Saga Mahendra percaya satu hal, pengkhianatan tidak pernah memiliki alasan. Itulah yang ia yakini sejak hari ia melihat Sahira, wanita yang ia cintai, berpelukan dengan sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Saga memilih pergi. Meninggalkan cinta, mimpi, dan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Lima tahun kemudian, ia kembali. Bukan lagi remaja yang rapuh, tapi seorang dokter dengan hati yang telah membeku. Namun, takdir mempermainkannya. Sahira muncul kembali bersama seorang anak berusia empat tahun.
Waktu tidak pernah berbohong. Lalu, siapa ayah dari anak itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Suasana ruang makan terasa jauh lebih tenang dibanding beberapa menit sebelumnya.
Aroma teh hangat dan roti panggang masih memenuhi ruangan kecil itu. Cahaya matahari pagi masuk dari jendela, menerangi meja makan sederhana tempat mereka berkumpul sekarang.
Saga duduk di kursi dekat jendela.
Di atas pahanya, Sahir duduk santai sambil memainkan mobil-mobilan kecil miliknya tanpa rasa canggung sedikit pun. Sesekali bocah itu mengoceh sendiri, memperlihatkan koleksi mainannya pada Saga dengan penuh semangat.
Sementara, Saga hanya diam memperhatikan anak itu. Tatapannya begitu lembut. Seolah masih sulit mempercayai bahwa bocah kecil yang terus menempel padanya itu benar-benar anaknya.
Di sisi lain meja, Revano duduk sambil memperhatikan Saga cukup lama. Tatapannya kemudian tertuju pada sudut bibir Saga yang sedikit terluka dan lebam samar di wajah pria itu.
“Kenapa ponsel kamu nggak bisa dihubungi?” tanya Revano akhirnya.
Saga menghela napas pelan. Tangannya mengusap rambut Sahir perlahan sebelum menjawab.
“Rusak.”
Revano mengernyit. “Rusak?”
Saga mengangguk kecil. “Semalam pas aku tiba sampai bandara.” Tatapannya perlahan berubah dingin saat mengingat kejadian itu.
“Setelah aku terima pesan terakhir dari kamu soal alamat Sahira…”
Pria itu terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
“Aldi datang nyusul ke bandara,"
Revano langsung menatap Saga serius. Sementara Sahira yang sejak tadi berdiri di dekat dapur ikut menoleh pelan.
“Apa yang dia lakukan?” tanya Revano.
Saga tertawa kecil hambar. “Nyuruh aku balik.”
Tatapan pria itu mengeras. “Katanya aku cuma lagi emosional dan bakal nyesel kalau tetap nyari Sahira.” Rahang Saga perlahan menegang.
“Tapi aku udah terlalu capek dibohongin.” Keheningan sejenak memenuhi ruangan.
Saga kemudian melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Kami cekcok di parkiran bandara.”
Tatapan Revano langsung jatuh lagi pada luka di wajah Saga. Dan sekarang pria itu mulai paham dari mana lebam tersebut berasal.
“Aldi nggak mau aku pergi.” Saga tersenyum tipis penuh lelah. “Dan aku nggak mau kehilangan Sahira lagi.”
“Jadi kalian berkelahi?” tanya Revano.
Saga mengangguk kecil. “Lumayan.”
Sahira yang mendengar itu langsung menunduk pelan. Entah kenapa dadanya terasa sesak mendengar semua yang dilakukan Saga untuk mencarinya.
Sementara, di atas pangkuan pria itu, Sahir yang sejak tadi sibuk bermain tiba-tiba berhenti bergerak. Bocah kecil itu mengangkat wajahnya menatap Saga polos.
“Doktel sakit?” Suara kecil itu membuat Saga langsung terdiam. Tatapannya perlahan turun menatap wajah Sahir yang begitu dekat dengannya sekarang.
Mata anak itu bulat dan jernih, sangat mirip dirinya. Saga benar-benar merasakan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya. Tanpa sadar, air mata pria itu jatuh begitu saja.
Sahir langsung berkedip bingung. “Doktel kenapa nangis?”
Saga langsung tersadar.
Pria itu buru-buru memalingkan wajah sambil menyeka air matanya cepat.
