TOXIC AND CONTROL
Karya: Parkha
Bagi Kinara Jose, hidup sebagai siswi penerima beasiswa berpenampilan polos dengan kacamata tebal adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dengan tenang di SMA Elite. Namun, seluruh dunianya runtuh saat ia tidak sengaja menarik perhatian Rian Pradifta.Rian—sang Tiran berwajah malaikat namun berhati iblis, cowok terkaya, terdingin, dan paling ditakuti satu sekolah. Sekali Rian mengunci pandangannya pada Kinara, tidak ada jalan keluar. Cowok itu terobsesi mengontrol setiap jengkal hidup Kinara, memutuskan dengan siapa ia bicara, ke mana ia pergi, hingga apa yang harus ia pakai.Kehidupan Kinara yang tenang kini berubah menjadi labirin yang mencekik. Rian adalah racun, namun juga satu-satunya oksigen yang tersisa untuknya. Di tengah kepungan obsesi gila itu, sebuah rahasia besar perlahan terkuak: di balik kacamata tebal dan sikap penurutnya, Kinara menyimpan pesona tersembunyi yang siap menjungkirbalikkan kuasa Rian sang Tiran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Toxic and Control* *BAB 17: Batas Sabar sang Pahlawan*
*Toxic and Control*
*BAB 17: Batas Sabar sang Pahlawan*
Brak!
Pintu ganda kayu ek tebal milik basecamp Garuda Nusantara yang biasanya tertutup rapat dihantam dengan paksa dari arah luar. Randy melangkah masuk dengan napas memburu dan rahang yang mengeras kokoh.
Amarah yang membakar dadanya sepanjang sore setelah menerima surat pencabutan beasiswa atletik dan pengeluarannya dari tim basket utama kini telah mencapai ubun-ubun. Dia tidak peduli lagi pada aturan sekolah, tidak peduli lagi pada status Rian Pradifta sebagai anak pemilik yayasan.
Di dalam ruangan yang temaram, Rian sedang duduk santai di atas sofa kulit hitamnya, memutar-mutar sebuah korek api gas mahal di antara jemari kekarnya. Di sisi ruangan, Rama dan Rangga yang sedang mengobrol spontan berdiri tegak, terkejut melihat kedatangan Randy yang begitu nekat memotong privasi mereka.
Rian sama sekali tidak terkejut. Dia menurunkan korek apinya perlahan, lalu mendongak menatap Randy dengan sepasang mata elang yang teramat dingin dan meremehkan.
"Berani juga kamu menginjakkan kaki di sini, Randy," ucap Rian datar, suaranya terdengar sangat tenang namun sarat akan intimidasi yang mengepung ruangan.
"Rian! Apa-apaan surat keputusan ini?!" bentak Randy, melemparkan selembar kertas resmi dari pihak yayasan sekolah tepat ke atas meja kaca di hadapan Rian. "Kamu mencabut beasiswa atletikku dan mengeluarkan aku dari tim basket secara sepihak?! Apa salahku, hah?!"
Rian terkekeh rendah—sebuah suara bariton yang sangat angkuh dan menjengkelkan. Dia bersandar pada sofa, melipat kedua tangan di dada tanpa sudi menyentuh kertas tersebut.
"Di sekolah ini, apa yang menurutku salah, maka itu adalah kesalahan. Dan kehadiranmu di sekitar orang-orangku adalah kesalahan terbesar yang kamu lakukan, Taruna Basket."
Mendengar frasa 'orang-orangku', kilatan amarah di mata Randy semakin menyala hebat. Dia melangkah maju tiga langkah besar, mencengkeram tepi meja kayu di depannya demi menahan diri agar tidak langsung melayangkan tinju ke wajah tampan di hadapannya.
"Orang-orangku? Siapa yang kamu maksud?! Kinara Jose?!" tuntut Randy dengan suara yang bergetar hebat karena menahan emosi. "Sebenarnya apa hubungan kamu sama Kinara, Rian?! Apa kamu selama ini menindas dia?! Apa kamu memeras anak beasiswa itu demi kepuasan egomu yang gila kontrol?!"
