NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Maaf, Aku Tak Mengemis Cinta

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Masuk ke dalam novel / Transmigrasi / Tamat
Popularitas:763.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya

Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,

Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.

Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.

Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.

Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Istriku Membajak Mobilku

Motor tua itu meraung membelah jalan sore.

Belvina tertawa kecil saat angin menerpa wajahnya. Sudah lama sekali ia tidak merasakan sensasi seperti ini—bebas, cepat, tanpa aturan siapa pun.

RX-King di bawahnya bergetar liar, tapi justru itu yang membuat darahnya terasa hidup.

“Seruuuu!”

Ia memutar gas lebih dalam.

Di belakang sana, sedan hitam Alden menyalip dua mobil sekaligus. Tangannya kuat di setir. Matanya lurus ke depan.

Wanita itu, istrinya. Sedang kabur memakai motor preman hasil rampasan. Dan entah kenapa... terlihat terlalu cocok.

Alden mengembuskan napas pendek.

“Membuat gila.”

Belvina melirik spion kecil di setang, sekadar memastikan jalan di belakang masih aman.

Sebuah sedan hitam melaju mendahului beberapa mobil di belakangnya.

Awalnya ia tak terlalu peduli.

Namun beberapa detik kemudian, mobil itu menyalip kendaraan lain dengan cara yang terlalu agresif... dan terlalu familiar.

Belvina menyipitkan mata.

“Jangan bilang...”

Ia menoleh sekilas.

Plat nomor itu. Bentuk lampunya. Gril depan yang pernah ia lihat hampir setiap hari.

Belvina langsung mendecih.

“Rajin sekali.”

Ia sengaja berpindah jalur, menyelip di antara dua mobil bak terbuka. Motor ramping itu lolos mulus.

Sedan di belakang terpaksa mengerem.

Belvina terkekeh puas. “Dadaaa.”

Namun beberapa detik kemudian, suara mesin mobil kembali mendekat.

Belvina melirik kaca spion.

“Astaga. Keras kepala.”

Lampu lalulintas di simpang besar berubah merah. Arus kendaraan berhenti rapat.

Belvina mengerutkan dahi.

“Sial.”

Ia menepikan motor di antara mobil-mobil lain, berniat menyelinap ke depan.

Tapi sebuah sedan hitam mendadak memotong dari samping dan berhenti melintang di depannya.

Pintu terbuka.

Alden turun. Kemejanya masih rapi, wajahnya gelap, langkahnya panjang-panjang.

Beberapa pengendara lain mulai memerhatikan, penasaran.

Belvina pura-pura sibuk melihat ke arah lain. Alden berhenti tepat di samping motor.

“Turun.”

“Tidak.”

“Belvina.”

“Namaku masih berfungsi, tak perlu dites.”

“Aku bilang turun.”

Belvina mengibaskan rambutnya.

“Aku sedang menikmati perjalanan.”

Alden menunduk sedikit, suaranya rendah.

“Itu motor milik orang yang barusan mau mengganggumu.”

Kepala Belvina memutar cepat. Matanya berkilat tajam.

“Kau menguntitku?”

“Aku mengawasi milikku.”

“Alasan basi. Aku bukan barang.”

“Apapun itu.” Mata Alden tak bergeser. “Turun.”

“Tidak. Sekarang ini milikku sementara.”

“Turun.”

“Tidak.”

Lampu merah masih menyala. Beberapa orang mulai mengangkat ponsel diam-diam.

Sudut bibir Alden bergerak tak sabar. Lalu ia mengangkat satu tangan memberi isyarat kecil.

Dua orang pria muncul dari arah trotoar entah sejak kapan, berlari cepat menuju sedan hitam itu. Satu masuk ke balik kemudi, satunya lagi di samping kemudi.

Belvina membelalak.

“Kau bawa cadangan manusia?”

“Namanya staf.”

Detik berikutnya, ia naik begitu saja ke jok belakang motor.

Belvina berbalik setengah badan cepat.

“Alden! Turun!”

“Jalan.”

“Kau gila?”

“Cepat. Lampu hijau.”

Benar saja, klakson mulai bersahutan dari belakang.

