Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk restoran. Tony, segera turun terlebih dahulu. Dengan sigap, ia berjalan mengitari mobil dan membukakan pintu belakang untuk Arya terlebih dahulu.
Arya melangkah keluar dengan tenang. Tubuhnya yang tinggi tegap terbalut kemeja hitam yang digulung sampai siku dan celana formal yang pas di tubuh. Rambutnya yang rapi sedikit berantakan ditiup angin malam, memberi kesan maskulin yang santai namun tetap berwibawa. Ia mengangguk kecil kepada Tony sebagai tanda terima kasih, matanya yang tajam sebentar melirik sekeliling, memastikan tak ada yang mengganggu.
Setelah itu Tony segera berpindah ke sisi lain mobil dan membukakan pintu untuk Alya. Wanita itu muncul dengan anggun. Rambut panjangnya tergerai indah, sebagian disisir ke satu sisi, sementara cahaya lampu restoran memantul lembut di permukaan gaunnya. Alya tersenyum kecil, matanya yang indah penuh kehangatan.
"Terima kasih," ucap Alya dengan suara lembut namun jelas, nada penuh kesopanan yang tulus. Ia mengulurkan tangan memegang pinggiran pintu mobil sebentar sebelum melangkah keluar, sepatu hak tingginya menyentuh lantai dengan pelan.
Tony hanya membungkuk hormat, senyum tipis terukir di wajahnya yang sudah banyak melihat berbagai momen seperti ini. "Sama-sama, Non Alya."
Kini Arya dan Alya berjalan berdampingan menuju pintu masuk restoran. Langkah mereka selaras, seperti sepasang kekasih.
Arya sedikit memperlambat langkahnya agar Alya tak ketinggalan. Sesekali bahu mereka hampir bersentuhan, membuat jantung keduanya berdegub kencang.
Udara malam yang sejuk membawa aroma masakan mewah yang samar-samar keluar dari restoran, campuran antara steak panggang, truffle, dan rempah-rempah halus yang menggugah selera.
Begitu memasuki lobi restoran, suasana langsung berubah. Lampu kristal gantung yang megah menyinari ruangan dengan cahaya keemasan yang lembut. Lantai marmer mengkilap memantulkan bayangan mereka, sementara musik piano klasik mengalun pelan di latar belakang.
Beberapa pelayan berpakaian rapi segera menyambut dengan senyum profesional, namun tak ada yang berani terlalu dekat. Mereka sudah mengenal Arya sebagai tamu VIP yang selalu menginginkan privasi.
Arya mendekati meja resepsionis dengan langkah mantap. "Saya sudah reservasi. Private room" katanya dengan suara rendah dan tegas.
Pelayan wanita di balik meja langsung mengecek daftar reservasi, lalu tersenyum hormat. "Baik, tuan Arya. Kami sudah menyiapkan ruangan terbaik untuk anda. Silakan ikuti saya."
Mereka berdua mengikuti pelayan menyusuri koridor yang diterangi lampu dinding elegan. Dinding-dindingnya dihiasi lukisan-lukisan seni kontemporer yang mahal. Sesekali terdengar suara tawa samar dan denting gelas anggur dari ruang makan utama, tapi semakin mereka menjauh, semakin sunyi dan eksklusif suasananya.
Arya memang sengaja memesan private room. Ia bukan tipe orang yang suka urusan pribadinya menjadi konsumsi publik. Baginya, makan malam ini adalah momen untuknya dan Alya saja, tanpa tatapan penasaran orang lain, tanpa bisik-bisik, tanpa kamera ponsel yang tiba-tiba terarah. Hanya mereka berdua, di balik pintu kayu mahoni yang tebal, dikelilingi suasana mewah yang tenang.
Klek...
Ketika pintu private room terbuka, Alya tak bisa menahan decakan kagum kecil. Ruangan itu indah sekali. Meja makan bundar dari kayu jati yang dipoles sempurna, dikelilingi kursi-kursi empuk berlapis beludru. Sebuah chandelier kecil menggantung di atas meja, memberikan cahaya romantis. Di sudut ruangan ada sofa panjang dan vas bunga segar yang harum. Jendela kaca besar menghadap taman belakang restoran yang diterangi lampu taman, menciptakan pemandangan yang damai.
Arya menarik kursi untuk Alya dengan wajah datar. "Silakan duduk."
Alya tersenyum manis sambil duduk, gaunnya menyapu lantai dengan lembut. "Terima kasih, Arya. Tempatnya, luar biasa." Ucap Alya, memanggil Arya tanpa embel-embel tuan. Karena sebelumnya Arya telah menegurnya. Pria itu tidak suka di panggil tuan, jika sedang di luar ruangan.
