Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.
Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Hari itu, Lukas menghabiskan waktu memeriksa kembali tumpukan berkas yang mereka ambil dari ruang bawah tanah keluarga Chandra—berkas yang sebagian besar belum sempat ia teliti satu per satu secara mendalam. Di sudut paling bawah kotak kayu tua yang tertutup debu, terselip sebuah amplop kertas buram yang warnanya sudah berubah menjadi kekuningan, dengan segel resmi instansi pemerintahan daerah yang sudah pudar. Tidak ada nama pengirim di bagian luarnya, hanya tertulis satu kalimat pendek dengan tinta hitam yang mulai luntur: “Untuk catatan penting – Jangan dibuang.”
Dengan hati-hati, Lukas merobek pinggiran amplop itu. Di dalamnya terdapat salinan berkas kelahiran yang bertanggal lebih dari lima belas tahun lalu. Saat matanya menyapu baris demi baris tulisan di atas kertas itu, napasnya tiba-tiba tertahan.
Nama lengkapnya tertulis di sana: Lukas Wijaya. Namun di kolom keterangan latar belakang keluarga, ada bekas coretan tebal berwarna hitam pekat yang menutupi sebagian besar tulisan. Di bawah lapisan tinta coretan itu, samar-samar masih terlihat jejak huruf yang dibiarkan terbuka—nama ayah dan ibunya, serta nama keluarga besar yang tercatat sebagai garis keturunannya.
Lukas segera mengambil lampu senter kecil dan kaca pembesar yang biasa digunakan Kirana untuk memeriksa dokumen lama. Ia memiringkan kertas itu ke arah cahaya, mencoba melihat lebih jelas apa yang sengaja disembunyikan. Perlahan, huruf demi huruf terbaca: Keluarga Wijaya – Salah Satu Pendiri Ekonomi Daerah Sulawesi Tengah.
Jantungnya berdegup kencang hingga terasa nyeri di dada. Selama ini ia selalu diberitahu bahwa ia adalah anak yatim piatu biasa, tidak memiliki kerabat, dan tidak memiliki latar belakang apa pun. Bahkan di berkas adopsi yang ditandatangani keluarga Chandra, kolom asal-usul orang tuanya sengaja dikosongkan dengan alasan “tidak ada data yang tersedia”. Namun berkas ini membuktikan sebaliknya: identitasnya tidak hilang begitu saja—ia sengaja dihapus, dicoret, dan disembunyikan dari dirinya sendiri.
“Kirana!” panggilnya dengan suara bergetar, tak mampu menahan rasa kaget dan campur aduk yang meluap.
Kirana yang sedang memeriksa peta lokasi segera berlari mendekat. Saat ia melihat isi berkas itu, wajahnya yang biasanya tenang seketika berubah serius. Ia segera mengambil catatan sejarah ekonomi Sulawesi Tengah yang disusun oleh tim peneliti pribadinya, lalu membuka halaman awal yang memuat daftar tokoh pendiri pembangunan wilayah.
“Benar,” ucapnya pelan namun tegas, jarinya menunjuk nama yang sama persis dengan yang tersembunyi di balik coretan tinta. “Keluarga Wijaya adalah salah satu pelopor pertama yang membangun jalan perdagangan, membuka akses pasar bagi petani lokal, dan mendirikan pabrik pengolahan hasil bumi pertama di Palu. Mereka tidak hanya sekadar pengusaha kaya—mereka adalah tulang punggung ekonomi masyarakat di sini. Nama mereka pernah tercatat sebagai mitra resmi pemerintah daerah dalam pembangunan infrastruktur.”
Lukas menelusuri baris-baris sejarah itu dengan mata berkaca-kaca. Ia membaca bagaimana kakeknya memulai usaha dari berdagang kopra di pelabuhan kecil, bagaimana ayahnya mengembangkannya menjadi grup perusahaan yang memberi pekerjaan bagi ribuan warga, bagaimana mereka menolak tawaran kerja sama dengan pihak asing yang ingin mengeksploitasi sumber daya alam daerah demi keuntungan sendiri. Semua hal itu membuat dadanya terasa hangat sekaligus sesak—ia baru tahu sekarang bahwa darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah orang-orang yang berjuang demi kebaikan banyak orang, bukan darah pengecut atau pembawa sial seperti yang sering dikatakan keluarga Chandra.
Namun pertanyaan besar kembali muncul di benaknya: “Jika keluarga saya begitu besar dan berpengaruh, kenapa semua jejak ini dihapus? Kenapa nama mereka seolah tidak pernah ada di catatan umum?”
Kirana menunjuk ke bagian bawah berkas kelahiran itu, di mana terdapat tanda tangan pejabat yang berwenang saat itu—salah satu nama yang kini tercatat sebagai komisaris utama di perusahaan milik Bima Surya Atmaja.
“Karena menghapus nama keluarga Wijaya berarti menghapus hak warisnya,” jawabnya pelan, menyambungkan benang merah yang selama ini terputus. “Selama tidak ada pewaris yang diakui secara resmi, seluruh aset dan hak milik keluarga ini bisa diambil alih dengan alasan ‘aset terlantar’ atau ‘kepemilikan tidak jelas’. Itulah cara Bima bekerja—dia tidak hanya merampas harta, dia juga menghapus sejarah si pemiliknya, sehingga tidak ada yang berani menuntut atau mengingat kebenaran.”
Lukas kembali menatap bekas coretan hitam di atas namanya. Ia teringat ucapan Nyonya Chandra saat mengusirnya: “Kamu tidak punya tempat di dunia ini, karena tidak ada yang mengakui siapa kamu.” Kini ia paham sepenuhnya—bukan dunia yang tidak mengakuinya, melainkan sekelompok orang yang berusaha memaksa dunia melupakan keberadaannya. Mereka mencoba memotong identitasnya seperti memotong akar pohon, berharap ia akan layu dan hilang tanpa jejak.
Namun mereka salah besar.
Ia melipat berkas itu dengan hati-hati, menyimpannya di dalam sampul pelindung khusus agar tidak rusak lagi. Saat menatap pantulannya di cermin di sudut ruangan, ia tidak lagi melihat anak yang bingung dan tak berdaya. Ia melihat pewaris dari keluarga yang berani, yang pernah membangun perekonomian daerah ini dengan keringat dan kejujuran.
“Mereka bisa mencoret nama di atas kertas,” ucap Lukas tegas, suaranya kini mantap dan penuh keyakinan. “Tapi mereka tidak bisa mencoret darah yang mengalir di tubuhku. Mereka tidak bisa menghapus sejarah yang sudah ditulis oleh kakek dan ayahku. Dan mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyembunyikan siapa diriku lagi.”
Kirana tersenyum bangga, meletakkan tangannya di bahu Lukas. “Itulah kunci yang paling berharga, Lukas. Identitasmu yang sebenarnya adalah senjata terkuat yang kita miliki. Bima mungkin menguasai uang dan kekuasaan saat ini, tapi dia tidak pernah memiliki hak moral atas apa yang telah dibangun oleh keluargamu. Dan sekarang, saat kamu berdiri dengan nama aslimu, semua kebohongan yang dia bangun akan mulai runtuh satu per satu.”
Sore itu, langit di atas Palu tampak lebih cerah dari biasanya. Di dalam ruangan itu, sebuah kebenaran yang selama ini terpotong dan disembunyikan akhirnya utuh kembali. Lukas Wijaya—nama yang dulu dianggap tidak berarti—kini menjadi simbol kebangkitan, simbol bahwa kejahatan tidak akan pernah bisa selamanya menutupi cahaya kebenaran.