NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:15.6k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM ISTRI YANG DIMADU

​Udara di dalam ruang kerja pribadiku di lantai teratas gedung Amara Modest terasa sejuk oleh embusan pendingin ruangan yang tenang. Dari balik dinding kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, pemandangan lanskap kota Jakarta dengan gedung-gedung pencakar langitnya terlihat begitu sibuk. Di luar sana, dunia terus berputar, namun di dalam ruangan ini, waktu seolah berhenti saat sebuah map kulit berwarna hitam pekat diletakkan di atas meja kerja jati milikku.

​Aku duduk dengan tegap di kursi kebesaranku, mengenakan setelan blazer berwarna hijau emerald tua yang dipadukan dengan hijab sutra bermotif floral halus yang disampirkan rapi di bahu. Di hadapanku, duduk seorang pria paruh baya berambut kelabu dengan setelan jas formal yang rapi. Dia adalah Pak Baskoro, pengacara keluarga sekaligus penasihat hukum kepercayaanku yang telah mengawal legalitas perusahaanku sejak masih berbentuk rintisan kecil hingga menggurita seperti sekarang.

​Pak Baskoro baru saja menyesap kopi hitam yang disuguhkan oleh sekretarisku, namun ekspresi wajahnya yang biasanya tenang dan penuh wibawa mendadak berubah drastis setelah mendengar kalimat pertama yang kulontarkan sejak dia duduk di ruangan ini.

​Mata pria tua itu melebar di balik kacamata bermata bulatnya. Dia menaruh cangkir porselennya kembali ke tatakan dengan sedikit tergesa, lalu menatapku dengan kerutan dalam di dahi, seolah baru saja mendengar sebuah lelucon yang sama sekali tidak lucu.

​"Maaf, Ibu Hanum... bisa tolong ulangi sekali lagi?" suara Pak Baskoro terdengar agak tercekat, sarat akan rasa tidak percaya. "Anda meminta saya menyusun draf perjanjian pasca-nikah untuk pemisahan harta gono-gini secara mutlak antara Anda dan Pak Hanif? Perjanjian rahasia yang memisahkan seluruh aset Amara Modest dan kepemilikan pribadi Anda dari jangkauan suami Anda?"

​Aku menyunggingkan senyum tipis yang sangat tenang, menyandarkan punggungku ke sandaran kursi kulit yang empuk. "Anda tidak salah dengar, Pak Baskoro. Itulah alasan utama mengapa saya meminta Anda membatalkan semua jadwal sidang Anda pagi ini dan datang langsung ke kantor saya."

​Pak Baskoro menarik napas dalam-dalam, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah yang tampak sangat syok. Selama bertahun-tahun menjadi pengacara keluarga kami, dia tahu betul bagaimana harmonisnya hubungan kami di mata publik. Dia tahu bagaimana aku dan Mas Hanif selalu tampil sebagai pasangan ideal yang saling menyokong bisnis satu sama lain. Baginya, permintaan mendadak ini seperti petir di siang bolong.

​"Tapi... kenapa mendadak sekali, Ibu Hanum?" tanya Pak Baskoro, suaranya merendah, dipenuhi rasa khawatir yang tulus. "Apakah ada masalah serius di antara Anda dan Pak Hanif? Selama ini saya melihat hubungan kalian berdua sangat harmonis, bahkan menjadi contoh bagi kolega bisnis yang lain. Membuat perjanjian pemisahan harta secara sepihak di tengah pernikahan yang sudah berjalan sepuluh tahun... ini bisa memicu keretakan besar jika Pak Hanif mengetahuinya."

​Aku memperbaiki posisi dudukku, memajukan tubuh sedikit ke depan meja, lalu menumpukan kedua tanganku yang saling bertautan. Tatapan mataku mengunci pandangan pria tua itu dengan dingin.

​"Ini tidak mendadak, Pak Baskoro. Ini adalah langkah preventif yang sangat rasional," ujarku, suaranya begitu mengalun datar tanpa ada riak emosi sedikit pun. "Anggap saja ini semua hanya untuk jaga-jaga. Di dunia bisnis, kita selalu menyiapkan draf mitigasi risiko sebelum sebuah krisis melanda, bukan? Saya hanya sedang memitigasi risiko atas masa depan diri saya dan sepasang anak kembar saya yang kini berusia sembilan tahun."

​Pak Baskoro menelisik mataku, mencoba mencari retakan emosi atau sisa air mata di sana. Namun, keahlianku dalam menyembunyikan badai di balik ketenangan membuat pria paruh baya itu gagal menemukan celah. Dia mengembuskan napas panjang, lalu membuka tas kerjanya dan mengeluarkan selembar kertas catatan kosong serta sebuah pena.