“Nggak…” suaranya serak pelan. “Dokternya nggak kenapa-kenapa.”
Namun, Sahir justru menyentuh pipi Saga dengan tangan mungilnya.
“Kalau sakit…” gumam bocah itu polos, “Sahel punya plester gambal dinosolus," Ucapan itu membuat ruangan mendadak hening.
Sementara, Saga menunduk dalam sambil tersenyum kecil di tengah matanya yang kembali memanas.
Suasana ruang makan perlahan kembali tenang setelah ucapan polos Sahir tadi.
Saga masih duduk diam dengan bocah kecil itu di pangkuannya. Tatapannya belum sepenuhnya lepas dari wajah Sahir, seolah masih mencoba menerima kenyataan bahwa anak kecil yang terus menempel padanya itu adalah darah dagingnya sendiri.
Sementara, Sahira berdiri tidak jauh dari meja makan sambil memperhatikan keduanya dalam diam. Ada perasaan hangat sekaligus sesak yang bercampur menjadi satu di dadanya.
Belum pernah ia melihat Saga setenang ini. Dan belum pernah pula ia membayangkan pria itu bisa sedekat ini dengan Sahir.
“Sahir,” panggil Sahira lembut akhirnya. “Sekarang waktunya mandi dulu.”
Sahir langsung menoleh cepat.
“Ndak mau…” rengeknya kecil sambil memeluk leher Saga. “Sahel mau sama Doktel Saga.” Ucapan itu membuat Saga tersenyum tipis untuk pertama kali pagi itu.
Sahira langsung menghela napas pasrah.
“Kalau nggak mandi nanti sakit lagi.”
Sahir langsung diam beberapa detik sebelum akhirnya mengerucutkan bibir pasrah.
“Iya deh…”
Sahira kemudian menoleh ke arah Lina.
“Lin, tolong bantuin Sahir mandi ya.”
Namun sebelum Lina sempat menjawab,
“Aku aja.”
Semua orang menoleh bersamaan. Ririn tersenyum kecil sambil bangkit dari kursinya.
“Biar aku aja yang mandiin dia.”
Sahir langsung menatap Ririn senang.
“Aunty Ririn mau mandiin Sahel?”
Ririn mengangguk sambil tertawa kecil.
“Iya.”
Saga yang sejak tadi diam akhirnya menoleh pelan ke arah Revano. Tatapannya seakan bertanya. Dan Revano langsung memahami maksud tatapan itu.
“Itu Ririn,” ucap Revano santai sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Tunanganku.”
Saga terdiam beberapa detik. Tatapannya berpindah dari Revano ke Ririn. Lalu kembali pada Sahira. Sebuah beban besar di dadanya perlahan terasa luruh. Revano tidak pernah memiliki hubungan apapun dengan Sahira.
Selama ini pria itu benar-benar hanya melindungi mereka. Saga menunduk pelan sambil tersenyum pahit kecil pada dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia selama ini.
Sementara itu, Sahir yang masih duduk di pangkuannya tiba-tiba memegang wajah Saga dengan kedua tangan mungilnya.
“Doktel jangan sedih lagi ya.” Suara itu terdengar begitu tulus, sebelum Saga sempat bereaksi Sahir mencium pipi pria itu pelan.
Semua orang langsung terdiam. Bahkan, Sahira membelalak sedikit tidak menyangka dengan tingkah anaknya. Sedangkan Saga benar-benar membeku di tempat. Jantungnya berdetak begitu keras sampai dadanya terasa sesak. Sahir lalu tersenyum lebar tanpa merasa melakukan hal besar.
“Sahel mandi dulu ya,” ucapnya polos. “Nanti habis mandi kita main lagi.”
Bocah itu kemudian turun dari pangkuan Saga lalu menggenggam tangan Ririn kecil-kecil.
“Ayo Aunty Ririn!” Ririn tertawa kecil sambil mengikuti langkah Sahir menuju kamar mandi.
Sementara Saga masih duduk diam di kursinya. Tangannya perlahan menyentuh pipinya yang tadi dicium Sahir.
Revano perlahan bangkit dari kursinya setelah melihat Ririn membawa Sahir menuju kamar mandi.
