NovelToon NovelToon
Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. ‎Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.

‎Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.

‎Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.

‎Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

‎Cahaya matahari pagi masuk menyelinap lewat celah tirai jendela, menerangi ruang makan yang luas dan tenang. Victor duduk di ujung meja panjang, menikmati suasana yang tetap terjaga hening sesuai kebiasaannya.

‎‎Ia menoleh ke arah kepala pelayan yang berdiri di sudut ruangan, suaranya datar tanpa nada emosi, "Bagaimana dengan wanita itu? Apakah dia sudah sarapan?"

‎‎Pelayan itu segera membungkuk hormat, lalu menjawab dengan hati-hati, "Maaf, Tuan. Saya sudah mengantar nampan berisi sarapan lengkap ke kamarnya setengah jam yang lalu, tapi sampai sekarang makanannya masih utuh dan belum disentuh sedikit pun."

‎‎Wajah Victor tak berubah, namun rahangnya sedikit mengeras. Ia meletakkan sendok kopinya perlahan, lalu berdiri tegak dan melangkah keluar dari ruang makan tanpa berkata apa-apa lagi. Langkahnya pasti dan terukur, menuju lantai dua tempat kamar tamu itu berada.

‎‎Sesampainya di depan pintu, ia tidak mengetuk lembut. Ia hanya mengangkat tangan dan mengetuk dua kali dengan ketukan yang tegas, cukup keras agar terdengar jelas dari dalam. Tanpa menunggu jawaban yang mungkin tak kunjung datang, ia memutar gagang pintu dan mendorongnya terbuka perlahan.

‎‎Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju ke meja samping tempat tidur. Benar saja, roti, bubur hangat, buah potong, dan susu masih tersusun rapi di sana, tak ada satu bagian pun yang tersentuh.

‎‎Ia lalu memandang ke arah tempat tidur. Kania duduk bersandar di headboard, selimut ditarik sampai ke dada, wajahnya masih pucat dan matanya terlihat sayu namun tetap waspada. Begitu melihat Victor berdiri di ambang pintu, tubuhnya langsung menegang, kedua tangannya mencengkeram ujung selimut erat-erat.

‎‎Victor berjalan masuk sejauh dua langkah, lalu berhenti di jarak yang cukup jauh, tangannya dimasukkan ke saku celana. Tatapannya tajam mengamati keadaan wanita itu, sebelum akhirnya berbicara dengan nada dingin.

‎‎"Kenapa tidak makan?" tanyanya tanpa basa-basi. "Apakah makanannya tidak enak, atau kau berpikir aku menaruh racun di dalamnya?"

‎‎Kania menunduk, suaranya terdengar lemah dan sedikit bergetar, "Aku… aku tidak lapar…"

‎‎Victor mendengus pelan, bukan tanda marah melainkan ungkapan ketidaksetujuan yang dingin. Ia melirik sekali lagi ke nampan makanan itu, lalu menatap ke mata Kania tanpa membiarkan pandangannya terhindar.

‎‎"Dengar baik-baik," ucapnya dengan nada tegas yang tak terbantahkan. "Jika kau ingin tetap lemah, terus ketakutan, dan tak sanggup bercerita apa yang terjadi padamu sampai kau bisa dikejar orang-orang seperti itu, silakan biarkan makanan itu membeku. Tapi jika kau ingin memiliki kekuatan untuk membela diri, menjelaskan semuanya, atau bahkan sekedar tidak menjadi beban yang menyusahkan di rumah ini, maka makanlah. Tubuh yang kosong tak akan bisa melawan siapa pun, bahkan ketakutan di dalam kepalamu sendiri."

‎‎Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan lebih rendah namun tetap tegas, "Aku tidak akan memaksa memasukkannya ke mulutmu, tapi ingat, aku tidak mau bertanggung jawab merawat orang yang sengaja membiarkan dirinya susah."

‎‎Victor tidak mendekat untuk membujuk, ia hanya berdiri diam menunggu jawaban atau tindakan dari Kania, membiarkan kata-katanya menggema dan meresap masuk ke pikiran wanita yang masih diliputi keraguan itu.

‎‎"Sekarang pilihannya sederhana. Kau mau bercerita sendiri siapa dirimu, dari mana, dan apa yang terjadi sampai kamu dikejar orang-orang di tengah hujan tadi malam. Atau kau lebih suka aku yang cari tahu semuanya dengan caraku sendiri?"

