Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ikut pulang
"Kevin, kok kamu malah diam sih?" tanya Bu Sena heran. Sejak tadi pemuda itu hanya melamun dengan tatapan kosong.
Kevin tersentak. Ia segera mengalihkan pandangannya kepada sang tante, tetapi raut wajahnya masih dipenuhi keraguan.
"Aduh... gimana aku harus ngomong? Tante Sena jelas belum tahu apa pun. Kalau aku cerita soal yang kulihat di rumah sakit, bisa-bisa tante nggak percaya. Lagian, Gatendra juga belum memberi tahu siapa-siapa. Kalau sampai dia tahu aku yang membocorkan semuanya... habislah karierku. Bisa-bisa aku dibunuh hidup-hidup sama sepupu sendiri." batin Kevin sambil menelan ludah.
"Lho, malah bengong lagi." Bu Sena mengerutkan dahi. "Sebenarnya kamu mau ngomong apa? Jangan bilang kamu cuma mau ngerjain tante lagi."
Kevin memaksakan senyum, meski terasa sangat kaku.
"Bukan, Tante." Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kevin cuma mau nanya... apa benar Oma masih ingin menjodohkan Gatendra sama Monica?"
Bu Sena menghela napas panjang.
"Cuma itu yang mau kamu tanyakan? Astaga, Tante sampai mengira ada masalah besar. Kamu ini benar-benar suka bikin orang panik."
Kevin terkekeh hambar.
"Hehe... iya, Tante. Kevin cuma penasaran saja. Kenapa Tante sama Oma masih begitu ngotot ingin menyatukan mereka?"
Wajah Bu Sena seketika berubah datar. Rasa lelah tampak jelas di sorot matanya.
"Sudahlah, Tante capek. Tante mau istirahat. Kalau memang masih ada yang ingin kamu tanyakan, lain kali saja."
Beliau menunjuk ke arah pintu.
"Sekarang keluar dulu dari kamar Tante."
"Tapi, Tante..." Kevin mencoba menyela. Namun, ucapan itu langsung terhenti ketika melihat tatapan tegas Bu Sena. Seketika nyalinya menciut.
"Keluar sekarang juga, Kevin. Tante mau istirahat. Nanti sore Tante ada pertemuan penting, jadi jangan ganggu lagi."
Kevin hanya bisa mengembuskan napas pelan. Tak ada gunanya memaksa. Dengan wajah pasrah, ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar, meninggalkan Bu Sena seorang diri.
Begitu pintu tertutup, Bu Sena menggeleng pelan sambil mengomel.
"Dasar si Kevin. Ada-ada saja tingkahnya. Ganggu jam istirahat orang." Ia mendesah kesal. "Anak itu memang paling pintar bikin darah tinggi."
Setelah itu, Bu Sena merebahkan tubuhnya di atas ranjang, mencoba memejamkan mata.
Sementara itu, Kevin menuruni anak tangga dengan langkah gontai. Dahinya berkerut, pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan.
"Sial... gara-gara aku jarang mampir ke rumah ini, jadi ketinggalan banyak informasi."
Ia mengusap wajahnya kasar.
"Apa aku langsung ke rumah sakit saja, ya? Tanya wanita itu secara langsung. Tapi... kalau benar dia pacar Gatendra, bagaimana aku harus memulainya? Apa dia mau menjawab pertanyaanku? Jangan-jangan malah menganggapku orang aneh."
Kevin mengacak rambutnya sendiri dengan frustrasi.
"Arrgh... bikin pusing saja!" gerutunya kesal.
Tanpa ingin berpikir lebih jauh, ia mempercepat langkah menuju halaman. Sesampainya di depan mobil, Kevin segera masuk ke dalam, menyalakan mesin, lalu melajukan kendaraannya meninggalkan kediaman keluarga Pratama.
Di sepanjang perjalanan, pikirannya masih dipenuhi satu pertanyaan yang belum menemukan jawaban.
