NovelToon NovelToon
Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Kania (Kembalinya Wanita Yang Ternoda)

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:31.9k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia direnggut kehormatannya dan kehilangan harga dirinya. ‎Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.

‎Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.

‎Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.

‎Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

‎Cahaya matahari pagi masuk menyelinap lewat celah tirai jendela, menerangi ruang makan yang luas dan tenang. Victor duduk di ujung meja panjang, menikmati suasana yang tetap terjaga hening sesuai kebiasaannya.

‎‎Ia menoleh ke arah kepala pelayan yang berdiri di sudut ruangan, suaranya datar tanpa nada emosi, "Bagaimana dengan wanita itu? Apakah dia sudah sarapan?"

‎‎Pelayan itu segera membungkuk hormat, lalu menjawab dengan hati-hati, "Maaf, Tuan. Saya sudah mengantar nampan berisi sarapan lengkap ke kamarnya setengah jam yang lalu, tapi sampai sekarang makanannya masih utuh dan belum disentuh sedikit pun."

‎‎Wajah Victor tak berubah, namun rahangnya sedikit mengeras. Ia meletakkan sendok kopinya perlahan, lalu berdiri tegak dan melangkah keluar dari ruang makan tanpa berkata apa-apa lagi. Langkahnya pasti dan terukur, menuju lantai dua tempat kamar tamu itu berada.

‎‎Sesampainya di depan pintu, ia tidak mengetuk lembut. Ia hanya mengangkat tangan dan mengetuk dua kali dengan ketukan yang tegas, cukup keras agar terdengar jelas dari dalam. Tanpa menunggu jawaban yang mungkin tak kunjung datang, ia memutar gagang pintu dan mendorongnya terbuka perlahan.

‎‎Begitu masuk, pandangannya langsung tertuju ke meja samping tempat tidur. Benar saja, roti, bubur hangat, buah potong, dan susu masih tersusun rapi di sana, tak ada satu bagian pun yang tersentuh.

‎‎Ia lalu memandang ke arah tempat tidur. Kania duduk bersandar di headboard, selimut ditarik sampai ke dada, wajahnya masih pucat dan matanya terlihat sayu namun tetap waspada. Begitu melihat Victor berdiri di ambang pintu, tubuhnya langsung menegang, kedua tangannya mencengkeram ujung selimut erat-erat.

‎‎Victor berjalan masuk sejauh dua langkah, lalu berhenti di jarak yang cukup jauh, tangannya dimasukkan ke saku celana. Tatapannya tajam mengamati keadaan wanita itu, sebelum akhirnya berbicara dengan nada dingin.

‎‎"Kenapa tidak makan?" tanyanya tanpa basa-basi. "Apakah makanannya tidak enak, atau kau berpikir aku menaruh racun di dalamnya?"

‎‎Kania menunduk, suaranya terdengar lemah dan sedikit bergetar, "Aku… aku tidak lapar…"

‎‎Victor mendengus pelan, bukan tanda marah melainkan ungkapan ketidaksetujuan yang dingin. Ia melirik sekali lagi ke nampan makanan itu, lalu menatap ke mata Kania tanpa membiarkan pandangannya terhindar.

‎‎"Dengar baik-baik," ucapnya dengan nada tegas yang tak terbantahkan. "Jika kau ingin tetap lemah, terus ketakutan, dan tak sanggup bercerita apa yang terjadi padamu sampai kau bisa dikejar orang-orang seperti itu, silakan biarkan makanan itu membeku. Tapi jika kau ingin memiliki kekuatan untuk membela diri, menjelaskan semuanya, atau bahkan sekedar tidak menjadi beban yang menyusahkan di rumah ini, maka makanlah. Tubuh yang kosong tak akan bisa melawan siapa pun, bahkan ketakutan di dalam kepalamu sendiri."

