"Maaf, aku mundur."
"Maksudmu?"
"Kita akhiri hubungan ini. Terima kasih untuk semuanya, Pak Riko."
Rencana lamaran gagal seketika. Hubungan yang baru seumur jagung pun kandas dalam sekejap. Riko tak paham. Ia sampai beberapa kali menanyakan keputusan Lily.
Lantas, bagaimana kelanjutan cerita mereka? Akankah tali yang sudah putus bisa disambung kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa menikah itu enak?
~ Allah tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya dalam keadaan apa pun.~
💝💝💝💝💝💝
💝💝💝💝
💝💝
Seminggu berlalu setelah interview, Lily diterima bekerja di perusahaan Adnan. Ada senang juga khawatir, tetapi kebutuhan lebih penting dari segalanya.
Pagi ini setelah memandikan Keysa lebih dahulu, memasak, juga menitipkannya kepada orang yang terpercaya. Lily pun berangkat bekerja untuk pertama kalinya. Ia menggunakan motor matic hitam yang ia cicil satu tahun lalu dari hasilnya bekerja.
Motor Lily melaju dengan kecepatan normal. Ia harus segera sampai di kantor sebelum pukul 08.00, semana peraturan yang berlaku.
Suasana jalanan ramai lancar. Suara bising pun tak bisa terhindari. Sesekali terdengar umpatan dari pengendara mobil atau motor yang tak sabar ketika terjebak macet. Pemandangan yang selalu menjadi santapan di pagi hari.
Lily berhasil melewati kemacetan dan sampai di kantor. Baru saja ia turun dari motor, sebuah mobil yang ia kenali betul masuk parkiran. Lily terdiam sejenak, menarik napas dalam, kemudian melangkah cepat.
Penampilan Lily jauh lebih formal dibanding saat ia magang dahulu. Ia mengenakan kemeja putih dengan rok tiga per empat. Masih tampak sopan untuk seukuran orang bekerja. Ia melangkah dengan teratur. Menyapa satu per satu karyawan yang berjumpa dengannya.
Lantai lima adalah tempat tujuannya kali ini. Ia bekerja dibagian keuangan di bawah kepemimpinan Riki, sama seperti saat magang dahulu. Ini bisa dibilang sebuah keberuntungan. Ya, setidaknya Riki sendiri terbilang bos yang sangat baik, ramah, juga kocak.
Sementara itu di parkiran, Riko baru saja turun dari mobil bersamaan dengan Adnan di kendaraan yang berbeda. Mereka berjalan bersama.
“Riki ke mana?” tanya Adnan.
“Tadi pamit anter calon istrinya,” jawab Riko cepat.
Adnan berdecak. “Rasanya pengen liat mereka cepet nikah. Kembaran lo bucinnya kebangetan!”
Riko tertawa kecil. Ada beberapa karyawati yang melihat, dan terpana.
“Lo ngomongin si Riki apa diri sendiri,” sindir Riko.
Kedua lelaki itu sudah berada di lift kali ini. Adnan menoleh ke samping, ditatapnya Riko dengan lekat. “Gue doain lo lebih bucin daripada gue sama Riki kalau nikah nanti.”
Skakmat. Riko tak berkutik. Adnan memang terkenal dengan omongan pedasnya, meskipun sebagian omongan Adnan memang benar.
Riko menghela napas kasar. “Gimana mau nikah. Calon aja enggak punya.”
Adnan terkekeh. Ia yang tahu tentang Riko dan Lily memang tidak banyak berkomentar. Kisah cinta seseorang bukanlah bahan bercandaan.
Suasana hening. Keduanya seolah larut dengan pikiran masing-masing, menikmati kesunyiaan lift yang terisi mereka berdua.
“Nan,” panggil Riko dengan wajah datar.
“Hm.” Adnan malas menanggapi panjang lebar.
“Nikah itu enak enggak?”
Pertanyaan Riko berhasil membuat Adnan menatap heran kepadanya.
“Kenapa harus nikah? Apa nikah itu sebuah keharusan? Apa enggak boleh membujang selamanya?” Riko meracau tak jelas. Entah karena kehadiran Lily, atau pikirannya memang sedang dipenuhi ketidaknyamanan.
“Lo mau jawaban simple atau sadis?” Adnan bertanya balik.
“Terserah.”
Lift terbuka. Keduanya keluar. Adnan diam. Ujung netranya melihat ke meja sekertaris, tak ada. Mungkin lelaki muda yang sekarang mengatur jadwalnya sedang ke bawah.
“Nikah itu ibadah. Dengan menikah setidaknya kita menghindari zina, karena pada dasarnya setiap manusia itu punya hasrat yang harus dilepas,” tutur Adnan.
“Selain hal biologis, laki-laki dan perempuan itu memang saling membutuhkan satu sama lain. Kita, para lelaki butuh wanita hebat untuk menemani, memberi suport, juga tempat pulang. Mereka para wanita butuh kita agar punya orang spesial yang menjaga, meskipun sebagian dari mereka sudah bisa mandiri dan menjaga diri sendiri. Tapi, tetap saja. Sekuat apa pun wanita, ia butuh sosok lelaki kuat dan hebat.”
Riko bergeming.
Adnan bergerak sedikit mendekat ke dekat Riko, lalu berbisik, “Yang jelas menikah itu indah.”
Kedua alis Riko terangkat. “Indah gimana?”
“Kalau malam bukan guling yang dipeluk, tapi istri.” Adnan menarik tubuhnya kembali, selanjutnya berjalan cepat menjauh dari Riko yang mungkin sedang kesal sendiri.
Riko menggelengkan kepala dua kali, lalu berujar, “Tuh anak sama aja sama si Riki! Nasib jomblo sendiri.” Riko berbalik badan, dan melangkah cepat menuju ruangannya.
Tidak ada Riki, Adnan pun sama. Akan tetapi, tidak ada manusia paling menyebalkan selain kembarannya. Lelaki itu bahkan bisa membangkitkan kemarahannya beberapa kali dalam sehari. Namun, seperti halnya anak kembar. Ia sudah terbiasa menerima hal-hal seperti itu.
nikah kq dibuat mainan
begitu sih etikanya
semangat dan sukses trs untuk karya" nya yg lain 💪💪💪💗