Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.
Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!
Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.
Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEGAGALAN AURORA MEMOTONG JERAT SANG TIRAN
Deru mesin sedan hitam yang dikemudikan oleh Cyra terdengar menderu keras, membelah keheningan jalanan aspal sepi yang memotong jalur tengah hutan pinus. Ban mobil bergesekan tajam dengan kerikil jalanan setiap kali Cyra mengambil sudut tikungan yang curam. Di dalam kabin kendaraan, atmosfer terasa begitu mencekam hingga oksigen seolah-olah menipis secara drastis. Keringat dingin mulai mengucur subur, membasahi pelipis dan tengkuk Valkyrae. Efek obat penawar otot militer yang disuntikkan secara paksa oleh Kaelen beberapa jam lalu masih menyisakan rasa kebas yang mengakar kuat di dalam sendi-sendinya. Setiap gerakan kecil yang dipaksakan oleh raga Aurora ini terasa seperti sedang mengangkat beban berkuintal-kuintal besi. Persendiannya kaku, dan dadanya terasa sesak seiring dengan detak jantungnya yang berpacu melawan waktu.
"Rae, bagaimana ini? Frekuensi cip di tengkukmu terus memancarkan sinyal ping berkekuatan tinggi langsung ke satelit!" seru Cyra dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan lagi. Sepasang matanya sesekali melirik ke arah layar monitor pemindai portabel di dasbor mobil yang kini terus berkedip merah dengan ritme yang semakin cepat dan bising. "Sistem keamanannya menggunakan enkripsi kuantum dinamis, Rae! Ini bukan teknologi sembarangan. Aku tidak bisa meretas atau mematikan pancaran sinyalnya dari jarak jauh tanpa memicu detonasi mikro atau sistem penguncian darurat dari pusat data utama Kaelen!"
Rae menggertakkan giginya rapat-rapat, mencoba sekuat tenaga menahan rasa pening luar biasa yang berdenyut hebat di dalam kepalanya. Otaknya dipaksa bekerja keras di bawah tekanan fisik yang hampir ambruk. Mata cokelat madunya menatap tajam dan dingin ke arah kaca spion tengah, memperhatikan jalanan lurus di belakang mereka yang masih sepi, namun dia tahu ketenangan itu hanyalah ilusi. Dia tahu betul siapa Kaelen Azrael. Pria bertangan dingin itu bukan sekadar bos mafia biasa yang bisa dikelabui dengan trik siber sederhana. Kaelen adalah seorang tiran dunia bawah yang memiliki akses penuh terhadap teknologi militer paling mutakhir dan paling mematikan. Jika cip pelacak sub-kutan itu tetap aktif melekat di tubuhnya, pelarian mereka berdua tidak akan bertahan lebih dari lima belas menit sebelum dikepung habis.
"Kita tidak punya waktu untuk menjebol pertahanan kuantumnya lewat jalur siber, Cyra," bisik Rae. Suaranya terdengar parau dan habis, namun ada ketegasan yang teramat dingin dan penuh tekad yang absolut di dalamnya. Jiwa seorang montir jalanan yang bar-bar di dalam dirinya menolak untuk menyerah pada keadaan. "Satu-satunya cara yang tersisa bagi kita sekarang... aku harus mengeluarkan benda sialan itu secara fisik."
"Apa?! Kau gila?!" Cyra tersedak air liurnya sendiri, hampir saja kehilangan kendali atas kemudi sedan hitam mereka hingga kendaraan itu sedikit oleng ke jalur kanan. Beruntung insting mengemudinya segera mengembalikan posisi mobil ke jalur yang benar. "Itu cip sub-kutan tingkat militer, Rae! Benda itu tertanam jauh di bawah lapisan kulit dermis mu, bukan cuma menempel di permukaan! Kita sedang berada di dalam mobil yang melaju kencang, dan kita sama sekali tidak punya alat bedah medis yang steril di sini!"
"Di bawah kursi penumpang yang sedang ku duduki ini ada kotak perkakas darurat yang selalu kau simpan untuk memperbaiki komponen siber luar lapangan, kan?" potong Rae cepat dengan nada menuntut. Dia memilih untuk sepenuhnya mengabaikan rasa sakit yang mulai menjalar hebat di pinggang, paha, dan seluruh bagian bawah tubuhnya akibat sisa pergulatan ganas sepuluh ronde tanpa jeda semalam. "Ambilkan aku pisau lipat taktis dan sebotol cairan alkohol pembersih karburator yang ada di dalam kotak itu sekarang."
