Setelah kedua orang tuanya wafat akibat insiden kecelakaan pesawat, Anya diasuh oleh mantan asisten rumah tangga mereka.
Meski hidup dalam kesederhanaan, Anya tetap merasa bahagia bersama keluarga barunya, hingga tiba-tiba sahabat baik sang ayah datang mencari gadis itu.
Guna membalas budi akan kebaikan keluarganya dahulu, serta pengorbanan yang pernah Anya lakukan pada putra sulungnya, Maxim berencana menikahkan Anya dengan sang putra yang notabene adalah cinta pertamanya.
Akankah Anya mampu menjalani kehidupan pernikahannya dengan bahagia? Terlebih ketika mengetahui fakta bahwa sang suami ternyata berperangai kasar dan telah memiliki seorang kekasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ampun! aku hanya ingin menjadi istri yang baik.
Anya menatap puas pada beberapa makanan yang tersaji di atas meja. Hari ini Anya libur dari segala aktifitas rumah sebab asisten rumah tangga Axton datang ke sana.
Sejak pemberitahuan hasil wawancara Anya keluar, ia hanya menghabiskan waktunya seharian di rumah saja. Kadang ia juga pergi berbelanja ditemani oleh Bi Rahmi, nama sang asisten rumah tangga tersebut.
"Jangan sungkan untuk menghubungi saya kalau butuh bantuan ya, Bu? Besok saya akan datang lagi untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai," ujar Bi Rahmi sembari bersiap-siap pulang.
"Terima kasih atas bantuannya hari ini ya, Bi Rahmi," ucap Anya ramah. Sikapnya yang lembut dan keibuan membuat Anya begitu merindukan Bu Rastini, sang ibu angkat.
"Sama-sama, Bu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Sepeninggal Bi Rahmi, Anya bergegas mandi. Anya tidak pernah jera membuatkan Axton makanan, meski selalu ditolak, sebab ia tidak bisa mengabaikan nasihat sang ibu untuk melayani segala macam kebutuhan suaminya dengan baik.
Maka dari itu, Anya mulai belajar menghafal hampir seluruh kegiatan dan kebutuhan Axton secara diam-diam dari Delia, asisten pribadi pria itu.
Anya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih segar. Bersamaan dengan itu, Axton tiba di apartemen. Ia duduk di ruang televisi tanpa membuka sepatunya.
Melihat itu Anya buru-buru menghampiri sang suami dan langsung membantunya membuka sepatu.
Axton yang sudah terlalu lelah membiarkan saja apa yang dilakukan Anya kali ini.
"Kakak sudah makan? Aku sudah membuatkan makan malam untuk Kakak," kata Anya setelah selesai melepas sepatu Axton. Gadis itu bahkan membantu Axton melepas jaket kulitnya.
"Sudah kubilang untuk tidak melakukan hal-hal yang membuatku muak!" gerutu Axton.
Anya pura-pura tidak mendengar perkataan menyakitkan sang suami. Ia malah mengambil makanan untuk Axton dan membawanya ke ruang televisi. "Makan dulu, Kak. Kakak pasti belum sempat makan, kan?"
Tanpa mendengar jawaban Axton, Anya mengambil lengan pria itu lembut agar duduk tegak.
Axton menatap Anya sinis. Kentara sekali pria itu tengah menahan emosinya. "Sepertinya aku memang tidak boleh menurunkan amarahku, karena itu hanya akan membuat gadis sepertimu jadi kelewat kurang ajar!"
Setelah berkata demikian Axton menghentak kasar genggaman tangan Anya. Pria itu kemudian mengambil piring yang ada di sana lalu melemparnya ke wajah Anya.
Gadis itu memekik kesakitan saat beberapa butir nasi masuk ke dalam matanya. Rasa pedas dan panas sontak menjalar ke seluruh bagian wajah gadis itu.
Axton tidak peduli. Bukannya berhenti pria itu malah mengambil segenggam nasi panas yang masih tersisa di atas piring, sebelum kemudian menjejalkannya ke mulut Anya secara paksa.
Anya memberontak. Ia mencoba memukul tangan Axton yang sibuk memasukkan nasi yang masih panas itu. Anya bahkan sampai terbatuk-batuk, sebab harus menelan paksa makanan panas tersebut.
"Aku benar-benar muak dengan segala tingkah lakumu akhir-akhir ini! Kau harusnya sadar diri, Brengsek!" hardik Axton. Suaranya yang lantang memekakkan telinga Anya
"Berhenti membuatku semakin jijik padamu! Berhenti seolah-olah kau adalah istri yang aku inginkan!"
Anya terkulai di lantai sembari menangis. Mendengar tangisan Anya, Axton malah semakin terlihat marah. "Kau pikir, air matamu akan membuatku iba? Jangan bermimpi, Jalang!"
Pria itu tanpa belas kasihan menjambak rambut Anya dan menyeretnya menuju balkoni apartemen. "Sampah sepertimu memang harus diberi pelajaran!" kata Axton dengan wajah penuh kebencian.
"Aaaargghh! Kak, amp–pun!" teriak Anya kesakitan. Rasa pusing menjalar memenuhi kepalanya.
Bukannya mengurangi kekuatannya, Axton malah semakin menjambak Anya.
"Kak, tolong lepask– aarrgh!" Anya kontan semakin berteriak sembari memukul-mukul tangan Axton. Namun, Axton sama sekali bergeming.
"Ampun, Kak!" Anya mulai kehabisan tenaga. Ia tidak lagi berontak seperti sebelumnya.
Tanpa berkata apa-apa pria itu langsung mengunci pintu balkoni rapat-rapat dan membiarkan Anya terjebak di sana sendirian.
