Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Collaps
[Pov Ivan]
Aku sedikit meragukan pengakuan Adit yang menyatakan kalau dia sama sekali tidak melakukan hal-hal yang memungkinkan tubuhnya terinfeksi virus mematikan ini. Tapi sudahlah, mungkin belum saat nya dia siap untuk bercerita.
Aku sengaja membuntuti langkah Adit yang bergegas memasuki kamar. Entah kenapa feeling ku kurang baik terhadap dosis obat anti retroviral yang baru saja diminumnya.
Benar saja, belum sampai di pintu kamar tiba-tiba langkahnya terhenti dan tubuhnya bergetar. Tangannya terlihat ingin menggapai sesuatu.
"Kak..." Suara lirihnya mampu membuat fokusku kini hanya tertuju padanya.
"Kenapa? Kakak disini. Di belakang kamu." Aku segera meresponnya dengan cepat dan sigap memegang bahunya.
"Ver...ti...go..." Bisikan yang lebih mirip seperti desisan terdengar sebelum akhirnya tubuh itu sempurna merosot kebawah,dan dengan sigap aku langsung menahannya.
Sial!
Aku melupakan bekas jahitan di perutku ini!
Ku rasakan sakit dan perih menghampiri bekas jahitanku dan sepertinya rembesan darah mulai membasahi perbannya.
"Awww!!!" tanpa kusadari, kedua tanganku refleks berusaha menggapai titik rasa sakit ini dan membiarkan tubuh Adit terjun bebas menyentuh lantai marmer di apartemenku ini.
Brugh
"Astaghfirullah,, sorry Dit." Segera kugapai ponsel dalam saku celana ku dan dengan cepat men dial nomor Hendry. Semoga dia tidak ada praktek hari ini.
tuuuut... tuuuut... tuuuut...
"Kenapa van?" Suara berat di seberang sana membuatku lega, akhirnya setelah cukup lama ditunggu, suara itu terdengar.
"Hen, bantu gue. Lo langsung masuk aja, urgent. Sekarang!" Aku yang diserang oleh kepanikan seakan bingung mengatur kata-kata untuk dijadikan kalimat sempurna.
Belum terdengar jawaban apapun disana, tapi aku yakin Hendry akan segera kesini. Benar saja suara pintu terbuka langsung kudengar, dan selanjutnya Hendry berlari menghampiriku yang sudah dalam kondisi terduduk dengan kaos putih yang kukenakan sudah ada noda darah.
"Ada apa?!"
"Lo tolong angkatin dulu Adit ke kamar. Bekas Jahitan gue bermasalah kayaknya." Aku masih bergeming di tempatku sekarang, panas dingin di tubuhku mulai kurasakan. Jangan sampai aku malah demam karena infeksi sekunder di Bekas jahitan operasiku kemaren.
"Van! Adit kejang!" Aku bisa mendengar teriakan khawatir di dalam sana. Teriakan milik Hendry. Dengan sedikit kupaksakan, akhirnya aku mampu mengangkat tubuh ini dan berjalan sedikit tertatih kedalam kamar.
Kulihat Hendry berusaha memiringkan tubuh Adit yang telah lunglai kembali.
"Pagi tadi dia baik-baik aja, kenapa sekarang begini?" Hendry yang telah membaringkan kembali tubuh Adit mencecarku dengan pertanyaan nya.
"Lo bantuin gue dulu hen, udah berdarah." Aku membuka genggaman tangan ku pada ujung kaos putih ku yang terdapat noda darah disana.
"Astaghfirullah! Lo dokter Van! Masa perawatan luka jahitan sendiri aja masih gagal." Hendry terlihat kaget melihat bercak noda darah di kaos ku ini, mungkin dia baru menyadarinya. Aku memilih duduk di sisi ranjang lain yang tidak di tempati Adit, rasa dingin mulai menguasai ku. Kulihat Hendry sibuk membuka lemari peralatanku. Sepertinya dia akan mencari kasa dan yang lainnya.
"Tadi reflek nahan tubuh Adit biar nggak jatuh. Lupa kalau ada jahitan ini." Aku mencoba membela diri.
"Ada NaCl nggak disini?"
"Di laci nakas itu Hen." Aku menunjuk nakas disamping ranjang bed ku ini.
"Baringan aja Lo. Biar gampang gue buka perbannya." Aku menurutinya membaringkan tubuh ini.
"Astaghfirullah,, udah bengkak gini. Lo kayak pasien nggak ngerti medis aja si Van. Nyesel gue udah pernah menganggap Lo dokter jenius." Aku memejamkan mata menikmati setiap usapan pelan dari kasa yang dilakukan Hendry. Ada rasa perih di setiap usapannya, tapi untuk sekedar merintih pun rasanya mulut ini terlalu malas. Aku harus bisa menyimpan tenaga ini untuk pemulihan nanti.
"Mulai bengkak juga nih Van, Lo oke?" Kembali suara Hendry terdengar. Ingin rasanya tetap diam tidak menjawab apa pun, tapi Hendry sangat berjasa hari ini. Jangan sampai aku mengabaikan nya.
"Parasetamol aja Hen. Badan gue panas dingin rasanya." Dengan sigap Hendry memberikan 1 tablet paracetamol padaku.
"Lo istirahat aja bareng Adit."
"Lo mau kemana?" Aku menahan langkahnya cepat, jangan sampai Hendry pergi. Dia satu-satunya harapan ku untuk ikut menjaga Adit hari ini atau setidaknya sampai aku pilih.
"Gue disini aja, nggak kemana-mana. Ada dua pasien butuh gue. Tapi Van, ni anak kenapa? Pagi tadi dia baik-baik aja." Punggung tangan Hendry menyentuh dahi Adit yang berkeringat. Ada kernyitan disana. Entah rasa sakit apa yang sekarang sedang dirasakan nya.
