NovelToon NovelToon
The Light We Found

The Light We Found

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: Tr_w

Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.

Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.

Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7

Setelah selesai dengan nasi gorengnya, pria itu pergi menemani gadis yang terlihat sangat bahagia tersebut untuk membeli donat lagi sebagai gantinya. Sayangnya, saat sampai di sana, penjual mengatakan bahwa donat tadi adalah donat terakhir dan sudah dibeli oleh pelanggan sebelumnya. Tirta pun semakin sedih mendengarnya. Ia hanya menunduk di belakang kursi roda milik pria itu.

Marchel Hernandez adalah nama pria yang tengah duduk di kursi roda tersebut. Pria yang dikenal dengan sikap kasar dan tidak pernah mau mengikuti ucapan orang lain selain kehendaknya sendiri. Lihatlah sekarang. Meski dirinya merasa telah kehilangan jati dirinya, kini ia malah sedang tawar-menawar dengan pedagang yang berdiri di hadapannya.

"Tidak bisa buatkan lagi hanya untuk gadis ini? Atau dia akan menangis seharian." Tawarnya dengan nada memerintah.

"Untuk bahannya sudah habis, Nak. Mungkin bisa datang lagi besok." ucap ibu itu dengan sedikit takut. Ia merasa seolah sedang diintimidasi dan dipaksa secara tidak langsung untuk membuatkannya.

"Sudahlah, besok aku akan datang lagi kemari. Setidaknya kalau kamu tidak melempar makananku, aku tidak akan kehilangan kesempatan untuk memakannya." Sindir gadis itu sambil terus menunduk.

Marchel menoleh ke belakang. Wajah sedih itu benar-benar mengganggu pikirannya.

"Tidak ada yang bisa menggantikan makanan itu? Kalau tidak, sepertinya dia tidak akan berhenti merengut."

"Mungkin lebih baik coba es krim ini saja, Nak. Ibu yakin kamu pasti suka." saran wanita itu ketika melihat wajah pria dingin di depannya. Entah mengapa, aura menakutkan itu terasa begitu melekat dan cocok dengannya.

"Berikan saja padanya." titahnya sembari menunjuk es krim yang dimaksud dengan tatapan matanya. Pria itu kemudian menoleh ke belakang. "Ambillah! Aku tidak mau membuang waktuku lebih lama denganmu."

Ucapan pedas itu tidak membuat gadis yang berdiri di belakangnya tersinggung. Padahal, sebenarnya Tirta adalah gadis yang mudah tersinggung oleh hal-hal kecil. Namun lihatlah sekarang. Ia bahkan tidak menggubris raut kesal di wajah Marchel.

"Terima kasih, Bu." ucapnya sembari menerima es krim yang ditawarkan.

Mereka kemudian menepi di pinggir lapangan, tepat di sisi jalan. Tirta duduk di kursi yang tersedia, sementara pria di kursi roda itu tampak memperhatikan wajah gadis di depannya dengan saksama.

Perlahan pandangannya hanyut begitu saja. Tanpa sadar, ternyata pria itu terpesona oleh wajah Tirta. Marchel merasa gadis itu tidak secantik wanita-wanita yang biasa ia temui. Namun ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, sesuatu yang membuatnya terus ingin memandang gadis itu.

"Ini, makanlah. Sekarang jangan dilempar lagi." ucap Tirta tiba-tiba sambil menyodorkan sendok berisi es krim.

Marchel yang terkejut hanya mengangkat sebelah alisnya, meminta penjelasan.

"Dari tadi kamu menatapku dengan wajah bak tembok itu. Pasti ingin meminta es krim ini, kan? Nih, aku mau berbagi sedikit sama kamu." katanya dengan polos, meski sebenarnya sedikit tidak rela berbagi.

"Saya bukan anak kecil sepertimu yang suka es krim seperti ini."

Meski sudah mendengar jawaban itu, Tirta tetap tidak menurunkan tangannya. Ia masih ingin pria itu benar-benar memakannya.

Mau tidak mau, Marchel akhirnya memajukan tubuhnya dan memakan satu suapan dari sendok yang disodorkan gadis itu. Setelahnya, ia kembali menyandarkan tubuh dengan wajah yang tetap dingin.

"Marchel..."

Panggilan seorang pria dari arah belakang membuat keduanya menoleh. Terlihat seorang pria bertubuh gagah dan tampan baru saja turun dari mobil hitam.

Keduanya menoleh dan mendapati pria itu berdiri sambil menautkan alis, seolah sedang memastikan bahwa pria di kursi roda itu benar-benar orang yang ia kenal.

"Ternyata benar kamu? Kamu masih di sini, padahal sekarang sudah hampir pukul tujuh pagi?" tanyanya dengan wajah syok sambil melirik jam di tangannya, seolah memastikan dirinya tidak salah lihat.