Anya terkejut bukan main. Ia segera berdiri lantas menggedor-gedor pintu balkoni, memohon pada Axton agar membiarkannya masuk ke dalam. Namun, Axton hanya menatap dingin sosok Anya selama beberapa saat, sebelum kemudian menutup gorden dan masuk ke dalam rumah.
Anya menjatuhkan dirinya. Angin malam yang dingin membuat tubuh gadis itu gemetaran hebat, sebab ia hanya memakai pakaian tipis. Anya menangis sejadi-jadinya. Ia berteriak-teriak memanggil nama Axton berulang kali, berharap pria itu mau kembali dan membiarkannya masuk. Akan tetapi, hingga suaranya nyaris habis pun, Axton tidak juga muncul.
Anya menatap pintu balkoni dengan pandangan kosong. Tubuhnya meringkuk di lantai, berharap mampu mengurangi rasa dingin yang menusuk.
Pikiran Anya menerawang. Sefatal itukah kesalahannya kali ini, hanya karena mencoba menjalani perannya sebagai seorang istri yang baik?
Hatinya pun semakin teriris tatkala mengingat, bahwa Axton tidak pernah sekali pun menolak makanan yang dimasak Bi Rahmi.
...*****...
Axton baru saja selesai membasuh dirinya. Pria itu duduk di atas ranjang sembari menatap telapak tangannya yang memerah karena menggenggam nasi panas tadi.
Demi menyakiti Anya, ia rela menyakiti dirinya sendiri.
Axton mendadak gelisah. Sosok Anya seketika berseliweran di kepala pria itu.
Ia sadar tidak ada yang salah dari Anya. Semua yang Anya lakukan untuknya tidak pernah berlebihan. Namun, entah mengapa melihat kegigihan gadis itu untuk mendapat perhatiannya malah membuat pria itu muak.
Anya bahkan selalu berusaha tegar, meski harus menangis tersedu-sedu.
Saat Axton masih memikirkan Anya, tiba-tiba sebuah pelukan mendarat di lehernya. Siapa lagi yang berani melakukan hal tersebut kalau bukan Hana?
"Apa yang terjadi, Sayang? Aku melihat makanan berserakan di ruang televisi. Mau aku bereskan?" tanya Hana.
"Tidak perlu." Jawaban Axton singkat.
"Aku rindu," ucap Hana manja. Axton merangkul Hana dan mencium bibirnya mesra.
Hana membawa Axton berdiri menghadap kaca besar yang terpatri di dinding "Tetap seperti ini dulu." Kata wanita itu sembari memeluk Axton yang masih bertelanjang dada. Tangannya yang lembut mengusap bekas luka sayatan yang terdapat di perut sebelah kanan pria itu.
"Bekas operasi ini menambah keseksianmu, Sayang," ungkapnya.
Axton tersenyum kecil lalu melepaskan pelukan Hana untuk berganti baju. Hana mengekori langkah Axton. Wanita itu membantu Axton memilihkan pakaian.
"Oh iya, aku belum melihat Mbak Anya sama sekali, apa dia sudah tidur?" tanya Hana.
Mendengar nama Anya disebut, Axton memasang wajah dingin. "Jangan sebut nama gadis sialan itu malam ini, aku muak!"
Hana menahan diri untuk tidak tersenyum lebar. Sebenarnya, ia juga sudah muak bersikap baik pada Anya. Meski ia tahu Axton sangat membenci Anya, tapi tetap saja status Anya membuat Hana cemburu.
Akan tetapi melihat reaksi yang ditunjukan Axton kali ini, benar-benar menumbuhkan rasa percaya diri Hana untuk tidak lagi berpura-pura baik pada gadis kampungan itu. Ia sudah menang telak.
...*****...
Anya membuka matanya perlahan, ketika merasakan betisnya nyeri. Hana rupanya sedang membangunkan gadis itu dengan menendang-nendang kakinya.
Mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat tidur di lantai yang dingin, Anya segera duduk.
"Hana, terima kasih telah menolongku," ucap Anya tulus yang langsung dibalas dengan tawa sinis oleh Hana.
Anya mengernyitkan dahinya.
"Siapa yang ingin menolongmu, Bodoh! Aku hanya tidak ingin ada mayat busuk di apartemen milik kekasihku!" cetusnya sembari berjongkok di hadapan Anya.
Wanita muda itu lalu mencengkeram pipi Anya kuat-kuat, hingga membuatnya memekik kesakitan. "Aku sudah muak bersikap baik padamu. Mulai sekarang kau bisa berhenti mencari perhatian Kak X, atau aku akan membuatmu angkat kaki dari sini!"
Hana melepaskan cengkeramannya kasar sampai Anya kembali terjatuh. Wanita itu lalu menghampiri Axton yang ternyata sedang memerhatikan mereka berdua. Dengan manja Hana merangkul tangan Axton dan pergi meninggalkan apartemen.
Anya mencengkeram dadanya sekuat tenaga. Ia sama sekali tidak menyangka, ternyata Hana hanya berpura-pura baik padanya selama ini. Hatinya semakin nyeri bukan main saat mengetahui, bahwa Axton tidak mempermasalahkan sikap Hana padanya.
"Hahaha, bodoh sekali kau, Anya!" pekik Anya disertai tawa sumbang.
"Seharusnya sejak awal kau tahu, tidak ada wanita yang rela berbaik hati pada istri kekasihnya." Anya mengeraskan tawanya sembari memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sesak. "Sadarlah, tidak ada satu pun orang yang peduli padamu, Tolol! Tidak ada!" Meski tertawa, air mata kian deras membasahi kedua pipi gadis itu.
Semangatt terus berkarya nya 💪💪💪💪