Di Kerajaan Awan, Kaisar muda bernama Jing Yan difitnah dan dibunuh secara keji oleh Tang Long, seorang Kultivator Pedang dari Sekte Pedang Roh Biru, dan Fang Zhelan, putri Perdana Menteri yang berkhianat demi merebut takhta. Keluarga Fang lalu mengambil alih kerajaan, mencoreng nama baik Jing Yan selamanya.
Namun, kematian bukanlah akhir bagi Jing Yan. Jiwanya ditarik ke dalam Peti Mati Perunggu Kuno milik seorang Pencipta Immortal yang telah mati. Dengan menggunakan sisa kulit sang Immortal, Jing Yan bereinkarnasi ke dalam tubuh baru yang sempurna. Ia ditemani oleh dua kesadaran dalam satu makhluk kecil bernama Bintang Biru dan Bulan Merah—yang merupakan jelmaan dari peti mati tersebut.
Jing Yan mengetahui bahwa ia mewarisi kekuatan Pencipta Immortal. Untuk menjadi kuat, ia harus mengumpulkan Benih Ciptaan, yaitu fragmen kekuatan sang Immortal yang tersebar di seluruh dunia. Tujuan utamanya: membalas dendam kepada Tang Long dan Fang Zhelan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Jalan Batu
Fang Zhelan yang mengenakan jubah pedang putih bersih berdiri sendirian di bagian tinggi Jalan Surgawi. Tiba-tiba ia merasa gelisah lalu menoleh ke belakang. Hutan di belakangnya berdesir diterpa angin dingin, seolah ada iblis jahat yang perlahan mendekat. Tatapan matanya pun menjadi dingin.
"Kakak Senior Tang secara pribadi menyediakan tulang iblis berusia lima ratus tahun sebagai hadiah untuk ujian ini. Jika aku gagal sekarang, pasti akan meninggalkan kesan buruk di matanya," pikir Fang Zhelan. "Lagipula... dia mengatakan bahwa hari ini akan ada seseorang yang sangat penting mengamati penampilanku di Platform Warisan Pedang. Ini bisa menjadi kesempatan emasku untuk melambung tinggi!"
Tatapannya beralih ke puncak gunung. Di bawah Jalan Surgawi, ada seorang pria bernama Jing Yan. Nama itu mengingatkannya pada seseorang dari kampung halamannya yang telah lama mati. Memikirkan orang itu membuatnya sedikit mengernyit.
"Jing Yan, menurutmu siapa yang akan kau temui di puncak sana?" bisik Fang Zhelan dengan dingin. "Kau hanyalah manusia fana yang hanya pantas mendongak dari bawah gunungan tulang, sementara aku akan naik ke puncak jalan keabadian!"
…..
Di atas awan berdirilah Platform Warisan Pedang! Di atas platform itu terdapat delapan kursi batu. Tujuh di antaranya telah ditempati oleh para tetua Sekte Pedang Roh Biru. Ketujuh kursi batu itu masing-masing memiliki ukiran nama Puncak Pedang. Misalnya, kursi milik Tetua Ning Ziyi bertuliskan Pedang Pertama.
Selain tujuh kursi itu, terdapat sebuah kursi batu lain yang jauh lebih besar di bagian tengah. Namun, kursi yang paling utama itu masih kosong. Dari kejauhan, tampak jelas dua karakter besar terukir pada sandarannya—Paviliun Pedang. Struktur Sekte Pedang Roh Biru terdiri atas satu Paviliun Pedang dan tujuh Puncak Pedang.
"Tetua Ning, apakah semuanya sudah siap?" tanya seorang Kultivator Pedang paruh baya. Ia mengenakan jubah biru dengan janggut yang terbelah menjadi dua.
Sorot matanya yang tajam berkali-kali melirik belahan gaun Ning Ziyi yang terbuka tinggi. Namanya Xie Nantian, salah satu tetua dari Puncak Pedang Ketiga.
"Memangnya apa urusannya denganmu?" balas Ning Ziyi. Sosok anggunnya yang dibalut gaun berbelahan tinggi sesekali memperlihatkan kaki putih mulusnya, memancarkan pesona yang samar di tengah embusan angin.
"Bagaimanapun juga, ini adalah pengaturan dari Raja Pedang Tang. Kita tidak boleh menganggapnya enteng," kata Tetua Xie sambil tersenyum canggung.
Sambil melirik para tetua lain yang tampak fokus mengamati pemandangan di bawah, Tetua Ning berbisik, "Bagian terpenting ada di Jalan Batu."
Dari posisi mereka di atas Platform Warisan Pedang, mereka dapat melihat dengan jelas sebuah jalur berbatu di bawah. Jalur itu merupakan bagian terakhir dari Jalan Surgawi. Mereka yang berhasil melewati Jalan Batu akan dapat memasuki Sekte Pedang Roh Biru. Belum ada satu pun murid yang menginjakkan kaki di sana. Namun, begitu ada yang berhasil mencapainya, para tetua pasti akan langsung menyadarinya.
"Apakah kau memasang sesuatu di Jalan Batu?" tanya Tetua Wu dengan suara pelan.