‎‎Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan lebih rendah namun tetap tegas, "Aku tidak akan memaksa memasukkannya ke mulutmu, tapi ingat, aku tidak mau bertanggung jawab merawat orang yang sengaja membiarkan dirinya susah."

‎‎Victor tidak mendekat untuk membujuk, ia hanya berdiri diam menunggu jawaban atau tindakan dari Kania, membiarkan kata-katanya menggema dan meresap masuk ke pikiran wanita yang masih diliputi keraguan itu.

‎‎"Sekarang pilihannya sederhana. Kau mau bercerita sendiri siapa dirimu, dari mana, dan apa yang terjadi sampai kamu dikejar orang-orang di tengah hujan tadi malam. Atau kau lebih suka aku yang cari tahu semuanya dengan caraku sendiri?"

‎‎Ia memiringkan kepala sedikit, senyum tipis tanpa kehangatan terukir sekilas di sudut bibirnya, hanya mempertegas sifat dinginnya.

‎‎"Perlu kau ketahui, jika aku yang turun tangan, aku tak akan bertanya sopan atau menunggu jawaban lambat. Aku punya cara dan orang-orang yang bisa mengumpulkan segala informasi dalam hitungan jam, tanpa peduli apakah itu menyakitkan bagimu atau tidak. Dan apa yang aku temukan nanti, tak akan ada ruang untuk pembelaan atau penjelasan ulang darimu."

‎‎Victor menatap lurus ke matanya, suaranya menurun menjadi peringatan yang berat.

‎‎"Jadi putuskan sekarang. Beri aku kebenaran dari mulutmu sendiri, atau biarkan aku mengungkapnya dan kau tak akan suka dengan hasilnya."

‎‎Kania mengigit bibir bawahnya, haruskah ia percaya pada pria asing yang berdiri di hadapannya ini?

‎‎"Kenapa harus aku yang memilih?" bisik Kania lirih. "Hidupku sudah hancur semalam. Mau aku pilih yang mana pun, tetap saja aku yang kalah."

‎‎Victor terdiam beberapa detik. Tatapannya tak berkedip menatap Kania. "Kalau kau sudah merasa kalah sebelum bertarung, maka kau memang pecundang. Tapi aku tidak menyelamatkan pecundang."

‎‎Ia menarik napas pelan dan berbalik menuju pintu, tangannya sempat berhenti di gagang pintu.

‎Tanpa menoleh ia berkata datar, "Makan. Aku tidak memungut orang dari jalanan hanya untuk membiarkannya mati di rumahku."

‎‎Pintu tertutup pelan. Meninggalkan Kania dengan nampan makanan yang masih mengepul.

-

-

-

‎Ruang tamu rumah keluarga Haris yang luas dan berhias mewah terasa penuh dengan suasana yang sedikit kaku namun tetap berusaha terlihat sopan. Tuan Aryan, Nyonya Melani, dan Luna duduk di sofa utama, berhadapan dengan Haris serta kedua orang tuanya. Di meja tengah sudah tersaji hidangan dan minuman hangat, namun tak ada satu pun yang berani menyentuhnya lebih dulu.

‎‎Nyonya Melani tersenyum manis, berusaha mencairkan suasana dengan nada bicara yang halus namun penuh perhitungan.

‎‎"Maksud kedatangan kami ke sini hari ini adalah untuk menyampaikan permohonan maaf," ucapnya lembut, matanya berkeliling menatap satu per satu wajah di hadapannya sebelum akhirnya tertuju pada Haris yang duduk diam menunduk dengan wajah murung. "Kania tiba-tiba pergi dari rumah dan memutuskan hubungan pertunangannya dengan Haris,"

‎‎Haris terkejut mendengarnya, ia mengangkat wajahnya cepat dengan kening mengerut dalam.

‎‎Tuan Darius ikut terkejut, "Pergi? Pergi kemana? Apa maksudnya Kania pergi?"

