Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Selesai menikmati makan siang yang penuh dengan emosi tersembunyi, Daniel dan Shanum memutuskan untuk langsung pulang. Mereka sudah tidak sabar ingin membagikan kabar bahagia ini kepada Tuan Lee dan Nyonya Tania yang pasti sedang diselimuti rasa cemas di rumah.
Setibanya di kediaman mewah keluarga Lee, pintu utama langsung terbuka lebar. Mereka disambut hangat oleh Nyonya Tania yang tampak sedang menimang Baby Ziva, didampingi oleh Tuan Lee yang berdiri di sisinya.
Melihat putri kecilnya, kerinduan Shanum yang membuncah sejak di pengadilan tadi seolah tumpah. Ia hampir saja berlari untuk langsung merengkuh Ziva ke dalam gendongannya. Namun, Shanum segera mengerem langkahnya. Sebagai ibu susu yang paham kesehatan, ia sadar kondisi tubuhnya saat ini tidak steril setelah seharian berada di luar rumah dan area pengadilan.
Tanpa banyak bicara, Daniel dan Shanum bergegas naik ke lantai dua untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian mereka di kamar masing-masing. Setelah tubuh mereka segar dan bersih, barulah mereka berkumpul di ruang keluarga lantai dasar untuk mengobrol santai.
Saat Daniel menyampaikan bahwa majelis hakim menolak gugatan Klara secara mutlak dan memenangkan hak asuh Ziva, tangis haru Nyonya Tania pecah. Tuan Lee berkali-kali menepuk bahu putranya dengan bangga. Mereka sangat bahagia karena pada akhirnya, tidak akan ada lagi keributan dramatis soal hak asuh Ziva, dan nama baik Shanum pun kini telah terselamatkan secara hukum lewat tuntutan balik yang diajukan Pengacara Jacob.
*
*
Waktu bergulir hingga menjelang malam. Setelah memastikan Baby Ziva tertidur lelap di kamarnya dengan ditemani oleh Bik Sumi, Shanum melangkah kembali ke dalam kamar pengantin dengan perasaan yang sedikit lebih ringan.
Namun, begitu melangkah masuk, ia mendapati Daniel sudah duduk di tepi ranjang menunggunya. Di tangan kanan pria itu, terdapat segelas susu putih hangat yang permukaannya masih mengepulkan uap tipis.
"Minumlah dulu susu ini sebelum kamu tidur, Num. Biar tubuhmu jauh lebih relaks setelah seharian menahan tegang," ucap Daniel lembut sembari mengulurkan gelas tersebut.
Shanum melangkah mendekat, menyunggingkan senyum tipis, lalu meraih gelas tersebut. Di bawah tatapan intens dari mata tajamnya Daniel, Shanum meminum susu hangat itu perlahan hingga tandas tanpa sisa. Setelah selesai, ia meletakkan gelas kosong itu di atas meja kayu.
Shanum tidak langsung berbaring di balik benteng bantalnya. Ia memilih untuk mendudukkan diri di samping suaminya. Ada satu hal pelik yang sejak siang tadi berputar-putar di kepalanya, mengganjal di dalam hati hingga membuatnya tidak tenang.
"Pak Dokter... boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Shanum lirih.
Daniel membalikkan posisi tubuhnya. Kini ia duduk menyamping, menghadap penuh ke arah Shanum. "Apa yang ingin kau tanyakan padaku, Num? Tanyakan saja," jawabnya tenang sembari melepaskan kacamata yang bertengger di hidungnya, lalu meletakkannya di atas meja nakas di samping tempat tidur.
Melihat wajah asli Daniel dari jarak dekat tanpa sekat kacamata membuat Shanum mendadak gugup. Lidahnya mendadak terasa kelu untuk merangkai kata. "Itu... eehhh... soal... soal perkataan dari Nyonya Klara tadi siang di pengadilan, Pak. S... soal... ehh..."
Shanum terbata-bata, merasa tidak enak hati untuk melanjutkan kalimatnya. Namun, Daniel seolah langsung tanggap. Pria itu mengulas senyum tipis yang sarat akan kepasrahan. Ia sudah bertekad tidak akan pernah menutupi kekurangan terbesarnya ini kepada wanita yang namanya mulai terukir indah di lubuk hatinya.
"Soal ucapan Klara yang mengatakan bahwa aku adalah pria yang cacat? Itu kan yang ingin kau tanyakan, Num?" potong Daniel langsung secara jantan.
Shanum tersentak pelan, lalu mengangguk dengan sangat pelan. Wajahnya langsung tertunduk, memancarkan rasa bersalah yang kentara. "Maaf, Pak Dokter... saya sama sekali tidak ada maksud lain atau ingin menyinggung. Hanya saja... bagi saya, sosok seperti anda adalah pria yang sempurna. Saya sama sekali tidak melihat ada kekurangan fisik apa pun pada diri anda."
