NovelToon NovelToon
Sang Dewa Cangkul Sakti

Sang Dewa Cangkul Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan / Reinkarnasi / Sistem
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: UrLeonard

Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.

​Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.

​Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Anugerah Langsung dari Sistem

Perlahan-lahan riak di cangkir teh itu mereda. Napasnya kini mengalir teratur kembali.

Terbuka lebar kedua mata Yang Chan, memancarkan binar tipis yang langsung disembunyikannya dalam sekali kedip.

Buku-buku jarinya yang sempat memutih karena mencengkeram cangkir kayu kini melonggar pelan. Ia menundukkan kepala, pura-pura kembali mengagumi aroma teh hangat di tangannya agar tidak memicu kecurigaan ibunya.

Di depan wajahnya, sebuah layar transparan berwarna hijau muda tiba-tiba muncul tanpa suara.

[Ranah Pengumpulan Qi Tercapai. Fitur Taman Poket dan Alat Serbaguna Terbuka.]

Tercengang ia sesaat. Rasa terkejut sekaligus puas bergolak di dalam dadanya, menggantikan ketegangan yang tadi sempat menumpuk di meridian utamanya.

Sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk lengkungan tipis.

"Tepat pada waktunya..." bisik Yang Chan, sangat pelan hingga tidak ada yang mendengarnya.

Ia mengalihkan pandangan ke luar. Hamparan ladang yang biasanya terasa luas, entah kenapa kini terasa begitu sempit bagi aliran Qi baru di tubuhnya.

Sambil mengabaikan tawa ayahnya yang masih asyik mengobrol di depan gerbang, Yang Chan memfokuskan pikiran. Ia memejamkan mata sekali lagi.

Ditariknya kesadaran jiwa ke dalam, meninggalkan tubuh fananya yang tetap bersandar santai di kursi. Pandangannya langsung memudar, ditarik oleh pusaran hangat yang lembut.

Detik berikutnya, pijakan kakinya terasa berbeda. Terasa hangat dan sangat gembur di sela jari kaki.

Ketika ia membuka mata, sebuah hamparan tanah hitam yang luasnya sekitar satu hektar terbentang di hadapannya. Langit di atas dipenuhi cahaya keemasan lembut yang statis.

'Jadi ini dimensi saku milikku?' gumamnya sambil berjalan tanpa alas kaki di atas tanah spiritual itu.

Udara di sini dipenuhi esensi kehidupan mutlak yang luar biasa padat. Sambil berjalan, ia mengambil sebutir benih tanaman obat langka dari balik bajunya. Kulit benih itu sudah sangat keriput, kering, dan hampir mati.

Ia berjongkok di atas tanah hangat itu.

"Tanah fana hampir membunuhmu. Mari kita lihat apa yang bisa dilakukan esensi kehidupan di ruang ini," katanya lirih pada benih kecil di genggamannya.

Hanya dengan satu sapuan tangan di udara, tanah bergeser otomatis membentuk petak kecil yang rapi. Ia menaruh benih keriput itu dengan hati-hati, lalu menutupnya kembali.

Tak sampai tiga detik, getaran halus terjadi di bawah jarinya.

Cangkang benih berdenyut kencang. Dalam sekejap mata, seutas tunas hijau segar memecah permukaan tanah dan tumbuh setinggi beberapa sentimeter.

Terkejut ia melihat kecepatan pertumbuhan gila ini. Kekuatan esensi tempat ini benar-benar tidak masuk akal.

Namun, belum sempat ia mengagumi tunas itu, telapak tangan kanannya mendadak terasa hangat dan berat.

Sebuah bola logam hitam pekat seukuran kepalan tangan kini melayang lembut di atas kulit tangannya, memantulkan cahaya keemasan dari langit dimensi.

Ia memiringkan kepala. Dengan buku jari kirinya, ia mengetuk bola hitam itu sekali.

Terdengar bunyi denting padat yang sangat bersih, tanpa ada gema.

'Tertanam langsung ke inti jiwa... Jadi, bentuk pertamamu adalah apa yang paling kubutuhkan saat ini,' ucapnya dalam batin.

Ia memejamkan mata, meremas bola hitam itu, lalu memvisualisasikan sebuah alat di benaknya.

'Kalau aku meminta pedang, rasanya terlalu mencolok. Mari kita buat sesuatu yang lebih berguna untuk kehidupan desa.'