"Bukan jebakan. Jalan Batu memang sejak awal merupakan ujian terakhir, tempat para murid menghadapi iblis," jawab Ning Ziyi sambil tersenyum dingin. "Aku telah melepaskan Iblis Darah berusia dua ratus tahun di sana. Siapa pun murid selain Fang Zhelan dan Tang Chen yang berani naik ke sana akan menemui ajalnya.”
"Iblis Darah berusia dua ratus tahun!" seru Xie Nantian dengan terkejut, sambil melirik waspada ke arah para tetua lainnya. "Jalan Batu biasanya hanya dihuni iblis yang baru memiliki seratus tahun kultivasi. Yang berusia dua ratus tahun, apalagi Iblis Darah yang begitu ganas... apa kau tidak takut para tetua lain akan curiga?"
"Apa yang perlu dicurigai?" balas Ning Ziyi sambil memutar matanya. "Kalau menyangkut urusan Raja Pedang Tang, siapa yang berani ikut campur?"
"Kurasa kau benar," jawab Xie Nantian sambil mengusap tengkuknya dengan canggung.
"Dalam kultivasi, apakah yang benar-benar kita kejar adalah Dao? Atau justru jalinan rumit emosi manusia dan urusan dunia? Pahamilah itu." Ning Ziyi mendengus pelan sambil melipat kedua tangannya dengan anggun.
"Benar!" Tetua Xie melirik sekilas ke Jalan Batu, lalu berkata sambil bercanda, "Mari kita lihat siapa orang sial pertama yang berani menginjaknya."
"Kemungkinan belum ada. Tang Chen sudah luar biasa meski baru berusia tiga belas tahun. Sedangkan Fang Zhelan... dia benar-benar seorang jenius. Bisa jadi dia akan menjadi Raja Pedang Tang berikutnya!" Saat membicarakan gadis muda itu, alis Ning Ziyi memperlihatkan sedikit rasa iri. Ia iri pada bakat bawaan dan masa mudanya.
"Raja Pedang Tang berikutnya?" Jantung Tetua Xie berdegup lebih cepat.
"Benar! Hanya dalam waktu tiga bulan di bawah bimbingan Raja Pedang Tang, dia berhasil maju dari Alam Bela Diri Fana ke Alam Mata Air Naga, bahkan mencapai tahap Menengah dengan dua cakar pada Mata Air Naganya. Selain itu, Raja Pedang Tang kemungkinan besar diam-diam memberinya banyak tulang iblis. Jiwa Pedangnya seharusnya sudah memiliki tiga lapisan Aura Pedang," puji Ning Ziyi.
"Memberinya tulang iblis, bahkan mungkin juga menghadiahkan tulang iblis berusia lima ratus tahun itu agar dia meraih peringkat pertama di Jalan Surgawi? Raja Pedang Tang benar-benar sangat memanjakannya," ujar Tetua Xie, lalu berbisik, "Tetua Ning, apakah ada informasi orang dalam mengenai kualitas Jiwa Pedang Fang Zhelan di dalam tingkat Bintang itu?"
Sebagian besar Jiwa Pedang hanya dianggap biasa. Namun setelah mencapai tingkat Meteor atau Bintang, keduanya masih dibagi lagi menjadi tingkat Rendah, Menengah, dan Tinggi.
Jika Jiwa Pedang Bulan Es milik Fang Zhelan hanya berada pada tingkat Bintang Rendah, maka ia hanya bisa dianggap sebagai jenius papan atas di Sekte Pedang Roh Biru. Namun jika berada pada tingkat Bintang Tinggi, maka ia akan menjadi sosok paling luar biasa di seluruh Sekte Pedang Roh Biru.
"Aku bukan Batu Warisan Pedang yang bisa melihat kualitas Jiwa Pedang. Mana mungkin aku tahu?” jawab Ning Ziyi dengan kesal. Ia melirik tajam ke arahnya. "Begitu kita memilih sepuluh murid baru nanti, kita tinggal menguji mereka semua menggunakan Batu Warisan Pedang. Saat itu bukankah kita akan mengetahui kualitas pasti Jiwa Pedangnya?"
"Benar, benar!" Tetua Xie buru-buru mengangguk. "Aku dengar Raja Pedang Tang berniat pergi ke Lautan Pedang untuk mewarisi Layang-Layang Biru?"
"Sebentar lagi seluruh Sekte Pedang Roh Biru akan membicarakannya." gumam Ning Ziyi, jantungnya berdegup lebih cepat saat membayangkan pemuda itu.
"Kalau begitu, berarti dia sudah melampaui orang yang telah tiada dari Paviliun Pedang," ujar Tetua Xie sambil melirik dengan ekspresi aneh ke kursi batu hijau yang kosong di tengah.
"Jangan lagi membicarakan orang yang sudah tiada." Ning Ziyi memutar matanya dengan kesal.
Baru saja ucapannya selesai, seorang tetua berseru, "Ada murid yang memasuki Jalan Batu!"
Ketujuh tetua yang sebelumnya tampak tidak tertarik langsung menjadi waspada. Begitu sepuluh murid berhasil melewati ujian pembantaian iblis dan mencapai ujung jalan, maka Ujian Jalan Surgawi akan berakhir.