"Adit... Dia.. habis minum ARV." Ucapan ku sedikit tersendat, aku tahu akan ada pertanyaan lanjutan setelah Hendry tahu fakta ini. Biarlah, aku akan memintanya untuk tutup mulut setelah mengetahui kebenaran ini.
"Hah?! Dia sakit apa?" Dengan terkejut Hendry segera bertanya.
Suara jawaban dari mulutku yang akan meluncur segera kutelan kembali saat tiba-tiba tubuh Adit mengejang. Aku reflek duduk mengkondisikan gigi nya yang bergemeletuk agar tidak sampai menggigit lidah nya.
Hendry yang berada di samping Adit masih mencoba mengecek suhu badan Adit. Hanya hitungan kurang dari satu menit akhirnya tubuh Adit kembali luruh dan lunglai.
"Kita harus buat dia bangun Van, kasihan kalau serangan kejang nya datang lagi." Aku mengangguk mengiyakan, beberapa tetes minyak angin langsung Hendry tempatkan di hidung Adit, tidak ada respon berarti. Akhirnya aku pun membantu memegang botol kecil minyak angin tersebut di depan hidungnya.
Entah dapat ilmu dari mana tiba-tiba Hendry menggigit jempol kaki Adit, dan seketika itu juga Adit langsung tersentak bangun namun langsung terjatuh rebah kembali.
"Dit..." Kulihat mata Adit yang berkedip pelan masih memandang kami berdua selama beberapa detik. Selanjutnya satu anggukan kecil dari Adit membuatku lega.
"Oke, aman. kamu boleh tidur lagi.” adit tersenyum singkat sebelum matanya terpejam kembali. Seperti nya kali ini dia benar-benar tertidur bukan pingsan seperti sebelumnya.
"Lo harus jelasin ke gue, semuanya!” Suara penuh penekanan dari Hendry membuatku urung untuk ikut merebahkan diri disini.
“Gue bakal ceritain semuanya, tapi mungkin nggak sekarang Hen. Yang pasti, gue butuh lo beberapa hari ini sampai kondisi gue sudah enakan buat bergerak bebas.” Aku mencoba bersikap realistis sekarang. Aku memang sangat membutuhkannya.
"Jadi, Adit kenapa?"
"Dia... Ada virus di tubuhnya."
"Virus apa?"
"HIV."
"Shit!!! Gue berharap dugaan gue dari tadi salah, ternyata benar. Gue harus segera cek kondisi keponakan gue. Dia dan Adit berteman baik, gue nggak akan rela kalau Ferdy pun ikut tenggelam di pergaulan bebas yang kelam." Hendry terlihat mengatur nafasnya yang memang agak tersengal. Sepertinya emosinya benar-benar tidak stabil sekarang.
"Tap,, tapi Adit bilang dia nggak pernah melakukan hal-hal yang mungkin menjadi penyebab tubuhnya tertular. Gue masih belum tau apa penyebabnya."
"Dan Lo percaya begitu aja?"
Aku memang meragukan semua pengakuan Adit pagi tadi, tapi tidak terlihat kebohongan di wajah nya. Dan kenyataan ini membuatku cukup yakin dia memang tidak mungkin melakukan hal-hal diluar batas seperti itu. Meski akhirnya masih menjadi misteri bagiku, bagaimana Adit bisa tertular virus mematikan ini.
[POV adit]
Satu sengatan menyakitkan pada jempol kakiku membuatku tersentak membuka mataku dan terbangun. Tubuhku yang tiba-tiba terduduk langsung lunglai kembali rebah diatas kasur empuk ini. Dengan pandangan mata yang sedikit buram, aku bisa mengenali ada kak ivan dan om Hendry yang menatapku.
“Dit…” Suara kak Ivan menghampiri telingaku. Rasanya lega dan senang, aku bisa mendengar suara orang-orang di sekelilingku lagi. Aku mencoba mengangguk sebagai jawaban. Rasanya masih berat membuka mulut ini.
“Oke, aman. kamu boleh tidur lagi.” Aku kembali mengangguk dan dengan segera memejamkan mata ini. Sepertinya tubuhku memang butuh istirahat sekarang, aku merasa sangat lemas tak bertenaga.
“Lo harus jelasin ke gue, semuanya!” Suara penuh penekanan dari om Hendry sedikit mengusik telingaku. Apakah om Hendry sedang marah?
“Gue bakal certain semuanya, tapi mungkin nggak sekarang Hen. Yang pasti, gue butuh lo beberapa hari ini sampai kondisi gue sudah enakan buat bergerak bebas.” Selanjutnya suara kak Ivan yang cenderung mengiba seakan merespon ucapan om Hendry,
Aku masih setia mendengarkan semua obrolan mereka. Ada rasa sakit kembali menusuk hatiku. Semua orang yang mengetahui tubuhku bervirus seakan saling mendukung persepsi bahwa aku bukanlah anak baik-baik.
Aku tidak layak untuk dibela.
Meski aku pun bingung kenapa, bagaimana dan dari mana virus ini bisa ada dalam tubuhku. Tapi aku yakin, semua penyebab yang di sampaikan kak Ivan bukanlah penyebab sesungguhnya. Aku yang punya tubuh ini, aku yang menggerakkan tubuh ini. Sangat tidak mungkin jika aku tidak menyadari aktifitas tubuhku sendiri.
Aku tidak pernah melakukan hal menjijikkan yang kak Ivan sebutkan.
Aku tidak pernah melakukan hal terlarang yang kak Ivan sebutkan.
Aku yakin itu, meski dalam kondisi tidak sadar, aku yakin aku tidak pernah melakukan nya.
semangatt juga kak 💪