NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.

Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?

Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Pindah Rumah

Arjuna fokus menyetir sambil sesekali mengetukkan jarinya di setir mengikuti irama lagu yang mengalun pelan dari radio, sementara Laila menatap lurus ke depan dengan dahi berkerut, tampak sedang menimbang-nimbang sesuatu di kepalanya.

"Arjuna," panggil Laila tiba-tiba. Suaranya terdengar serius, tidak ada nada ketus yang biasanya ia pakai untuk menanggapi ketengilan Arjuna.

Arjuna melirik sekilas dari balik kacamata hitamnya, lalu menurunkan volume radio. "Iya, ada apa Dek?"

"Kita jangan langsung pulang ke rumah Papi. Cari kafe atau tempat nongkrong yang agak sepi di sekitaran sini. Ada yang mau gue omongin. Penting," ujar Laila tanpa menoleh.

Sebelah alis Arjuna terangkat. Ia langsung menangkap ada urgensi di balik nada bicara istrinya. "Siap, perintah diterima," ujar Arjuna.

Sepuluh menit kemudian mereka sampai ke sebuah kafe bernuansa industrial dengan banyak tanaman hijau yang memberikan kesan sejuk. Karena masih menjelang siang, kafe tersebut tidak terlalu ramai. Mereka memilih meja di sudut area semi-terbuka, jauh dari jangkauan pengunjung lain.

Arjuna memesan kopi hitam, sementara Laila memilih jus stoberi. Setelah pesanan datang dan pelayan pergi, Laila menarik napas dalam-dalam, menumpukan kedua tangannya di atas meja kaca, dan menatap langsung ke mata elang Arjuna.

"Arjuna, menurut gue kita harus pindah dari rumah Papi," tembak Laila langsung tanpa basa-basi.

Arjuna yang baru saja hendak menyesap kopinya menghentikan gerakannya. Ia meletakkan kembali cangkir keramik itu ke tatakan, lalu menatap Laila dengan seksama.

"Pindah? Wah Dek, padahal Mas baru saja mau menikmati fasilitas kamar kamu yang AC-nya dingin banget itu lebih lama lagi," celetuk Arjuna, masih mencoba menyisipkan sedikit candaan untuk mengukur kedalaman air.

"Gue serius Arjuna," potong Laila tajam, matanya menyipit penuh keseriusan.

"Lo pikir gue gak tahu? Papi itu sengaja minta kita tinggal di sana bukan cuma karena kangen. Papi itu sedang mengawasi kita. Sifat Papi itu perfeksionis dan detail. Kalau kita terus-terusan tinggal di sana, lambat laun Papi bakal curiga kenapa kita bersikap aneh. Papi bakal tahu kalau pernikahan ini cuma..." Laila menghentikan ucapannya saat tersadar bahwa ia hampir membocorkan rahasianya sendiri.

Bayangan Devan dan komitmen satu tahun mereka kembali melintas di benaknya. Di rumah Papi, Laila merasa ruang geraknya terkunci total. Ia tidak bisa leluasa memikirkan taktiknya, dan ia tahu Papi memiliki 'mata-mata' di rumah dalam wujud Mbak Sri atau sopir keluarga yang selalu melapor jika ada hal yang tidak beres.

Arjuna bersandar pada sandaran kursi besi, melipat lengannya di dada. Matanya menatap Laila dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia terus mengingat isi obrolan rahasia Laila dan Devan di ruang transit aula di hari pernikahan mereka.

Arjuna tahu betul motivasi utama di balik desakan Laila untuk pindah. Laila bukan hanya takut pada pengawasan Ayahnya, Laila takut hubungan rahasianya dengan Devan terendus oleh Ayahnya yang bisa berakibat fatal pada kesehatan jantung beliau.

Ada denyut perih yang kembali menyengat ego Arjuna sebagai seorang suami sah. Laila sedang meminta pindah agar bisa lebih leluasa menjaga perasaannya untuk pria lain. Namun, Arjuna tetaplah Arjuna. Ia menarik napas panjang, lalu senyum tengil andalannya kembali terkembang di wajah tampannya.

