Kisah petualangan seorang pemuda yang dipilih semesta untuk pergi bersama para roh pendampingnya ke dunia lain. Disana mereka akan membantu membereskan semua kekacauan yang di sebabkan oleh para pasukan Iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ya'purmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mustika Embun Fajar & Penobatan
Setelah mereka berhasil keluar, Ishah meminta suaminya untuk menjauhkan semua mayat penjaga itu dari mulut gua.
Karna tahu mayat itu sengaja di letakan di sana untuk di jadikan umpan menggiring ular tadi menuju kerajaan seperti yang telah ceritakan Nyaring kepada mereka.
Setelah mereka menyisiri hutan tersebut terkumpul semua mayat penjaga istana yang rencananya akan di jadikan umpan oleh seseorang untuk menghancurkan kerajaan saat mereka sedang sibuk berpesta nanti malam.
Begitu semua mayat sudah berhasil di amankan oleh mereka, lalu mereka pun segera kembali ke istana untuk menceritakan apa yang sudah mereka saksikan kepada tuannya.
Mendengar mereka berdua telah berhasil menggagalkan rencana untuk menggiring keluar ular raksasa tersebut membuat Ipul sedikit tenang.
Karna semua warga desa yang di jemput sudah sampai, dan semua yang masih terluka segera di rawat oleh para tabib istana. Terlihat keadaan istana yang bertambah ramai dan semakin terlihat sibuk untuk mempersiapkan acara pernikahan pangeran kerajaan nanti malam.
Semua terlihat sangat bersemangat melakukan semua persiapan di hari itu. Ipul yang sudah di beri izin untuk membantu menjaga keamanan kerajaan pun sudah terlihat bersiap di tempatnya.
Karena suasana yang sibuk dan ramai di hari itu, tidak terasa hari pun mulai gelap. Dan semua yang di siapkan untuk acara pun telah rampung seluruhnya.
Hari pun mulai gelap dan acara yang di nanti-nanti pun di mulai dengan membunyikan gong dan beduk. Bunyi yang terdengar itulah menandakan acara besar malam ini akan dimulai.
Satu persatu ritual adat dari kedua belah pihak di jalankan, ritual adat yang di lakukan malam itu memakan waktu cukup lama.
Tak terasa waktu sudah memasuki tengah malam, masih tersisa satu ritual adat lagi yang harus di selesaikan mereka.
Karna sampai saat ini tidak ada gangguan apa pun dari penunggu hutan keramat itu, Ipul pun agak sedikit lega karna acara malam ini berjalan lancar dan aman.
Tapi baru saja merasa lega, tak lama dirinya merasakan firasat buruk akan terjadi. Melihat burung nya mendadak terbang ke arah tepian sungai perbatasan hutan keramat, tiba-tiba sesuatu yang besar keluar dari hutan keramat.
Karna melihat sosok elang yang melayang di seberang sungai, makhluk besar itu tidak lansung mengamuk. Walaupun burung tersebut hanya berukuran kecil namun sangat di takuti makhluk besar itu.
Setelah melihat sosok ular yang sebesar naga, semua yang ada di kerajaan itu panik dan berusaha mencari tempat berlindung untuk mengamankan diri dari amukan ular besar tersebut.
Karna melihat makhluk itu hanya diam saja, tidak ada satupun penjaga yang mencoba menyerangnya. Lalu Ipul pun berlari mendekati elangnya, di susul Bangkui dan Ishah serta Nyaring.
Setelah merasa keadaan tidak membahayakan, elang yang tadinya bersiaga untuk melawan perlahan turun dan hinggap di tangan tuanya. Melihat elang itu menunjukan siapa tuannya, ular itu pun menundukkan kepalanya untuk memastikan dengan seksama mereka yang ada di hadapannya.
“Ternyata benar mereka yang ada di samping pemuda itu adalah makhluk yang pernah masuk ke wilayah ku, namun tidak melakukan apa-apa pada ku.”
“Sepertinya mereka bukanlah orang-orang yang ingin merebut mustika ini dari ku, dan aku pun tidak melihat ada keserakahan pada diri mereka.” Ujar ular besar itu di dalam hati.
