NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Bab 15: Luka di Balik Malam Jahanam

Suara tetesan darah yang jatuh menimpa lantai semen berdebu di dalam gudang pelabuhan tua itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan yang mendadak mencekam. Waktu seolah berhenti berputar. Belasan anggota Black Raven dan Viper yang tadinya saling serbu seketika mematung, menghentikan perkelahian brutal mereka begitu melihat bilah pisau lipat itu tertancap di lengan kanan Rangga Dewantara Aldebaran.

Keisha Zahra Aurellia merasa jantungnya seakan copot dari tempatnya. Napasnya tercekat di tenggorokan, matanya melebar tak percaya menatap genangan darah segar yang mulai merembes membasahi jaket kulit hitam milik sang ketua geng. Tanpa memedulikan rasa takut atau sisa-sisa tenaga yang ia miliki, Keisha langsung bangkit dan merangkak mendekati Rangga yang masih berdiri tegap, menahan rasa sakit dengan rahang yang mengeras.

"Kak Rangga... ya Allah, lengan Kakak..." jerit Keisha histeris, air matanya tumpah seketika membasahi pipinya saat ia melihat darah semakin deras mengalir keluar dari balik kain yang robek.

Rangga menarik napas berat, menoleh ke bawah untuk menatap wajah Keisha yang dipenuhi cucuran air mata ketakutan. Meski luka di lengannya terasa panas dan mencengkeram urat sarafnya, pemuda itu justru memasang senyuman tipis yang sangat menenangkan. Dengan tangan kirinya yang masih bebas, Rangga mengusap lembut puncak kepala gadis itu.

"Jangan nangis..." bisik Rangga parau namun tegas, suaranya terdengar lembut di tengah kekacauan. "Gua nggak apa-apa. Ini cuma luka kecil."

Reno, pelaku yang melukai Rangga, mendadak mundur beberapa langkah dengan tangan bergetar hebat. Wajah pemuda pimpinan Viper itu mendadak pucat pasi menyadari bahwa ia baru saja menusuk anak dari orang paling berpengaruh di kota ini, sekaligus memancing kemarahan absolut dari kelompok geng motor paling ditakuti.

Melihat bos mereka terluka parah, kemarahan anggota Black Raven meledak tanpa bisa dicegah lagi. Satria melangkah maju dengan mata menyala-nyala bagaikan singa kelaparan. Tanpa banyak bicara, Satria melayangkan tinju mautnya tepat ke rahang Reno hingga pemuda itu terpental jauh dan tersungkur pingsan seketika di atas lantai semen.

"Habisi sisanya! Jangan biarkan satu pun dari mereka keluar dari pelabuhan ini hidup-hidup!" teriak Satria penuh amarah kepada seluruh pasukannya.

Dalam hitungan detik, gudang tua itu berubah menjadi lautan amuk massa. Anggota Viper yang sudah kehilangan nyali langsung kocar-kacir melarikan diri kearah dermaga gelap, meninggalkan pemimpin mereka yang terkapar tak berdaya. Namun, prioritas utama Black Raven malam itu bukan lagi mengejar musuh, melainkan keselamatan sang ketua.

Bara berlari cepat menghampiri posisi Rangga, membawa seutas kain bersih yang diambilnya dari kotak P3K mobil cadangan. "Bos, luka lo parah! Kita harus bawa ke rumah sakit sekarang juga sebelum kehabisan darah!"

Rangga menggelengkan kepalanya pelan, menolak uluran tangan Bara. Matanya tetap fokus menatap Keisha yang kini sibuk merobek kain cadangannya untuk dipakai membebat luka di lengan kanan Rangga dengan tangan bergetar hebat.

"Nggak usah ke rumah sakit," ucap Rangga dingin menahan sakit. "Kalau kita ke rumah sakit umum, berita ini bakal sampai ke telinga bokap, dan urusannya bakal makin rumit. Bawa gua ke markas ruko lama."

Keisha mengikat kain tersebut dengan erat untuk menekan sumber pendarahan di lengan Rangga, air matanya tak kunjung berhenti menetes. "Tapi Kak, darahnya nggak mau berhenti! Ini bahaya banget buat kesehatan Kakak... Kalau Kakak kenapa-napa, aku... aku nggak bakal pernah bisa memaafkan diri aku sendiri!"

Mendengar pengakuan penuh keputusasaan dari bibir Keisha, Rangga meraih dagu gadis itu dengan tangan kirinya, memaksa Keisha untuk menatap langsung ke dalam manik mata kelamnya.

"Dengerin gua, Keisha," ucap Rangga dengan nada suara yang sangat dalam dan tulus. "Melindungi lo bukan sebuah kesalahan, dan luka ini bukan salah lo. Jangan pernah sekali-kali ngerasa bersalah atas apa yang terjadi hari ini. Gua milih buat ketusuk pisau itu daripada harus lihat lo yang terluka di hadapan gua."