"Kamu betul, Dek. Papi itu meskipun kelihatan senyum-senyum terus kayak komandan kompi yang lagi baik hati, instingnya kuat. Kalau tiap malam kita masang benteng guling terus kedengaran sampai luar, Papi bisa curiga."

"Nah betul itu," sambut Laila.

"Mas sebenarnya sudah punya rumah dinas di dekat pangkalan. Sederhana sih, gak semewah rumah Papi yang ada kolam renangnya, terus-"

"Bukannya Papi pernah bilang kalo lo punya rumah pribadi, gue gak mau ya kalau harus pindah ke rumah dinas itu," potong Laila saat mendengar Arjuna mengatakan rumah dinas. Ia tahu akan seketat apa nanti jika dia dan Arjuna tinggal di lingkungan rumah dinas tentara itu.

"Memangnya kenapa toh Dek kalau di rumah dinas, kan lebih dekat dengan tempat kerja Mas," ujar Arjuna.

"Gak mau gue pokoknya," tegas Laila.

"Hemm, ya sudah kita akan tinggal di rumah pribadi Mas saja. Tapi pertanyaannya, apakah Dek Laila yang manja dan terbiasa dilayani Mbak Sri ini siap hidup mandiri?" tanya Arjuna.

Laila mengangkat dagunya, merasa tertantang. "Siapa yang manja? Gue bisa mandiri. Asal kita keluar dari rumah Papi secepatnya. Jadi, lo setuju kita pindah rumah?"

Arjuna menyeringai, sebuah ide mendadak melintas di kepalanya untuk menjebak istrinya sendiri. "Mas setuju-setuju saja, Dek. Tapi pindah dari rumah Papi itu butuh alasan logis biar Papi gak tersinggung. Dan Mas punya satu syarat buat kamu."

"Syarat apa?" tanya Laila curiga, menyipitkan matanya waspada.

Arjuna mengetuk-ngetukan jarinya di meja dengan gaya sok misterius. "Syaratnya, nanti pas kita izin sama Papi, kamu yang harus ngomong. Dan kamu harus pakai alasan kalau kamu pengen pindah karena pengen belajar jadi istri seutuhnya yang mandiri tanpa gangguan, dan pengen punya waktu berdua lebih banyak sama Mas tanpa diawasi siapa-siapa. Gimana? Berani gak ngomong begitu di depan Papi?"

Laila terbelalak. "Lo sengaja ya manfaatin situasi?!"

"Wah, ini namanya simbiosis mutualisme, Dek," balas Arjuna tanpa beban, terkekeh renyah melihat wajah Laila yang tampak sangat kesal hingga ingin melempar gelas jusnya.

"Kalau alasannya bukan itu, Papi pasti gak bakal ngizinin. Papi cuma bakal luluh kalau tahu anaknya ini pengen bucin mandiri sama suaminya. Jadi, ambil kesepakatan ini atau kita tetap tinggal di rumah Papi dengan risiko benteng guling kita digosipkan ke seluruh komplek?"

Laila mengepalkan tangannya di bawah meja, merutuki ide Arjuna yang selalu berhasil menyudutkannya ke dalam situasi yang mematikan. Dengan sangat terpaksa, demi kebebasan ruang geraknya dan demi Devan, Laila akhirnya mengangguk pelan dengan gigi teretuk.

"Oke. Gye ambil syarat itu. Nanti malam gue yang ngomong sama Papi," ketus Laila.

"Mas tunggu aksi kamu nanti malam, Dek Laila," sahut Arjuna dengan cengiran paling tengil, ia kembali menyesap kopinya dengan perasaan menang, sementara Laila hanya bisa mendengus tajam, berjanji dalam hati akan membalas pria ini di kesempatan berikutnya.

...****************...

Malam harinya, suasana di dalam rumah Dirga terasa sangat tenang. Jam dinding kayu jati di ruang tengah berdentang lembut menunjukkan pukul delapan malam. Dirga sedang duduk bersantai di sofa favoritnya sambil membaca koran sore, ditemani secangkir teh melati hangat. Di televisi, sebuah siaran berita lokal menyala dengan volume rendah, memberikan latar belakang suara yang damai.