Rian perlahan menipiskan bibirnya. Sebaris luka kering yang robek di bibir bawahnya kembali terlihat jelas di bawah sorotan lampu temaram basecamp. Tatapan mata elang Rian menggelap pekat, binar obsesinya kembali memancar kuat begitu nama Kinara lolos dari bibir Randy.
Randy menatap luka di bibir Rian tersebut dengan dada yang bergemuruh hebat oleh rasa tidak rela yang teramat pekat. Di dalam kepalanya, memori saat dia melepas masker medis Kinara di ruang UKS siang tadi kembali berputar tajam. Luka bengkak dan robek yang sama persis di bibir bawah Kinara.
Randy ingin sekali memekikkan fakta itu. Dia ingin sekali menyinggung soal luka di bibir mereka berdua yang menjadi bukti fisik tak terbantahkan. Namun, lidah Randy mendadak kelu.
Ada rasa tidak enak dan sesak yang luar biasa di dalam hati jika harus menyuarakan isi pikirannya saat itu. Menanyakan detail luka itu sama saja dengan menuntut jawaban atas pertanyaan yang paling dia takuti: Seberapa jauh hubungan Rian dan Kinara yang sebenarnya di luar sekolah? Apakah Rian sudah melangkah terlampau jauh hingga meniduri gadis polos itu, melihat dari luka bengkak di bibir Kinara yang jelas merupakan bekas ciuman brutal dan liar?
Rasa frustrasi karena tidak bisa melindungi Kinara sepenuhnya membuat Randy semakin murka. Kemarahan cemburu itu bercampur dengan keputusasaan yang merusak benteng kesabarannya.
Rian yang menyadari arah tatapan mata Randy pada bibirnya langsung tersenyum miring—sebuah senyuman kemenangan yang teramat kejam. Dia tahu Randy telah menyadari sesuatu, dan Rian sangat menikmati ketakutan psikologis serta rasa tidak berdaya yang sedang menyiksa batin saingannya itu.
Rian perlahan berdiri dari duduknya hingga tubuh tingginya yang mencapai 188 sentimeter menjulang kokoh mengintimidasi Randy. Dia berjalan memutari meja kaca, mendekati Randy dengan langkah yang tenang namun mengintimidasi.
"Hubungan kami bukan urusanmu, Randy," bisik Rian dengan nada rendah yang teramat dingin. Dia mencondongkan wajah tampannya tepat di samping telinga Randy dengan binar membunuh yang pekat.
"Pencabutan beasiswamu itu baru peringatan awal dariku karena kamu berani pasang badan dan mendekapnya di kelasnya siang tadi. Kenapa diam? Kamu penasaran bagaimana rasa bibirnya, hm? Kamu penasaran apa yang kami lakukan di luar sekolah sampai dia memohon dan menangis di bawahku?"
Kalimat manipulatif Rian sukses menghancurkan sisa-sisa kendali diri Randy. Kehilangan akal sehat karena dihantam rasa cemburu yang luar biasa dan amarah yang meluap, Randy melayangkan satu tinju mentah yang sangat keras tepat ke arah rahang tegas Rian.
Bugh!
Kepala Rian terenggang ke samping akibat hantaman telak itu. Sudut bibirnya yang kering kembali robek dan mengeluarkan darah segar yang mengalir ke dagunya. Pukulan brutal itu sukses meluapkan sebagian rasa frustrasi Randy, namun harga yang harus dia bayar jauh lebih mahal dari yang dia bayangkan.
Rama dan Rangga yang sejak tadi waspada langsung bergerak secepat kilat. Sebelum Randy bisa melayangkan pukulan kedua, kedua sahabat Rian itu langsung menjegal tubuh Randy dari belakang, mengunci kedua lengannya dengan cengkeraman kokoh hingga cowok basket itu tidak bisa bergerak lagi.
Rian tidak membalas pukulan itu secara fisik. Dia tetap berdiri tegap, tidak menunjukkan tanda-tanda kesakitan sedikit pun. Dengan gerakan lambat yang sangat provokatif, Rian menyeka tetesan darah baru di bibirnya menggunakan punggung tangan, lalu menatap Randy dengan senyuman miring yang jauh lebih mengerikan daripada sebelumnya.
