NovelToon NovelToon
Story Of Love

Story Of Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: Bunda Nastiti

Restu orang tua memang satu hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, namun apa kita harus menerima begitu saja jodoh pilihan orang tua kita sementara hati kita sudah terpaut pada yang lain. Bisakah kita menjalani kehidupan jika bersama orang yang tidak kita inginkan. Namun, apa sudah jadi jaminan. Kita akan bahagia jika hidup bersama orang yang kita pilih?

layaknya permen nona-nona, ada pait.. asam.. manis... begitu pula hidup. Tinggal kita saja, mana yang kita pilih... itulah yang akan kita jalani.

Begitu pula jalan hidup dari seorang perempuan bernama Rani yang lengkap dengan lika liku hidup, up and down. Penasaran??? yuuuk ikuti kisah nya....


Selamat menikmati 😊semoga cocok di hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nastiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Hari ini aku berangkat kerja dengan kepala yang lumayan berat, mau tak mau aku berangkat karena hari ini jadwal bayar tagihan ke suplier.

"Pucet amat, Ran?" tanya Mas Yunus saat kami tidak sengaja berpapasan di gerbang samping.

"Tapi tetep cantik kan?" tanyaku sambil menaik turunkan alisku.

"Pengen ngarungin tapi anak orang!" jawabnya kesal. "Tahu lagi sakit ngapain masuk?" imbuhnya.

"Kan jadwal bayar tagihan ke suplier, Mas! Ntar didemo aku kalau nggak datang!"

"Berangkat sama siapa? Diantar Azka?" tanyanya karena tidak melihat motor yang biasa aku gunakan.

"Diantar cowok dong!" jawabku sambil berlalu, ternyata Mas Yunus mengikuti langkahku. Dia kembali masuk dan terus mengikuti ku sampai ke ruangan.

"Ih, apaan sih! Ngikutin aja! Kerja sana, cari duit yang banyak! Inget Mas, seserahan itu dibeli pakai duit lho! Nggak pakai gombalan jadul!"

"Emang udah mau dihalalin?" tanyanya sambil tersenyum menggoda.

"Kok aku? Pacar kamu lah!" jawabku sambil membuka kunci lemari tempat biasa menyimpan berkas.

"Kan sayang nya sama kamu!" ucapnya untuk kesekian kalinya.

Aku hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Kulihat jam di pergelangan tangan kiriku. Masih ada waktu dua puluh menit lagi sebelum jam kantor dimulai. Sepertinya cukup untuk keluar sebentar sekedar beli camilan.

"Ciyyyeee.... pagi-pagi udah diapelin aja, Bu!" goda Nita yang baru datang.

"Tahu nih, ngikut mulu kayak bayi belum dikasih makan sama emaknya!" jawabku.

Setelah semua berkas aku siapkan, aku keluar ruangan.

"Mbak Bon, nitip nggak? Aku mau keluar bentar! Cari camilan."

Kami terbiasa tidak memanggil nama, "Mbak Bon" Ada kisah tersendiri di balik panggilan itu. Saat keadaan ramai, dan kerjaan padat ditambah beberapa personil tidak masuk, jadilah kami tim ndlosor. Satu orang bisa menghandle beberapa pekerjaan dan harus cepat hingga terasa lelah dan ingin menyerah. Hingga terucap kata "Ampus Bon" plesetan dari "Ampun Bos"

"Em, apa ya? Terserah deh, yang gurih-gurih aja ya!" jawabnya

"Oke! Nanti aku cari yang ada tulisan " Terserah""

"Hahahhaha... dasar koplak! Kelamaan jomblo!" ejeknya.

"Hem, masalah buat lhooo?" tanyaku.

"Tuh anak orang cepet dikasih jawaban! Biar pagi-pagi nggak ngikut aja terus."

Aku hanya menggedikkan bahu lalu melangkah pergi. Dan Lagi-lagi Mas Yunus mengikuti langkahku.

"Apa sih Mas? Ngikut mulu!"

"Sapa yang ngikut! Ge Er! Aku mau beli kopi!" jawabnya.

"Alasan!!!"

Dia hanya terkekeh mendengar aku protes.

Tidak lama, kami sudah kembali standby di meja masing-masing. Hari ini berat, banyak pekerjaan penting yang harus selesai hari ini juga.

Saking padatnya, tak terasa sudah masuk jam pulang. Alhamdulillah, semua point penting sudah aku selesaikan. Setidaknya meski masih ada sisa tinggal yang ringan saja dan bisa dikerjakan besok.

Kudengar getaran ponsel di atas meja saat aku bersiap pulang.

"Assalamu'alaikum! Iya Ka, ada apa?" tanyaku pada Azka.

"Mbak ndek mana? Kerja ta tadi?"

"Iya, ini mau pulang kok!" jawabku.

"Ya udah, tunggu ya! Aku jemput, nih aku juga udah mau pulang."

"Oke! Makasih ya!"

Setelah menutup panggilan dari Azka, aku segera keluar, lebih nyaman menunggu Azka di teras depan daripada didalam ruangan. Bisa-bisa laptop yang sudah mati kembali menyala dan berkas yang rapi kembali berserakan.

Baru saja aku duduk di depan bersama Nita, kulihat Mas Yunus datang lalu memarkirkan motor nya.

"Mbak Bon, kiriman habis kan tadi?" tanyaku pada Nita.

"Habis, tapi ngapain Mas Yunus balik kantor. Padahal dia tahu lho kiriman udah habis." jawab Nita.

" Hemmm, entah!" jawabku.

"Kok balik Mas, tumben. Padahal tadi kan udah tahu kiriman habis." tanya Nita pada Mas Yunus.

