NovelToon NovelToon
Jalan Dewa Kehampaan

Jalan Dewa Kehampaan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
​Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
​Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Lembah Kuburan Pedang

​Angin yang bertiup di Alam Rahasia Makam Kuno membawa bau karat dan darah yang telah mengering selama ribuan tahun. Semakin jauh Lin Tian melangkah ke utara, langit di atasnya berubah dari merah temaram menjadi merah kehitaman, seolah ditekan oleh aura pembunuh yang luar biasa pekat.

​Selama setengah hari perjalanannya, Lin Tian bertemu dengan berbagai jebakan alam dan makhluk undead kuno—prajurit kerangka yang dibangkitkan oleh sisa-sisa Qi di medan perang. Namun, tak satu pun dari rintangan itu yang mampu memperlambat langkahnya. Setiap kerangka yang mencoba menghalanginya hancur menjadi debu tulang hanya dengan satu ayunan pedang raksasa Logam Hitam Tanpa Nama.

​Lautan Qi Kehampaan di Dantian Lin Tian terus berputar, menyerap sisa-sisa energi kematian dari udara. Tempat yang bagi kultivator biasa adalah neraka yang menguras Qi, bagi Lin Tian justru merupakan ladang kultivasi tanpa batas.

​Ia berhenti di tepi sebuah tebing curam. Di bawahnya, membentang sebuah ngarai raksasa yang tampak seperti luka sayatan memanjang di permukaan bumi.

​"Lembah Kuburan Pedang," gumam Lin Tian, matanya memindai pemandangan di bawah.

​Ngarai itu dipenuhi oleh puluhan ribu—mungkin ratusan ribu—pedang yang tertancap di tanah. Ada pedang yang terbuat dari besi biasa yang telah berkarat, ada pedang giok yang retak, hingga pedang tulang yang memancarkan pendaran aneh. Meskipun senjata-senjata ini telah kehilangan tuannya ribuan tahun yang lalu, sisa Niat Pedang (Sword Intent) mereka masih melayang di udara, membentuk badai pisau kasat mata yang terus-menerus menyayat ruang.

​Bahkan dari atas tebing, Lin Tian bisa merasakan hawa tajam yang mencoba menusuk kulitnya.

​"Niat pedang di sini sangat murni, namun dipenuhi oleh keputusasaan dan keengganan dari mereka yang gugur," batin Lin Tian. Ia melompat turun dari tebing, membiarkan badai Niat Pedang itu menghantam tubuhnya.

​Bagi kultivator tingkat Pondasi Bumi biasa, berjalan di lembah ini tanpa perisai Qi pelindung sama saja dengan masuk ke dalam mesin pencacah daging. Namun, tubuh fisik Lin Tian yang telah mencapai puncak Pondasi Bumi ditambah aliran Qi Kehampaan di meridiannya membuat Niat Pedang itu hanya terasa seperti hembusan angin kencang yang menyapu kulitnya.

​Ia melangkah santai menyusuri lautan pedang patah, menuju ke arah pusat lembah di mana letusan energi emas sesekali membelah langit merah.

​Altar Jantung Pedang Surgawi

​Di bagian terdalam Lembah Kuburan Pedang, suasananya sangat tegang.

​Terdapat sebuah altar batu bundar yang dikelilingi oleh pilar-pilar raksasa berbentuk pedang. Di atas altar tersebut, mengapung sebuah kristal berbentuk jantung manusia yang memancarkan cahaya keemasan. Itulah Jantung Pedang Surgawi, pusaka kuno yang mengandung pemahaman murni tentang hukum pedang dari seorang ahli yang telah gugur.

​Namun, altar itu dilindungi oleh formasi kubah cahaya yang ditenagai oleh sembilan pedang spiritual tingkat tinggi yang menancap di sekitarnya.

​Di luar kubah, Lu Changkong berdiri dengan wajah pucat dan napas sedikit memburu. Jubah peraknya robek di beberapa bagian, dan ada jejak darah di sudut bibirnya. Menggunakan paksa kekuatan Inti Emas awalnya untuk menerobos formasi kuno ternyata menguras banyak energi.

​Di belakangnya, tersisa delapan orang murid inti faksinya, termasuk Lu Ming. Empat orang lainnya telah tewas tertebas oleh serangan balik dari formasi tersebut. Mayat mereka tergeletak tak jauh dari altar, membuktikan betapa berbahayanya tempat ini.