"Tapi, Rae, itu sangat berbahaya! Kalau pisaunya mengenai pembuluh darah utamamu—"
"Lakukan saja sekarang, Cyra! Jangan banyak mendebatku!" gertak Rae dengan sifat bar-barnya yang keluar penuh. "Atau kau mau melihat kita berdua tertangkap lalu membusuk di dalam sel bawah tanah milik Kaelen sebelum matahari terbenam hari ini?!"
Mendengar bentakan keras dan tatapan mata sahabatnya yang luar biasa mengerikan, Cyra tidak berani membuka mulut untuk membantah lagi. Dengan tangan kiri yang mencengkeram erat setir mobil agar tetap lurus, tangan kanannya meraba-raba kolong kursi penumpang dengan panik. Setelah beberapa detik yang menegangkan, dia berhasil menarik sebuah kotak besi kecil berwarna hitam dan langsung melemparkannya ke atas pangkuan Rae.
Dengan jemari yang gemetar hebat bukan karena takut, melainkan karena lemasn-ya raga yang dia tempati, Rae membuka selot kotak besi tersebut. Dia mengabaikan obeng dan tang kecil, lalu mengambil sebuah pisau lipat taktis berbahan baja hitam pekat—pisau yang biasa dia gunakan untuk memotong kabel-kabel tebal pada mesin kendaraan. Tanpa ragu sedikit pun, Rae membuka mata pisau yang berkilat tajam itu, lalu menyemprotkan sedikit cairan alkohol pembersih karburator ke permukaannya untuk melakukan sterilisasi darurat. Bau menyengat alkohol seketika memenuhi kabin mobil.
Rae memutar setengah badannya dengan susah payah, membelakangi Cyra dan menyandarkan dahinya pada permukaan dasbor mobil yang keras untuk menstabilkan posisi tubuhnya dari guncangan jalanan. Dia menarik kerah jubah sutra hitam satin-nya ke bawah sedikit, memperlihatkan tengkuk putih porselen-nya yang kini dipenuhi oleh tanda merah keunguan sisa keintiman posesif dari Kaelen semalam. Tepat di tengah leher belakangnya, terdapat sebuah benjolan kecil berukuran setengah biji beras yang terasa sangat keras ketika ditekan di bawah lapisan kulitnya. Di situlah letak sangkar digital Kaelen.
"Cyra, fokus pada jalanan depan. Jaga kemudi agar tetap stabil dan jangan biarkan mobil ini terguncang sedikit pun dalam tiga menit ke depan," instruksi Rae, napasnya mulai memburu pelan seiring dengan adrenalin-nya yang meningkat tajam.
"Rae... kau benar-benar nekat. Jiwa lamamu benar-benar membuatku ngeri," bisik Cyra dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena tidak tega melihat apa yang akan dilakukan sahabatnya.
Rae tidak memedulikan ketakutan atau kekhawatiran Cyra. Menggunakan permukaan cermin kecil di dasbor sebagai panduan pantulan visualnya, Rae mengarahkan ujung pisau lipat yang tajam itu tepat ke atas benjolan keras di tengkuknya. Memikirkan wajah Kaelen yang posesif gila dan bagaimana pria itu mengurungnya, kemarahan Rae memuncak. Dengan satu gerakan tangan yang mantap, dingin, dan penuh kenekatan, dia menyayat kulit lehernya sendiri.
Sret!
"Ugh!" Rae melenguh tertahan, kedua tangannya seketika mencengkeram erat pinggiran dasbor hingga buku-buku jarinya memutih dan gemetar.
Rasa sakit yang teramat tajam, panas, dan membakar seketika meledak di area tengkuknya. Rasa perih itu seolah berbaur menjadi satu dengan rasa sakit dari bekas luka cambuk lama yang berada di punggung raga Aurora ini. Darah segar berwarna merah pekat yang hangat langsung mengalir deras keluar dari luka sayatan, membasahi kerah jubah sutra hitamnya hingga menghitamkan kain mahal tersebut. Pandangan Rae sempat memutih selama satu detik karena syok rasa sakit, namun dia menolak untuk pingsan.
Di bawah lapisan kulit dermis yang telah robek terbuka, ujung pisau taktis milik Rae merasakan adanya benturan dengan benda keras berukuran mikro. Dengan menahan napas dalam-dalam dan mengabaikan rasa pening hebat yang membuat kepalanya serasa berputar, Rae mengorek dan mencongkel cip logam perak berukuran kecil itu keluar dari dalam dagingnya menggunakan ujung pisau.
