Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.
Aku nggak sengaja di sini.
Klik.
"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"
Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.
Jantungku berhenti.
Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.
Kraaak.
"Menangkap."
Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang pertemuan
Pagi hari setelah penandatanganan dokumen administrasi itu dimulai dengan keheningan yang berbeda. Langit di atas tampak mendung, menggantungkan awan abu-abu yang pekat di atas hamparan perkebunan mansion Reynard.
Sesuai jadwal baru yang diberikan Pak Bara, aku tidak lagi turun untuk sarapan bersama Axel. Sebuah nampan berisi roti gandum dan buah segar diantarkan langsung ke kamarku setiap pukul enam pagi. Tampaknya, setelah komitmen resmi itu tercatat di Distrik Pusat, Axel kembali menarik jarak mutlak di antara kami, membiarkanku kembali menjadi barang pajangan yang terisolasi di koridor Barat.
Pukul satu siang, sedan hitam yang biasa menjemputku sudah terparkir rapi di depan. Hari ini aku memiliki kelas evaluasi jurnalistik, kelas yang membutuhkan fokus penuh untuk menganalisis dokumen kasus-kasus lama di distrik ini.
"Nona Aira," sapa sopir berjas hitam itu saat membukakan pintu belakang untukku. "Tuan Muda Axel menitipkan pesan agar Anda langsung kembali ke mobil begitu kelas selesai. Hari ini pengawasan di sekitar area kampus diperketat karena ada kunjungan dari otoritas wilayah."
"Baik, Pak. Saya mengerti," jawabku pelan.
Perjalanan ke kampus berlangsung tanpa hambatan. Namun, begitu aku melangkah masuk ke dalam area koridor Fakultas Ilmu Sosial, atmosfer terasa jauh lebih riuh dari biasanya. Beberapa mobil dengan plat dinas resmi tampak berjajar di area parkir utama, dijaga oleh pria-pria berseragam rapi yang mengawasi setiap pergerakan mahasiswa.
Aku mempercepat langkahku, memeluk diktat kuliah erat-erat di dada, mencoba mengabaikan bisik-bisik di sekitarku.
"Aira!"
Langkahku terhenti di dekat pintu ruang kelas. Devan berjalan tergesa-gesa menghampiriku dari arah perpustakaan. Wajahnya tampak cemas, dengan sebuah map dokumen di tangannya.
"Devan," ucapku lirih, refleks mundur selangkah untuk menjaga jarak aman sesuai dengan aturan nomor tiga. Aku tidak ingin orang-orang Axel yang mengawasi di sudut koridor menganggap interaksi ini sebagai pelanggaran. "Ada apa?"
"Gue cuma mau ngasih ini," Devan menyerahkan map itu padaku, pandangannya melirik waspada ke arah dua pria berjas hitam yang berdiri tidak jauh di ujung koridor.
"Ini salipan data analisis media untuk proyek akhir kita yang sempat lo foto di dermaga tempo hari. Gue tau handphone dan kamera lo rusak, jadi gue bikinin salinan fisiknya biar lo nggak ketinggalan nilai kelompok."
Aku menatap map di tangan Devan dengan perasaan campur aduk. Rasa haru karena kepedulian sahabatku berbenturan dengan ketakutan luar biasa akan konsekuensi dari Axel jika dia mengetahui hal ini. "Terima kasih, Dev. Tapi... lo nggak perlu repot-repot kayak gini. Gue bisa cari materinya sendiri nanti."
"Lo kenapa sih, Ai? Sejak kejadian malam itu, lo kayak orang asing yang ketakutan setiap kali ketemu gue," bisik Devan, suaranya merendah penuh selidik. "Siapa sebenarnya orang-orang di mobil hitam yang selalu jemput lo itu? Lo nggak lagi ditekan sama pihak mana pun, kan?"
"Nggak, Dev. Sumpah, gue nggak apa-apa. Ini cuma urusan kontrak kerja sama dengan yayasan kampus," aku berbohong lagi,
mencoba tersenyum sealami mungkin meski debaran jantungku mulai berpacu gila. "Gue harus masuk kelas sekarang. Sekali lagi terima kasih buat berkasnya."
Tanpa menunggu jawaban Devan, aku segera berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang kelas, menutup pintu di belakangku. Aku duduk di barisan paling belakang, meletakkan map dari Devan di bawah buku diktatku, mencoba menenangkan napasku yang memburu pendek.
