NovelToon NovelToon
TERJERAT OBSESI ELZIO

TERJERAT OBSESI ELZIO

Status: tamat
Genre:Obsesi / One Night Stand / CEO / Percintaan Konglomerat / Office Romance / Tamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30

Pintu kamar pengantin di vila pribadi pulau itu tertutup rapat dengan bunyi klak yang pelan namun tegas. Suara gemuruh ombak pantai di luar seolah tak lagi terdengar, tergantikan oleh suasana kamar yang hangat, remang, dan dipenuhi wangi aroma terapi lavender serta bunga mawar.

​Clara berdiri di samping tempat tidur berukuran king size yang bertabur kelopak bunga. Dia membelakangi Elzio, jari-jarinya yang gemetar pelan berusaha menurunkan ritsleting gaun pengantinnya dari belakang.

​"Susah, ya?"

​Suara bariton Elzio yang begitu rendah dan serak tiba-tiba terdengar tepat di belakang tengkuknya. Clara tersentak kecil ketika merasakan sepasang lengan kokoh melingkar di pinggangnya, disusul hembusan napas hangat Elzio yang menyapu lehernya.

​"Biar saya bantu," bisik Elzio. Jemari tegapnya mengambil alih ritsleting gaun itu, menariknya turun secara perlahan hingga kain putih sutra itu meluncur jatuh ke lantai, menyisakan Clara dengan pakaian dalamnya.

​Pipi Clara memerah padam. Dia menunduk malu, matanya berkedip cepat. Dulu, malam pertama mereka di apartemen terasa penuh emosi dan keraguan karena kebohongan Elzio. Tapi malam ini... Clara benar-benar sadar sepenuhnya. Sadar bahwa pria di belakangnya adalah suaminya yang sah, pria yang rela menyerahkan seluruh dunianya demi dirinya.

​"El... jangan natap gitu, ih," cicit Clara canggung, mencoba menutupi dadanya dengan kedua tangan.

​Elzio tak menjawab. Dia justru memutarkan tubuh Clara agar menghadapnya. Manik mata hitam Elzio membara oleh pendar obsesi yang begitu pekat, menatap setiap inchi lekuk tubuh istrinya tanpa cela.

​"Kenapa harus malu, sweetheart?" bisik Elzio parau. Tangannya terulur menangkup pipi Clara, ibu jarinya mengelus bibir bawah Clara yang basah. "Kamu itu istri saya. Seluruh tubuh kamu, jiwa kamu... milik saya."

​"Gue... gue cuma agak grogi, El," aku Clara jujur, tatapannya menyatu dengan binar tajam Elzio. "Gue sadar sepenuhnya malam ini. Gak ada emosi, gak ada marah-marah..."

​"Bagus kalau kamu sadar," Elzio menyunggingkan senyum tipis yang amat memabukkan. Pria itu merengkuh tubuh Clara secara tiba-tiba, mengangkatnya mudah dan merebahkannya ke atas ranjang yang empuk. "Karena saya mau kamu mengingat setiap detik malam ini, Clara."

​"Elzio..." napas Clara mulai memburu saat Elzio menyusup ke atas tubuhnya, mengungkungnya rapat.

​Elzio menunduk, mendaratkan ciuman yang begitu intens dan dalam di bibir Clara. Lidah pria itu menyesap lembut, menuntut balasan yang pasrah dari Clara. Jemari Elzio menyusup ke dalam helai rambut Clara, memiringkan kepala wanita itu agar ciumannya makin lekat.

​"Mmph... El..." bisik Clara di sela ciuman mereka, tangannya refleks meremas bahu tegap Elzio yang kini sudah bertelanjang dada.

​Elzio menurunkan ciumannya ke rahang, menyusuri leher jenjang Clara, lalu mendaratkan kecupan-kecupan panas di sepanjang tulang selangka sang istri. Setiap sentuhan jemari dan sapuan bibir Elzio terasa begitu obsesif, seolah ingin memberi cap kepemilikan abadi di kulit mulus Clara.

​"Elzio... tunggu," cicit Clara terengah-engah ketika tangan Elzio meraih laci di samping tempat tidur.

​Elzio menghentikan gerakannya sejenak, melirik ke dalam laci tempat beberapa pengaman tersusun rapi. Namun, bukannya mengambil benda itu, Elzio justru menutup laci itu kembali dengan dentuman pelan.

​Clara mengerutkan keningnya heran. "Loh? Kok ditutup lagi? Kamu gak pakai pengaman?"

​Elzio menatap lurus ke dalam mata Clara, binar matanya mendadak terasa begitu tegas dan sarat akan keinginan yang mendalam.

​"Tidak," jawab Elzio rendah dan mantap.

​"Hah? Tapi El... kita kan belum bahas soal—"

​"Saya mau anak, Clara," potong Elzio cepat, memotong kalimat istrinya. Pria itu menyusupkan jemarinya ke sela-sela jari Clara, menguncinya kuat di atas bantal. "Saya mau keturunan dari kamu. Saya mau buah hati yang punya mata cantik seperti kamu."

