Enam tahun menjalani biduk rumah tangga tanpa kehadiran seorang anak, Helyara kerap kali disudutkan lantaran kekurangan ada pada dirinya yang di vonis sulit memiliki keturunan.
Cap mandul pun tersemat, keluarga suaminya sering mencibir membuatnya merasa kerdil.
Namun Helyara merasa dunia masih berpihak kepadanya, sebab sang suami berdiri di sisinya.
Sampai suatu ketika kehadiran bayi asing seolah membunyikan alarm bahaya — satu persatu rahasia tersembunyi mulai terkuak. Membuat wanita baik hati memiliki kepribadian introvert itu meradang, tak terima dicurangi.
Helyara Utomo yang lemah lembut dalam satu malam berubah menjadi sosok lain, berambisi membalikkan keadaan, membalas setiap kecurangan.
Sebenarnya apa yang terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesi konseling perdana : 32
“Supaya aku lepas kendali berakhir masuk rumah sakit jiwa, benarkah?” sambung Helyara, hampir tidak mempercayai kalimatnya sendiri.
Abi Sakta memutuskan pandangan, meraih sebuah kertas yang tidak kalah mengejutkan dari analisis sebelumnya. Masih menimbang-nimbang apakah sekarang saatnya memberi tahu kepada sang klien, atau sedikit memberi kelonggaran waktu dikarenakan kondisi mental Helyara masih belum stabil.
“Untuk memasukkan seseorang ke rumah sakit jiwa membutuhkan surat rujukan dari psikiater, dan izin keluarganya. Dikarenakan kamu sudah yatim piatu dan telah menikah, maka Alandi sah menjadi walimu,” ungkap Sakta. Terdengar kejam, tapi begitulah faktanya.
“Kedepannya, Ibu harus lebih hati-hati. Banyak trik kotor yang mereka lakukan demi mencapai tujuan,” Yudis memperingati.
Kedua pengacara itu menyimpan kecemasan tersendiri, Helyara baru saja melewati hari paling berat, dihantam kenyataan sangat menyakitkan.
Namun mereka tersentak kala memperhatikan wajah tidak lagi sepucat siang tadi, tengah menyeringai menunjukkan ekspresi belum pernah muncul.
“Tenang saja. Mereka mengajak bermain, maka saya siap meladeni, mengikuti alur, dan membalikkan keadaan,” ujarnya santai, seakan bahaya di depan mata hanya sebuah candaan.
“Sekarang aku ingin tahu tentang Siska, asal usul dan semua menyangkut dia!” suaranya mendesak, tidak mengenal kata nanti.
Sakta pun sudah memutuskan. Selembar kertas dalam genggaman diberikan ke Helya yang langsung menarik bagian ujungnya.
Cihh ….
Dia berdecih, kesedihan kalah oleh amarah membara. Sepasang mata sendu perlahan berkilat.
“Ternyata dia termasuk dalang utamanya. Siska Indira S.Farm. Sudah menyelesaikan program profesi gelar, dan telah menjadi apoteker berlisensi, kini memiliki apotek di dekat toko Emas Utomo. Apa pendidikannya dari maling uangku?”
Yudistra memuaskan rasa ingin tahu kliennya. “Secara agama, Siska Indira istri pertama Alandi, namun diakui negara — dia jadi yang kedua. Mereka adalah sepasang kekasih dari sebelum Alan merantau ke kota bekerja di toko Emas Utomo.”
“Bagaimana bisa?!” Kertas dalam genggamannya terjatuh, dia memekik. “Bukankah harus ada izin dari istri pertama? Aku tidak pernah merasakan memberikan ….”
Huff.
Jantung Helyara berdebar kencang, dan dia teringat sesuatu. “Diantara berkas kuasa dilimpahkan ke Alandi, kemungkinan besar ada selembar kertas izin untuk menikah lagi yang aku tandatangani sambil tersenyum lebar, sedikitpun tidak menaruh rasa curiga. Kejadian itu empat bulan setelah kami menikah.”
Sakta mencocokkan waktu. “Mereka meresmikan pernikahan setelah 5 bulan kamu menjadi istri Alandi. Pada waktu itu Siska masih seorang mahasiswi, sudah pasti biaya kuliah, hidupnya ditanggung suami kalian berdua.”
Helyara menertawai diri sendiri, berbicara dengan nada getir. “Rasanya seperti dijatuhkan dari ketinggian sambil disoraki, dihina banyak orang. Bertahun-tahun lamanya aku berhasil di tipu, dicurangi, dan sama sekali memilih abai bak idiot.”
“Semua sudah terjadi, menyesal juga tiada guna. Sekarang kamu harus fokus pada kesembuhan mental. Jika mau membalas mereka harus dengan pemikiran jernih, psikis sehat.” Sakta melihat jam tangan pada pergelangan kiri.
“Yudistra, nanti kamu dampingi Helyara ke psikiater. Janji temu pukul setengah tujuh malam. Saya ada acara keluarga,” pinta sekaligus titah. Ia pun beranjak mau membereskan meja kerjanya.
“Siap!” Yudistra memberi kode 'Ok' lewat jari.
