NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

WAJAH MUSUH

Saat Ini

Di sebuah lesehan yang sederhana namun ramai pengunjungnya, Joe dan Arthur duduk berhadapan di meja kayu panjang. Meja di depan mereka penuh dengan piring berisi makanan yang baru saja datang — aroma ayam bakar, sup iga yang gurih, dan daging panggang yang lezat menguar memenuhi udara. Arthur yang sedari tadi sudah menahan lapar, langsung menyambar sendok dan garpu tanpa menunggu lebih lama lagi. Ia makan dengan sangat lahap, seakan belum makan berhari-hari. Joe hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya, lalu ikut mulai menikmati makanannya dengan tenang.

Sambil sesekali menyuap nasi, Joe mulai membuka pembicaraan dengan tiga pertanyaan yang sudah lama ia simpan di kepalanya.

"Hei, Arthur," panggilnya pelan namun jelas. "Ada tiga hal yang membuat gue heran sejak dulu. Pertama, kenapa loe tidak terlalu suka belajar bela diri saat kita dilatih bersama Paman Steven dulu? Padahal beliau sangat teliti dan tegas kepada kita berdua."

Arthur hanya mengunyah makanannya dengan cepat, menelan sekali teguk, namun tidak menjawab. Joe melanjutkan pertanyaannya.

"Kedua, kenapa loe tidak melanjutkan kuliah? Teman-teman seusia kita sedang sibuk belajar, sedangkan loe sepertinya hanya asyik makan dan tidur saja di rumah tanpa memikirkan masa depan," tanyanya sambil menggeleng pelan.

Dan pertanyaan ketiga yang paling membuat Joe bingung, ia ucapkan sambil menatap piring-piring di depan Arthur yang mulai kosong dengan cepat. "Dan yang paling gue tidak mengerti... bagaimana bisa steak, ayam bakar, dan sup iga milik loe habis sekaligus dalam sekejap mata? Gue bahkan belum sempat menghabiskan setengah porsi gue, sedangkan loe sudah menyapu bersih semuanya."

Arthur baru berhenti sejenak menggerakkan tangannya, mengusap mulut dengan punggung tangan, lalu tersenyum lebar tanpa rasa bersalah. "Pertanyaan ketiga saja yang gue jawab," ucapnya santai sambil kembali menyendok nasi. "Karena gue kelaparan, Joe. Perut gue sudah menunggu sejak siang tadi. Kalau soal yang lain... simpan dulu untuk nanti malam."

Joe hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya itu. Ia tahu betul sifat Arthur — kadang santai berlebihan, namun di balik itu semua, ia adalah orang yang paling bisa diandalkan saat dibutuhkan.

Suasana di meja itu perlahan berubah menjadi lebih serius. Joe meletakkan sendoknya perlahan, menatap wajah Arthur dengan tatapan yang tajam dan tegas.

"Sudah selesai makan," ucapnya pelan. "Sekarang kita bicara soal hal yang lebih penting."

Arthur pun ikut meletakkan alat makannya, menyeka mulut dengan serbet, lalu duduk tegak. Wajahnya yang tadi ceria kini berubah menjadi serius.

"Kita harus menyusun rencana," kata Joe rendah namun mantap. "Kita tidak bisa menyerang mereka semua sekaligus. Kita harus mendekati mereka satu per satu, mencari kelemahan masing-masing, lalu menjebak mereka dengan cara yang tepat."

Arthur mengangguk setuju. "Benar. Nanti malam sesampainya di rumah, gue akan mengakses jaringan data untuk mencari segala informasi tentang musuh-musuh Ayah loe. Siapa saja mereka, di mana tinggal, apa yang mereka lakukan, dan siapa orang-orang terdekat mereka. Setelah gue kumpulkan semua berkasnya, gue kirim lewat pesan chat ke loe."

Joe tersenyum tipis dan menggeleng pelan. "Tidak perlu dikirim," jawabnya. "Malam ini gue menginap di rumah loe. Lebih baik kita melihat dan menyusun rencana bersama langsung di sana."

Arthur mengangguk setuju. Mereka segera membayar tagihan makanannya, lalu berjalan pulang menuju rumahnya.