​Clara terpana. "Elzio... kita baru aja nikah hari ini. Kamu beneran mau langsung punya anak?"

​"Saya serius, sweetheart," bisik Elzio parau, wajahnya makin mendekat hingga jarak bibir mereka tersisa beberapa milimeter. "Saya mau mengikat kamu selamanya. Saya mau ada darah saya yang mengalir di dalam tubuh kamu. Kamu keberatan?"

​Melihat kesungguhan dan binar harapan yang begitu besar di mata pria yang sangat mencintainya ini, runtuh sudah seluruh keraguan di dalam diri Clara. Dia menyunggingkan senyum manisnya, membawa tangan kakunya untuk mengelus rahang tegas Elzio.

​"Gak, El... aku gak keberatan," bisik Clara lembut, memperjelas panggilannya. "Aku mau punya anak sama kamu."

​Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Clara, mata Elzio berkilat makin membara. Rasa bahagia dan gairah yang meluap-luap membakar seluruh nalurinya.

​"Terima kasih, istriku," desis Elzio rendah.

​Tanpa menunggu lebih lama, Elzio menyapu bibir Clara kembali dalam ciuman yang jauh lebih menuntut dan penuh gairah. Malam itu, di bawah temaram lampu kamar pengantin, Elzio memanjakan dan menjelajahi tubuh Clara dengan penuh obsesi yang tak terekspresikan. Setiap rintihan pelan Clara dibalas dengan bisikan cinta dan pujian manis dari Elzio, menyatukan dua jiwa yang telah resmi terikat dalam janji suci.

​Pukul empat pagi.

​Suasana kamar mendadak hening. Udara dingin dari AC menusuk kulit, namun di atas ranjang, kehangatan masih terpancar jelas dari balik selimut tebal yang membungkus dua insan tersebut.

​Clara bersandar lemas di dada bidang Elzio. Tubuhnya terasa begitu lelah, keringat tipis masih membasahi pelipis dan lehernya. Napasnya teratur, perlahan-lahan mencoba menata detak jantungnya yang sejak tadi berdegup kencang.

​Elzio sendiri belum memejamkan mata sedikit pun. Pria itu berbaring menyamping, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Clara, menarik tubuh wanita itu agar menempel rapat tanpa jarak pada tubuhnya. Jemari tegapnya tak berhenti mengelus punggung mulus Clara, sesekali mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala istrinya.

​"Pegal, ya?" bisik Elzio lembut, menyadari hela napas lelah Clara.

​Clara mendongak pelan, menatap wajah suaminya dengan mata yang setengah tertutup karena kantuk berat. "Menurut kamu?! Kamu bener-bener gak kasih aku napas ya, Elzio!"

​Elzio terkekeh renyah, suara ketawanya menggetarkan dada tempat Clara bersandar. "Maafkan saya, sweetheart. Saya cuma tidak bisa mengontrol diri kalau sudah menyentuh kamu."

​"Alasan mulu!" omel Clara dengan suara serak, memukul dada Elzio pelan. "Badan aku rasanya kayak remuk tahu gak!"

​"Nanti pagi saya pijat," balas Elzio santai, menunduk untuk mengecup bibir Clara yang sedikit bengkak akibat perbuatannya. "Sekarang tidur, ya. Kamu pasti capek sekali."

​Clara mengusap matanya, lalu menyusupkan wajahnya lebih dalam ke ceruk leher Elzio, menghirup aroma maskulin suaminya yang begitu menenangkan. "Kamu gak tidur?"

​"Saya mau memandangi kamu sebentar lagi," sahut Elzio jujur, jemarinya merapikan helai rambut yang menutupi wajah Clara. "Saya masih merasa seperti mimpi bisa memiliki kamu sepenuhnya seperti ini."

​"Basi ah gombalnya," gumam Clara, walau sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman bahagia. "Jangan gila ya, besok kita harus bangun pagi buat sapa tamu yang tersisa."

​"Biarkan Arka yang mengurus mereka," balas Elzio cepat tanpa beban. "Fokus kita sekarang cuma liburan dan membuat Little Elzio atau Little Clara secepatnya."

​Pipi Clara kembali memerah hangat mendengar gurauan suaminya. Dia memeluk pinggang Elzio lebih erat, membiarkan rasa aman menguasai seluruh pikirannya.

​"Iya, Pak CEO... terserah kamu deh," bisik Clara lirih, sebelum akhirnya memejamkan mata dan tertidur lelap dalam dekap erat sang suami.

​Elzio tersenyum penuh kemenangan, mengecup kening Clara sekali lagi dengan rasa cinta yang amat mendalam. "Tidur yang nyenyak, Nyonya Mahendra. Kamu adalah takdir terbaik dalam hidup saya."

1
umie chaby_ba
mampir thor..🙏
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!