Sudah waktunya kantor firma hukum tutup, para karyawan yang bekerja satu persatu keluar, dan Yudistra lembur. Menemani Helyara ke psikiater yang direkomendasikan dari rumah sakit.
.
.
“Masih ada satu jam sebelum bertemu psikiater, apa Ibu ingin ke suatu tempat dulu?” ia sudah seperti sopir pribadi.
“Panggil nama saja, Pak. Helyara atau Helya,” ucapnya duduk di sebelah Yudistra.
“Baiklah,” ia setuju. Kembali bertanya keinginan Helyara.
“Aku sedang bertaruh, menurut bapak bisa berhasil dengan baik tidak?” ia pun mengutarakan rencana tersimpan dalam kepalanya.
Yudistra mendengarkan tanpa menyela. Sesudah Helyara selesai menyampaikan maksudnya, barulah menanggapi.
“Bisa saya usahakan. Kamu cukup memainkan peran sesuai skenario rancanganmu,” senyumnya tampak licik.
Mata Helyara berkilat, dadanya membuncah dipenuhi rasa puas kala membayangkan akan seheboh apa nantinya.
Waktu tersisa mereka gunakan untuk makan sate dipedagang kaki lima.
Helyara tidak melepaskan earphone bluetooth nya, takut mendengar bunyi sirine ambulans. Dia juga sedari pergi bersama Abi Sakta Haujan sampai sekarang ganti orang yang mendampingi, tetap mengenakan masker. Bentuk antisipasi apabila bertemu sosok dikenali.
***
Sepuluh menit sebelum jam janji temu, Helya sudah duduk di kursi tersedia bagi pasien sedang mencari solusi teruntuk jiwa memendam lara, merasa tidak sanggup menghadapi kenyataan hidup.
Akhirnya nama Helyara dipanggil, kali ini dia sendirian masuk ke ruang psikiater. Ingin belajar mandiri, berdiri tegar, harus bisa menghadapi tantangan jika ingin melawan para manusia licik.
Psikiater nya seorang wanita, sesi pertama pertemuan masih seputar pendekatan, memberi rasa nyaman agar Helyara merasa aman, tidak takut untuk bercerita.
Dokter kejiwaan memberikan resep obat aman bagi penderita gangguan mental. Hanya diminum apabila diserang panik, kecemasan berlebihan.
Besok malam dijam yang sama, Helyara akan kembali lagi menjalani terapi kejiwaan lanjutan.
“Bagaimana sesi konseling pertamanya, Helya?” tanya Yudistra. Suaranya ramah, terdengar akrab.
Helya mengenakan sabuk pengaman, perasaannya jauh lebih ringan seusai bertemu psikiater.
“Cukup berkesan dan dokternya pintar mengakrabkan diri. Aku belum banyak mengupas tentang masa lalu, masih tahap perkenalan lebih mendalam,” katanya pelan.
“Itu sudah bagus bagi seseorang yang terlalu lama menyimpan lara seorang diri. Kamu hebat! Saya yakin akan sembuh lebih cepat dari seharusnya,” puji Yudis.
Senyum tipis pelan-pelan menjadi senyuman lebar. Lambat laun rasa percaya diri yang mati mulai tumbuh lagi.
Mobil Helyara keluar halaman klinik dokter spesialis kejiwaan. Melaju melawan arah dari jalan pulang ke hunian Utomo.
Di rumah wanita yang masih belum juga pulang padahal jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Ganira terus menggerutu.
“Istri bodohmu itu seperti ingin menguji kesabaran kita, Alan! Kamu harus lebih tegas lagi. Jangan setengah-setengah merusak mentalnya biar cepat masuk rumah sakit jiwa dia!” Ganira mondar-mandir di ruang depan dekat pintu masuk.
“Ma, kecilkan suaranya! Sekarang sudah ada pembantu baru. Takutnya mereka melapor ke Helyara —”
“Halla!” Ganira mengibas-ngibaskan tangan, memotong kalimat putranya. “Mereka kerja untuk kita. Sama seperti Mirma! Kalau macam-macam tinggal ancam, takuti!”
Sapto mendengus, kesenangannya menonton acara tayangan malam jadi terganggu oleh suara bising.
Sementara Sinta dan ibunya tidur pulas dikamar pembantu. Mereka tiba di rumah sang nyonya sehabis maghrib.
Siska malam ini tidur dengan kakak ipar dan bayinya, tidak takut bakalan ketahuan, sebab masih menganggap Helyara mudah dikelabui.
Terdengar suara pintu gerbang dibuka. Alandi merasa heran karena pintu gerbang tidak bergeser, dia berjalan keluar diikuti ibu dan ayahnya.
Helyara masuk lewat pintu samping gerbang otomatis, kemudian menggembok. Dia jalan kaki, tidak naik mobil Fortuner berharga ratusan juta rupiah yang menjadi kesombongan Alandi.
“Sayang, kamu kok pulang jalan kaki, mobilnya mana?”
.
.
Bersambung.
mau minta duitmu itu, Hel...
tabok aja mukanya...bilang aja, reflek karena kaget 🤭
mobil udah di jual..
abis ini cari rumah baru.
rumah lama mau di apain nih?
kan umumnya yg dtang ke toko emas,orang yg punya duit 🤭