Kehidupanku berakhir saat ditikam tunangan dan adik tiriku sendiri.
Tapi saat aku membuka mata, aku ber Reinkarnasi menjadi Ratu es putri yang dibuang keluarga kerajaan karena "tidak punya kekuatan".
Apes? Enggak. Karena aku membawa [Sistem Es Dewa].
Misi: Selamat, Balas Dendam, dan Jadi Ratu!
Keluarga yang mengusirku? Tunggu saat aku membekukan kerajaan kalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PESAN BERDARAH UNTUK SANG PANGERAN
Darah segar dari para ksatria yang tewas mengalir di atas salju, namun sebelum sempat merembes ke dalam tanah, cairan merah itu langsung membeku menjadi kristal-kristal es berwarna merah delima. Di tengah badai yang kembali mengamuk, lima patung es ksatria elit berdiri kaku dengan ekspresi wajah yang dipenuhi ketakutan luar biasa.
Aku melangkah mendekati tubuh sang Kapten Ksatria yang sudah tidak bernyawa. Di jemari tangan kanannya yang membeku, ia memegang sebuah kotak beludru kecil. Aku mengambil kotak itu, membukanya, dan melihat sebuah cincin perak berhiaskan permata safir biru laut.
Itu adalah cincin pertunanganku dengan Julian. Cincin yang dulu kupikir adalah simbol cinta sejati, namun ternyata hanyalah rantai pengikat agar aku bisa dimanfaatkan sebelum akhirnya dibuang seperti sampah.
"Cincin yang cantik," bisikku, seulas senyum sinis terukir di bibirku.
Aku meletakkan cincin itu di telapak tanganku, lalu perlahan mengepalkan jemariku. Energi Fisik Es Dewa mengalir dari telapak tanganku, memicu tekanan ekstrem yang langsung membekukan safir tersebut hingga warnanya memudar menjadi putih pucat.
KRETEK... PRANG!
Dengan satu remasan ringan, cincin perak dan permata safir itu hancur total menjadi bubuk kristal halus yang berhamburan ditiup angin badai.
"Hubungan kita sudah berakhir sejak belati itu menembus dadaku, Julian," gumamku sambil mengibaskan sisa debu cincin dari tanganku.
"Sekarang, giliranmu yang akan hancur menjadi debu."
[DING!]
[Pemberitahuan Sistem: Tuan Rumah telah mengeliminasi ancaman pertama secara sempurna. Sisa Poin Sistem saat ini: 520 Poin.]
[Misi Baru Diaktifkan: Teror Psikologis.]
[Tugas: Kirimkan pesan kematian kepada Kerajaan Silversnow untuk memicu kepanikan awal.]
[Hadiah Misi: 500 Poin Sistem & Pembukaan Toko Kategori: 'Pasukan Makhluk Es'.]
Melihat misi baru dari sistem, mataku berkilat penuh rencana kejam. Aku menatap kelima patung es di depanku. Menghancurkan mereka semua di sini adalah hal yang mudah, tapi membiarkan pihak kerajaan tahu apa yang terjadi secara perlahan akan jauh lebih menyenangkan.
Ketakutan yang merayap perlahan selalu lebih menyiksa daripada kematian yang instan.
Aku mengarahkan telapak tanganku ke salah satu patung es seorang ksatria muda yang posisinya paling belakang. Dia adalah satu-satunya ksatria yang tadi sempat memohon ampun sebelum tombak esku mengunci tubuhnya.
"Mencair," perintahku datar.
SHHH...
Lapisan es murni yang membungkus tubuh ksatria muda itu perlahan meleleh dan menguap ke udara. Begitu esnya menghilang, ksatria itu langsung jatuh terduduk di atas salju, terengah-engah dengan tubuh yang gemetar hebat akibat hipotermia akut dan rasa trauma yang mendalam. Matanya yang merah menatapku seolah-olah aku adalah reinkarnasi dari Dewa Kematian itu sendiri.
"A-Ampun... Ampun, Putri Elena... Tolong jangan bunuh saya..." ratapnya dengan suara serak, air matanya langsung membeku di pipinya yang pucat.
Aku berjalan mendekatinya, membiarkan ujung jubah putih sutraku menyapu salju di dekat wajahnya. Aku membungkuk sedikit, menatap lurus ke dalam manik matanya yang dipenuhi keputusasaan.
"Siapa namamu, Ksatria?" tanyaku dengan nada yang sangat lembut, namun justru terdengar seperti melodi kematian di telinganya.
"G-Gavin... Nama saya Gavin, Yang Mulia," jawabnya terbata-bata, tidak berani menatap mataku langsung.
"Baiklah, Gavin. Hari ini aku akan membiarkanmu hidup," ucapku.
Mendengar kata-kata itu, binar harapan muncul di mata Gavin, namun kata-kataku selanjutnya langsung menghempaskannya kembali ke dalam jurang ketakutan.
"Tapi hidupmu sekarang bukan lagi milikmu, melainkan milikku. Kamu adalah pembawa pesanku," aku meraih segenggam bubuk es dari cincin Julian yang hancur tadi, lalu meniupkannya ke arah dada Gavin.
ZAP!
Bubuk es itu masuk menembus zirah dan kulit Gavin, meninggalkan sebuah tanda tato berbentuk mawar es berwarna hitam tepat di atas jantungnya. Gavin berteriak kesakitan sesaat sebelum energi itu tenang kembali.
