Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.
Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.
Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Hera Seorang Simpanan!
Lampu kristal yang tergantung megah di langit-langit ballroom hotel bintang lima itu memantulkan cahaya ke segala arah, namun perhatian Jeslyn sepenuhnya teralihkan. Di sampingnya, tangan Keith masih betah melingkar di pinggangnya, seolah takut jika ia melepaskan sedetik saja, Jeslyn akan menghilang ditelan keramaian.
"Keith, bisa tidak tangannya sedikit longgar? Aku susah bernapas," bisik Jeslyn sambil melirik tajam suaminya itu.
Keith hanya menaikkan satu alisnya, tetap tidak bergeming. "Ini untuk memastikan kamu tidak terdorong oleh tamu lain, sayang. Kamu sedang hamil, ingat?"
Jeslyn hanya mendengus. Banyak alasan, batinnya. Jujur saja, meski ia sangat mencintai harta Keith yang berlimpah, ia merasa sedikit risih dengan sikap protektif pria itu yang berlebihan. Namun, tiba-tiba pandangannya tertuju pada satu sudut ruangan yang agak remang. Matanya membelalak. Di sana, seorang wanita dengan gaun merah menyala yang sangat ketat dan terbuka sedang bercumbu dengan pria berumur yang kepalanya sudah botak licin.
Tunggu... itu Hera? Jeslyn mengerjapkan matanya berulang kali. Tidak salah lagi, itu Hera, gadis yang selalu berakting miskin di depan Lucian.
"Keith, aku mau ke kamar mandi sebentar," ucap Jeslyn cepat.
"Aku temani," sahut Keith tanpa ragu.
"Nggak usah! Masa ke kamar mandi wanita diikuti pria?" tolak Jeslyn.
Keith menatapnya dengan tatapan datar namun penuh penekanan. "Tamu di sini banyak yang tidak kamu kenali. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Aku akan menunggu di depan pintu."
Jeslyn tidak punya pilihan. Pria ini sangat keras kepala jika sudah menyangkut keselamatannya. Mereka pun berjalan menuju lorong yang lebih sepi. Sesampainya di dekat pintu masuk area privat, Jeslyn menarik tangan Keith dan bersembunyi di balik pilar besar.
"Kenapa kita sembunyi?" bisik Keith, wajahnya tampak bingung.
"Dan mengapa kita mengintip mereka?"
"Diamlah, Keith! Lihat itu!" Jeslyn menunjuk ke arah pasangan yang sedang berciuman panas itu.
Keith mengintip, lalu ekspresinya berubah menjadi jijik. "Pemandangan yang tidak etis untuk disaksikan."
Tiba-tiba, Keith mendekatkan wajahnya ke tengkuk Jeslyn. Ia memberikan kecupan hangat di sana, membuat Jeslyn merinding hebat.
"Kenapa, hm? Apa kamu iri melihat mereka? Kalau kamu menginginkannya juga, katakan saja. Aku akan memberikannya secara suka rela di sini, atau mungkin di kamar hotel lantai atas."
"Keith! Diam!" bisik Jeslyn tajam, wajahnya memerah padam.
"Aku lagi serius, ini penting!"
Keith hanya terkekeh pelan, lalu menenggelamkan wajahnya di leher Jeslyn, memeluknya dari belakang dengan posesif. Jeslyn berusaha fokus, mengabaikan detak jantungnya sendiri yang tidak karuan akibat sentuhan Keith. Di depannya, pembicaraan Hera dan pria tua itu mulai terdengar cukup jelas.
"Sayang, jangan pelit dong. Berikan aku uang tambahan untuk bulan ini," suara Hera terdengar manja, namun sangat vulgar.
"Asalkan kamu memuaskan aku malam ini di ranjang, sepuluh juta lagi akan ku transfer," jawab pria tua botak itu dengan suara serak yang menjijikkan.
Jeslyn terbelalak. Astaga, jadi selama ini dia wanita simpanan? Dengan tangan gemetar namun sigap, Jeslyn mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam video dan foto aksi dua orang itu.
"Sialan," gumam Jeslyn pelan.
"Lucian bodoh sekali jika menganggap gadis ini malaikat."
"Wanita itu... bukankah dia teman sekolah Lucian?" tanya Keith, suaranya kini berubah serius, tidak lagi menggoda.
"Iya, dia Hera," jawab Jeslyn.