‎‎"Begini Mas Darius..." Nyonya Melani melanjutkan dengan nada yang lebih lembut dan meyakinkan. "Kania sudah mengkhianati Haris dan memilih pergi dengan pria lain. Kami tidak bisa berbuat apa-apa karena Kania kekeuh untuk pergi dan ingin tinggal dengan pria yang dicintainya itu,"

‎‎Nyonya Melani memasang wajah sedih dan berpura-pura menangis, "Maafkan kami karena sudah gagal mendidik Kania. Tapi perjanjian pertunangan ini sudah dibicarakan lama, sudah disepakati oleh kedua keluarga, dan sudah diketahui banyak orang. Sangat disayangkan jika semua rencana indah itu harus hancur hanya karena satu kesalahan. Masih ada jalan keluar yang jauh lebih baik, yang bisa menyelamatkan nama baik kedua belah pihak sekaligus menjaga hubungan baik keluarga kita."

‎‎Haris kembali terkejut, jelas-jelas dia tahu jika semalam Kania baru saja dinodai orang tak dikenal. Ataukah sebenarnya Kania bukan dinodai, tapi memang melakukannya atas dasar suka sama suka dengan pria lain? Namun belum sempat ia bersuara, Tuan Darius sudah berdiri lebih dulu.

‎‎"Tidak mungkin! Kania bukan anak seperti itu!" rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. "Kania anak yang baik dan sangat mencintai Haris, tidak mungkin dia berselingkuh dan pergi dengan laki-laki lain."

‎‎Nyonya Astrid ikut berdiri dan memegang lengan suaminya, "Tenang dulu, Mas. Kamu lihat... Kania tidak ikut kesini. Jadi mungkin, apa yang dikatakan oleh Melani bisa saja benar jika Kania sudah—"

‎‎"Aku tidak percaya!" potong Tuan Darius cepat, "Aku harus bertemu dengan Kania dan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri untuk membuktikannya."

‎‎Setelah mengatakan itu, Tuan Darius bergegas pergi meninggalkan ruangan tersebut menuju ke ruang kerjanya. Nyonya Astrid tampak bingung harus berbuat apa, namun akhirnya ia memilih untuk menyusul suaminya.

‎‎Seketika ruangan itu kembali hening, hanya tersisa Haris, Luna, Nyonya Melani dan Tuan Aryan yang sejak tadi memilih untuk diam. Ia sendiri merasa berat untuk mengambil keputusan ini, tapi demi tetap menjaga hubungan baik dan nama baik akhirnya ia menyetujui saran istrinya untuk mengganti Kania dengan Luna sebagai calon istri Haris.

‎‎Kedua tangan Haris saling meremas kuat diatas lutut, ia mengangkat wajahnya, menatap Nyonya Melani dan Luna secara bergantian.

‎‎"Kenapa kalian berbohong? Bukankah Kania semalam di perkosa, bukan pergi dengan laki-laki lain,"

‎‎Nyonya Melani tersenyum kecil, "Tenang Nak Haris, kami melakukan ini untuk kebaikan semua. Dan harusnya kamu paham itu."

‎‎Ia menjeda sejenak sebelum melanjutkan dengan nada penuh penekanan, "Lebih baik orang bilang Kania selingkuh, daripada bilang anak kami diperkosa. Pilih mana? Nama baik keluarga kita, atau perasaanmu?"

‎‎Luna yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara dengan suara manis. "Kak Haris... aku bisa lebih baik dari Kak Kania. Aku tidak akan membuat malu keluarga kita."

‎‎Haris terdiam lama. Kata-kata itu masuk ke telinganya, namun hatinya terasa berat dan menolak. Di permukaan, akal sehatnya memang setuju, Kania sudah rusak, sudah ternoda, dan tidak pantas lagi. Namun jauh di lubuk hati yang paling dalam, di balik rasa kecewa, marah, dan rasa jijik yang ia paksakan tumbuh, perasaan cinta yang tulus terhadap Kania masih ada di sana, masih hidup dan menyakitkan. Ia masih teringat senyum wanita itu, tawa mereka, dan janji-janji indah yang pernah diucapkan.