Belvina panik setengah mati.

“Pegang yang benar!”

Alden dengan tenang meletakkan kedua tangannya di pinggang Belvina.

Seluruh tubuh wanita itu menegang.

“Alden!”

“Jalan.”

Motor melesat lagi. Kali ini dengan dua orang.

Belvina menggerutu tanpa henti.

“Kau berat.”

“Bohong.”

“Kau mengganggu keseimbangan.”

“Kau tetap bisa menyalip tiga mobil tadi.”

Belvina mendelik.

Angin menerbangkan rambutnya ke wajah Alden. Pria itu menyingkirkannya pelan dari bahu Belvina.

Gerakan kecil itu membuat Belvina salah fokus.

“Jangan pegang aku sembarangan!”

“Aku sedang menjaga agar kita tidak jatuh.”

“Aku lebih mungkin jatuh karena kau.”

Alden mendekat sedikit ke telinganya.

“Kalau kau jatuh, aku ikut.”

Jantung Belvina berdetak salah irama. Untuk sesaat, ia sadar napas pria itu terlalu dekat.

Dan itu lebih mengacaukan pikirannya daripada kejar-kejaran tadi.

“Menyebalkan.”

Beberapa menit kemudian mereka berhenti di tepi jalan dekat minimarket.

Belvina turun cepat dengan wajah ditekuk.

“Aku benci kamu.”

Alden ikut turun lebih tenang.

“Tidak.”

“Apa maksudmu tidak?”

“Kau sedang marah. Beda.”

Belvina menunjuk dadanya.

“Kau mengejarku setengah kota, memaksa naik motorku, lalu membantah perasaanku?”

Alden memandangnya lama.

“Kau kabur dari suamimu naik RX-King hasil rampasan. Kita sama-sama membuat masalah.”

Belvina terdiam sepersekian detik. Lalu memutar mata. “Itu kalimat paling tidak romantis yang pernah kudengar.”

Alden mendekat satu langkah.

“Aku belum mencoba romantis.”

Belvina refleks mundur satu langkah.

“Jangan coba.”

“Kenapa?”

“Karena wajahmu saja sudah mengganggu.”

Sudut bibir Alden naik tipis.

“Nah. Jadi kau sebenarnya suka melihat mukaku.”

Belvina membeku. Ia baru sadar jebakan kalimat itu.

“Aku— maksudku— bukan begitu—”

Alden menunduk, menatap wajahnya yang mulai merah.

“Kalau begitu, besok aku antar.”

“Tidak perlu!”

“Naik mobil atau motor?”

“Pergi sana!”

Belvina mendorong dada Alden sekuat tenaga. Pria itu hanya mundur satu langkah.

Belvina terpaku. “Kau tembok?”

“Aku lebih suka disebut suami.”

Belvina menggeram pelan. Lalu matanya menangkap sedan hitam yang berhenti tak jauh di belakang mereka.

Tanpa pikir panjang, ia berbalik dan berjalan cepat ke sana.

Alden mengernyit.

“Belvina?”

Wanita itu menggedor pintu penumpang depan yang kacanya terbuka.

“Buka!”

Pria di kursi depan refleks menekan tombol kunci.

Begitu pintu terbuka, Belvina langsung menarik gagang pintu lebar-lebar.

Tanpa aba-aba, tangannya mencengkeram lengan pria itu.

“Keluar.”

“Hah—?”

Belvina menarik sekali sentak.

Pria itu yang sedang setengah menoleh ke arah Alden kehilangan keseimbangan dan terseret keluar dari kursi.

“Nyonya!”

Ia nyaris jatuh ke jalan.

Belvina sudah lebih dulu masuk dan duduk manis di kursi penumpang depan.

Pintu ditutup keras.

Alden yang baru beberapa langkah mendadak berhenti.

Ia melirik anak buahnya yang baru saja dicabut dari mobil.

“Tuan... saya digusur.”

“Aku lihat.”

Mata Alden bergeser ke Belvina di dalam kabin. Untuk beberapa detik, bahkan ia tak berkata apa-apa.

“Jalan," seru Belvina.

Sopir itu membeku, lalu melirik Alden yang masih beberapa langkah dari mobil.