Mendengar penilaian jujur dan tulus dari Shanum, senyuman Daniel semakin getir. Ia menghela napas panjang dan berat demi mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. Perlahan, Daniel mengulurkan kedua tangan kekarnya, meletakkannya di atas kedua bahu Shanum, menatap lurus ke dalam bola mata wanita itu.
"Num... secara fisik luar, aku memang terlihat sehat. Tapi di dalam tubuh ku, aku adalah pria penderita ejakulasi dini sekunder akibat trauma psikologis masa lalu. Kau... kau pasti tahu dan paham kan, itu jenis gangguan apa?" tanya Daniel dengan suara yang bergetar menahan malu yang teramat sangat. Sebagai seorang dokter pria, mengakui hal ini di depan wanita yang disukainya adalah tamparan ego yang paling hebat.
Shanum yang memiliki pengetahuan dasar tentang medis dan biologi tentu paham betul apa arti dari gangguan tersebut. Ia seketika terbelalak, reflex menutup mulutnya dengan sebelah tangan karena tidak percaya.
"Pak... apakah Pak Dokter sedang bercanda sekarang?" tanya Shanum dengan suara bergetar, mencari kepastian.
"Tatap mataku, Shanum. Apakah di mataku ada tersirat bahwa aku sedang bercanda dengan harga diriku sendiri?" balas Daniel seraya menatap dalam-dalam sepasang matanya Shanum.
Shanum tertegun. Sorot matanya Daniel begitu redup, terluka, dan jujur. Perlahan, Shanum menggelengkan kepalanya. "S...saya... saya percaya, Pak Dokter."
"Itu sebabnya, Num... itu sebabnya aku merasa tidak akan pernah bisa membahagiakan wanita mana pun secara utuh di atas ranjang... termasuk kamu," cicit Daniel, suaranya melemah.
Deg!
Jantung Shanum serasa berhenti berdetak sesaat mendengar kalimat terakhir Daniel.
"Maksud... maksud Pak Dokter apa?"
Daniel kembali menarik napasnya dalam-dalam, mencoba mengendalikan detak jantungnya yang kini berdegup sangat kencang karena rasa gugup yang luar biasa. Ia meremas pelan bahunya Shanum, menyalurkan seluruh rasa yang selama ini ia kunci rapat di balik dinding esnya.
"Aku tahu dan sadar diri, Num. Aku adalah pria dengan kekurangan seperti ini. Dan jika... jika aku membiarkan diriku memiliki perasaan yang lebih terhadapmu, justru aku takut kau hanya akan menderita jika bersamaku kelak," tutur Daniel lirih namun terdengar begitu tulus.
Shanum merasa pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Ia benar-benar syok, namun ada getaran aneh yang menjalar di dadanya. "Maksud Pak Dokter... perasaan lebih yang seperti apa?"
Daniel menatap lekat-lekat bibirnya Shanum, lalu beralih menatap sepasang matanya yang indah. "Aku... aku suka kamu, Shanum. Aku sudah jatuh cinta padamu. Maaf kalau aku lancang... dan maaf karena aku telah melanggar perjanjian pernikahan kontrak kita dengan melibatkan perasaan ini."
Deg!
Deg!
Deg!
Mendengar pengakuan cinta yang begitu jujur dan tak terduga meluncur langsung dari bibir Daniel, Shanum seketika terpaku membisu. Seluruh dunianya seolah berhenti berputar. Rasa hangat yang teramat sangat seketika mekar di dalam dadanya, membuat hatinya berbunga-bunga luar biasa.
Di tengah keheningan kamar pengantin malam itu, pengakuan jujur dari Dokter Daniel yang selama ini ia cap sebagai pria dingin, terasa bagai sebuah untaian mimpi indah yang teramat manis dan tidak nyata bagi seorang Shanum.
Shanum terpaku seribu bahasa, lidahnya benar-benar kelu untuk merespons pengakuan cinta yang begitu tulus sekaligus mengejutkan dari Daniel. Melihat istrinya yang hanya bisa mengerjap dengan wajah syok yang menggemaskan, Daniel mengulas senyum tipis, sebuah senyuman lega tanpa beban.
"Ya sudah, sebaiknya kita tidur. Sekarang kamu sudah tahu semuanya tentang kekuranganku, dan aku merasa sangat lega," ujar Daniel lembut. Namun sebelum ia merebahkan tubuhnya, ia menatap barisan bantal yang memisahkan mereka.
"Tapi... boleh aku minta satu hal padamu, Num?"
Shanum mendongak pelan, mencoba menetralkan detak jantungnya. "Apa itu, Pak?"