"Itu adalah Kutukan Es Jantung Dewa," jelasku sambil berdiri tegak kembali. "Jika kamu mencoba berbohong, atau jika kamu menolak menyampaikan pesanku kepada Julian, es di dalam dadamu akan membekukan jantungmu dari dalam hanya dalam hitungan satu detik. Kamu mengerti?"
Gavin mengangguk dengan sangat cepat, wajahnya kini benar-benar kehilangan seluruh warna kulitnya. "Saya mengerti! Saya akan melakukan apa pun yang Anda perintahkan, Yang Mulia!"
"Bagus. Kembalilah ke ibu kota Silversnow. Temui Julian dan Alicia di istana mereka. Katakan pada mereka bahwa Elena von Silversnow yang mereka buang ke Frozen Abyss menyapa mereka dari kedalaman neraka beku," aku tersenyum dingin. "Dan katakan pada mereka... hitung mundur kehancuran kerajaan mereka telah dimulai sejak hari ini."
"S-Siap, Yang Mulia Ratu Es!" Gavin langsung berdiri dengan sisa-sisa tenaganya, berbalik, dan berlari sekencang mungkin meninggalkan area hutan terlarang tanpa berani menengok ke belakang lagi.
[Misi 'Teror Psikologis' Berhasil Dimulai! Menunggu target menerima pesan.]
[Poin Sistem saat ini: 520 Poin. Direkomendasikan untuk meningkatkan pertahanan Istana Es sebelum serangan balasan dari kerajaan tiba.]
Melihat Gavin yang menghilang di balik kabut salju, aku membalikkan tubuhku untuk kembali ke gua. Frost, yang sejak tadi mengamati dari bahuku, akhirnya angkat bicara melalui telepati.
"Yang Mulia, anda membiarkan satu manusia itu hidup akan memicu kemarahan sang Raja. Berdasarkan ingatanku, Raja Silversnow adalah pria yang sangat sombong. Dia pasti akan mengirim pasukan yang lebih besar setelah mendengarkan pesan itu."
"Itulah yang kuharapkan, Frost," jawabku sambil melangkah dengan tenang menembus badai. "Biarkan mereka mengirim pasukan terbaik mereka ke hutan ini. Di dalam Frozen Abyss, akulah penguasanya. Setiap prajurit yang mereka kirim ke sini hanya akan berakhir menjadi tambahan pasukan untukku."
Begitu tiba kembali di dalam aula utama Istana Es Dewa, aku langsung duduk di atas tahta es abadi. Aku memanggil layar virtual sistem untuk mulai menggunakan 520 poin yang kupunya.
"Sistem, buka kategori 'Pasukan Makhluk Es' yang baru saja terbuka."
DING!
[Toko Sistem - Kategori: Pasukan Makhluk Es]
Frost Skeleton Soldier (Prajurit Tengkorak Es): Prajurit dasar yang terbuat dari es magis yang tidak bisa hancur oleh serangan fisik biasa. Harga: 10 Poin / Satuan.
Ice Gargoyle (Penjaga Langit Es): Makhluk bersayap batu es yang ahli dalam serangan udara dan pengintaian. Harga: 50 Poin / Satuan.
Frost Golem (Raksasa Es): Makhluk setinggi lima meter dengan pertahanan absolut, mampu menghancurkan barisan pertahanan musuh dalam sekali hantam. Harga: 150 Poin / Satuan.
Melihat daftar ini, aku tersenyum puas. Dengan kekuatan ini, aku benar-benar bisa membangun faksi militerku sendiri tanpa perlu mengandalkan manusia-manusia pengkhianat.
"Beli 2 ekor Frost Golem dan 20 ekor Frost Skeleton Soldier," perintahku.
[Pembelian Berhasil. Mengurangi 500 Poin. Sisa Poin: 20 Poin.]
[Memulai Pemanggilan Pasukan di Aula Istana...]
CRACK... CRACK... CRACK!
Lantai es di depan tahtaku retak secara masif. Dari dalam retakan tersebut, kabut dingin berwarna biru tua membubung tinggi. Perlahan-lahan, dua puluh kerangka yang seluruh tulangnya terbuat dari kristal es padat bangkit berdiri. Tangan mereka menggenggam pedang dan perisai yang terbuat dari es abadi. Mata mereka menyala dengan api mana berwarna biru redup.
Di belakang barisan tengkorak tersebut, dua sosok raksasa setinggi lima meter yang terbuat dari bongkahan es purba bangkit dengan bunyi deburan yang berat. Setiap gerakan dari Frost Golem itu memancarkan aura intimidasi yang sangat kuat.
DUM!
Secara serempak, dua puluh dua makhluk es tersebut berlutut di hadapan takhtaku, menundukkan kepala mereka sebagai tanda kepatuhan mutlak kepada Ratu Es mereka.
"Selamat datang di pasukanku," ujarku, suaraku menggema di seluruh aula istana yang megah. "Jaga setiap sudut Frozen Abyss. Hancurkan siapa saja yang berani melangkah masuk tanpa izin dariku."
Dengan istana yang kini terbentengi dan pasukan yang mulai terbentuk, aku kembali memejamkan mata untuk menyerap mana di sekitar tahta es. Rasa sakit dari masa lalu kini telah sepenuhnya bertransformasi menjadi bahan bakar ambisi yang membara.
Julian, Alicia, dan seluruh petinggi Kerajaan Silversnow... nikmatilah sisa hari-hari tenang kalian yang berharga. Karena saat badai esku benar-benar datang, tidak akan ada satu pun dari kalian yang tersisa.