Namun, ketenanganku tidak bertahan lama. Di pertengahan jam kuliah, pintu kelas mendadak diketuk dari luar.
Dosen pengajar menghentikan penjelasannya saat pintu terbuka, menampilkan sosok dekan fakultas bersama seorang pria paruh baya berpakaian dinas resmi dari otoritas distrik. Dan di belakang mereka, berdiri Axel Reynard.
Axel mengenakan setelan jas hitam formal yang sangat pas, memancarkan karisma yang begitu dominan dan mengintimidasi. Mata hitamnya menyapu seluruh isi ruangan, sebelum akhirnya berhenti tepat di sudut barisanku. Tatapannya dingin, kosong, namun sarat akan penilaian yang membuat seluruh tubuhku mendadak kaku seolah membeku di tempat.
"Kami hanya ingin memastikan fasilitas riset media di kelas ini berjalan sesuai dengan standar yang didanai oleh pihak yayasan," ucap sang dekan dengan nada penuh hormat.
Axel tidak berbicara. Dia hanya berdiri di dekat meja dosen, mendengarkan penjelasan dengan anggukan kecil yang kaku. Namun, pandangannya tidak pernah benar-benar lepas dari posisiku. Fokus matanya seolah sedang menguliti setiap pergerakanku, menilai apakah aku mematuhi instruksinya untuk bersikap tidak saling kenal di tempat ini.
Di bawah meja, tanganku yang berada di atas pangkuan meremas kain rokku begitu kuat hingga buku-buku jariku memutih kembali. Aku menundukkan kepala sedalam mungkin, membiarkan rambut hitam panjangku menutupi wajah, mencoba menghilang dari jangkauan radar pandangannya yang menakutkan.
Setiap detik kehadiran Axel di dalam ruangan itu terasa seperti siksaan psikologis yang perlahan menguras oksigen di sekitarku. Aku tahu, map dokumen dari Devan yang berada di bawah diktatku saat ini adalah bom waktu yang sangat berbahaya jika sampai ketahuan oleh para pengawalnya. Di duniaku yang baru ini, bayang-bayang kendali Axel Reynard benar-benar nyata, mengintai di setiap sudut langkah yang kupijak tanpa memberi ruang sedikit pun untukku bernapas lega.
Axel melangkah perlahan mengitari barisan meja depan, membiarkan bunyi ketukan sepatu kulitnya mendominasi keheningan kelas yang mendadak tegang.
Semua mahasiswi tampak menahan napas, terpesona sekaligus segan oleh wibawa yang memancar dari tubuh pemimpin muda itu. Namun bagiku, setiap langkahnya mendekat adalah teror nyata yang membuat seluruh persendianku kaku.
Pandangannya mendadak turun, melewati bahuku dan tertuju pada celah di bawah buku diktatku, tempat ujung map cokelat pemberian Devan sedikit menyembul keluar. Sudut bibir Axel terangkat sangat tipis sebuah senyuman sinis yang sarat akan ancaman terselubung. Dia tahu. Insting predatornya tidak pernah melewatkan detail sekecil apa pun.
"Riset yang baik selalu berawal dari kejujuran data, bukan dari salinan pihak lain," ucap Axel tiba-tiba dengan suara baritonnya yang berat, memecah penjelasan dekan yang sedang berjalan. Kalimat itu terdengar umum bagi seisi kelas, namun bagiku, itu adalah hantaman telak yang langsung membuat pasokan udara di paru-paru tercabut.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti hitungan mundur kematian, Axel membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar diikuti oleh rombongan otoritas kampus. Begitu pintu kelas tertutup rapat, aku langsung merosot di sandaran kursi dengan tubuh gemetar hebat dan peluh dingin yang membanjiri pelipis.
Ketika bel pulang berbunyi pukul tiga sore, aku menjadi orang pertama yang mengemas barang dan berlari keluar menuju lobi. Aku segera masuk ke dalam kabin sedan hitam yang sudah menanti. Pintu ditutup kedap, dan mobil melaju membelah jalanan yang mulai diguyur hujan.
Ponsel di saku piyamaku bergetar pendek. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk
Letakkan map itu di meja kerjaku begitu kau sampai. Atau temanmu yang akan menyerahkannya sendiri padaku besok pagi.
Tanganku gemetar menatap layar hitam itu. Sang naga telah menarik jaringnya, dan aku kembali terperangkap tanpa punya celah untuk menghindar.
kalo berkenan mmpir juga thor😉