"Bisakah bantal dan guling ini tidak kau jadikan sebuah benteng pertahanan lagi? Aku berjanji, aku tidak akan melakukan hal yang di luar batas tanpa izinmu," pinta Daniel dengan sorot mata memohon.
Mendengar pengakuan perasaan Daniel dan kejujurannya malam ini, sisa-sisa keraguan di hati Shanum menguap begitu saja. Tanpa ada keraguan lagi, Shanum mengangguk pelan dengan wajah yang memerah malu.
Melihat lampu hijau dari sang istri, Daniel dengan sigap langsung menyingkirkan barisan bantal dan guling yang sempat menjadi perisai kokoh itu ke ujung kasur. Kini, keduanya mulai memposisikan tubuh mereka di atas ranjang yang sama tanpa ada sekat lagi.
Namun, setelah posisi mereka sudah nyaman, keheningan malam justru membuat keduanya sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Daniel menatap langit-langit kamar, pikirannya kembali melayang pada kehangatan malam sebelumnya. Ia jujur merindukan rasa nyaman dan relaks yang luar biasa setiap kali tubuhnya bersentuhan dengan Shanum.
"Num," panggil Daniel memecah kesunyian, suaranya terdengar serak di kegelapan kamar.
"Iya, Pak?" jawab Shanum lirih, ikut menatap langit-langit kamar dengan dada berdebar.
"Boleh aku tidur sambil memelukmu? Aku berjanji... hanya memeluk saja, tidak ada hal yang lainnya," bisik Daniel penuh harap.
Shanum seketika terdiam. Ia tidak langsung menjawab karena sibuk mengendalikan pasokan oksigen di paru-paru nya. Namun di dalam lubuk hatinya, egonya Shanum tidak bisa berbohong, ia pun merasa sangat nyaman dan aman jika tidur di dalam dekapan hangat suaminya.
Melihat tidak ada penolakan atau jawaban ketus dari Shanum, Daniel menganggap diamnya sang istri sebagai tanda persetujuan. Tanpa membuang waktu, Daniel segera menggeser tubuh jangkungnya mendekat. Ia mencondongkan tubuhnya, lalu dengan perlahan menyandarkan kepalanya tepat di atas dadanya Shanum yang naik turun akibat napasnya yang memburu.
Otomatis tubuh Shanum langsung menegang. Jantungnya berdegup begitu kencang, dan rona merah pekat di pipinya kini tak bisa lagi ia sembunyikan di balik temaramnya lampu tidur. Daniel kemudian memiringkan tubuhnya, melingkarkan satu tangan kekarnya dengan protektif di atas pinggang ramping Shanum, mengunci wanita itu dalam dekapannya.
"Terima kasih sudah memberikan izin untuk memelukmu. Tetaplah seperti ini, Num..." ucap Daniel dengan suara yang kian lirih karena rasa kantuk yang mulai menyerang.
Bagi Daniel, aroma tubuh alami Shanum yang menenangkan dipadu dengan posisi pelukan seperti ini benar-benar telah menjadi candu baru yang sanggup mengusir seluruh penat dan traumanya.
Mendengar napas Daniel yang mulai teratur, perlahan ketegangan di tubuh Shanum mulai mengendur. Ia menundukkan wajahnya sedikit, menatap rambut hitam suaminya. Digerakkan oleh rasa sayang yang mulai tumbuh, Shanum memberanikan diri mengulurkan tangan kirinya, lalu mulai mengusap rambut Daniel dengan teramat lembut. Di matanya saat ini, dokter spesialis yang biasanya terlihat gagah dan berwibawa itu mendadak tampak seperti anak kecil yang sedang merindukan kasih sayang yang tulus.
Shanum tersenyum bahagia, menikmati momen intim yang begitu magis ini. Namun, senyuman itu tidak bertahan lama ketika ia menyadari satu hal yang menyebalkan.
'Kenapa aku malah tidak bisa tidur sama sekali? Jantungku terus saja berdegup kencang seperti ini!' keluh Shanum di dalam hatinya frustrasi.
Ia melirik ke bawah, menatap wajah Daniel yang rupanya sudah tertidur dengan sangat pulas, bahkan kini mulai mengeluarkan suara dengkuran halus yang menandakan betapa nyenyaknya pria itu.
'Aih... ini benar-benar tidak adil! Pak Dokter yang meminta memeluku malah sudah nyenyak duluan sampai mendengkur pelan, sedangkan aku di sini harus terjaga semalaman menahan detak jantung ku yang berdebar seperti ini.' gerutu Shanum dalam hati sambil menggelengkan kepalanya pasrah.
Walau jemarinya tetap tidak berhenti mengusap lembut rambut sang suami hingga malam semakin larut.
Bersambung...
tida ada perbedaan kasta