​"Baiklah, jika itu memang keinginan Anda sebagai pemilik mutlak dari mayoritas aset Amara Modest," ucap Pak Baskoro profesional, meskipun gurat syok di wajahnya belum sepenuhnya hilang. "Secara hukum, perjanjian pasca-nikah atau postnuptial agreement memang sah dilakukan di Indonesia semenjak putusan Mahkamah Konstitusi. Kita bisa memisahkan harta yang diperoleh sebelum dan selama pernikahan berjalan. Jika perjanjian ini ditandatangani oleh kedua belah pihak di hadapan notaris dan didaftarkan ke pengadilan, maka pemisahan itu mengikat secara hukum mutlak."

​Pak Baskoro memajukan kacamatanya, menatap draf catatan aset yang sudah kusiapkan sebelumnya di atas meja. "Jika kita menggunakan sistem pemisahan harta mutlak secara total, maka seluruh keuntungan dari Amara Modest, tanah, rumah utama di Jakarta Selatan yang sertifikatnya atas nama Anda, serta seluruh reksa dana atas nama Kayla dan Kenzie akan aman 100% di bawah kendali Anda. Pak Hanif tidak akan memiliki hak sepeser pun atas aset-aset tersebut apabila... apabila terjadi perceraian di masa depan."

​Pria tua itu terdiam sejenak, mengetukkan penanya ke atas meja dengan ragu-ragu sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan krusial yang sejak tadi tertahan di kerongkongannya. "Namun, Ibu Hanum... jika pemisahan ini terjadi, bagaimana dengan nasib aset Pak Hanif? Sebagai pengacara Anda, saya harus menanyakan ini secara mendalam... menurut analisis hukum awal, mana harta atau apa saja yang kemungkinan besar akan diterima atau tersisa untuk Pak Hanif setelah proses perceraian terjadi?"

​Mendengar pertanyaan itu, sebuah senyuman manis yang terasa sedingin es perlahan terukir di bibirku. Aku memundurkan tubuhku kembali, menikmati kepuasan batin yang dingin saat membayangkan akhir dari permainan catur yang baru saja kumulai ini.

​"Itulah bagian terbaiknya, Pak Baskoro," jawabku dengan nada bicara yang sangat santai, hampir menyerupai bisikan angin malam yang mencekam. "Jika draf yang Anda susun nanti bekerja dengan sempurna tanpa celah, maka harta yang akan diterima dan tersisa untuk Hanif setelah kami bercerai adalah... utang operasional pabrik tekstilnya sendiri, sebuah rumah tua peninggalan orang tua kandungnya di pinggiran kota, dan sebuah tabungan pribadi yang saldonya bahkan tidak akan cukup untuk membayar biaya kuliah anak-anak kami hingga lulus."

​Pak Baskoro tersentak, tangannya yang memegang pena mendadak kaku. Dia menatapku dengan pandangan mata yang kini dipenuhi rasa segan yang teramat dalam. Sebagai pengacara senior, dia langsung menangkap arah pembicaraanku. Ini bukan sekadar tindakan jaga-jaga ini adalah sebuah eksekusi hukum yang dirancang untuk memiskinkan lawan secara mutlak.

​"Ibu Hanum..." bisik Pak Baskoro, suaranya sedikit bergetar. "Apakah... apakah Pak Hanif telah melakukan kesalahan yang teramat fatal? Apakah dia... melakukan perselingkuhan?"

​"Secara tidak langsung, ya. Dia telah berselingkuh dari komitmen sepuluh tahun pernikahan kami," balasku tajam, mataku berkilat oleh api amarah yang sengaja kukunci rapat di balik ketenangan wajahku. "Semalam, dengan wajah tanpa dosa, dia berlutut di hadapan saya untuk meminta izin menikah lagi. Dia menggunakan dalil agama, membawa-bawa restu ibunya, dan tameng kata 'ibadah' serta 'poligami' hanya untuk melegalisasi nafsu dan pengkhianatannya dengan seorang wanita muda yang katanya siap menemani dari bawah."

​Aku mengepalkan jemariku di bawah meja, merasakan kuku-kukuku menusuk telapak tanganku sendiri untuk menyalurkan rasa perih yang sempat menyengat dada. "Dia pikir dia bisa bertindak licik, berselingkuh di balik kedok pernikahan kedua yang sah, namun tetap menikmati seluruh fasilitas mewah, rumah megah, dan suntikan dana miliaran rupiah dari perusahaan saya untuk menyokong pabrik tekstilnya yang mulai oleng. Dia ingin membagi hatinya, membagi ranjangnya, namun tetap ingin saya menjadi tameng finansial bagi kehidupan barunya bersama wanita itu."

