Pada malam Tahun Baru 2035, seluruh manusia di bumi menerima sebuah notifikasi misterius yang muncul tepat di depan mata mereka.
【Integrasi Dunia akan dimulai dalam 365 hari.】
Tak ada yang tahu siapa pengirimnya. Tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana layar itu muncul. Setelah berbulan-bulan tanpa kejadian apa pun, dunia mulai melupakannya dan menganggapnya sebagai fenomena aneh semata.
Namun, tidak dengan Leon.
Di malam yang sama, ia menerima notifikasi kedua yang hanya bisa dilihat olehnya.
【Sistem Simulasi Satu Tahun berhasil diaktifkan.】
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 — Naluri Seorang Pemburu (Bagian 2)
Suara langkah kaki itu semakin jelas.
Dum...
Dum...
Dum...
Setiap hentakannya membuat dedaunan di atas pohon bergetar pelan. Burung-burung yang masih bertengger langsung beterbangan, meninggalkan hutan dalam keheningan yang mencekam.
Leon menelan ludah.
"Apa itu?"
Rowan tidak langsung menjawab. Tatapannya terkunci pada arah datangnya suara.
"Tarik napas."
Leon mengernyit.
"Dalam situasi seperti ini, orang yang panik akan mati lebih dulu."
Leon segera mengatur napasnya seperti yang diajarkan Rowan pagi tadi. Jantungnya memang masih berdegup kencang, tetapi pikirannya perlahan menjadi lebih tenang.
Forest Gob yang tadi mengepung mereka kini mundur beberapa langkah. Aneh, makhluk-makhluk itu tampak ketakutan.
Pemimpin mereka pun menundukkan kepala ke arah hutan yang gelap.
Seolah...
Mereka sedang menyambut sesuatu.
Sesaat kemudian, semak-semak terbuka.
Seekor serigala raksasa keluar dengan langkah pelan.
Tubuhnya hampir setinggi dua meter di bagian bahu. Bulu abu-abunya dipenuhi bekas luka lama, sementara mata birunya memancarkan tatapan tajam seorang pemburu sejati.
Yang paling mencolok adalah taringnya.
Panjang, putih, dan setajam belati.
Leon merasakan tenggorokannya mengering.
"Serigala..."
"Tidak."
Rowan menggenggam pedangnya lebih erat.
"Itu Dire Wolf."
"Monster Peringkat F tingkat atas."
"Jauh lebih berbahaya daripada Wolf Ape."
Dire Wolf mengendus udara.
Tatapannya perlahan beralih kepada Leon.
Selama beberapa detik, keduanya saling menatap tanpa bergerak.
Kemudian...
Dire Wolf menggeram pelan.
Grrrr...
Tanpa aba-aba, tubuhnya melesat.
Kecepatannya begitu luar biasa hingga Leon hanya melihat bayangan abu-abu melintas.
"Leon!"
Teriakan Rowan membuyarkan lamunannya.
Leon langsung menjatuhkan tubuhnya ke samping.
Sraaak!
Cakar Dire Wolf menyapu udara tepat di tempat kepala Leon berada sepersekian detik sebelumnya.
Batang pohon di belakangnya terbelah menjadi dua.
Leon membelalakkan mata.
"Kalau tadi aku terlambat sedikit..."
Ia bahkan tidak berani membayangkan akibatnya.
Dire Wolf berbalik perlahan.
Matanya tetap terkunci pada Leon.
Monster itu tidak menyerang lagi.
Ia sedang mengukur mangsanya.
"Jangan menyerangnya sembarangan."
ucap Rowan.
"Dire Wolf sangat cerdas."
"Ia akan menghukum setiap kesalahanmu."
Leon mengangguk.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Berbeda dengan Wolf Ape yang mengandalkan kekuatan, Dire Wolf bergerak dengan tenang dan penuh perhitungan.
Ia seperti pemburu berpengalaman.
Tiba-tiba, Forest Gob berkalung taring mengeluarkan jeritan pendek.
Seluruh Forest Gob langsung mundur menjauh.
Mereka...