"Dia selalu minta uang ke Lucian dengan alasan biaya sekolah, padahal dia punya simpanan pria tua kaya!"
Pria tua itu terdengar tertawa kecil, suara desahannya membuat Jeslyn merasa mual.
"Kamu memang pintar memanipulasi anak muda itu, Hera. Benar-benar anak yang lugu dan mudah diperalat, bukan?"
"Itu karena dia bodoh, Sayang. Dia terlalu kasihan padaku. Dia pikir aku gadis miskin yang butuh perlindungan, padahal dia hanyalah ATM berjalan buatku," jawab Hera diiringi tawa renyah yang terdengar sangat jahat.
Jeslyn mengepalkan tangannya di balik ponsel. Beraninya dia, pikir Jeslyn. Jika saja Keith tidak memeluknya erat, mungkin ia sudah berlari ke depan dan menarik rambut gadis itu sampai lepas.
"Keith, apa di novel... maksudku, apa selama ini Hera punya rahasia segelintir ini?" bisik Jeslyn.
Keith menghela napas, dagunya masih bersandar di bahu istrinya. "Tidak ada catatan soal ini dalam laporan yang kuterima. Dia benar-benar pintar menutupi jejaknya. Tapi sekarang, kita punya bukti konkret."
"Aku harus memberikan ini pada Lucian. Dia harus tahu siapa Hera yang sebenarnya," ucap Jeslyn dengan nada gemetar karena marah.
"Jangan sekarang," sahut Keith tegas.
"Pesta ini masih berlangsung. Kita tidak ingin membuat keributan di sini. Kita kumpulkan semua buktinya, baru kita tunjukkan pada Lucian di waktu yang tepat agar dia tidak bisa membela gadis itu lagi."
Jeslyn terdiam sejenak, lalu mengangguk. Ia menyimpan ponselnya.
"Aku hanya tidak habis pikir. Mengapa dia harus menjadi simpanan? Apa dia tidak punya harga diri?"
"Beberapa orang memang lebih memilih jalan pintas demi uang," ujar Keith datar.
Ucapan Keith seolah menyindir pemilik tubuh dan dirinya yang tergila-gila pada harta, hanya saja Jeslyn berbeda dengan pemilik tubuh, Jeslyn tidak mau jual diri atau menjebak seorang pengusaha supaya dapat tunjangan hidup.
Keith perlahan melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Jeslyn. Ia menatap mata istrinya dengan dalam.
"Sudah cukup mengintipnya. Mari kita kembali ke pesta, atau aku akan mulai cemburu karena kamu menghabiskan terlalu banyak waktu memperhatikan pria tua botak itu daripada memperhatikan suamimu."
Jeslyn mencibir, namun ia akhirnya tersenyum. "Kamu bisa saja, Keith."
"Aku serius," bisik Keith.
"Aku akan melakukan apa pun untuk membuatmu merasa lebih berharga daripada gadis simpanan itu."
Mereka pun berjalan keluar dari area tersebut, kembali menuju keramaian ballroom. Jeslyn masih merasa emosi, namun ia merasa jauh lebih tenang setelah memiliki senjata di ponselnya. Malam ini, ia tidak hanya datang untuk menghadiri pesta, tapi ia baru saja mendapatkan kunci untuk membuka mata Lucian.
"Keith?" panggil Jeslyn saat mereka sudah kembali ke tengah keramaian.
"Ya?"
"Terima kasih sudah menemaniku tadi. Dan... maaf soal tadi."
Keith tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat jarang ia tunjukkan pada dunia luar.
"Apapun untukmu, Jeslyn. Tapi ingat, jangan pernah mencoba mengintip pria lain lagi, atau aku akan mengurung mu di kamar selamanya."
"Iya, iya, Tuan yang posesif," goda Jeslyn sambil tertawa.
Malam itu, di antara kilauan lampu dan suara musik yang elegan, Jeslyn tahu bahwa meskipun dunianya penuh dengan intrik, setidaknya ia tidak lagi menghadapinya sendirian. Ia memiliki Keith di sampingnya, dan mulai hari ini, ia juga punya rencana untuk melindungi Lucian dari gadis parasit bernama Hera. Takdir mungkin sudah tertulis di dalam buku novel itu, tapi Jeslyn baru saja memutuskan untuk merobek halamannya dan menuliskan akhir yang jauh lebih baik.
Bersambung...
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.