“Aku lihat mereka dulu,” ucapnya santai sambil melirik Sahira dan Saga bergantian.
Sahira mengangguk kecil.
Sementara, Rani dan Lina yang sedari tadi merasa suasana mulai canggung memilih ikut keluar membantu menata bunga di depan toko. Tak lama kemudian, ruang makan itu menjadi jauh lebih sunyi. Hanya tersisa Sahira dan Saga.
Keheningan di antara mereka terasa jauh lebih menyesakkan dibanding pertengkaran apapun. Sahira perlahan membalikkan tubuhnya berniat pergi ke dapur. Sebuah tangan menggenggam pergelangan tangannya pelan.
Tubuh Sahira langsung menegang. Tatapannya perlahan turun pada tangan Saga yang menggenggamnya.
Sementara Saga menatapnya dengan mata yang terlihat lelah.
“Bisa kita bicara?"
Wanita itu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.
“Iya…”
Beberapa menit kemudian, suasana rumah terasa jauh lebih tenang. Sahira membawa dua cangkir teh hangat menuju area dekat jendela samping rumah.
Di sana terdapat meja kecil kayu dengan dua kursi sederhana menghadap langsung ke arah laut. Hamparan biru yang luas terlihat jelas dari tempat itu. Angin pantai berembus lembut, membawa aroma asin laut yang menenangkan. Saga duduk diam memperhatikan pemandangan tersebut.
Sementara Sahira meletakkan teh hangat di hadapannya perlahan.
“Minum dulu,” ucap wanita itu pelan.
Saga mengangguk kecil.
Tatapannya sesekali jatuh pada wajah Sahira yang terlihat lebih kurus dibanding lima tahun lalu. Masih menjadi tempat yang selalu dirindukan hatinya. Tak lama kemudian, Sahira kembali datang membawa kotak obat kecil.
Saga mengernyit samar.
“Kamu masih nyimpen kotak obat di mana-mana ya?” tanyanya pelan.
Sahira tersenyum tipis kecil. “Kebiasaan.”
Wanita itu duduk di kursi depan Saga lalu membuka kotak obat tersebut perlahan. Di dalamnya terdapat kapas, obat antiseptik, plester, dan salep luka. Tatapan Saga langsung melembut. Karena pemandangan itu terasa begitu familiar baginya.
Sementara Sahira mengambil kapas lalu berkata pelan, “Wajah kamu lebam.”
Saga tersenyum kecil hambar. “Nggak sakit.”
“Bohong,” Sahira menatapnya datar sebelum menuangkan obat antiseptik ke kapas kecil.
“Kalau nggak sakit nggak mungkin bengkak begini.”
Saga tidak membalas. Ia hanya diam memperhatikan Sahira yang kini duduk lebih dekat di depannya. Angin pantai membuat beberapa helai rambut wanita itu bergerak pelan. Saga merasa seperti kembali ke masa lalu mereka. Saat semuanya belum hancur seperti sekarang. Namun begitu, kapas itu menyentuh luka di sudut bibirnya,
“Ah…” Saga langsung meringis kecil.
Sahira refleks mengangkat wajah menatapnya. “Sakit?”
Tatapan keduanya bertemu, jantung Sahira langsung berdetak tidak karuan. Sementara Saga justru tersenyum tipis sambil menatap wanita itu lekat-lekat.
“Iya,” jawabnya lirih. “Sakit banget.”
Begitu mendengar keluhan kecil dari Saga, Sahira langsung mendecakkan lidah pelan.
“Manja,” ketusnya sambil kembali mengoleskan obat pada sudut bibir pria itu. “Kamu bukan Sahir. Nggak usah manja.”
Saga yang sejak tadi menatap wajah Sahira langsung tersenyum tipis. Tatapannya perlahan berubah lembut.
“Tapi aku bapaknya Sahir.”
Tangan Sahira langsung berhenti bergerak tubuhnya membeku seketika.
Hai, sambil nunggu update ayo mampir di karya teman aku...
orang yang terobsesi bisa melakukan hal yang sangat berbahaya.
Takut kalau keluarga tiri dan Clara menemukan mereka di bali