Di dapur, Laila berdiri mematung di depan meja konter. Tangannya agak gemetar saat memegang nampan berisi sepiring pisang goreng yang baru saja selesai digoreng oleh Mbak Sri. Di sampingnya, Arjuna sedang bersandar santai di dekat kulkas. Pria itu dengan tenang mengunyah sepotong pisang goreng panas sambil menatap Laila.

"Ayo, Dek. Pisang goreng sudah siap, target operasi sudah di depan mata. Jangan gemetar begitu dong, nanti pisang gorengnya bisa melakukan pendaratan darurat di lantai," bisik Arjuna dengan nada mengejek yang sangat pelan.

Laila menoleh, melemparkan delikan pada Arjuna. "Arjuna, lo bisa diem gak? Gue ini lagi ngumpulin keberanian. Ini semua gara-gara syarat absurd dari lo tahu!"

"Lho, Mas kan cuma memberikan solusi terbaik supaya Papi luluh." Arjuna memberikan gestur mempersilakan dengan tangan kanannya. "Silakan maju ke garis depan, Istriku. Mas akan mengawal dari belakang."

Laila mengembuskan napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu liar. Dengan langkah yang dibuat seanggun dan setenang mungkin, ia membawa nampan pisang goreng itu menuju ruang tengah, diikuti oleh Arjuna yang berjalan santai di belakangnya dengan tangan diselipkan di saku celana.

"Papi... ini Laila bawakan pisang goreng hangat buat teman baca koran," sapa Laila dengan suara yang sengaja dilembut-lembutkan, meletakkan nampan tersebut di atas meja kopi di depan Ayahnya.

Dirga menurunkan korannya, wajah tuanya langsung dihiasi senyum hangat yang tulus. "Wah, kebetulan sekali, rasanya dari tadi ada yang kurang kalau cuma minum teh. Makasih ya, Ndok. Sini, duduk."

Laila mengambil posisi duduk di sofa tunggal sebelah kiri Papi, sementara Arjuna langsung duduk di sofa panjang sebelah kanan Papi. Sebelum mulai bicara, Laila melirik ke arah Arjuna, memberikan kode mata darurat yang berarti, 'Bantuin gue kalau situasinya makin kacau!' Namun, Arjuna justru membalasnya dengan senyuman tengil seolah sedang menonton pertunjukan komedi gratis.

Laila berdeham kecil, meremas jemarinya di atas pangkuan. "Anu...Pii. Ada hal penting yang mau Laila omongin sama Papi. Ini... ini juga sudah Laila diskusikan sama Mas Arjuna."

Dirga meletakkan korannya sepenuhnya di atas meja, menatap putri kesayangannya itu dengan seksama. "Mengenai apa Lala sayang? Kok mukanya serius amat, kayak mau ujian sidang skripsi lagi."

Laila menelan ludah. Ia melirik Arjuna sekali lagi, dan pria itu hanya mengangguk pelan dengan senyum sok bijaksana. Mengingat syarat dari Arjuna di kafe tadi siang, Laila akhirnya memejamkan mata sesaat, lalu meluncurkan kalimat yang paling menguras harga dirinya.

"Papi... Laila dan Mas Arjuna berencana untuk pindah rumah," ujar Laila, menahan napas sejenak melihat perubahan ekspresi Ayahnya.

Sebelum Ayahnya sempat memotong, Laila buru-buru menyambung dengan kalimat jebakan Arjuna. "Bukan karena Laila gak betah tinggal di rumah Papi. Tapi... Laila rasa, sebagai pengantin baru, Laila harus belajar mandiri. Laila pengen belajar jadi istri seutuhnya buat Mas Arjuna, tanpa merepotkan Papi atau dibantu Mbak Sri lagi."

Laila menjeda kalimatnya, wajahnya sudah mulai terasa panas. Namun, ia harus menyelesaikan akting ini sampai tuntas demi kebebasan ruang geraknya.

"Lagipula... kalau di sini kan kamarnya dekat sama kamar Papi. Jadi... Laila sama Mas Arjuna agak sungkan kalau mau punya waktu berdua yang lebih privat dan intim, Pi. Laila pengen kami punya ruang sendiri buat membangun kemesraan rumah tangga tanpa diawasi siapa-siapa," lanjut Laila dengan suara yang semakin memelan di akhir kalimat, wajahnya kini sudah merah padam sempurna menahan malu yang luar biasa.