​"Sialan! Formasi ini terlalu keras!" maki Lu Ming yang memegangi lengan kirinya yang terluka. "Kakak Sepupu, Qi kita hampir habis. Jika kita terus memaksakan diri, formasi ini bisa meledak dan membunuh kita semua!"

​Lu Changkong mengertakkan gigi, matanya menatap rakus ke arah kristal bercahaya di atas altar.

​"Diam kau, Lu Ming! Aku sudah mengorbankan empat orang untuk melemahkan formasi ini. Tinggal satu serangan lagi! Jantung Pedang Surgawi itu akan menjadi milikku, dan dengan itu, posisiku sebagai Murid Inti nomor satu tidak akan pernah tergoyahkan!"

​Lu Changkong menarik napas panjang, memusatkan sisa Qi Inti Emasnya ke dalam pedang kembarnya. Cahaya emas menyilaukan meledak dari bilah pedangnya, membentuk proyeksi naga bersisik emas raksasa di udara.

​"Mundur semua! Aku akan menghancurkan kubah ini sekarang!" raung Lu Changkong.

​Kedelapan pengikutnya segera mundur menjauh, memasang perisai energi.

​Namun, tepat saat Lu Changkong hendak melepaskan tebasan pamungkasnya...

​Prok. Prok. Prok.

​Suara tepuk tangan pelan bergema, memecah ketegangan di lembah yang sunyi itu. Suara itu tidak keras, namun entah bagaimana menembus badai Niat Pedang dan terdengar sangat jelas di telinga semua orang.

​Lu Changkong menghentikan serangannya, energi emas di pedangnya bergejolak tak stabil. Ia menoleh ke arah sumber suara dengan tatapan membunuh.

​Dari balik kabut kemerahan dan lautan pedang patah, sesosok pemuda berpakaian putih berjalan santai, memanggul sebilah pedang hitam raksasa di bahunya. Angin menyapu rambut hitamnya, memperlihatkan sepasang mata sedingin malam tanpa bintang.

​"Kerja keras yang sangat mengesankan, Lu Changkong. Kau menyingkirkan semua jebakan dan melemahkan formasinya untukku," kata Lin Tian sambil tersenyum tipis. "Sekarang kau bisa beristirahat. Aku akan mengambil alih sisanya."

​Melihat siapa yang datang, mata Lu Ming membelalak lebar, lalu wajahnya berubah menjadi merah padam karena marah.

​"Lin Tian! Sampah sombong! Bagaimana kau bisa sampai di sini hidup-hidup?! Di mana Ma Wei dan yang lainnya?!" teriak Lu Ming.

​"Oh, kedua anjing penjagamu itu?" Lin Tian berhenti berjalan, jaraknya kini hanya sekitar dua puluh meter dari altar. "Mereka sedang sibuk mencari tulang di akhirat. Jangan khawatir, kau akan segera menyusul mereka."

​Mendengar bahwa kedua bawahan tingkat Pondasi Bumi Akhirnya tewas, kelopak mata Lu Changkong berkedut. Ia menatap Lin Tian dengan lebih serius. Pemuda ini hanya memancarkan fluktuasi Pondasi Bumi Menengah, namun entah mengapa instingnya sebagai ahli Inti Emas merasakan ancaman yang nyata.

​"Jadi kau membunuh mereka," ucap Lu Changkong dingin. "Dan kini kau datang kemari bermaksud mencuri hasil buruanku? Lin Tian, aku akui kau punya nyali. Tapi batas antara keberanian dan kebodohan sangatlah tipis. Kau pikir kau bisa mengalahkan seorang ahli Inti Emas?"

​Lin Tian menurunkan Logam Hitam Tanpa Nama dari bahunya, membiarkan ujungnya yang tumpul menghantam tanah berbatu.

​BUM!

​Tanah berguncang pelan, dan retakan menyebar dari ujung pedang hitam tersebut.

​"Inti Emas?" Lin Tian memiringkan kepalanya sedikit. "Yang kulihat hanyalah seekor anjing yang kelelahan setelah menggonggong pada formasi pelindung. Berhentilah membuang waktu, serahkan nyawamu."