Melihat ular besar tersebut hanya diam Ipul pun heran, kenapa dia keluar menampakkan dirinya.
Lalu elang di tangannya mulai berbicara,
“Makhluk besar itu mengatakan kepada ku bahwa ia keluar dari tempatnya semata hanya ingin bertemu dengan tuanku. Ia ingin meminta pertolongan kepada tuanku.” Kata elang menjelaskan ke pada tuannya.
“Apa kata mu el,. Menolongnya.? Dan tunggu dulu.. Apa ini benar suaramu el.?” Tanya Ipul kepada elangnya terkejut.
“Benar tuanku, iya mengatakan itu tadi kepada ku.!”
“Dan benar ini adalah suaraku.!” Jawab elang
“Sebenarnya aku bisa berbicara, tapi hanya orang yang aku izinkan saja bisa mendengar aku bicara.” Jelas elang kembali melanjutkan bicaranya.
“Ooohhh jadi begitu ya.?” Tanya Ipul kembali
“Benar tuanku.!” Jawab elang kembali.
“Jadi apa yang ular itu inginkan dari ku.?” Tanya Ipul kepada elang lagi.
“Aku tidak tau, tuanku bisa bertanya lansung kepadanya.!” Jawab elang yang juga tidak tau permintaan ular itu.
Lalu Ipul pun mencoba untuk bertanya langsung kepada sang ular raksasa tersebut.
“Wahai sang ular yang perkasa... Kata elang ini kamu meminta sesuatu kepada ku, apa yang bisa aku berikan untuk membantumu.?” Teriak Ipul kepada ular besar di seberang sungai.
Lalu Ipul dan yang lain melompat menyeberangi sungai dan mendekat kepada ular itu.
Ular besar itu pun mulai memberitahu keinginannya.
“Aku ingin kau mencabut mustika Embun Fajar yang ada di kepalaku ini dan menyimpannya dengan aman agar tidak ada orang yang ingin mencoba untuk menggunakannya berbuat kerusakan di alam ini.”
“Aku yakin kau orang yang tepat untuk memegang mustika ini, jadi tolong bantu aku untuk menjaganya agar aku bisa lebih mudah menjalankan tugasku tanpa harus melindungi mustika ini dari tangan orang-orang serakah.”
“Tolong jagalah mustika itu sampai nanti dia bertemu dengan pemiliknya. Kelak kau akan bertemu dengan pemilik sebenarnya dari mustika itu.”
“Maka berikanlah kepadanya mustika itu agar aman dan dapat di gunakan untuk kebajikan.”
“Dan setelah mustika ini aku lepas dari tubuh ku maka aku sudah bisa menjalankan sumpah ku untuk menjaga seluruh tempat ini dan menunggu seseorang yang akan dapat mewarisi seluruh kesaktian ku.!” Ujar sang ular panjang lebar menceritakan maksud dan tujuannya kepada Ipul dan teman-temannya.
“Baiklah jika itu yang kau mau. Aku akan melepaskannya, apakah kau sudah siap.?” Tanya Ipul sembari memegang mustika yang ada di kepala ular itu.
“Baik tuan. Aku siap.!” Jawab sang ular sembari memejamkan mata.
Begitu ingin menarik mustika itu, tiba-tiba ada beberapa penjaga mencoba menyerang mereka menggunakan tombak dan panah.
Namun serangan itu berhasil di tahan oleh Bangkui dan yang lain sehingga tidak berhasil mengenai Ipul dan ular besar itu.
Setelah mustika itu terlepas dari kepala ular besar itu, dengan sekejap mata ular tersebut berubah menjadi seekor naga hijau yang besar.
Naga tersebut kemudian terbang mengejar para penjaga yang mencoba menyerang mereka tadi, dan mencengkeram tubuh mereka dengan tangannya.
Lalu membawa mereka terbang sangat tinggi sehingga para penjaga itu pun pingsan di genggaman tangan sang naga.
Melihat semua pasukannya berhasil di lumpuhkan oleh sang naga, dalang dari penyerangan itu pun mencoba untuk kabur.