-

-

-

Bersambung...

1
W I 2 K
terimakasih so much kk author... ending yg manis... kayak aku 🤣🤣😍😍
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih kembali kakak /Kiss//Kiss//Kiss/
total 1 replies
MamDeyh
Loveee sekebon kakkkk
🔥Violetta🔥: /Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
total 1 replies
Elina thea
selamat berbahagia kania_victor,jangan lupa ngadon biar ada tambahan keluarga baru....
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak sudah mengikuti cerita ini sampai akhir 😁🙏
total 1 replies
Elina thea
betapa beruntungnya si luna...di saat terpuruk pak aryan sebagai ayah slalu ada di sampingnya,kasian Kania.....
𝓮𝓵𝓯𝓪𝓷𝓪𝔂𝓪 ₳ⱤⱤ₣₳₳ 🕸🌪
tau² udh end aja thor pengen liat victor & kania junior 🤭 sumpah cerita nya bagus i like it thor 🥰
semangat trs untuk karya² selanjutnya kk 😘
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak 😁🙏
total 1 replies
Rizky Manik
terimakasih sudah menyajikan karya yg luar biasa thor
kamu dan karyamu sangat keren🥰🥰
peluk jauh🤗
teruslah berkarya thor💪🏼
🔥Violetta🔥: Wah terimakasih banyak kakak /Drool//Drool//Drool/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
terima kasih atas karya luar biasanya kaka..tetap smangat untuk lanjut karya selanjutnyaaa/Kiss//Kiss/
🔥Violetta🔥: Terimakasih banyak kakak sudah mengikuti cerita ini sampai akhir 😁🙏
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
mereka akhirbya saling menerima keadaan🥹
🔥Violetta🔥: Ya.. mau gimanaa lagi 🤭🤭🤭
total 1 replies
Manis
bulan depan apa Minggu depan nih, paragraf sebelumnya bulan depan
🔥Violetta🔥: Makasih kak udah bantu koreksi... tandai aja kalau ada typo nanti aku revisi 😁🙏
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
siap untuk kondangan
W I 2 K: cosplay jaelangkung dong 🤣🤣🤣🤣
total 4 replies
W I 2 K
diperkaos y lun..... kasiannnnnnnnn, kehormatan diblas keHormatan dibayar TUNAI !!!!!!!
〈⎳ FT. Zira
andai semua tindakann salah bisa selesai dengan satu kata, menyesal.. damailah indonesia ini🤧🤧🤧
Rizky Manik
sebenarnya aku kesal sama ayah Aryan ini, cuman kita juga harus ngerti posisi ayah Aryan, cuman Luna yg dia punya saat ini. dia cuman ingin berusaha menjaga keluarga yg tersisa agar tak terlalu menyesal
kymlove...
udah di perkosa rame2 tetap dimaafin dan gak di usir kayak kania dulu, fiks sih.. bapak blo'on matii aja kau!!
Lee Mba Young
Kita lihat bakal di usir gk di Luna itu. kl gk berarti pak Aryan cm sayang ma Luna gk sayang ma Kania.
Lee Mba Young
di perkaos pasti Luna. tp Wes gk perawan kn dia.
zahrahaifa
pasti abis diperkaos.... rasain....1 sama....kita liat pemirsah apakah anak kesayangan bakalan diusir
kymlove...
gantian lun, kamu juga ngrasain rsanya di nodai orang lain, yah meskipun km udh gak suci sih kan sisa 2 lelaki 😌
zahrahaifa
mampoooss lu ... culik aja pak.... enak bener idup lo udah berbuat jahat + mau ngebunuh orang masih aje lenggang kangkung... klo perlu buang ke tengah laut
🔥Violetta🔥: Astaga /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
berharap boleh lun,,tapi lihat keadaan lah.. masih mimpi aja🤧
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!