"Mau jemput Ibu Negara!" jawabnya singkat sambil tersenyum.

"Rani? Lhaaa..... si Azka sudah jalan kesini mau jemput!"

"Emang iya Ran?" tanya nya padaku.

"Iya, tadi dia telpon. Di suruh Ibu jemput kayaknya."

"Oh, ya udah. Aku pulang aja kalau gitu ya!" Ucapnya kecewa.

"Iya, maaf ya Mas. Tapi, makasih udah ada niatan ngantar pulang." jawabku.

Mas Yunus hanya tersenyum. Tidak lama kemudian, jemputan kami sama-sama sudah datang.

*****

Pagi ini, aku berangkat ke luar kota menemani Bu Bos kontrol kantor cabang setelah dua minggu ini tertunda. Kami baru sampai sekitar jam sembilan. Baru juga sampai, ponselku berbunyi.

Ternyata Bapak yang menelepon. Aku ijin menerima telepon sebentar pada Bu Bos.

"Tumben Bapak telepon!" gumamku lirih. "Assalamu'alaikum, Pak!"

"Waalaikum salam, Mbak! Udah sampai?"

"Sampun Pak, tumben Bapak telepon. Ada apa, Pak?"

"Mbak, adek ada masalah ini."

"Masalah? Masalah apa, Pak?" tanyaku penasaran.

"Tadi pagi pas Bapak mau berangkat, orang tuanya si Putri datang ke rumah. Bilang kalau si Putri hamil. Sudah tujuh bulan katanya, terus kalau nanti malam keluarga kita nggak datang, Azka mau dilaporin ke polisi. Bapak cuma bingung gimana ngomong nya ke Ibu. Tahu sendiri kan Mbak, Ibu nggak sreg kalau Azka sama Putri."

Aku diam, sepanjang Bapak bercerita tadi, aku hanya bisa mengelus dada sambil beristighfar.

"Mbak?" tanya Bapak.

"Iya Pak, maaf! Cuma kaget saja, padahal aku sering mengingatkan ke Azka. Pacaran boleh, harus tahu batasan. Jangan bikin malu orang tua."

"Iya, terus gimana ini Mbak? Azka katanya tadi mau minggat aja."

"Astagfirullah! Udah pinter bikin anak tapi pikiran masih kayak bocah. Ya sudah, Bapak tenang njeh. Habis ini Mbak telpon Azka nya. Setelah itu baru telpon Ibu."

"Iya wes. Kalau gitu Bapak lanjut kerja ya. Ini juga baru sampai. Telat tadi datangnya. Tapi Mbak nanti pulang kan? Nggak nginep kayak biasanya?"

"Mboten Pak, pulang kok agak sorean nanti. Cuma ngecek satu cabang aja."

"Ya udah, Hati-hati ya!" pesen Bapak.

"Njeh, Pak!"

Setelah sambungan telepon terputus, aku diam sejenak. Menenangkan diri, menyusun kata apa yang akan kugunakan untuk menjelaskan semuanya yang terjadi pada Ibu. Tapi sebelumnya aku telpon adikku lebih dulu.

"Assalamu'alaikum, Mbak," jawab Azka saat panggilan sudah terhubung.

"Wa'alaikumsalam, kamu dimana dek?"

"Di kerjaan, Mbak. Tapi nggak bisa fokus. Mbak pasti sudah di telepon Bapak ya?"

"Iya," jawabku.

"Mbak, maaf ya. Aku sudah mengecewakan kalian semua."

"Iya, Bapak bilang kamu mau minggat aja!"

"Iya Mbak, habis nikahan. Nanti malam aku mau kesana aja. Biar aku bereskan sendiri aja. Nanti kalau anakku udah besar aku pasti pulang ketemu sama Ibu." jawabnya. Dari suaranya aku tahu dia sedang menahan tangis.

"Kamu pikir kalau kamu minggat, Ibu bakal senang gitu? Pulang ya, Dek! Kita selesaikan semua bersama. Ibu, Bapak pastinya kecewa. Dan akan lebih kecewa lagi kalau kamu minggat. Tunjukkan kalau kamu bisa belajar dan tanggung jawab dari kesalahan. Tunjukkan kalau kamu bisa berubah dan bisa dibanggakan. Paham?"

"Tapi Mbak, aku udah buat malu Ibu sama Bapak!"

"Asal kamu tulus minta maaf dan mengakui kesalahan di depan mereka, InsyaAllah Mbak yakin pasti Ibu dan Bapak akan memaafkan kamu dek!"

"Sudah ya, kali ini aja. Mbak minta sama kamu. Ikut apa kata Mbak. Pulang, kita selesaikan semuanya sama-sama."

"Njeh Mbak. Maafin Azka ya Mbak!"

"Iya, sudah tenang ya. Biar Mbak yang matur ke Ibu. Kamu hati-hati kerjanya. Fokus ya! Ambil wudhu kalau masih gelisah."

"Iya Mbak."

"Ya sudah, Mbak juga mau lanjut kerja. Biar bisa pulang cepat. Kita bisa segera menyelesaikan semua dan datang sama-sama ke rumah Putri. Mbak mau telpon Ibu dulu ya!"

"Iya Mbak."

Setelah itu, aku segera mencari kontak Ibu. Tidak terlalu lama, panggilan sudah tersambung.

"Assalamu'alaikum, Mbak!"

"Waalaikumsalam, Bu. Bu, bisa agak minggir kemana dulu gitu! Ada yang mau Mbak omongkan sama Ibu. Jangan lupa bawa headset njeh!"

"Iya Mbak. Sebentar ya. Ibu ijin ke toilet sebentar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!