Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 11: Sidang Sebelah Pihak
Di dalam ruang kerja CEO yang mewah, Rendy duduk dengan angkuh di balik meja besarnya. Di sampingnya berdiri Soni yang memasang wajah penuh keprihatinan palsu, serta beberapa perwakilan dari dewan pengawas internal kantor daerah.
Begitu Aldi masuk, Rendy langsung melemparkan selembar kertas hasil cetak mutasi rekening ke atas meja.
"Jelaskan pada saya, Manajer Aldi! Apa maksud dari transaksi siluman sebesar dua ratus juta rupiah ini?!" gertak
Rendy dengan suara menggelegar, sengaja agar terdengar sampai ke luar ruangan di mana beberapa karyawan, termasuk Kirana, sedang menguping dengan cemas. "Dana yang seharusnya dikirim ke vendor logistik, justru masuk ke rekening pribadi yang tidak dikenal menggunakan token otorisasi mutlak milikmu!"
Aldi melangkah mendekati meja, melirik kertas tersebut tanpa menyentuhnya. "Token otorisasi saya memang berada di komputer saya, Pak Rendy. Namun sistem log data digital kantor pasti mencatat IP Address dan waktu tepatnya transaksi ini dilakukan. Apakah Anda sudah memeriksa rekaman CCTV ruangan saya pada jam transaksi tersebut?"
Rendy mendengus sinis, sudah mengantisipasi pertanyaan ini.
"Tidak perlu memeriksa CCTV kalau bukti digital sudah jelas mengarah padamu! Soni di sini bahkan bersaksi bahwa dia melihatmu terburu-buru menggunakan komputer sebelum jam makan siang dengan gelisah!"
Soni langsung mengangguk cepat dengan wajah dibuat seakurat mungkin. "Benar, Pak CEO. Saya melihat Pak Aldi sendiri yang mengoperasikan komputernya saat itu. Saya tidak menyangka Pak Aldi tega melakukan ini, mungkin... mungkin karena kebutuhan mendesak di rumahnya yang sedang banyak tagihan."
Mendengar nama 'tagihan rumah' disebut, Kirana yang mengintip dari balik celah pintu kaca yang sedikit terbuka langsung menutup mulutnya. Jantungnya berdegup kencang.
Apakah Mas Aldi benar-benar nekat mengambil uang kantor karena tekanan dari Mama dan Riko semalam? Karena aku yang menuntut status? Pikiran Kirana seketika kacau balau dihantam rasa bersalah yang teramat sangat.
Rendy berdiri, menatap Aldi dengan pandangan menghina yang penuh kemenangan. "Aldi Pratama, tindakanmu ini sudah memenuhi unsur pidana penggelapan dana perusahaan.
Namun, karena saya masih menghargai Kirana sebagai karyawan di sini, saya tidak akan melaporkanmu ke polisi... dengan satu syarat."
Rendy menjatuhkan sebuah surat di depan Aldi.
"Tandatangani surat demosi dan skorsing ini. Jabatanmu sebagai manajer resmi dicabut per hari ini, dan kamu diturunkan menjadi staf biasa di divisi logistik gudang belakang dengan pemotongan gaji sebesar tujuh puluh persen untuk mengganti rugi. Jika tidak, besok kamu akan memakai baju tahanan oranye."
Suasana ruangan mendadak hening. Semua orang menunggu reaksi Aldi yang mereka kira akan berlutut menangis memohon belas kasihan.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Aldi menatap surat itu, lalu perlahan tatapannya beralih pada Rendy. Bibir Aldi perlahan melengkung, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat dingin—sebuah senyuman dari seorang penguasa yang sedang melihat badut menari di atas panggungnya.
"Gudang belakang, ya?" ucap Aldi, suaranya terdengar sangat santai namun mengirimkan sensasi merinding yang aneh ke punggung Rendy. Aldi mengambil pulpen di meja, lalu dengan cepat menandatangani surat tersebut tanpa ragu sedikit pun. "Baik. Saya terima keputusan ini, Pak Rendy.
Nikmatilah kemenangan kecil Anda minggu ini, karena petualangan Anda sebagai CEO di perusahaan milik keluarga saya... tidak akan bertahan lama."
Rendy mengerutkan dahi, merasa tersinggung sekaligus bingung dengan kalimat terakhir Aldi. "Apa katamu?!
Perusahaan keluarga apa?! Dasar stres! Ambil barang-barangmu dan keluar dari ruangan saya sekarang juga!"
Aldi berbalik badan dengan langkah tegap, sama sekali tidak terlihat seperti seorang pria yang baru saja hancur karier jabatannya. Dia melangkah keluar ruangan, melewati Kirana yang menatapnya dengan air mata yang mengalir deras, tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya tersebut.