MY IDOL MY SUGAR DADDY Disya Putri, mahasiswi ekonomi yang berjuang menopang hidup dan ibunya, terpaksa menyetujui tawaran tak terduga dari Min Jae—idol papan atas yang dikenal dengan nama panggung Zelo. Hubungan mereka bermula dari perjanjian tanpa cinta: ia melayani, ia dibayar. Namun perlahan transaksi itu berubah menjadi rasa tulus, hingga masa lalu kelam Min Jae kembali hadir. Li Bora, mantan kekasih sekaligus produser yang dulu pergi tanpa penjelasan, kini kembali membawa ancaman dan rahasia besar. Di tengah tekanan publik, penolakan keras ayah Min Jae yang menganggap latar belakang Disya tidak setara, serta bukti perjanjian awal yang dijadikan senjata, mereka diuji hingga ke titik terberat. Di saat yang sama, tersembunyi kebenaran mengapa Li Bora dulu pergi, dan siapa yang sebenarnya mengatur semua ini dari balik layar. Akankah cinta yang tumbuh di antara keterpaksaan mampu bertahan melawan ambisi keluarga, masa lalu yang kelam, dan dunia yang menentang? Atau mereka justru menyadari bahwa pertemuan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan takdir yang telah lama disiapkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Binar jingga08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~PERTEMUAN DI MINIMARKET
Sepulang dari Pulau Jeju, perasaan Jack semakin tak tenang. Tak ada petunjuk sama sekali tentang keberadaan Disya, nomor ponselnya tetap mati, dan tak ada satu pun teman atau kerabat yang tahu ke mana gadis itu pergi. Frustrasi perlahan menguasai hatinya, membuatnya tak sanggup lagi diam di dalam apartemen yang sunyi dan penuh tanya.
Malam itu, udara terasa sejuk tapi tak bisa menenangkan pikirannya. Jack memutuskan mengambil motor besarnya, melaju keluar dari pusat kota menuju jalanan yang lebih sepi di pinggiran pantai. Angin malam yang menerpa wajah seolah menjadi satu-satunya cara untuk melepaskan sedikit beban di dadanya. Ia berniat duduk sejenak di bibir pantai, membiarkan suara ombak menghapus rasa cemas yang tak kunjung hilang.
Namun sebelum sampai ke area pantai, ia melihat sebuah minimarket kecil yang menyala terang di sudut jalan yang sepi. Lampu kuningnya tampak hangat di tengah kegelapan malam. Ia memarkirkan motornya, berniat membeli sebungkus rokok dan sebotol minuman dingin untuk melepas dahaga sekaligus menenangkan diri.
Saat pintu kaca minimarket terbuka berbunyi ting, langkah kaki Jack terhenti mendadak. Matanya membelalak tak percaya. Di dekat rak minuman, berdiri sosok yang selama ini ia cari ke mana-mana—Disya.
Gadis itu tampak sangat berbeda dari biasanya. Rambutnya terlihat berantakan terurai begitu saja, wajahnya pucat pasi, matanya cekung dan masih terlihat bengkak seolah tak berhenti menangis. Ia mengenakan pakaian sederhana yang sudah lama ia miliki, jauh dari penampilan rapi dan bersemangat yang biasa ia lihat setiap hari.
Jantung Jack berdegup kencang sekali, hampir melompat keluar dari dadanya. Ia berjalan perlahan mendekat, suaranya sedikit bergetar saat memanggil nama itu.
"Disya..."
Gadis itu tersentak hebat, botol minuman di tangannya hampir terjatuh ke lantai. Ia menoleh perlahan, dan saat melihat wajah Jack, matanya memancarkan keterkejutan luar biasa, lalu perlahan berubah menjadi rasa lega yang bercampur takut dan bingung.
"Oppa..." panggilnya pelan, hampir tak terdengar oleh telinga.
Jack tak tahan lagi. Ia melangkah cepat, dan dalam sekejap ia sudah berdiri tepat di hadapan Disya. Matanya menatap lekat-lekat gadis itu, melihat betapa rapuh dan lemahnya Disya saat ini—sehelai rambut pun terlihat tak berdaya menahan beban berat. Rasa marah karena Disya pergi tanpa kabar tiba-tiba lenyap seketika, digantikan oleh rasa khawatir yang meluap-luap hingga matanya berkaca-kaca.
"Kau ke mana saja?" tanyanya dengan suara berat dan gemetar. "Kau tahu tidak betapa takutnya aku? Aku sudah mencarimu ke mana-mana, sampai ke rumah Ibu di Jeju sekalipun!"
Disya menunduk dalam, kedua tangannya meremas ujung bajunya dengan gemetar hebat. Ia berusaha menegakkan dada, berusaha terlihat kuat dan tenang seperti yang biasa ia lakukan di depan orang lain. Tapi saat tangan besar Jack menyentuh bahunya dengan lembut, perlahan mengusap wajahnya yang pucat dan dingin, pertahanan itu runtuh seketika. Air mata yang sudah ditahan berhari-hari akhirnya tumpah juga membasahi pipinya.