​"LANCANG!" raung Lu Ming. Ia tidak bisa lagi menahan amarah dan harga dirinya yang pernah diinjak-injak oleh Lin Tian. Merasa didukung oleh kehadiran kakak sepupunya dan murid lainnya, Lu Ming menghunus pedangnya.

​"Kau pikir kau siapa berani meremehkan keluarga Lu?! Aku akan memotong lidahmu!"

​Lu Ming melesat maju. Kultivasinya telah meningkat sedikit setelah meminum pil dari Lu Changkong, kini ia memancarkan aura Pondasi Bumi menengah yang mendekati puncak. Ia mengerahkan seluruh sisa Qi-nya untuk membentuk tebasan pedang angin badai yang mengarah tepat ke leher Lin Tian.

​Lu Changkong tidak menghentikannya; ia bermaksud menggunakan Lu Ming untuk menguji seberapa kuat Lin Tian sebenarnya.

​Melihat serangan Lu Ming yang datang layaknya badai, Lin Tian bahkan tidak mengubah kuda-kudanya. Ia hanya mendengus dingin.

​"Kau tidak belajar dari tamparan terakhirku, ya?"

​Saat pedang Lu Ming tinggal beberapa jengkal dari lehernya, tangan kanan Lin Tian bergerak kabur. Ia tidak merapal jurus, tidak menggunakan Qi hitamnya. Ia semata-mata mengayunkan pedang lima ribu kati itu dari bawah ke atas layaknya tongkat pemukul.

​Sring... BAAAAAAM!

​Pedang spiritual kelas menengah milik Lu Ming hancur berkeping-keping saat berbenturan dengan sisi datar Logam Hitam Tanpa Nama. Namun, ayunan Lin Tian tidak berhenti di situ. Pedang raksasa itu terus melaju dan menghantam sisi tubuh Lu Ming dengan telak.

​"Gah—!"

​Suara tulang rusuk yang remuk seketika menggema. Mulut Lu Ming menyemburkan kabut darah bercampur serpihan organ dalam. Tubuhnya terlipat secara tidak wajar dan terhempas ke udara seperti boneka kain yang rusak, menabrak salah satu pilar batu raksasa sejauh tiga puluh meter.

​Tubuh Lu Ming meluncur turun dari pilar batu dan jatuh ke tanah menjadi tumpukan daging yang tak lagi bernapas. Mati dengan satu pukulan fisik murni!

​Keheningan yang mencekik menyelimuti Lembah Kuburan Pedang.

​Tujuh murid inti yang tersisa memucat seketika, kaki mereka bergetar. Lu Ming dibunuh semudah memukul jatuh lalat! Pedang hitam apa yang dibawa oleh monster itu?!

​"MING-ER!" Lu Changkong meraung histeris. Matanya berubah merah darah. Ia dan Lu Ming berasal dari cabang keluarga yang sama, dan kematian Lu Ming di depan matanya adalah tamparan keras bagi otoritasnya.

​Aura emas meledak dari tubuh Lu Changkong, membentuk badai Qi spiral yang menerbangkan pedang-pedang patah di sekitarnya.

​"LIN TIAN! AKU AKAN MENCABIK-CABIK JIWAMU DAN MEMBAKARNYA SELAMA SERATUS TAHUN!"

​Lu Changkong melesat maju bagaikan meteor emas. Dua pedangnya menyilang di depan, meluncurkan teknik pamungkas sekte, Tebasan Naga Emas Membelah Langit. Gelombang pedang emas berukuran puluhan meter merobek tanah ngarai, mengincar tubuh Lin Tian dengan tekanan tahap Inti Emas yang absolut.

​Di hadapan serangan mematikan itu, senyum di wajah Lin Tian memudar, digantikan oleh sorot mata sedingin es abadi. Lautan Qi Kehampaan di Dantiannya akhirnya meledak, memancarkan aura hitam-ungu yang meredupkan langit berdarah di atas mereka.

​Lin Tian menggenggam gagang Logam Hitam Tanpa Nama dengan kedua tangannya, mengangkat pedang berat itu tinggi-tinggi.

​"Mari kita lihat," bisik Lin Tian di tengah badai, "apakah Inti Emasmu sekeras pedangku."

1
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Clink🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Makjlebz
hadad fernandez khan
lanjut tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!