Kata-kata itu menghujam langsung ke lubuk hati Keisha, meruntuhkan seluruh pertahanan emosional yang ia miliki malam itu. Di tengah dunia jalanan yang penuh kekejaman, darah, dan air mata, Rangga membuktikan bahwa ketulusan cintanya adalah sesuatu yang nyata dan tidak tergantikan.

Tengah malam menjelang pukul dua belas lewat sepuluh menit, suasana di lantai dua ruko markas Black Raven tampak remang-remang. Hanya ditemani sebatang lampu neon kecil, Bara dengan hati-hati membersihkan sisa darah di sekitar luka tusuk lengan kanan Rangga, sementara Satria berjaga di dekat jendela lantai atas untuk memastikan situasi luar tetap aman terkendali.

Keisha duduk di kursi kayu di samping brankar darurat Rangga. Gadis itu mengambil mangkuk berisi air hangat dan handuk kecil, lalu dengan sangat telaten membantu mengelap keringat dingin yang membasahi kening sang ketua geng. Meski Rangga terus meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja, wajah pucat pemuda itu tidak bisa membohongi kenyataan bahwa ia kehilangan banyak darah akibat insiden di pelabuhan tadi.

Sintia, yang sudah ditenangkan dan tidak mengalami luka fisik serius, duduk di sofa seberang ruangan sambil menatap interaksi di antara sahabatnya dan sang ketua geng dengan perasaan kagum bercampur rasa tidak percaya. Ia akhirnya menyadari bahwa di balik reputasi menyeramkan Rangga sebagai penguasa jalanan, ada sisi pelindung yang begitu luar biasa besar yang didedikasikan sepenuhnya khusus untuk Keisha.

"Udah, Keish... jangan terlalu dipikirin," ujar Rangga pelan sambil tersenyum tipis, melihat tangan Keisha masih sedikit gemetar saat memegang handuk. "Lengan gua cuma robek sedikit. Besok pagi juga udah sembuh."

"Mana bisa cepat sembuh kalau lukanya sedalam itu, Kak..." protes Keisha dengan suara parau bernada manja yang baru pertama kalinya ia tunjukkan di hadapan Rangga. "Mulai besok, Kakak harus berhenti jadi ketua geng motor! Kakak harus fokus sekolah, belajar yang benar, dan jangan pernah lagi cari gara-gara sama anak-anak Viper!"

Mendengar tuntutan lucu dari gadis itu, tawa renyah bercampur ringisan sakit akhirnya lolos dari bibir Rangga. "Berhenti jadi ketua geng? Wah, permintaan yang cukup berat untuk seorang mantan penguasa jalanan, Neng..." canda Rangga pelan. "Tapi... demi pengawas akademik galak yang sekarang lagi ngomel di depan aku ini, sepertinya aku bakal pertimbangin tawarannya."

Keisha merengut sebal, namun rona merah tipis seketika kembali menghiasi pipinya di tengah suasana kamar yang temaram.

Satria yang berdiri di dekat jendela melirik sekilas ke arah mereka berdua, lalu menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. "Wah, dunia mau kiamat sepertinya, Bos. Ketua Black Raven yang paling ditakuti se-kota sekarang malah jinak total di tangan siswi beasiswa teladan."

Rangga melemparkan tatapan tajam bercanda ke arah Satria, membuat sahabat setianya itu tertawa kecil. "Bawel lo, Sat. Mending sekarang lu antar Sintia pulang ke rumahnya dengan selamat. Waktu udah lewat tengah malam."

"Siap, Bos! Laksanakan!" balas Satria hormat sambil tersenyum jail, lalu mengajak Sintia meninggalkan ruko tersebut.

Kini, tinggallah Keisha dan Rangga berdua di dalam ruangan lantai atas ruko yang sunyi. Suara rintik hujan gerimis yang kembali turun di luar jendela berpadu harmonis dengan deru napas pelan di dalam ruangan.

Rangga menatap lekat-lekat wajah Keisha yang tampak kelelahan setelah melewati malam yang sangat panjang dan menegangkan. Dengan tangan kirinya, ia meraih jemari mungil Keisha, menggenggamnya erat-erat dengan kehangatan yang menenangkan.

"Pulanglah dan istirahat, Keisha," bisik Rangga lembut. "Besok pagi, jadwal bimbingan kita di perpustakaan sekolah tetap jalan. Dan gua pasti bakal datang jemput lo tepat waktu di tempat biasa."

Keisha mengangguk perlahan. Rasa takut yang sempat mencekam hatinya di pelabuhan tadi kini telah sepenuhnya berganti oleh keyakinan yang kokoh. Ia tahu, apapun badai yang akan datang menerpa kehidupan mereka ke depannya—baik dari pihak sekolah, ancaman Viper, maupun tekanan keluarga—selama mereka melangkah bersama, tidak ada satupun hal di dunia ini yang mampu memisahkan takdir yang sudah terikat di bawah langit malam tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!