Seketika itu juga, bola logam hitam pekat di tangannya mencair bagaikan air raksa gelap. Logam cair itu memanjang, memadat, dan membentuk sebuah gagang kokoh.

Ketika ia membuka mata, sebilah sekop bertangkai panjang telah berada di genggamannya, berhias ukiran akar pohon yang menjalar indah.

Ia mengayunkan sekop itu beberapa kali. Ringan, namun terasa sangat kokoh seolah tidak akan pernah bisa hancur.

Tiba-tiba, suara cipratan air berlumpur terdengar nyata. Kesadaran Yang Chan langsung terseret kembali ke dunia nyata.

Matanya terbuka di kursi kayu teras. Ia langsung berdiri mendengar aliran air yang tersumbat di dekat batas ladang timur.

Sebelum ibunya berbalik, Yang Chan sudah melangkah cepat dengan gerakan ringan menuju parit irigasi di sudut luar pagar ladang.

Air berlumpur tampak meluap deras membasahi tanah karena jalurnya terhalang oleh sebuah bongkahan batu sungai raksasa yang runtuh.

Ia melompat masuk ke parit keruh setelah menggulung ujung celana lusuhnya. Tangannya kini sudah menggenggam sekop hitam dari ruang dimensi tadi. Bentuknya yang mirip alat tani biasa tidak akan memicu kecurigaan siapa pun.

"Kita lihat apakah gelar tak bisa hancur ini cuma sekadar klaim sistem," gumam Yang Chan.

Tanpa mengerahkan kekuatan spiritual berlebih agar tidak memancing perhatian ibunya, ia menarik napas halus. Diayunkannya sekop hitam itu ke arah tengah batu besar dengan satu gerakan mengalir yang mulus.

Suara dentingan keras sama sekali tidak terdengar.

Batu raksasa keras itu mendadak terbelah dua dengan sangat rapi, seolah-olah sekop hitam itu baru saja memotong tahu lembut.

Sangat mulus, tanpa getaran hebat ataupun suara ledakan yang mencolok.

Ternganga ia sesaat melihat hasil tebasan alat barunya. Kelegaan langsung menyelimuti dadanya saat air parit kembali mengalir lancar melewati celahan batu.

Air berlumpur itu menyusut, memantulkan sisa cahaya matahari sore, sementara Yang Chan hanya berdiri diam memperhatikan sekop hitam di tangannya yang sama sekali tidak tergores sedikit pun.

1
ಠ⁠ω⁠ಠ
oke, kalau jurusnya pakai bahasa inggris keren juga ya /Sweat/, tapi aku kembalikan ke kalian. Apakah perlu aku revisi agar jadi bahasa indo saja, atau aku pertahankan perubahannya? /Slight/
ಠ⁠ω⁠ಠ: /Scare//Scare//Scare/
total 2 replies
Sulaeman Effendi
bagaimana selanjutnya ?
Sulaeman Effendi
kapan peningkatan kultifasi nya?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Sebenarnya aku lupa perhatiin aspek Kultivasinya /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
seorang pendekar yang bijak 👍
Sulaeman Effendi
tehnik yang tepat 👍😄
Sulaeman Effendi
Asyik tanpa risiko berhasil memuaskan 👍
Sulaeman Effendi
era baru menjelajahi hutan
Sulaeman Effendi
mulai terasa ada perkembangan pertemanan yg menggetarkan
Sulaeman Effendi
iya boy, hidup tenang, menyenangkan dan berhasil gemilang 👍💪😀
Sulaeman Effendi
awal untuk maju dengan sekolah boy
Sulaeman Effendi
sekolah apa kuliah boy
ಠ⁠ω⁠ಠ: Agak beda ini, nggak mirip sekolah, kuliah juga gak mirip /Sweat/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy ?
ಠ⁠ω⁠ಠ: Iya, sekolah. Tapi enggak fokus ke sekolahnya, lebih ke hal lain di sekolah/akademi /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
sekolah Boy agar pintar dan sakti
Sulaeman Effendi
Tingkatkan terus Boy
M Mugni
ceritanya mantap 💪💪💪
Sulaeman Effendi
terus semangat Boy 💪
Sulaeman Effendi
tak disangka ternyata hebat
ಠ⁠ω⁠ಠ: Udah ada tanda-tandanya /Slight/
total 1 replies
Sulaeman Effendi
waduh bagaimana selanjutnya???
Sulaeman Effendi
bangkitlah petani miskin tunjukkan taring mu
Sulaeman Effendi
mulai seru nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!