Ting.
Sebuah cip kecil berlapis titanium murni akhirnya jatuh ke atas karpet mobil, berlumuran darah segar. Pada detik yang sama, layar monitor pemindai di dasbor langsung mengeluarkan bunyi dengungan panjang yang monoton, menandakan bahwa sinyal pelacak siber frekuensi tinggi tersebut telah terputus total dan kehilangan objeknya.
Rae segera menyandarkan tubuhnya yang kini benar-benar lemas ke sandaran kursi penumpang. Napasnya tersengal-sengal pendek dengan keringat dingin yang mengucur deras di sekujur tubuhnya, membuat jubah tidurnya menempel ketat di kulit. Dia mengambil selembar kain bersih dari dalam kotak perkakas, lalu menekannya kuat-kuat ke arah tengkuknya yang terus mengalirkan darah untuk menghentikan pendarahan darurat.
"Cip sialan itu... sudah keluar," bisik Rae dengan sudut bibirnya yang terangkat, membentuk sebuah senyuman miring yang pucat namun penuh dengan kepuasan kemenangan. "Jaringan pelacak Kaelen telah kehilangan koordinat mentah ku."
"Kau benar-benar monster, Rae. Aku tidak menyangka jiwa montir jalanan mu bisa senekat dan sebar-bar ini di dalam raga seorang nyonya besar mafia yang anggun," ujar Cyra dengan helaan napas lega yang luar biasa besar, meskipun wajahnya sendiri masih tampak pucat pasi karena ngeri. Dia segera memungut cip berdarah itu dari atas lantai karpet, lalu melemparkannya ke dalam botol air mineral kosong yang terisi setengah. Cyra bersiap untuk membuang botol itu di jalur persimpangan yang berbeda guna mengecoh tim taktis musuh.
Namun, kegembiraan dan kelegaan mereka sama sekali tidak bertahan lama. Dari arah depan jalanan hutan pinus yang lurus, terdengar suara gemuruh memekakkan telinga dari baling-baling helikopter yang membelah udara pagi dengan kecepatan penuh. Suara bising itu bergetar hebat, menghantam kabin mobil mereka. Detik berikutnya, sebuah cahaya lampu sorot berkekuatan tinggi dari atas langit tiba-tiba menembus kaca depan mobil sedan mereka, menyilaukan pandangan Cyra hingga dia terpaksa menutupi matanya dengan satu tangan.
"Sial! Itu helikopter intai taktis milik Azrael Corps!" seru Cyra panik setengah mati. Dia buru-buru menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit keras dan kendaraan mereka berhenti mendadak di tengah jalanan yang dikelilingi oleh barisan pohon pinus yang tinggi.
Di atas langit, sebuah helikopter militer berwarna hitam pekat tanpa registrasi sipil, lengkap dengan logo tengkorak khas mafia keluarga Azrael, melayang rendah tepat di atas mereka. Kaelen Azrael ternyata tidak lagi membutuhkan cip pelacak digital untuk menemukan istrinya. Pria itu telah mengerahkan seluruh armada udara pribadinya untuk memblokir total perimeter fisik seluruh hutan pinus ini sebelum Rae sempat mencapai gerbang tol jalan raya utama kota.
Jalanan di depan mereka telah ditutup oleh barikade bayangan helikopter. Dan tidak butuh waktu lama, dari arah belakang mereka, suara raungan mesin mobil-mobil SUV hitam berkapasitas silinder besar milik pasukan elit Kaelen terdengar semakin mendekat, menggema membelah hutan. Mereka mengepung dari dua arah berlawanan seperti kawanan serigala lapar yang telah berhasil mengunci mangsanya di dalam sebuah sangkar alami yang buntu.
Rae menatap lurus ke arah helikopter yang melayang di atas sana dengan napas yang memburu dan sepasang mata cokelat madu yang berkilat marah. Tepat di bawah guyuran lampu sorot yang menyilaukan dan memanaskan kabin mobil itu, Rae akhirnya menyadari satu hal yang mutlak tentang suaminya.
Tiran bermata merah itu tidak akan pernah membiarkannya lolos dari genggaman tangannya. Kaelen Azrael siap membalikkan seluruh isi kota ini, mengerahkan seluruh kekuatan militernya, dan menghancurkan apa saja yang menghalangi jalannya demi bisa menyeret raga bar-barnya kembali ke atas ranjang dan mengurungnya di dalam kamar rahasia seumur hidup.