‎‎Ia memiringkan kepala sedikit, senyum tipis tanpa kehangatan terukir sekilas di sudut bibirnya, hanya mempertegas sifat dinginnya.

‎‎"Perlu kau ketahui, jika aku yang turun tangan, aku tak akan bertanya sopan atau menunggu jawaban lambat. Aku punya cara dan orang-orang yang bisa mengumpulkan segala informasi dalam hitungan jam, tanpa peduli apakah itu menyakitkan bagimu atau tidak. Dan apa yang aku temukan nanti, tak akan ada ruang untuk pembelaan atau penjelasan ulang darimu."

‎‎Victor menatap lurus ke matanya, suaranya menurun menjadi peringatan yang berat.

‎‎"Jadi putuskan sekarang. Beri aku kebenaran dari mulutmu sendiri, atau biarkan aku mengungkapnya dan kau tak akan suka dengan hasilnya."

‎‎Kania mengigit bibir bawahnya, haruskah ia percaya pada pria asing yang berdiri di hadapannya ini?

‎‎"Kenapa harus aku yang memilih?" bisik Kania lirih. "Hidupku sudah hancur semalam. Mau aku pilih yang mana pun, tetap saja aku yang kalah."

‎‎Victor terdiam beberapa detik. Tatapannya tak berkedip menatap Kania. "Kalau kau sudah merasa kalah sebelum bertarung, maka kau memang pecundang. Tapi aku tidak menyelamatkan pecundang."

‎‎Ia menarik napas pelan dan berbalik menuju pintu, tangannya sempat berhenti di gagang pintu.

‎Tanpa menoleh ia berkata datar, "Makan. Aku tidak memungut orang dari jalanan hanya untuk membiarkannya mati di rumahku."

‎‎Pintu tertutup pelan. Meninggalkan Kania dengan nampan makanan yang masih mengepul.

-

-

-

‎Ruang tamu rumah keluarga Haris yang luas dan berhias mewah terasa penuh dengan suasana yang sedikit kaku namun tetap berusaha terlihat sopan. Tuan Aryan, Nyonya Melani, dan Luna duduk di sofa utama, berhadapan dengan Haris serta kedua orang tuanya. Di meja tengah sudah tersaji hidangan dan minuman hangat, namun tak ada satu pun yang berani menyentuhnya lebih dulu.

‎‎Nyonya Melani tersenyum manis, berusaha mencairkan suasana dengan nada bicara yang halus namun penuh perhitungan.

‎‎"Maksud kedatangan kami ke sini hari ini adalah untuk menyampaikan permohonan maaf," ucapnya lembut, matanya berkeliling menatap satu per satu wajah di hadapannya sebelum akhirnya tertuju pada Haris yang duduk diam menunduk dengan wajah murung. "Kania tiba-tiba pergi dari rumah dan memutuskan hubungan pertunangannya dengan Haris,"

‎‎Haris terkejut mendengarnya, ia mengangkat wajahnya cepat dengan kening mengerut dalam.

‎‎Tuan Darius ikut terkejut, "Pergi? Pergi kemana? Apa maksudnya Kania pergi?"

‎‎"Begini Mas Darius..." Nyonya Melani melanjutkan dengan nada yang lebih lembut dan meyakinkan. "Kania sudah mengkhianati Haris dan memilih pergi dengan pria lain. Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena Kania kekeuh untuk pergi dan ingin tinggal dengan pria yang dicintainya itu,"

‎‎Nyonya Melani memasang wajah sedih dan berpura-pura menangis, "Maafkan kami karena sudah gagal mendidik Kania. Tapi perjanjian pertunangan ini sudah dibicarakan lama, sudah disepakati oleh kedua keluarga, dan sudah diketahui banyak orang. Sangat disayangkan jika semua rencana indah itu harus hancur hanya karena satu kesalahan. Masih ada jalan keluar yang jauh lebih baik, yang bisa menyelamatkan nama baik kedua belah pihak sekaligus menjaga hubungan baik keluarga kita."

‎‎Haris kembali terkejut, jelas-jelas dia tahu jika semalam Kania baru saja dinodai orang tak dikenal. Ataukah sebenarnya Kania bukan dinodai, tapi memang melakukannya atas dasar suka sama suka dengan pria lain? Namun belum sempat ia bersuara, Tuan Darius sudah berdiri lebih dulu.

‎‎"Tidak mungkin! Kania bukan anak seperti itu!" rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. "Kania anak yang baik dan sangat mencintai Haris, tidak mungkin dia berselingkuh dan pergi dengan laki-laki lain."

