Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum yang Menghancurkan
Esok harinya, kediaman keluarga Vincentes bersiap menyambut kedatangan tamu istimewa. Pelayan-pelayan berlalu lalang dengan panik, membersihkan setiap sudut ruangan dan menyiapkan hidangan terbaik. Gran Vincentes sendiri yang memimpin persiapan, wajahnya berseri-seri seperti anak kecil yang menunggu hadiah.
"Keilla Sienta akan datang hari ini," ucap Gran pada para pelayan, matanya berbinar. "Pastikan semuanya sempurna."
Namun, di sudut ruangan, Gianna Vincentes hanya diam. Matanya yang tajam menatap pintu utama dengan ekspresi tidak senang.
"Keilla Sienta," pikirnya. "Gadis yang mengkhianati keponakanku."
---
Ketika kereta kuda Keilla tiba, semua pelayan berbaris dengan hormat. Gran berjalan menyambut dengan tangan terbuka, senyum lebar di wajahnya.
"Keilla! Selamat datang!" ucapnya hangat. "Aku sudah memerintahkan para pelayan memanggil Grey. Dia pasti sangat senang bertemu denganmu."
Keilla tersenyum manis, mengenakan gaun biru muda yang membuatnya tampak anggun. Namun, matanya menyapu ruangan, mencari sosok yang tidak ia temukan.
"Terima kasih, Tuan Gran," ucapnya sopan.
Namun, Gianna yang berdiri di sudut ruangan hanya mendengus pelan. Tanpa sepatah kata, ia berbalik dan meninggalkan ruang tamu, meninggalkan Keilla sendirian di tengah sambutan yang canggung.
Keilla menatap punggung Gianna dengan tatapan tajam.
"Wanita itu..." pikirnya kesal, "berani sekali dia mengacuhkanku?"
Gran yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum canggung. "Ah, Gianna memang sedikit—"
"Tidak apa, Tuan Gran. Saya mengerti."
Keilla memotongnya dengan sopan, tetapi di dalam hatinya, api kemarahan mulai menyala.
Gran segera mengalihkan perhatian dengan memerintahkan para pelayan membawa hadiah-hadiah. Bungkusan-bungkusan indah berisi perhiasan, kain sutra, dan barang-barang mewah ditumpuk di depan Keilla.
"Keilla, anggap saja ini hadiah kecil dari keluarga Vincentes karena kau akan menjadi bagian dari keluarga ini," ucap Gran dengan penuh harap.
Namun, sebelum ia bisa melanjutkan, sebuah suara dingin memotong dari balik pintu.
"Keilla? Kau ada di sini rupanya. Ku kira kau melupakanku."
Semua orang menoleh.
Grey Vincentes berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen dengan tangan disilangkan di dada. Wajahnya tersenyum, tetapi matanya—matanya kosong dan dingin. Tidak ada lagi cahaya cinta yang dulu selalu ia pancarkan saat melihat Keilla.
Keilla merasakan ada yang berbeda. Ada sesuatu di balik senyum Grey yang membuat bulu kuduknya berdiri.
"Grey?" ucapnya, berusaha tetap tenang. "Kenapa akhir-akhir ini kau tidak mengajakku ke tempat yang indah? Bukankah kita tunangan?"
Grey tertawa kecil—tawa yang tidak sampai ke matanya.
"Tunangan ya?" ulangnya pelan, berjalan mendekat. "Ku kira aku mendapat bekas sisa dari orang lain."
Keilla menegang. Wajahnya memucat.
Seluruh keluarga Vincentes kaget. Gran terbelalak, tidak percaya dengan ucapannya sendiri.
"Grey!" bentak Gran, suaranya gemetar karena marah. "Kau mempermalukan calon istrimu sendiri! Di mana hatimu berada? Bukankah kau begitu mencintainya?"
Grey menoleh pada ayahnya, dan untuk pertama kalinya, tatapannya tajam dan menusuk.
"Jangan samakan dulu dan sekarang, Ayah," ucapnya datar. "Seseorang akan berubah jika melihat busuknya seekor burung gagak yang menyembunyikan bangkai korbannya."
Keheningan mencekam menyelimuti ruangan.
Semua orang terdiam. Para pelayan berhenti bergerak. Gran menggenggam erat tongkatnya, tidak mengerti apa maksud putranya.
Namun, Keilla merasakan dadanya berdebar kencang.
"Dia tahu," pikirnya panik. "Grey tahu tentang Alarga. Dia tahu tentang pengkhianatanku."
Grey tersenyum—senyum yang membuat Keilla bergidik.
"Ah ya, aku ingin menemui Ressa," ucapnya santai, berbalik hendak pergi. "Maaf, tapi aku tidak bisa menyambutmu, Keilla."
"Tunggu, Grey!" Gran berteriak. "Kau mau meninggalkan tunanganmu demi Ressa?"
Grey berhenti. Ia menoleh sekilas, dan di matanya ada kilatan yang sulit diartikan.
"Ressa lebih tulus dari siapa pun yang pernah aku kenal," jawabnya pelan. "Dan aku lebih memilih ketulusan daripada kebohongan."
Tanpa menunggu jawaban, ia berjalan keluar ruangan, meninggalkan keheningan yang memekakkan telinga.
Keilla terdiam. Tangannya gemetar, dan di matanya ada ketakutan yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Dia mengabaikanku?" pikirnya, hatinya hancur. "Grey, yang dulu begitu mencintaiku, kini mengabaikanku?"
Namun, lebih dari rasa sakit, ada ketakutan yang lebih besar.
"Ini bukan sekadar peringatan," sadar Keilla. "Ini adalah ancaman. Grey tahu semuanya. Dan dia tidak akan diam."
Ia berdiri dengan buru-buru, gaunnya berkibar.
"Maaf, Tuan Gran," ucapnya cepat, "saya harus pergi. Ada urusan mendadak."
Gran terkejut. "Tapi Keilla—"
"Sampai jumpa lain waktu."
Keilla berlari keluar dari kediaman Vincentes, meninggalkan keluarga besar itu dengan kebingungan.
Di halaman belakang, di bawah pohon tua, Grey duduk bersama Ressa. Ia tersenyum saat melihat Keilla berlari meninggalkan rumahnya.
"Tuan Grey," bisik Ressa, "apa yang kau lakukan?"
Grey menoleh, matanya berkilat. "Aku hanya memberi peringatan, Ressa. Bahwa badai akan segera datang."
Di luar, Keilla menaiki kereta kudanya dengan panik. Hatinya berdebar kencang.
"Aku harus memberi tahu Ayah," pikirnya. "Grey tidak seperti yang kita kira. Dia menyembunyikan sesuatu yang berbahaya."
Kereta kuda melaju kencang meninggalkan kediaman Vincentes, membawa serta kabar buruk yang akan mengubah segalanya.