"Tuhan, tenggelamkan saya ke laut sekarang juga," jerit Laila dalam hati.

Mendengar penuturan Laila, Dirga sempat tertegun selama beberapa detik. Ruangan tengah itu mendadak hening. Namun, sedetik kemudian, pandangan Dirga beralih ke arah Arjuna yang duduk di sofa sebelah kanan.

Arjuna yang tanggap situasi langsung memasang wajah super polos dan penuh wibawa. Ia menegakkan punggungnya, menatap Dirga dengan tatapan mata seorang pria yang bertanggung jawab.

"Betul, Papi," sambung Arjuna dengan suara baritonnya yang mantap, melirik Laila dengan kedipan mata jail yang hampir membuat Laila melemparnya dengan gorengan panas di hadapannya.

"Sebagai menantu, saya sebenarnya ingin selalu menemani Papi di sini. Tapi belakangan ini Laila terus-terusan merayu saya Pi. Katanya dia pengen banget masakin saya sarapan di dapur kami sendiri, pengen rasain gimana ngurus rumah. Sebagai suami, saya tidak bisa menolak keinginan dari istri yang sangat mencintai suaminya ini," jelas Arjuna membantu Laila.

Uhuk!

Laila hampir saja tersedak udara malam mendengar improvisasi Arjuna yang melompat jauh melampaui teks kesepakatan mereka.

"Merayu katanya? Sejak kapan gue merayu dia?" batin Laila ngamuk, tangannya di bawah meja sudah mengepal kuat hingga kukunya memutih.

Papi Dirga menatap menantunya, lalu beralih menatap anak perempuannya yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Perlahan, gurat kekhawatiran di wajah tua Dirga memudar, digantikan oleh sebuah tawa kekeh yang sangat lega dan bahagia.

"Hahaha! Alasanmu itu lho, La. Bilang saja kamu itu kangen pengen pacaran berduaan terus sama Arjuna tanpa keganggu orang tua, toh?" goda Dirga sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, menunjuk Laila dengan jari telunjuknya.

"Papi kira ada masalah apa. Papi malah senang mendengarnya. Berarti kamu sudah mulai paham tugas seorang istri."

Dirga beralih menatap Arjuna, menepuk bahu menantunya itu dengan bangga. "Juna, Papi titip Laila ya. Kalau dia nanti di rumah kamu masih manja atau malas masak, kamu hukum lari keliling saja, gak apa-apa. Papi izinkan."

"Siap, perintah dilaksanakan Pi! Nanti kalau Dek Laila melanggar aturan rumah tangga, dendanya bukan lari keliling pangkalan kok, Pi. Cukup denda kurung di kamar saja semalaman," sahut Arjuna dengan cengirannya.

"Mas!" pekik Laila akhirnya tidak tahan lagi menahan volume suaranya.

Papi Dirga justru tertawa semakin keras melihat interaksi pengantin baru di depannya. "Sudah sudah. Papi izinkan kalian pindah ke rumah Arjuna besok. Barang-barangmu nanti biar dibantu angkut sama sopir Papi. Yang penting, kalian berdua harus rukun, jaga komunikasi, dan... cepat kasih Papi cucu ya, biar rumah ini ramai lagi."

Mendengar kata 'cucu', Laila rasanya ingin pingsan di tempat. Rencana melarikan diri dari pengawasan Papi memang berhasil, namun harga yang harus ia bayar malam ini berupa rasa malu dan intimidasi dari Arjuna rasanya terlalu mahal untuk kesehatan jiwanya.

...****************...

Setelah obrolan di ruang tengah selesai dengan kemenangan mutlak di pihak Arjuna, mereka berdua akhirnya kembali ke kamar Laila di lantai atas untuk mengemas beberapa pakaian cadangan yang akan dibawa besok pagi.

Begitu pintu kamar tertutup rapat, Laila langsung berbalik dan melempar bantal sofa kecil tepat ke arah dada Arjuna.

