yang sebenarnya terjadi. Jangan gunakan kata-kata yang memutarbalikkan fakta,” perintah Rama dengan nada rendah namun memiliki tekanan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.

Ivy menarik napas panjang, mencoba menenangkan suaranya yang masih terasa tersendat. Ia menatap Rama dengan pandangan jujur, lalu berbicara lantang agar semua orang di ruangan itu bisa mendengarnya.

“Dia menuduhku mendorongnya dari tangga hingga tangannya patah. Tapi aku tidak melakukannya sedikit pun! Dia jatuh sendiri, atau lebih tepatnya—dia sengaja menjatuhkan dirinya sendiri agar bisa menjebakku dan membuatku terlihat buruk di mata Ayah. Sejak dulu, Ayah selalu lebih percaya pada kata-katanya daripada penjelasanku sendiri. Bahkan saat aku menjelaskan dengan jujur, dia lebih memilih membela Oliv seolah aku bukan anak kandungnya. Jika saja Mama ada di sini, kejadian tidak adil seperti ini pasti tidak akan terjadi,” ucap Ivy dengan nada yang bergetar karena emosi, namun tetap tegas.

Mendengar penjelasan itu, raut wajah Rama semakin mengeras. Ia segera memposisikan tubuhnya tepat di depan Ivy, melindunginya seolah menjadi perisai yang tak bisa ditembus. Saat Tuan Tio mencoba melangkah maju dan meraih lengan Ivy untuk menariknya kembali ke sisinya, tangan Rama bergerak cepat menahan gerakan itu dengan satu genggaman yang kuat namun tidak menyakiti.

“Cukup, Tuan Tio. Ivy sekarang adalah calon istriku. Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun—termasuk ayah kandungnya sendiri—menyentuh atau memperlakukannya dengan cara yang tidak adil di hadapanku,” tegas Rama dengan suara yang berat dan berwibawa.

Tuan Tio tertegun, tangannya langsung ditarik kembali seolah tersengat arus listrik. Ia sadar benar siapa sosok yang sedang berdiri di hadapannya. Rama Cahya adalah pewaris utama keluarga Cahya, pria yang dikenal cerdas, berkuasa, dan tidak segan-segan menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya atau menyakiti orang yang dianggapnya penting. Berdebat atau melawannya saat ini sama saja dengan menggali kubur sendiri.

“Baiklah… aku mengerti,” jawab Tuan Tio dengan suara lirih, lalu menundukkan kepalanya tak berdaya.

Perhatian Rama kemudian beralih ke arah Brian. Tatapannya semakin tajam, membuat tubuh pemuda itu langsung menegang dan merasakan keringat dingin membasahi punggungnya.

“Kau bilang kau membela calon istrimu, bukan? Itu hakmu. Tapi ingatlah, aku juga memiliki hak yang sama untuk membela calon istriku. Dan sebagai pemimpin keluarga Cahya, aku bisa mengangkat seseorang ke puncak kejayaan dalam sekejap mata, namun aku juga bisa menjatuhkannya ke dasar jurang kehancuran dengan satu perintah saja. Jangan pernah lupa posisimu, Brian,” ancam Rama dengan nada datar namun memiliki makna yang sangat dalam.

Brian hanya bisa menunduk dalam, wajahnya pucat pasi karena ketakutan. “Saya mengerti, Paman. Saya tidak akan mengulanginya lagi,” jawabnya terbata-bata.

Melihat reaksi mereka berdua, hati Ivy terasa hangat dan penuh rasa lega. Untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki seseorang yang benar-benar membelanya selain mamanya dan bibi Nora. Namun, belum selesai sampai di situ. Langkah Rama berbalik menghadap Oliv yang masih duduk di sofa dengan wajah pucat ketakutan.

Dengan langkah tenang namun penuh tekanan, Rama mendekati gadis itu. Ia menatap lengan yang dibalut perban itu, lalu bertanya dengan nada datar, “Jadi tanganmu ini patah karena didorong oleh Ivy, bukan?”

Oliv mengangguk gugup, matanya berkeliling mencari bantuan namun tidak berani menatap langsung ke mata Rama. “Iya, Paman… tapi sekarang rasanya sudah sedikit membaik,” jawabnya pelan.

Tanpa peringatan, jari-jari Rama dengan lembut namun pasti menekan bagian perban tepat di atas tulang yang dikatakan patah itu. Tekanan itu perlahan bertambah kuat hingga akhirnya Oliv berteriak keras menahan rasa sakit yang luar biasa, tubuhnya terguncang hebat dan air matanya langsung mengalir deras.

“Aduh! Sakit! Ampun, Paman! Sakit sekali!” teriak Oliv sambil menggeliat.

Tuan Tio dan Brian hanya bisa diam terpaku, tidak berani melangkah maju untuk menghalangi. Mereka tahu betul bahwa jika mencampuri urusan ini, keadaan hanya akan menjadi lebih buruk bagi mereka.