Malam semakin larut saat mereka tiba di rumah Arthur tepat pukul sembilan. Pintu terbuka, suasana di dalam rumah itu sunyi dan tenang — tempat yang sudah menjadi rumah kedua bagi Joe selama sepuluh tahun terakhir. Begitu masuk, Arthur langsung berjalan cepat menuju ruang kerjanya di bagian belakang untuk mengambil laptopnya. Sementara Joe berjalan santai dan duduk di sofa ruang tamu, menyandarkan punggungnya sambil menatap lantai dengan pandangan yang melamun.

Pikannya perlahan melayang kembali ke masa lalu — ke masa ketika ia baru berusia sepuluh tahun, saat Paman Steven melatihnya dengan keras di halaman belakang rumah ini. Bayangan hari-hari yang berat itu muncul kembali dengan jelas di benaknya.

"Kau harus bisa mengalahkanku, Joe," suara Paman Steven terdengar tegas dan keras dalam ingatannya. "Aku tidak melatih orang untuk menjadi pecundang. Tunjukkan padaku bahwa kau lebih kuat dari ini!"

Dan ia teringat dirinya yang dulu berlutut di atas tanah, menahan rasa sakit di perut setelah menerima tendangan keras dari Paman Steven. Ia meringis menahan nyeri, napasnya terengah-engah.

"Bisa minta waktu sebentar, Paman?" tanyanya dulu dengan suara lemah.

"Apakah musuhmu akan memberimu waktu istirahat? Tidak, kan? Ayo berdiri sekarang!" jawab Paman Steven tanpa belas kasih.

"Kenapa Paman harus melatihku sekeras ini?" tanyanya lagi dengan mata berkaca-kaca.

"Agar kau bisa menjalankan balas dendam yang diwariskan kepadamu. Agar kau bisa mengambil kembali apa yang menjadi hakmu. Dan yang paling penting — agar kau bisa melindungi dirimu sendiri di dunia yang kejam ini," jawab Paman Steven dulu, lalu tanpa memberi kesan istirahat sedikit pun, ia kembali menyerang.

"Oooooiiii, Joe!"

Suara keras dan nyaring tiba-tiba terdengar tepat di samping telinganya, menyadarkan Joe seketika dari lamunan masa lalunya. Ia menoleh dengan cepat dan melihat Arthur berdiri di depannya sambil tersenyum jahil.

"Melamun lagi, hah? Pikirkan apa loe? Cewek ya? Jangan bermimpi, siapa pula yang mau sama loe yang wajahnya selalu kaku begitu?" canda Arthur sambil tertawa kecil.

Joe mendengus kesal namun ikut tersenyum. "Brengsek! Loe kira gue gay? Cukup sudah bercandaanmu. Gimana? Sudah dapat informasinya?" tanyanya langsung kembali pada hal yang penting.

Arthur mengangkat bahu dengan santai. "Nanti sebentar lagi dapat. Tunggu saja. Gue ambil minuman dingin dan camilan di kulkas dulu, biar otak gue bisa bekerja lebih lancar," ucapnya sambil berbalik berjalan menuju dapur.

Tak lama kemudian Arthur kembali membawa dua gelas minuman dingin dan beberapa bungkus camilan. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di sebelah Joe dengan laptop di pangkuannya. Jari-jarinya bergerak cepat di atas papan ketik, sesekali berhenti sejenak menatap layar dengan teliti, lalu kembali mengetik.

Beberapa waktu berlalu dalam keheningan, hanya terdengar bunyi ketikan jari di atas papan ketik. Hingga akhirnya Arthur berhenti, menunjuk layar ke arah Joe, dan wajahnya berubah menjadi serius.

"Dapat," ucapnya singkat.

Di layar laptop itu tampak beberapa foto yang jelas. Joe mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih dekat. Foto pertama memperlihatkan sebuah keluarga yang berdiri di depan bangunan mewah — William dan Nisa, pemilik Loyalty Hotel, beserta anak laki-laki mereka yang bernama Billy. Foto kedua menampilkan pria bernama Jefry bersama istrinya yang masih muda, dan di samping mereka berdiri seorang pemuda — Alex, anak kandung Jefry.

Joe menatap kedua foto itu lekat-lekat. Ia tidak menyangka bahwa nama-nama yang selama ini dicari ternyata begitu dekat dan bahkan ia pernah berpapasan dengan anak-anak mereka tanpa menyadarinya. Namun perlahan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum yang dingin dan penuh keyakinan.

"Kelihatannya..." ucapnya pelan namun tegas, "ini bakal jauh lebih mudah dari yang gue kira."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!