"Jangan banyak bicara. Bawa saya pulang sekarang."

Titah itu diucapkan sambil menarik topi yang sejak tadi menutupi sebagian wajahnya.

Tirta memperhatikan kedua orang yang tampaknya saling mengenal itu. Langit kini sudah memperlihatkan sinarnya, dan rupanya pria itu sama sekali tidak menyadarinya.

"Apa dia vampir yang tidak bisa keluar saat siang hari?"

Celetukan itu langsung memusatkan perhatian kedua pria di depannya.

Merasa ucapannya masuk akal, Tirta bangkit lalu berjongkok di depan Marchel.

Matanya menatap saksama pria brewok bertangan menawan itu. Tanpa izin, tangannya menyentuh dagu Marchel, seolah sedang mencari sesuatu.

Pria yang berdiri di samping mereka tampak terkejut. Ia pikir akan ada korban jiwa hari ini, dan salah satunya adalah gadis tersebut. Namun dirinya justru hampir pingsan saat melihat Marchel hanya diam dan membiarkan Tirta menyentuhnya sambil balik memperhatikan wajah gadis itu.

"Mana taringnya? Tidak ada taringnya." katanya lagi sambil terus mengamati wajah pria tampan itu. "Atau jangan-jangan dia seorang kriminal?"

Yang bertanya dia, yang terkejut juga dia sendiri. Hingga tanpa sadar tangannya malah memegang paha Marchel.

"Kalau saya vampir, sudah saya isap darahmu sejak pertama kali kita bertemu karena kamu hanya membawa sial di setiap pertemuan. Dan kalau saya seorang penjahat, kamu sudah mati saat ini juga karena terlalu lancang."

Suara dingin itu membuat Tirta merinding. Dengan kesadaran penuh, ia buru-buru berdiri hingga kepalanya membentur hidung mancung milik pria itu.

"Akh!"

Tentu saja Tirta yang memekik karena kepalanya terasa nyeri. Sementara Marchel menatap tajam sambil memegangi hidungnya yang kini ikut terasa sakit.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya pria yang sejak tadi hanya berdiri membeku di samping Marchel. Pasalnya, ia benar-benar seperti mati berdiri melihat tingkah keduanya yang jauh di luar ekspektasinya.

"Maaf..." ucap Tirta lirih. Rasanya ia memang sudah sangat menyusahkan.

"Tiada hari tanpa sial kalau sudah bertemu denganmu!"

"Siapa bilang? Aku ini gadis pembawa keberuntungan!"

"Beruntung, katamu? Lihat semua yang terjadi padaku. Masih kamu anggap beruntung?"

"Itu memang kamunya saja yang sial."

Gumaman itu terdengar sangat jelas hingga membuat Marchel ingin sekali mencekik gadis kurang ajar tersebut.

"Arga, pulang!"

"Baik!"

Arga segera mendorong kursi roda Marchel menuju mobil yang mereka bawa.

Melihat itu, Tirta hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh lalu berjalan ke arah berlawanan. Ia berharap mereka tidak akan bertemu lagi karena dirinya tidak mau terus dianggap pembawa sial.

Di dalam mobil mewah yang ditumpangi Marchel, Arga diam-diam melirik dari kaca spion.

"Katakan kalau ingin bertanya sesuatu."

Suara bariton itu membuat Arga sedikit terperanjat. Ya, meski sudah bersama pria itu selama belasan tahun, ia tetap saja merasa terintimidasi dan takut.

"Gadis itu?" tanyanya ragu. Ia bingung menyusun kata-kata agar tidak menyinggung, meski hanya sekadar bertanya.

"Bukan urusanmu."

"Baik."

Kami memang sepupu, tapi aura menyeramkan itu entah diwarisi dari siapa. Sekalinya dia bicara panjang, yang keluar dari mulutnya selalu saja ancaman. Apa gadis itu akan menjadi pengganti kakak iparku? Sepertinya aku harus menyelidikinya diam-diam.

"Jangan berbuat sesuatu yang membuatmu kehilangan nyawa dan pekerjaanmu sekaligus, Arga. Kamu masih sayang hidupmu, bukan?" tanya Marchel tiba-tiba. Sepertinya suasana hati pria itu sedang buruk hingga ancaman yang diberikannya terdengar semakin tidak masuk akal.

"Aku tidak bicara apa-apa."

Sahutnya gugup. Sungguh, rasanya ia benar-benar ingin pingsan saat ini.

"Kamu memang tidak bicara. Tapi kamu berpikir sesuatu. Dan itu hanya kamu yang tahu, bukan?" Arga langsung terdiam sambil mengatupkan kedua bibirnya. Ia memutuskan untuk mengubur semua pikirannya tadi dalam-dalam.

...****************...

💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!