Kota Mecha, pusat teknologi tercanggih di dunia, kini menjadi incaran kota-kota luar yang iri dan ingin menghancurkannya. Demi menjaga kedamaian, pemerintah dan perusahaan Mechabest mencari pahlawan generasi baru berhati mulia untuk menggantikan para pahlawan senior yang pensiun.
Kehidupan empat sahabat—Yasing, Maul, Alfian, dan Sahla—berubah drastis ketika agen rahasia mendatangi rumah mereka dan mengundang mereka mengikuti trial khusus. Berbekal Jam Perubah berkekuatan berbasis keahlian hewan, mereka harus bekerja sama menghadapi musuh, menguasai mode robot masing-masing, dan bertahan dari petualangan yang penuh aksi sekaligus aksi kekonyolan khas persahabatan mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Agen & Trial Mechabest
Suasana sore di Kota Mecha terasa tenang, tapi bagi Yasing, Maul, Alif, dan Sahla, sore itu berubah menjadi hari paling membingungkan sekaligus mengejutkan dalam hidup mereka.
Di rumah Yasing, cowok antusias itu lagi asyik main game sambil teriak-teriak sendiri di kamarnya. Tiba-tiba, ibunya memanggil dari lantai bawah dengan suara panik. Saat Yasing turun, dia mendapati seorang pria berjas hitam rapi dengan kacamata canggih berlogo lingkaran emas—logo khas organisasi Mechabest—sedang duduk anggun di ruang tamu.
Agen itu berdiri, menatap Yasing datar, lalu mengeluarkan sebuah dokumen berhologram.
"Selamat sore, Yasing. Saya agen dari organisasi Mechabest. Berdasarkan hasil analisis dan pemantauan khusus, kamu telah terpilih mengikuti trial untuk menjadi Mechabest pada tanggal 12 Mei mendatang. Harap hadir di kantor pusat Mechabest tepat pukul delapan pagi."
Yasing melongo. Matanya membelalak sampai hampir keluar. "Hah?! Gimana, Pak? Saya? Mechabest?! Beneran nih?! BUKAN PRANK KAN?!" teriak Yasing heboh sampai mengguncang bahu agen tersebut. Sang agen hanya mengangguk tenang sebelum pamit pergi begitu saja, meninggalkan Yasing yang melompat-lompat girang di ruang tamunya.
Kejadian serupa terjadi di rumah ketiga sahabatnya. Di rumah Maul, sang agen menyampaikan kalimat yang persis sama: "Kamu telah terpilih mengikuti trial untuk menjadi Mechabest..." Maul yang biasanya sok cool langsung terdiam kaku, pura-pura tidak kaget padahal dadanya berdebar kencang setengah mati.
Di rumah Alif, sang agen bahkan belum selesai bicara tapi Alif sudah menceramahi agen tersebut tentang teori cybernetic dan betapa cocoknya dia jadi pahlawan super. Sementara di rumah Sahla, cewek itu sempat mengira sang agen adalah penagih paket salah alamat, sebelum akhirnya berteriak histeris begitu mendengar kata 'Mechabest'.
Satu hal yang tidak mereka sadari: sang agen sama sekali tidak menyebutkan nama teman-teman mereka. Jadi, keempatnya sama sekali tidak tahu kalau mereka berempat sama-sama direkrut secara bersamaan!
Hari yang ditentukan pun tiba.
Pagi itu, area pusat Kota Mecha tampak sangat megah. Gedung Pusat Mechabest menjulang tinggi menembus awan, dipenuhi panel surya mengkilap dan lintasan flying-car di sekelilingnya.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti di area drop-off depan gedung. Yasing melangkah keluar dari mobil ayahnya dengan dada dibusungkan, merasa menjadi satu-satunya anak paling beruntung di seluruh Kota Mecha.
"Makasih ya, Yah! Anakmu ini sebentar lagi bakal jadi pahlawan terhebat!" pamit Yasing dengan rasa percaya diri membumbung tinggi.
Namun, baru tiga langkah berjalan menuju pintu kaca otomatis, mata Yasing menagkap tiga sosok yang sangat familiar sedang berdiri canggung di dekat tiang megah.
"Lho... Maul? Alif? Sahla?!" jerit Yasing kaget, suaranya sampai menggelegar di pelataran gedung.
Mendengar teriakan itu, Maul yang sedang berdiri sok gagah langsung menoleh. Alif dan Sahla pun ikut berbalik.