"Pukulan yang bagus, Taruna Basket. Tapi itu adalah pukulan termahal yang pernah kamu lakukan," desis Rian tenang, namun setiap katanya sarat akan kendali mutlak yang mematikan.
"Jauhi Kinara... Aku tidak suka milikku disentuh tangan kotormu itu. Kupastikan bukan cuma masa depanmu yang tamat, tapi perusahaan keluarga kelas menengah milik orang tuamu juga akan bangkrut dalam waktu semalam atas perintahku. Keluar dari ruangan ini, dan lihat apa yang akan terjadi pada ayahmu besok pagi."
Ancaman dingin itu seketika meruntuhkan sisa-sisa kekuatan Randy. Kepalanya langsung tertunduk lemas di bawah kuncian Rama dan Rangga. Ketakutan nyata akan kehancuran keluarganya merayap hebat, menghancurkan seluruh keberanian yang dia bawa ke ruangan ini. Dia menyadari bahwa Rian tidak pernah menggertak soal kekuasaannya.
Rian melirik ke arah kedua sahabatnya, lalu memberikan isyarat kepala yang dingin.
"Seret dia keluar. Baunya merusak sisa malamku."
Rama dan Rangga langsung menyentak tubuh Randy dengan kasar, menyeret cowok basket yang kini hanya bisa tertunduk pasrah itu keluar dari pintu basecamp, meninggalkan Rian sendirian yang kembali berdiri di bawah temaram lampu dengan kepalan tangan mengeras dan binar obsesi yang kian menggelap.
Keesokan harinya, suasana di SMA Garuda Nusantara terasa jauh lebih menekan bagi Kinara Jose. Dengan masker putih yang masih menempel ketat menutupi luka di bibirnya, dia berjalan menyusuri koridor kelas tiga. Di sana, mading utama sekolah sudah dipenuhi oleh kerumunan murid yang berbisik-bisik heboh.
Firasat buruk langsung mencengkeram dada Kinara. Dia menerobos kerumunan tersebut dengan jantung bertalu keras. Begitu matanya membaca selembar surat pengumuman resmi yang tertempel di sana, seluruh persendian Kinara mendadak lemas.
*Surat Pencabutan Beasiswa Atletik dan Pemberhentian Tetap dari Tim Utama Basket atas nama Randy.*
Dunia Kinara seolah berputar runtuh seketika. Kepalanya berdenyut nyeri saat ingatan tentang kejadian kemarin siang berputar hebat. Randy dihajar preman di gudang belakang karena melindunginya, pipinya ditampar Silla, dan sekarang... masa depan cowok baik itu dihancurkan dalam waktu semalam.
Kinara meremas ujung seragamnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.
Rian.
Hanya ada satu nama yang terlintas di dalam otak Kinara saat ini. Tidak perlu bukti fisik atau saksi mata lagi untuk meyakinkan dirinya. Semua kekejaman, kehancuran, dan penderitaan yang menimpa Randy adalah murni ulah dari satu orang yang sama. Cowok gila kontrol yang malam sebelumnya baru saja merobek harga dirinya di Aston Club.
Rian Pradifta benar-benar membalas dendam dengan cara yang paling biadab, murni karena kebohongan yang Kinara ucapkan di perpustakaan.
Kemarahan yang teramat pekat mengalahkan rasa paranoia yang selama ini mengurung Kinara. Dengan napas memburu dan air mata yang tertahan di sudut kelopak matanya, Kinara langsung berbalik arah. Tanpa memedulikan tatapan murid lain, dia melangkah lebar menuju lantai atas, berniat mencari keberadaan sang penguasa sekolah untuk menuntut perhitungan atas semua kehancuran yang telah cowok itu perbuat pada hidup orang lain.
---
semoga Kinara terselamatkan dr jebakan Randy
kalian yang awal bab maki2 Rian ..tetap maki2 ya soalnya Rian tobatnya masih lama wkkwkwk