‎‎Nyonya Astrid ikut berdiri dan memegang lengan suaminya, "Tenang dulu, Mas. Kamu lihat... Kania tidak ikut kesini. Jadi mungkin, apa yang dikatakan oleh Melani bisa saja benar jika Kania sudah—"

‎‎"Aku tidak percaya!" potong Tuan Darius cepat, "Aku harus bertemu dengan Kania dan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri untuk membuktikannya."

‎‎Setelah mengatakan itu, Tuan Darius bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju ke ruang kerjanya. Nyonya Astrid tampak bingung harus berbuat apa, namun akhirnya ia memilih untuk menyusul suaminya.

‎‎Seketika ruangan itu kembali hening, hanya tersisa Haris, Luna, Nyonya Melani dan Tuan Aryan yang sejak tadi memilih untuk diam. Ia sendiri merasa berat untuk mengambil keputusan ini, tapi demi tetap menjaga hubungan baik dan nama baik akhirnya ia menyetujui saran istrinya untuk mengganti Kania dengan Luna sebagai calon istri Haris.

‎‎Kedua tangan Haris saling meremas kuat diatas lutut, ia mengangkat wajahnya, menatap Nyonya Melani dan Luna secara bergantian.

‎‎"Kenapa kalian berbohong? Bukankah Kania semalam di perkosa, bukan pergi dengan laki-laki lain,"

‎‎Nyonya Melani tersenyum kecil, "Tenang Nak Haris, kami melakukan ini untuk kebaikan semua. Dan harusnya kamu paham itu."

‎‎Ia menjeda sejenak sebelum melanjutkan dengan nada penuh penekanan, "Lebih baik orang bilang Kania selingkuh, daripada bilang anak kami diperkosa. Pilih mana? Nama baik keluarga kita, atau perasaanmu?"

‎‎Luna yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara dengan suara manis. "Kak Haris... aku bisa lebih baik dari Kak Kania. Aku tidak akan membuat malu keluarga kita."

‎‎Haris terdiam lama. Kata-kata itu masuk ke telinganya, namun hatinya terasa berat dan menolak. Di permukaan, akal sehatnya memang setuju, Kania sudah rusak, sudah ternoda, dan tidak pantas lagi. Namun jauh di lubuk hati yang paling dalam, di balik rasa kecewa, marah, dan rasa jijik yang ia paksakan tumbuh, perasaan cinta yang tulus terhadap Kania masih ada di sana, masih hidup dan menyakitkan. Ia masih teringat senyum wanita itu, tawa mereka, dan janji-janji indah yang pernah diucapkan.

-

-

-

Bersambung...

1
MamDeyh
Dihh Hariss... Lakik pengecut.. 😒
Rizky Manik
ternyata mama Haris juga kek Dajjal ya🤣
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
Rizky Manik
bukan Kania memang lun tapi kanaya😏
〈⎳ FT. Zira
kamu nanyaaa/Speechless/
〈⎳ FT. Zira
bukan hanya mirip, ya emang Kania🤧
〈⎳ FT. Zira
bentar lagi juga kamu bakal liat, siapin jantung aja
〈⎳ FT. Zira
mana mau Vic deketin kalo hatinya dah tertanam buat wanita lain.
〈⎳ FT. Zira
melihat, tapi gak dianggap ada🤣
partini
akhir nya bertemu
Agunk Setyawan
kelamaan x mau bongkar aja nunggu ber bab" /Pooh-pooh/ thor
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
apa ini emang rencana ibu tirinya buat nyingkirin kania 😠
Rizky Manik
lanjut thor🤭
Rizky Manik
tik tak tik tok
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
〈⎳ FT. Zira
panggungmu belum tersedia ternyata bapak🤣
〈⎳ FT. Zira
bisa pakai banget, buktinya kamu sampe gelisah kan.😏
W I 2 K
bisa dipercepat g sih pestanya...., dlm hitungan 1,2..3 gtu mulai.... 🤣🤣💃💃💃
Rizky Manik
aduh thor GK sabar ni malam dipesta
lanjut dong thor🤭🤭
🔥Violetta🔥: Bentar lagi kak pestanya 😁
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mau nguji buat dijadikan istri sah🤭
〈⎳ FT. Zira
dah telat... hari saat Haris diam saar insiden menimpa Kania, semua dah berakhir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!