Rama baru melepaskan tekanannya setelah puas melihat wajah Oliv yang penuh rasa sakit dan ketakutan. Ia berdiri tegak kembali, lalu menatap gadis itu dengan tatapan membunuh.

“Keluarga Cahya tidak butuh wanita licik yang suka menjebak orang lain demi keuntungan diri sendiri. Ingat baik-baik kata-kataku ini,jika kau berani sekali lagi bermain-main dengan Ivy atau menyakiti hatinya, bukan hanya tanganmu ini yang akan patah. Aku akan membuat tangan satunya, bahkan kedua kakimu lumpuh selamanya sehingga kau tidak bisa berjalan lagi. Kau mengerti?” ancamannya dengan nada yang tidak bisa ditawar.

Oliv hanya bisa mengangguk cepat sambil terisak ketakutan, tidak sanggup menjawab sepatah kata pun.

Melihat pemandangan itu, hati Ivy terasa puas. Rasa kesal yang selama ini ia simpan perlahan tergantikan oleh rasa aman dan dihargai. Rama kembali berbalik menghadap Tuan Tio, lalu menyampaikan keputusannya dengan tegas.

“Mulai hari ini, Ivy akan tinggal di kediaman utama keluarga Cahya sampai Nyonya Lusi pulang kembali ke rumah ini. Di sana dia akan aman dan tidak akan diganggu oleh siapa pun lagi,” ucapnya.

Tuan Tio tidak berani menolak. Bagi dia, perintah Rama adalah keputusan yang sudah final dan tidak bisa diganggu gugat. “Baiklah, saya setuju. Silakan saja,” jawabnya pasrah.

Tanpa membuang waktu lagi, Rama menoleh ke arah Ivy dan mengangguk memberi isyarat. “Tunjukkan di mana kamarmu. Kita berangkat sekarang juga.”

Ivy mengangguk mantap, lalu berjalan mendahului sedikit sambil sesekali menoleh memastikan Rama mengikuti di belakangnya. Begitu sampai di depan pintu kamar, ia membukanya lebar-lebar, memperlihatkan ruangan yang sederhana namun rapi dan penuh kenangan masa kecilnya.

Rama berdiri di ambang pintu, lalu menatap Ivy dengan tatapan yang lebih lembut dari sebelumnya. “Pilih satu: tetap tinggal di sini bersama mereka yang sering menyakitimu, atau ikut aku ke kediaman keluarga Cahya di mana kau bisa hidup tenang dan bebas dari segala pertengkaran serta tuduhan yang tidak berdasar?”

Senyum cerah terukir di bibir Ivy, matanya berbinar penuh harapan. “Tentu saja aku memilih ikut Tuan Rama. Tidak ada keraguan sedikit pun di hatiku,” jawabnya dengan nada tegas dan penuh semangat.

Segera saja, Ivy bergerak cepat mengemasi barang-barang pribadinya yang dianggap penting—beberapa pakaian, buku kesukaannya, dan benda-benda kecil yang memiliki kenangan indah. Semua dimasukkan ke dalam koper sederhana dengan rapi. Setelah selesai, ia menggenggam gagang kopernya dan berdiri di samping Rama dengan kepala terangkat tinggi, tidak lagi merasa seperti gadis yang tidak punya pelindung selain ibunya tapi sekarang dirinya punya Rama powerbank hidupnya.

Saat mereka berjalan keluar melewati ruang tamu, Oliv yang masih duduk dengan tangan terasa nyeri hanya bisa menatap dengan tatapan penuh kebencian dan kekecewaan. Semua rencananya yang ia susun rapi justru berbalik menyakiti dirinya sendiri. Ia mengira Ivy akan diusir atau dipermalukan, namun kenyataannya gadis itu justru pergi dengan perlindungan penuh dari pria paling berkuasa di kota ini.

Rama membukakan pintu mobil untuk Ivy, lalu mengikutinya masuk ke dalam kendaraan. Saat mobil mulai melaju meninggalkan kediaman keluarga Dermawan, Ivy menoleh ke luar jendela dengan perasaan campur aduk—sedikit sedih karena harus meninggalkan rumah tempat ia dibesarkan, namun jauh lebih lega dan bahagia karena akhirnya ia menemukan tempat di mana ia bisa hidup dengan tenang, bebas, dan memiliki seseorang yang selalu melindunginya selain ibunya.

1
Musdalifa Ifa
sangat mengesankan
🦋⃞⃟𝓬🧸𝓩𝓮𝓵𝓵𝔂𝓷
lnjt
Musdalifa Ifa
semangat up Thor 💪, cerita nya ok
Alia Chans
lanjut, like + 🌹🤭😉



kalo berkenan mampir juga thor🤭😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!