"Sepertinya seorang gadis cantik," ujar salah seorang tetua sambil mengamati dengan saksama.
"Bukankah itu Jiwa Pedang Bulan Es? Embun beku yang dipancarkannya jelas berada pada tingkat Bintang! Tapi apakah itu tingkat Rendah, Menengah, atau Tinggi?"
"Biasanya hanya tingkat Rendah."
"Bahkan tingkat Rendah saja sudah termasuk seorang jenius! Benar-benar bakat yang luar biasa!"
Mendengar gumaman para tetua, Ning Ziyi menunduk memandang Jalan Batu lalu tersenyum tipis.
"Fang Zhelan?" Mata Tetua Xie langsung berbinar.
"Mm, benar dia. Saat ini dia memimpin di posisi terdepan," Ning Ziyi mengangguk.
"Dia memang luar biasa. Sepertinya Iblis Darahmu tidak akan diperlukan lagi," kata Tetua Xie.
"Sudah bisa diduga." Ning Ziyi mengangkat bahu.
Untuk sesaat, ketujuh Tetua memusatkan pandangan mereka ke Jalan Batu.
"Fang Zhelan..." Di bagian Jalan Surgawi yang lebih tinggi, Jing Yan baru saja melewati wilayah yang dipenuhi badai dan angin kencang. Sekilas, dia melihat sebuah sosok di depan, seorang gadis muda yang memimpin rombongan dan telah menginjak Jalan Batu.
"Jalan Batu adalah ujian terakhir. Kudengar tempat itu dijaga oleh iblis yang sengaja ditangkap oleh Sekte Pedang Roh Biru untuk menguji sekaligus menempa keberanian para murid. Konon, para iblis itu adalah yang paling kejam dan paling menindas," gumam Jing Yan.
Meski terobosannya ke Alam Mata Air Naga sempat membuatnya tertinggal, Jing Yan berhasil mengejar ketertinggalan itu. Kini, dia telah melampaui semua peserta lain. Di depan sana, hanya tersisa Fang Zhelan.
Saat Jing Yan mendekati Jalan Batu, suara benturan pertempuran mulai terdengar.
Jing Yan melompat maju dan langsung mendarat di Jalan Batu. Di hadapannya terbentang tangga yang tersusun dari bongkahan batu raksasa. Anak tangga itu seolah dibuat untuk para raksasa, dengan jarak antartingkat lebih dari sepuluh kaki.
Baru saja Jing Yan menginjak anak tangga pertama, dia mengangkat kepala dan melihat sebuah pemandangan. Seorang gadis muda sedang mengayunkan Roh Pedang Bulan Es berwarna biru dingin, bertarung sengit melawan seekor iblis ular yang telah hidup selama seratus tahun.
Iblis ular, tubuh bagian atasnya menyerupai manusia, sementara bagian bawahnya adalah tubuh ular yang melata. Dengan kultivasi lebih dari seratus tahun, aura mengerikan menyelimuti tubuhnya, disertai kabut hitam yang menyeramkan.
Namun, yang lebih mengejutkan adalah penampilan Fang Zhelan. Jing Yan selalu mengingatnya sebagai seseorang yang tidak terlalu mahir bertarung, tetapi kini dia memancarkan hawa dingin yang begitu ganas. Setiap ayunan Roh Pedang Bulan Es miliknya memanggil angin beku yang menderu, sementara embun beku memenuhi udara.
Srett!
Dengan satu tebasan, Fang Zhelan memenggal kepala iblis ular itu.
"Kalau aku masih berada di Alam Bela Diri Fana dan belum membangkitkan Mata Air Naga, dia pasti bisa mengalahkanku," pikir Jing Yan.
"Berhenti!" tatap Jing Yan dengan mata sedingin es sambil mengejarnya.
"Kau?" Fang Zhelan menoleh menatapnya. Di tengah kabut, seorang pemuda berpakaian putih berdiri di bawah Jalan Batu sambil menatapnya.
Fang Zhelan sedikit membuka bibirnya, tampak tidak antusias. "Apakah kau baru saja menyuruhku berhenti?"
"Apa memang ada orang lain di sini? Tentu saja aku sedang berbicara denganmu. Aku melihat hubunganmu dengan Tetua Ning tadi. Aku hanya ingin tahu... apakah mereka sudah menjamin posisi pertama untukmu?" sudut bibir Jing Yan terangkat membentuk senyum mengejek.
"Kau..." Mendengar ucapan itu, alis indah Fang Zhelan langsung berkerut.
"Menyeranglah. Aku hanya akan menghunus pedangku sekali," ujar Fang Zhelan. Alih-alih melanjutkan pendakiannya, dia justru turun dari tempat yang lebih tinggi, kemarahan terpancar dari kedua matanya.
Mendengar perkataannya, Jing Yan mencibir dalam hati. Dulu, di hadapannya, wanita itu selalu berpura-pura lembut dan rapuh. Ternyata semuanya hanyalah sandiwara! Dan tampaknya, dia memang sangat pandai berakting.