"Maafkan aku..." isaknya pelan dengan suara tercekik. "Aku hanya... aku hanya butuh waktu sendiri, Oppa. Aku butuh tempat untuk tenang sebentar."
Jack tak menahannya. Ia langsung menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan kuat, membiarkan Disya menangis sepuasnya di sana. Ia mengusap punggung dan kepala gadis itu lembut berulang kali, tak berkata apa-apa sampai isak tangisnya perlahan mereda. Setelah Disya mulai tenang, Jack mengajaknya duduk di bangku panjang depan minimarket.
"Disya," ucap Jack pelan namun tegas, matanya menatap lekat wajah gadis itu. "Ada hal yang harus kau tahu. Saat kau menghilang tanpa kabar, ada seseorang yang datang mencarimu sampai ke apartemenku. Itu Zelo. Dia terlihat sangat hancur dan cemas sekali mencarimu."
Disya tersentak, wajahnya berubah semakin pucat. Matanya membelalak tak percaya. "Dia... dia datang ke tempatmu?"
"Iya. Dia tampak sangat terpukul," jawab Jack lembut. "Sekarang ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau pergi sejauh ini sendirian? Kenapa kau terlihat sehancur ini?"
Disya membuka mulutnya perlahan, namun kata-kata terasa tersangkut di kerongkongannya. Ia bingung harus berkata apa. Jika ia jujur, ia harus menceritakan soal perjanjian, soal uang, soal tuduhan keji yang menyakitkan, dan soal perasaan yang tumbuh di antara hubungan yang seharusnya hanya transaksi. Itu semua terlalu berat, dan ia sadar ia sudah terlalu banyak berbohong. Jika ia bicara jujur sekarang, satu kebohongan akan membongkar kebohongan lainnya.
Dengan hati yang berat dan tangan yang masih gemetar, Disya menyusun kata-kata lain, menyusun kebohongan baru untuk menutupi rahasia yang selama ini ia simpan rapat.
"Aku... aku hanya ada masalah pribadi yang rumit, Oppa," ucapnya pelan, matanya menatap tanah tak berani menatap mata Jack. "Kami... kami hanya salah paham. Itu saja. Dan aku belum siap untuk berhadapan dengannya dulu. Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan pikiran saja."
Jack menatapnya ragu sejenak, tapi ia tak berniat memaksa. Ia tahu Disya pasti punya alasan tersendiri untuk tak bercerita lebih jauh. "Sudahlah, jangan dipikirkan terlalu berat di sini. Ayo kita ke pantai sebentar. Udara di sana lebih segar, mungkin pikiranmu akan lebih jernih setelah melihat laut."
Disya mengangguk pelan, lalu naik ke jok belakang motor Jack. Ia memeluk pinggang pria itu erat-erat, mencari rasa aman yang selama ini hilang. Perjalanan singkat itu berakhir di tepi pantai yang tenang. Ombak menghantam pasir pelan-pelan, cahaya bulan memantul indah di permukaan air yang gelap. Mereka duduk berdampingan di atas pasir yang dingin dan lembut.
"Disya," buka Jack pelan memecah keheningan. "Soal Zelo, aku tahu dia bukan orang sembarangan. Selama ini reputasinya sangat bersih di industri ini. Dia tidak pernah terlibat gosip buruk, tidak pernah menyakiti orang lain, dan sangat menghargai pekerjaannya serta orang di sekitarnya. Hanya satu hubungan yang pernah diketahui publik, dan itu pun kandas secara baik-baik tanpa ada kebencian. Jadi aku yakin ada alasan kenapa kalian bisa berselisih paham."
Mendengar itu, hati Disya terasa semakin perih. Ia membatin dalam hati dengan getir: Apa yang dikatakan baik? Pria yang berani menuduhku tanpa bukti, yang memandangku rendah seolah aku barang dagangan? Padahal kenyataannya, hubungan kita memang seperti itu. Aku menerima uang darinya, dia meminta waktuku. Jadi wajar saja kalau dia berpikir begitu. Aku tidak punya hak untuk marah.
Namun ia tak sanggup mengucapkannya pada Jack. Ia hanya menunduk dalam, memeluk lututnya erat-erat. "Mungkin benar apa yang kau katakan, Oppa. Tapi saat ini... aku belum siap menghadapinya lagi. Lukanya masih terlalu basah."
Jack tak memaksa lagi. Ia hanya menepuk pundak Disya pelan dan tersenyum tulus. "Aku tidak akan memaksamu untuk apa pun. Aku hanya ingin kau tahu, kau tidak sendirian. Aku akan selalu ada di sini untukmu, kapan pun kau butuh tempat bercerita atau sekadar tempat bersandar."
Di bawah cahaya bulan yang temaram itu, Disya hanya bisa mengangguk pelan. Ia merasa bersalah terus berbohong pada sahabatnya sendiri, tapi untuk saat ini, itu satu-satunya cara yang ia tahu untuk melindungi dirinya dari rasa sakit yang belum sembuh. Dan jauh di sudut hatinya, nama Min Jae masih terukir jelas, membawa rasa sakit yang belum tahu kapan akan hilang.