Arya duduk di hadapannya, matanya tak lepas dari wajah Alya yang diterangi cahaya keemasan.
"Dimana Keysa?" Tanya Alya basa basi.
"Sedang dalam perjalanan" jawab Arya singkat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keysa yang duduk di kursi belakang sambil menggerutu kesal sepanjang jalan. Kedua tangan kecilnya didekap di dada, bibirnya manyun sampai bisa digantungin jemuran.
“Nda benal cekali papa itu! Macak Key di culuh jalan cendili ke lestolan! Untunglah pak Giman baik hati, nda akan culik-culik Key!” gerutunya keras-keras, suaranya nyaring memenuhi kabin mobil. Kakinya yang pendek menendang-nendang jok depan pelan, tapi tetap mengganggu.
Pak Giman, sopir keluarga yang sangat sabar, hanya tersenyum tipis sambil menyetir. Wajahnya yang sudah keriput karena sering menghadapi drama nona kecilnya ini terlihat tenang, meski dalam hati ia tertawa kecil.
Keysa melanjutkan curhatan panjangnya tanpa jeda, seperti radio yang rusak tombol off-nya.
“Papa itu cuka banget bikin Key kecal! Kalau ada yang culik Key, telus papa nangis dalah di lumah, nda guna! Oma juga nda mau antal Key, katanya capek, tapi kalau alican nda ada capeknya. Hmpf!”
Pak Giman mengangguk-angguk sambil menahan tawa. “Iya Non Key, sabar ya"
“Tapi lamaaaa banget sih, Pak!” Keysa membanting badannya ke belakang, dramatis sekali sampai kepalanya nyaris membentur jok. “Kapan campainya Pak Giman? Kenapa lama cekali cih? Papa ini juga nda pintal cali tempatnya, jauh cekali dali lumah! Kita udah mutel-mutel dali tadi, kayak olang lagi nyali duit jatuh di jalan!”
Pak Giman akhirnya tak tahan, terkekeh pelan. “Non Key, ini baru belok ketiga kali kok. Restorannya emang agak jauh, di pusat kota .
Keysa mendengus keras, matanya melotot ke jendela. “Key cudah kecal ini di culuh nunggu Cebental telus! Dari tadi cebental lagi, cebental lagi, Key udah capek, pelut Key udah bunyi kluyuk-kluyuk minta makan! Kalau lama banget gini, nanti Key minta tulun, pulang naik ojek aja!”
Pak Giman menggeleng-geleng kepala sambil tertawa. “Waduh Non, ojek online mana mau nerima penumpang kecil sendirian. Nanti yang disalahin Pak Giman. Sabar ya Non, sebentar lagi sampai kok.”
“Cebental telus, campai cetles kepala Key!” jerit Keysa sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan, pura-pura pusing berat.
Ia memutar-mutar kepala seperti orang mabuk kapal. “Kepala Key cudah mutel-mutel kayak bumi pas lagi keliling matahali! Pak Giman jangan ngebut ya. Eh, tapi jangan pelan-pelan juga. Key mau ketemu papa, mau malahin"
Pak Giman sekarang sudah terbahak-bahak di kursi depan. Bahunya berguncang menahan tawa. “Iya Non Key".
Keysa mengangguk-angguk puas, rambutnya yang dikuncir dua bergoyang-goyang.
Mobil akhirnya meluncur memasuki pelataran restoran bintang lima yang megah. Lampu-lampu gemerlap, pelayan berpakaian rapi, dan aroma makanan mewah langsung menyerbu hidung. Keysa yang tadinya manyun, langsung matanya berbinar-binar melihat restoran itu, tapi tetap pura-pura kesal.
“Udah campai ya Pak? Akhilnya… Key kila kita bakal mutel campai becok pagi,” katanya sambil melepas seatbelt dengan dramatis.
“Makacih ya Pak Giman, udah antal Key"
Pak Giman tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair. “Sama-sama nona Key"
Keysa turun dari mobil dengan langkah pongah, tangan kecilnya memegang tas lucu berbentuk kelinci. Dalam hati ia sudah mempersiapkan ceramah panjang untuk papanya. Tapi perutnya yang keroncongan membuatnya buru-buru ingin masuk.
Tony yang melihat anak bosnya langsung menghampirinya. "Nona kecil, mari om Tony antar" ucapnya sambil mengulurkan tangannya kehadapan Keysa.
Keysa mengangguk, dan menggenggam tangan Tony. Mereka berjalan menyusul ke privat room.