Namun dapat di hentikan oleh sang elang dan lansung di serahkan ke pada para penjaga kerajaan beserta pengawal yang membantunya tadi.
Setelah raja mendapat kabar bahwa kondisi malam itu sudah kembali aman, maka ritual adat yang terakhir pun kembali di lakukan.
Terlihat ular yang berubah menjadi naga tadi itu pun terbang berputar-putar di atas istana seperti sedang menjaga acara yang sedang berlangsung.
Tak lama kemudian ritual terakhir telah selesai, naga yang tadinya terbang pun menghilang dan telah berubah menjadi kakek tua berbaju putih memegang tongkat dari batu.
Kakek tersebut pun ikut bergabung di acara makan-makan malam itu.
Tidak ada satu pun yang boleh tidur pada acara yang di adakan malam itu, karna mereka semua di wajibkan terjaga hingga esok pagi.
Sebab pagi nanti adalah acara sakral dari pesta tersebut, di mana kedua pengantin akan di syah kan menjadi suami istri serta pelantikan pangeran menjadi seorang raja.
Sembari menunggu pagi, semua orang pun bernyanyi dan menari tanpa merasa lelah sedikit pun. Mereka juga terus makan dan minum hingga puas di malam itu.
Ipul yang berada di pos penjaga gerbang kerajaan tiba-tiba terkejut melihat sosok orang tua menggunakan tongkat menghampirinya.
“Maaf mengganggu tuan.!” Sapa sang kakek tiba-tiba kepada Ipul
“Iya kek.! Ada apa dan kakek ini siapa ya.?” Jawab itu sembari bertanya kepada kakek tersebut.
“Saya adalah petapa yang tadi menjadi naga itu, ini lah tubuh asli saya tuan.!” Jawab kakek menjelaskan.
“Semalam dalam tapa saya, saya melihat sepasang sosok gaib yang bersama tuan itu masuk ke tempat saya bertapa.”
“Saya tau kedatangan mereka, makanya saya menunjukan mustika itu kepada mereka dengan niat melihat apakah mereka sengaja datang untuk merampas mustika itu.”
“Tapi setelah melihat mustika itu, mereka langsung pergi keluar meninggalkan tempat saya bertapa.”
“Maka karna itu lah saya datang untuk mencari mereka kesini, agar dapat membebaskan saya dari tugas menjaga mustika itu. Dan Saya sangat berterima kasih kepada Anda tuan, karna telah bersedia menjaga mustika itu.”
“Sebagai hadiah dari saya. Kiranya tuan mau menerima tongkat batu ini, mana tau nanti berguna untuk tuan.!” Kata sang kakek meminta Ipul untuk menerima hadiahnya serta menjelaskan maksudnya.
“Baiklah kek saya Terima hadiah kakek ini dengan senang hati.!” Ujar Ipul seraya tersenyum menerima pemberian dari kakek petapa itu.
Setelah Ipul menerima tongkat batu pemberiannya, kakek petapa itu pun seketika itu juga menghilang dari hadapan Ipul.
Melihat kakek itu menghilang, Ipul pun terkejut sambil menggenggam tongkat itu di tangannya.
Terlihat hari pun mulai terang, semua yang ada di sana bersiap untuk menyaksikan ritual pernikahan sang pangeran dan putri di kerajaan itu. Lalu di susul upacara penobatan sang pengeran menjadi raja baru menggantikan raja yang lama.
Mereka pun bersorak gembira karna ritual pernikahan dan pelantikan raja baru telah selesai di lakukan.
Selanjut di mulai acara penobatan Ipul menjadi laksamana penakluk naga dari raja baru kerajaan tersebut.
Dan mengangkat petapa tua menjadi perdana menteri untuk menggantikan perdana menteri lama, yang saat ini sudah di penjara karna sudah melakukan rencana kudeta kepada raja.
Setelah semua acara pelantikan selesai, mereka pun mulai berpesta kembali.
Karna sore itu Ipul merasa sangat lelah, jadi ia pun masuk ke kamarnya untuk beristirahat lebih cepat dari biasanya.
Dan disaat tidur ia bermimpi kembali di tarik cahaya terang seperti yang pernah di alaminya.