"Yasing?! Kok lu ada di sini?!" sahut Sahla heboh, matanya membelalak lebar. "Jangan bilang lu mau nyolong kabel di gedung Mechabest ya?!"
"Enak aja! Gua diundang trial Mechabest tahu!" balas Yasing tak mau kalah, menghampiri mereka dengan langkah lebar. "Lah, kalian sendiri ngapain pada ngumpul di sini?"
Alif membenarkan posisi kacamatanya, lalu tersenyum jumawa. "Heh, asal kalian tahu, kemarin ada agen rahasia datang ke rumah gua. Gua terpilih buat ikut trial pahlawan Mechabest! Lu pada pasti cuma mau nonton gua kan?"
"Dih! Pede amat lu, Alif! Gua juga diundang trial kali!" timpal Maul. Meskipun mukanya berusaha ditahan agar tetap cool, bibirnya cemberut karena merasa gengsinya tersaing. "Gua kira cuma gua doang anak terpilih di kota ini."
"Lah?! Sumpah demi apa kalian bertiga juga diundang?!" Sahla menutup mulutnya, tak percaya. "Gua kira agen kemarin itu bohong! Katanya gua terpilih, kok malah kalian bertiga ikut-ikutan sih? Gua padahal udah siap-siap mau ganti nama panggung jadi Sahla the Hero!"
Mereka berempat saling pandang. Rasa tidak percaya, bingung, sekaligus gembira bercampur aduk. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau empat sahabat yang kelakuannya sering bikin rusuh sekolah ini malah dipanggil barengan ke tempat paling bergengsi di Kota Mecha.
KLIK.
Pintu kaca raksasa di depan mereka terbuka secara otomatis. Asupan udara dingin beraroma teknologi segar menyapa wajah mereka. Di balik pintu, seorang wanita berpenampilan tegas, mengenakan jaket taktis berlogo Mechabest, berdiri sambil bersedekap dada.
"Selamat datang para calon Mechabest baru," ucap wanita itu dengan nada bersahabat namun berwibawa. "Perkenalkan nama gue Caca, kalian boleh manggil gue Teh Caca."
Yasing, Maul, Alif, dan Sahla langsung berdiri tegap bagaikan tentara baris-berbaris.
"Teh Caca..." bisik Alif pelan, terkagum-kagum melihat aura sang komandan.
"Gue yang bakal memandu kalian selama proses seleksi awal ini," lanjut Teh Caca sambil tersenyum tipis. "Jangan tegang gitu. Ikut gue sekarang, kita pergi ke ruangan trial."
Tanpa membuang waktu, Teh Caca berbalik dan berjalan memimpin jalan. Keempat sahabat itu mengekor di belakang dengan langkah berdebar-debar. Sepanjang lorong, mereka disuguhi pemandangan teknologi tingkat tinggi: robot-robot pembersih melayang, layar hologram berisi peta pertahanan kota, hingga beberapa jendela kaca tebal yang memperlihatkan lab laboratorium penelitian.
"Wah, gila... keren banget tempatnya," gumam Yasing berbinar-binar. Tangannya gatal ingin menyentuh semua tombol hologram di dinding.
"Sing, tangannya jaga ya. Nanti kalau lu pencet tombol kehancuran otomatis gimana? Kan repot gua harus menyelamatkan lu," celetuk Alif sok tahu.
"Mana ada tombol kayak gitu di lorong, Alif! Lu ngomong doang dipelihara," semprot Maul pelan, tetap menjaga pandangannya lurus ke depan agar terlihat keren di mata Teh Caca.
Sahla mendekat ke arah Yasing dan berbisik pelan, "Eh Sing, lu tau gak? Katanya kalau gagal di trial ini, kita bakal dijadiin bahan bakar mesin robot Mechabest lho. Gua denger dari gosip sepupu temennya tetangga gua!"
"Hah?! Beneran lu?!" Yasing langsung pucat seketika.
"Ngawur lu, Sahla! Jangan bikin hoaks di markas pahlawan!" sergah Maul cepat sebelum Yasing benar-benar panik.
Teh Caca yang berjalan di depan hanya terkekeh pelan mendengar perdebatan ajaib empat remaja di belakangnya. Dalam hati, sang komandan makin yakin kalau pilihan Opik dan Pasya tidak salah—anak-anak ini memang punya dinamika yang unik.