"Sebenarnya... apa yang sedang disembunyikan Gatendra?"
......................
Di sisi lain, Felisyah masih duduk seorang diri di bangku panjang yang menghadap ke jalan raya. Tatapannya lurus menembus lalu lalang kendaraan yang tak pernah berhenti. Klakson saling bersahutan, langkah kaki para pejalan kaki terdengar silih berganti, tetapi semua hiruk pikuk itu seolah tak mampu mengusik lamunannya.
Dari luar, Felisyah tampak begitu tenang. Wajahnya datar tanpa ekspresi, seakan tidak ada beban yang sedang dipikul. Namun, siapa sangka di balik ketenangan itu, pikirannya sedang berperang dengan begitu hebat.
Entah sejak kapan, sosok Garendra terus memenuhi benaknya. Wajah pria itu, tatapan matanya, hingga setiap ucapan yang diberikannya terus terngiang tanpa henti.
Pria itu telah membantunya, menyelamatkan ayahnya, bahkan memikul tanggung jawab yang seharusnya bukan menjadi bebannya. Semua yang dilakukan Garendra terasa begitu tulus.
Namun...
Felisyah menggenggam jemarinya erat.
"Aku tahu dia baik... sangat baik, bahkan terlalu baik untuk orang yang baru mengenalku." Suaranya lirih, nyaris tenggelam oleh kebisingan jalanan.
"Tapi... kenapa hatiku masih belum bisa benar-benar mempercayainya?"
Ia mengembuskan napas panjang. Luka yang ditinggalkan oleh pengkhianatan di masa lalu masih membekas begitu dalam. Hatinya ingin percaya, tetapi rasa takut terus menariknya mundur.
"Apa dia benar-benar tulus... atau hanya kasihan kepadaku?" gumamnya pelan, sementara tatapannya kembali menerawang jauh.
Lamunan Felisyah tiba-tiba buyar ketika sebuah suara terdengar di belakangnya.
"Ehem..."
Felisyah tersentak. Dengan cepat ia menoleh ke arah sumber suara.
"Kamu...?"
Bayu langsung membungkukkan badan dengan canggung.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak bermaksud membuat Anda terkejut."
Felisyah buru-buru menggeleng.
"E-eh... tidak apa-apa. Aku hanya kaget karena kamu datang tiba-tiba."
Bayu mengangguk pelan.
"Saya datang untuk menjemput Nyonya. Tuan sedang ada urusan, jadi beliau meminta saya mengantar Nyonya pulang."
Mendengar kata pulang, wajah Felisyah seketika berubah pucat.
Jantungnya berdegup semakin cepat.
Rumah itu...
Rumah yang bahkan belum pernah ia datangi, tetapi sudah membuatnya ketakutan.
Yang memenuhi pikirannya bukanlah kemewahan rumah Garendra, melainkan bagaimana keluarganya akan memandang dirinya.
"Aku... belum bisa pulang." Felisyah menundukkan kepala. "Aku ingin menemani Ayah di sini."
Bayu tampak serba salah.
"Maaf, Nyonya. Ini perintah Tuan. Kalau saya gagal membawa Nyonya pulang, saya benar-benar bisa kehilangan pekerjaan."
Melihat Felisyah masih diam, Bayu kembali melanjutkan.
"Soal Pak Sanggara, Nyonya tidak perlu khawatir. Tuan sudah meminta pihak rumah sakit dan para perawat untuk memberikan perawatan terbaik kepada beliau."
"Tapi... aku tetap tidak ingin pulang."
Suara Felisyah terdengar lirih, nyaris bergetar.
Bayu menghela napas panjang.
"Nyonya... saya mohon. Jangan persulit saya. Saya tidak ingin dipecat."
Felisyah menatap wajah Bayu cukup lama.