​Aku menatap Pak Baskoro dengan pandangan mata yang menuntut kesetiaan penuh. "Saya tidak akan membiarkan sepeser pun dari hasil keringat saya dan masa depan anak-anak saya digunakan untuk memberi makan wanita selingkuhannya itu, Pak Baskoro. Jika dia bilang wanita itu siap berjuang dari bawah bersamanya, maka sebagai istri pertama yang baik, saya wajib mewujudkan keinginan luhur mereka berdua."

​Pak Baskoro menelan ludah dengan susah payah. Dia bisa merasakan aura intimidasi yang luar biasa dari diriku. Di matanya saat ini, aku bukan lagi Hanum si desainer hijab yang anggun dan lembut, melainkan seorang CEO berdarah dingin yang siap menghancurkan siapa saja yang berani mengusik ketenangannya.

​"Saya memahami rasa sakit Anda, Ibu Hanum," ucap Pak Baskoro dengan nada penuh empati, menaruh penanya dan menatapku dengan takzim. "Dan sebagai penasihat hukum Anda, saya akan memastikan bahwa seluruh hak Anda dan anak-anak terlindungi secara mutlak. Namun, ada satu kendala praktis... bagaimana Anda bisa membuat Pak Hanif bersedia menandatangani perjanjian pemisahan harta ini tanpa menimbulkan kecurigaan? Pak Hanif bukan orang bodoh, dia pasti tahu konsekuensi dari surat ini."

​Aku menyunggingkan senyum kemenangan, sebuah ekspresi yang sangat manis namun penuh dengan kelicikan yang terukur. "Dia memang bukan orang bodoh dalam urusan operasional pabrik, Pak Baskoro. Tapi dia adalah pria yang dipenuhi oleh ego kelelaki-an dan rasa bersalah yang teramat besar saat ini. Dia merasa di atas angin karena saya sudah memberikan izin lisan semalam. Dia percaya bahwa saya adalah istri yang terlalu mencintainya, terlalu polos, dan terlalu penurut untuk berpikir tentang balas dendam."

​Aku mengetukkan jemariku di atas meja kerja. "Saya akan memanfaatkan rasa bersalahnya itu. Besok atau lusa, saya akan menyodorkan surat ini kepadanya dengan alasan untuk mengamankan masa depan warisan Kayla dan Kenzie agar tidak terganggu oleh kehadiran calon anak dari istri mudanya nanti. Demi menunjukkan pada saya bahwa dia tetap menyayangi anak-anak kembarnya, dan demi menebus rasa bersalahnya karena telah menduakan saya, egonya akan memaksa dia untuk menandatangani surat itu tanpa berpikir panjang. Dia akan menandatanganinya dengan sukarela, percaya bahwa itu hanya formalitas untuk menenangkan hati saya."

​Pak Baskoro mengangguk-angguk perlahan, mulai mengagumi kelihaian strategi psikologis yang kususun. "Sebuah langkah yang sangat brilian, Ibu Hanum. Memanfaatkan rasa bersalah lawan untuk mengunci pergerakan mereka sendiri. Baik, saya akan menyusun klausulnya malam ini juga. Saya akan menambahkan pasal khusus mengenai pemisahan utang piutang perusahaan. Jadi, apabila pabrik tekstil Pak Hanif mengalami kebangkrutan atau terjerat utang operasional di masa depan, seluruh aset Amara Modest dan aset pribadi Anda tidak dapat disita atau dilibatkan sedikit pun untuk menanggung utang tersebut."

​"Sempurna," ucapku pendek, kepuasan dingin merayapi dadaku. "Pastikan drafnya selesai besok pagi, Pak Baskoro. Begitu surat itu ditandatangani oleh Hanif di hadapan notaris kepercayaan kita, saya akan mulai melancarkan tahap kedua dari rencana ini."

​"Tahap kedua?" tanya Pak Baskoro, menaikkan sebelah alisnya dengan rasa penasaran yang tinggi.

​"Saya akan menarik seluruh kontrak produksi massal jilbab dan pakaian Amara Modest dari pabrik manufaktur milik Hanif secara bertahap namun konstan," ujarku, mataku menyipit kejam. "Selama ini, 70% perputaran uang di pabriknya berasal dari pesanan perusahaan saya. Begitu kontrak itu kupindahkan ke pabrik kompetitornya, pabrik Hanif akan langsung kolaps dalam hitungan bulan. Dia akan terjerat utang gaji karyawan dan biaya operasional yang menumpuk. Dan karena surat pemisahan harta yang Anda susun sudah legal, dia tidak akan bisa menyentuh uang saya sepeser pun untuk menyelamatkan dirinya."