Mereka akhirnya sampai di depan sebuah pintu besi berukuran raksasa dengan tulisan melayang berpendar biru: SIMULATION & TRIAL ROOM 01.
BZZZZT!
Pintu besi itu bergeser ke atas. Ruangan di baliknya luar biasa luas, hampir seluas stadion sepak bola, namun dinding dan lantainya terbuat dari matriks kubus digital berwarna abu-abu gelap. Di bagian atas ruangan terdapat ruang observasi berlapis kaca tebal, di mana tampak Opik, Pasya, Clairine, dan Prof. Einstein sedang mengamati mereka dari jauh.
"Okey, dengar semuanya," suara Teh Caca menggelegar, menarik perhatian keempatnya. "Ruangan ini adalah arena simulasi interaktif. Di sini, kita bakal menguji apakah mental, fisik, dan kerja sama kalian layak untuk menerima Mechabest Watch—jam perubah khusus yang bakal jadi senjata utama kalian."
Teh Caca berjalan ke sebuah konsol di samping pintu dan memasukkan kode akses.
"Di trial ini, kalian enggak dipersenjatai apa-apa. Kalian cuma butuh otak, ketahanan fisik, dan kekompakan tim buat menyelesaikan tantangan yang bakal muncul di ruangan ini. Paham?"
"Paham, Teh!" jawab Yasing paling keras, semangatnya langsung terbakar kembali. "Bagi saya mah gampang! Mau musuh kayak gimana juga pasti saya hantam!"
"Sombongnya mulai..." gumam Maul sambil menggeleng-gelengkan kepala, walau dia sendiri mulai memasang kuda-kuda kokoh.
Alif menaikkan lengan bajunya, bergaya seolah-olah siap bertarung. "Tenang Teh Caca, saya sudah mempelajari secara teoritis seratus delapan puluh jurus bertahan hidup dari serangan simulasi!"
"Tapi prakteknya nanti lu paling belakang kan, Lif?" sindir Sahla tajam.
"Sssht! Jangan buka kartu dong, Sahla!" bisik Alif panik.
Teh Caca menekan tombol konfirmasi di layar. BEEP!
Seketika, seluruh lampu utama ruangan padam. Lantai matriks digital di bawah kaki mereka mulai bercahaya merah terang. Suara sirine peringatan bergema mendengung di seluruh penjuru ruangan.
[SISTEM SIMULASI DIAKTIFKAN. TINGKAT KESULITAN: UJI KELAYAKAN MECHABEST.]
Suara komputer bergaung dingin. Di tengah ruangan, matriks piksel merah mulai menumpuk dan membentuk empat sosok robot latihan berukuran tiga meter dengan lengan meriam dan cakar baja yang tampak sangat tajam.
"Selamat berjuang, calon pahlawan," ujar Teh Caca sambil mundur keluar ruangan. Pintu besi raksasa di belakangnya langsung tertutup rapat dan terkunci.
"Waduh... itu robotnya beneran?!" pekik Sahla yang refleks bersembunyi di balik tubuh bongsor Maul. "Bentuknya kok serem banget sih?! Katanya cuma tes biasa!"
Robot simulasi pertama melangkah maju, memancarkan garis laser merah dari matanya yang mengunci posisi Yasing. ROAAAR! Suara raungan sintetis menggema keras.
Yasing bukannya takut, justru malah menyeringai lebar. Matanya menyala penuh gairah persaingan. "Mantap! Ini baru namanya trial! Gua duluan yang habisin robot itu!"
"Jangan asal terjang, Yasing! Lihat polanya dulu!" teriak Maul memperingatkan, langsung bergerak maju menyamai posisi Yasing untuk pasang badan.
"Gua racik strateginya dari belakang!" seru Alif sambil mundur lima langkah ke belakang, padahal dia cuma bingung mau berbuat apa.
"Gua bagian menyemangati aja ya guys! Semangat Yasing! Semangat Maul!" tambah Sahla sambil ikutan mundur bersama Alif, gaya mager khasnya langsung kumat di saat kritis.
Di atas ruang observasi, Pasya yang memperhatikan lewat layar monitor tersenyum tipis sambil menyesap minumannya. "Kacau juga kombinasi bocah-bocah ini. Kita lihat aja, sejauh mana kebaikan hati dan keberanian mereka bisa nyatu pas situasi terjepit."
Ujian sejati bagi Yasing, Maul, Alif, dan Sahla untuk menjadi pahlawan pelindung Kota Mecha pun resmi dimulai!