“Tapi, Nyonya—”

Belvina mendadak meraih kerah bajunya.

“Jalan atau kau ikut turun.”

“M-Maaf, Nyonya!”

Ia langsung menginjak pedal gas.

Mobil melesat tepat saat Alden hampir menyentuh gagang pintu.

“Belvina!”

Dari dalam mobil, Belvina menyembulkan kepalanya sedikit. Ia tersenyum manis sambil melambaikan tangan.

“Naik motor saja!”

Alden berdiri di tepi jalan, matanya tak lepas dari sedan hitamnya yang melaju semakin jauh.

Di balik kaca depan, samar-samar ia masih bisa melihat Belvina menoleh sekali, lalu duduk santai seolah mobil itu memang miliknya sejak awal.

Alden tak peduli mobil itu dibawa kabur. Yang mengganggunya justru satu hal lain.

Ia ingin ikut di dalamnya.

 

...✨"Ia mengejar istrinya setengah kota, hanya untuk sadar bahwa yang dikejar bukan sekadar wanita keras kepala, melainkan hidup yang mulai terasa berwarna."✨...

.

To be continued

1
Indra Wahyu Rianti
sukaaaaaak ❤
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Anisa92
ooh ini rasanya cemburu, slama ini kmna aja🤦🤦
Anisa92
perempuan banget, ga pernah salah
Anisa92
awalnya agak bosan bacanya , tp makin kesini kog makin rame🥰🥰🥰
fii 🤩
lanjut
D..
👍👍
farah araa
cerita nya sangat bagus dan semangat buat author nya😊
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
lanjut
anonim
Belvina positif hamil. Tokcer juga tuh Alden kecebongnya jadi calon baby di perut Belvina.

Fransisca gembira, akan segera menimang cucu. Dan berterima kasih kepada Belvina.

Andreas juga bahagia, bersyukur dan terharu.
anonim
Belvina istrinya Alden, wajarlah ia perhatian dan mencemaskan istrinya yang sedang muntah-muntah.

Seraphina tidak menyukai dengan apa yang Alden lakukan pada Belvina.

Belvina mau ke sofa menolak bantuan dari Seraphina.

Seraphina melangkah mendekat, Belvina menutup hidungnya, mundur selangkah

Belvina dan Alden sama isi batinnya - kehamilan. Belvina hamil.
anonim
Kebayang ngga tubuh satpam wanita itu bagaimana. Kuat menggendong Belvina dia.

Nasib Dimas kurang beruntung, ingin membantu Belvina berdiri, malah lengannya kena pukul Alden.
Rhea Kim
bagusss banget kisahnya... ❤
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Rhea Kim
nah sadar kan alden.... yang baik nya over itu kadang siluman 🤣🤣🤣🤣...
Rhea Kim
serapinul siluman ular cekek.... km hanya halu.... masa lalu darimana mantan juga bukan hadehh.... sana periksa kejiwaan aja 🤣🤣🤣
Rhea Kim
ya iyalah serapinul manusia siluman... itu suaminya belvina yo jelas milih belvina... emang perlu d rukyah nih cewek siluman
Rhea Kim
emang hatimu busuk aja serapina...
istri ama suami akur kuq g boleh... cari suami sendiri sanaa🤣🤣
Rhea Kim
nah ini dimas peka... emang aura siluman nya kerasa banget si serapina.... klo terlalu sempurna malah mencurigakan 🤣
Rhea Kim
huh... serapina sirik aja orang seneng.... la wong alden suaminya y wajar dong deket istrinya... yg wajar iku km deketin suami orang🤣
fii 🤩
😂😂
anonim
Sekali tancap kecebong Alden jadi calon baby nih. Betul ngga ya.

Belvina tak tahan bau parfum Seraphina, pusing kepalanya, berakhir lari ke toilet - muntah dia.

Alden terkejut melihat Belvina yang seperti mau muntah. Spontan ia berdiri dari duduknya. Tak sadar kalau gerakan mendadak bikin rusuknya kembali nyeri.

Alden mengkhawatirkan Belvina yang sedang muntah-muntah di dalam toilet.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!