​Aku menjeda kalimatku, membiarkan bayangan kehancuran Hanif menari-nari di udara ruangan ini. "Saat dia berada di titik terendah, terlilit utang dan rumah tangga barunya mulai hancur karena masalah finansial... di situlah saya akan melayangkan gugatan cerai resmi ke pengadilan. Saya akan membiarkan dia benar-benar menikmati esensi nyata dari kalimat 'berjuang dari bawah' bersama madu pilihannya itu, tanpa menyisakan apa pun dari dunia kemewahan yang pernah kuberikan untuknya."

​Pak Baskoro terdiam cukup lama setelah mendengar seluruh pemaparan rencanaku. Dia merapikan kembali kertas catatannya, memasukkannya ke dalam map hitam, lalu bangkit dari kursinya. Dia membungkukkan badannya sedikit dengan sikap hormat yang teramat dalam kepada wanita yang berdiri di hadapanya.

​"Draf perjanjian akan siap di meja Anda besok jam sembilan pagi, Ibu Hanum," ucap Pak Baskoro mantap, suaranya kini terdengar penuh dengan sanksi dukungan mutlak. "Saya akan memastikan tidak akan ada satu celah hukum pun yang bisa digunakan oleh pihak Pak Hanif untuk membatalkan perjanjian ini di masa depan. Selamat berjuang untuk mempertahankan hak Anda dan anak-anak."

​"Terima kasih, Pak Baskoro. Kesetiaan Anda akan selalu saya ingat," balasku dengan senyuman anggun.

​Setelah Pak Baskoro melangkah keluar dari ruang kerjaku dan pintu kayu ek itu tertutup rapat, aku berjalan mendekati dinding kaca besar. Aku menatap lurus ke arah pemandangan kota di bawah sana. Mataku dingin, sedingin lembar demi lembar kertas perjanjian pasca-nikah yang sebentar lagi akan menjadi senjata paling mematikan untuk meruntuhkan hidup Mas Hanif.

​Dia mengira dia bisa berselingkuh dengan cara yang elegan menggunakan dalil memadu pernikahan, namun dia lupa bahwa dia sedang berhadapan dengan Hanum, wanita yang tidak akan pernah membiarkan harga dirinya diinjak-injak tanpa pembalasan yang setimpal. Lembar perjanjian dingin ini adalah awal dari akhir segalanya bagi Mas Hanif, dan aku akan memastikan setiap detiknya berjalan sesuai dengan skenario dendam manisku.

1
sunaryati jarum
Semoga prosesnya cepat sesuai harapan
Noey Aprilia
Reader aja ikutn jngkel tau ga....
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
Arin
Salah lawan nih......Hanif dimiskinkan semiskin miskinnya😁😁😁
Muft Smoker
gengsiny jgn byk2 kak tian ,, nnti org gx kebagian ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
meski kaku Dan dingiin ,, tp tian sosok laki2 yg tanggung jawab ,,
Noey Aprilia
Iye...iye....
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
Ma Em
Ternyata Hanif dan Bu Rahma itu sebenarnya dulunya orang miskin namun setelah menikah lagi Bu Rahma diangkat derajat dan jadi orang kaya dan terhormat dan kelakuannya jadi sombong dan sekarang Hanif dan Bu Rahma kembali ke awal lagi , semoga Hanum berjodoh dgn Tian karena Tian sdh menyayangi anak2 Hanum .
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Noey Aprilia
Mau heran,tp gtulh knytaannya....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
sat set 😍😍
Noor hidayati
anak anak hanum itu umur 9th apa 5th,kok tingkahnya kayak masih balita,kalau 9th kan berarti sudah kelas 3 SD
Noor hidayati
kembar telat itu apa ya,apa sama dengan kembar tidak identik
Himna Mohamad
good kkk
Muft Smoker
udh kak ,, hanum ma tian aj ,, meski kaku , dingiin , bak kulkas 100 pintu ,, tp Dari sikap ny dy begitu menghargai hanum , menyayangi si kembar ,, udh pas tuh jd bpa Dan suami idaman 👍👍👍😁😁😁😁
Muft Smoker
waah ad apa niih ,, tian klo suka jgn lama2 di pendam ,, takut keburu jdii Batu ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
susi ana
apakah nantinya Tian akan bersama Hanum?
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
blcak areng: makasih kakak🙏🙏
total 1 replies
Noey Aprilia
Mngknkh sbnrnya tian udh ska hanum dr dlu,cma dia mngalah dmi yg onoh???
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....
Noey Aprilia: Gabut.....🤣🤣🤣
total 2 replies
cinta semu 2
Hanif u sengaja gali lubang buat kematian u sendiri🤭
cinta semu 2
hanum kecerdasan u mampu membuat Hanif gila...🤣🤣🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!