Pria itu tampak tidak jauh berbeda usia dengan Garendra. Dari sorot matanya, ia bisa melihat bahwa Bayu benar-benar sedang memohon, bukan sekadar menjalankan tugas.
Felisyah kembali memalingkan wajah.
"Apa yang harus kulakukan?" batinnya.
"Aku takut... sangat takut menghadapi keluarga Garendra. Mereka pasti berasal dari kalangan terpandang. Sedangkan aku... aku bukan siapa-siapa. Bagaimana kalau mereka menghina dan mengusirku?"
Napasnya terasa sesak.
Namun di sisi lain...
Ia juga tidak tega jika Bayu kehilangan pekerjaannya hanya karena dirinya.
Setelah bergulat cukup lama dengan pikirannya sendiri, Felisyah akhirnya mengembuskan napas pelan.
"Semuanya sudah terlanjur terjadi. Aku tidak mungkin terus menghindar."
"Kalau memang mereka akan menghinaku... bukankah aku sudah terbiasa menerima hinaan?"
Perlahan, ia mengangkat kepalanya.
"Baiklah... aku akan ikut pulang."
Bayu mengembuskan napas lega.
"Tapi..." lanjut Felisyah lirih. "Tolong jangan panggil aku 'Nyonya'. Sebutan itu terlalu tinggi untukku. Aku tidak pantas menyandangnya."
Bayu tersenyum tipis.
"Maaf, Nyonya. Itu sudah menjadi kewajiban saya. Saya tidak bisa memanggil Anda dengan sebutan lain."
Felisyah hanya terdiam.
Ia tak lagi membantah.
Kini, yang memenuhi pikirannya hanyalah satu hal.
Bagaimana caranya menghadapi keluarga besar Garendra tanpa kembali terluka.
Felisyah bangkit perlahan. Langkahnya terasa begitu berat, seolah setiap pijakan membawanya menuju kehidupan yang sama sekali asing.
Tanpa banyak bicara, ia mengikuti Bayu hingga tiba di depan mobil.
Dengan sigap, Bayu membukakan pintu belakang.
"Silakan, Nyonya."
Felisyah menarik napas panjang sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil. Tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Jantungnya berdetak semakin cepat membayangkan rumah yang akan ia datangi.
"Ya Allah... kuatkan hamba. Jika ini memang jalan yang harus hamba lalui, tolong berikan hamba kekuatan untuk menghadapinya." lirihnya dalam hati.
Melihat wajah Felisyah yang pucat, Bayu membuka sedikit kaca jendela agar angin sepoi-sepoi masuk ke dalam mobil.
Tak lama kemudian, mesin mobil kembali menyala.
Perlahan kendaraan itu meninggalkan pelataran rumah sakit.
Di saat yang hampir bersamaan, sebuah mobil lain baru saja memasuki gerbang rumah sakit.
Di balik kemudinya, Kevin masih memikirkan wanita misterius yang sejak tadi memenuhi kepalanya.
"Semoga saja dia masih ada di sini," gumamnya pelan.
Tanpa sadar, kedua mobil itu berpapasan tepat di depan gerbang.
Kevin sempat mengerutkan dahinya. Entah mengapa, ia merasa mobil yang melintas di sampingnya terasa begitu familiar.
Refleks, ia menoleh sekilas.
Namun, kaca mobil itu sedikit gelap, sementara cahaya matahari memantulkan bayangan di permukaannya.
"Hmm... mungkin cuma perasaanku."
Kevin menggeleng pelan, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
Sedangkan di mobil sebelah, Felisyah masih menundukkan kepalanya. Jemarinya terus saling menggenggam, sama sekali tidak menyadari bahwa mereka baru saja berpapasan dengan seseorang yang sedang mencarinya.
Takdir seolah sengaja mempermainkan waktu.
Mereka hanya dipisahkan oleh beberapa jengkal...
Namun, tidak ada satu pun yang saling melihat.
semangat✍️😉