"Lo bener-bener keterlaluan ya," desis Laila dengan mata menyala penuh amarah, meskipun wajahnya masih menyisakan rona merah akibat drama di depan Papi tadi.

"Kenapa harus pakai improvisasi 'merayu' segala. Sejak kapan gue ngerayu lo. Terus apa-apaan denda kurung di kamar semalaman itu, ngomongnya di depan Papi pula," tukas Laila.

Arjuna dengan santai menangkap bantal tersebut dengan satu tangan, lalu meletakkannya kembali di atas sofa dengan gerakan santai. Ia berjalan mendekati Laila.

"Dek Laila dengerin Mas," ujar Arjuna, suaranya mendadak berubah menjadi sangat lembut dan penuh perhitungan, persis seperti mode seriusnya di bandara tadi siang.

"Kalau Mas gak ngomong begitu, Papi gak bakal percaya seratus persen. Papi itu tipe orang tua yang super peka. Dia cuma bakal melepas kamu pergi kalau dia yakin kamu pindah karena alasan cinta, bukan karena alasan mau menghindar."

Laila terdiam. Amarahnya yang meletup-letup mendadak tertahan di tenggorokan. Jarak mereka yang hanya beberapa senti itu membuat Laila kembali bisa menghirup aroma maskulin sabun mandi Arjuna yang menenangkan.

Arjuna mengulurkan tangannya yang besar, dengan sangat hati-hati membetulkan posisi tali daster satin Laila yang sedikit bergeser di bahunya. Sentuhan jemarinya yang hangat dan lembut di kulit bahu Laila menciptakan sengatan listrik aneh yang membuat jantung Laila kembali berdetak dengan ritme yang tidak beraturan.

"Mas tahu kamu terpaksa ngomong begitu demi agenda pribadimu," bisik Arjuna lembut, matanya menatap langsung ke dalam manik mata Laila dengan ketulusan yang pekat.

"Tapi setidaknya, malam ini senyum Papi itu nyata, Dek. Beliau bahagia melihat anaknya berjuang buat suaminya, meskipun suaminya ini cuma objek akting kamu."

Ada jeda keheningan yang intens di antara mereka. Laila terpaku, menatap rahang tegas Arjuna. Ada rasa bersalah yang teramat sangat yang tiba-tiba merayap di relung hati Laila. Pria di depannya ini, di balik segala ketengilan dan banyolan menyebalkannya, selalu memikirkan kebahagiaan Papi.

Namun, seperti biasa, atmosfer romantis itu hancur berantakan dalam hitungan detik.

Arjuna tiba-tiba menjauhkan wajahnya, lalu menyeringai lebar dengan mata yang berkedip jahil. "Nah, karena besok kita sudah resmi pindah ke rumah Mas, berarti malam ini adalah malam terakhir kita di bawah pengawasan Papi, Dek. Gimana kalau kita latihan simulasi denda kurung kamar dari sekarang? Biar besok pas di rumah dinas, kamu gak kaget lagi sama prosedur operasinya."

Laila langsung tersadar, rasa haru yang baru saja mekar di dadanya seketika menguap, digantikan oleh kekesalan tingkat dewa. Ia mundur tiga langkah, menyambar guling besar dari atas kasur dan langsung melemparnya tepat ke wajah tengil Arjuna.

"ARJUNA! TIDUR DI LANTAI SEKARANG JUGA ATAU GUE TERIAK BIAR PAPI MEMBATALKAN IZIN PINDAHNYA!!" teriak Laila frustrasi, wajahnya merah padam sempurna.

"Hahaha! Siap, instruksi dilaksanakan istriku," tawa Arjuna meledak puas, dengan cekatan menangkap guling tersebut dan langsung merebahkan diri di atas karpet bulu di bawah kasur dengan posisi berbantal lengan, masih terus terkekeh melihat wajah istrinya yang ditekuk itu.

Laila menggeram kesal, langsung naik ke atas kasur, menarik selimutnya dengan kasar dan memunggungi posisi tidur Arjuna di lantai. Meskipun mulutnya tak henti-hentinya menggerutu merutuki nasibnya yang harus bertahan untuk setahun ke depan.

...Bersambung......

1
sakura
....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!