Menyerahkan mangsanya kepada Dire Wolf.
Rowan tersenyum tipis.
"Sekarang aku mengerti."
Leon masih fokus pada serigala raksasa itu.
"Mengerti apa?"
"Forest Gob sengaja mengejar kita ke wilayah kekuasaan Dire Wolf."
"Mereka menggunakan kita sebagai umpan."
Leon terdiam.
Monster...
Memanfaatkan monster lain?
Pemandangan itu benar-benar menghancurkan anggapannya bahwa semua monster hanya bertindak berdasarkan naluri.
Dunia ini jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan.
Dire Wolf kembali bergerak.
Namun kali ini tidak langsung menyerang.
Ia berjalan memutari Leon dan Rowan perlahan.
Satu putaran.
Dua putaran.
Mencari celah.
Rowan berbisik tanpa mengalihkan pandangan.
"Perhatikan matanya."
Leon menurut.
"Apa yang harus kulihat?"
"Selama matanya bergerak..."
"...ia masih berpikir."
"Tapi saat tatapannya terkunci..."
"...ia akan menyerang."
Belum sempat Leon menjawab, pupil Dire Wolf menyempit.
Tatapannya terkunci tepat di dada Leon.
"Datang!"
teriak Rowan.
Dire Wolf melompat.
Namun kali ini Rowan ikut bergerak.
Clang!
Pedangnya beradu dengan cakar Dire Wolf, memercikkan bunga api.
Gelombang benturan membuat Leon mundur dua langkah.
"Ini..."
Untuk pertama kalinya ia melihat Rowan bertarung dengan serius.
Gerakannya sederhana.
Tidak ada ayunan berlebihan.
Tidak ada teriakan.
Setiap tebasan dilakukan seefisien mungkin.
Dire Wolf menyerang tiga kali berturut-turut.
Rowan menangkis semuanya.
Kemudian memutar tubuhnya dan menebaskan pedangnya ke arah kaki depan monster itu.
Srat!
Garis tipis muncul di kaki Dire Wolf.
Tidak dalam.
Tetapi cukup membuat monster itu mundur.
Leon segera menyadari sesuatu.
"Rowan..."
"...sengaja tidak membunuhnya."
Benar saja.
Di sela pertarungan, Rowan sempat melirik Leon.
"Apa yang kau pelajari?"
Leon berpikir cepat.
"Jangan melawan kekuatan dengan kekuatan?"
"Salah."
Rowan kembali menangkis serangan.
"Apa lagi?"
Leon memperhatikan lebih saksama.
Setiap kali Dire Wolf menyerang, Rowan selalu bergeser sedikit.
Tidak pernah berdiri diam.
Tidak pernah memaksakan benturan.
Tiba-tiba Leon memahami.
"Efisiensi."
Rowan tersenyum.
"Nah."
"Kekuatanmu terbatas."
"Staminamu juga terbatas."
"Kalau satu gerakan bisa dilakukan dengan tenaga sepuluh..."
"...jangan gunakan tenaga dua puluh."
Ucapan itu terukir kuat di benak Leon.
Inilah pelajaran yang tidak mungkin ia dapatkan hanya dari sistem.
Pengalaman.
Naluri.
Dan cara berpikir seorang pemburu sejati.
Namun saat Rowan hendak kembali menyerang...
Dire Wolf tiba-tiba melolong panjang ke arah langit.
Awoooooo...!
Hutan mendadak sunyi.
Beberapa detik kemudian...
Dari kejauhan terdengar lolongan balasan.
Satu.
Lalu dua.
Kemudian lima.
Wajah Rowan yang semula tenang berubah serius.
"Celaka..."
Leon menoleh.
"Apa?"
Rowan menggertakkan giginya.
"Dire Wolf..."
"...tidak pernah berburu sendirian."
Di balik pepohonan yang gelap, satu demi satu bayangan serigala mulai bermunculan.
Sepasang mata biru menyala memenuhi kegelapan hutan.
Mereka baru saja menghadapi satu Dire Wolf.
Sekarang...
Satu kawanan penuh telah datang.