Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 6.
Alarm di kokpit berbunyi tajam.
BEEP! BEEP! BEEP!
Lampu peringatan berkedip merah di beberapa panel, pesawat simulasi berguncang hebat. Layar di depan mereka menampilkan langit malam yang dipenuhi awan tebal dan kilatan petir. Hujan deras menghantam kaca kokpit virtual.
“Altitude tiga puluh ribu kaki, sistem navigasi utama mati. Sistem cadangan tidak stabil, kalian masuk badai!“ Instruktur berbicara lewat interkom.
Seorang trainee yang menonton dari ruang kontrol berbisik pelan. “Ini level ujian lanjutan.“
“Bahkan trainee belum tentu bisa.“
Di dalam kokpit, Leya sudah memegang kontrol dengan kuat.
“Maintain attitude!“ Suara Leya tegas, tak ada nada panik.
Kaisar menatap panel instrumen, beberapa indikator berkedip tidak stabil. “Compass reading kacau!“
“Gunakan referensi manual!“ Perintah Leya dengan cepat.
Kaisar langsung menggeser tombol dengan cepat dan presisi, tak berapa lama pesawat kembali stabil. Namun tiba-tiba...
WARNING!
Lampu baru menyala.
TURBULANCE EKSTREM.
Pesawat simulasi terguncang keras, tubuh Leya sedikit terdorong ke depan tapi tangannya tetap stabil di kontrol.
“Kita keluar jalur!“ Kaisar menatap radar cuaca. “Badai menutup dua arah.“
“Cari celah." Leya menjawab dengan suara tenang.
Kaisar memperbesar tampilan radar, petir kembali menyambar di layar. Lalu ia menunjuk satu titik di peta. “Disini.“
Leya melihat cepat celah sempit itu, namun itu satu-satunya jalan. “Belok sepuluh derajat kiri.“
“Heading baru ... disetel.“ Kaisar langsung menyesuaikan navigasi manual.
Turbulensi masih mengguncang, namun arah mereka berubah. Beberapa trainee di ruangan kontrol mulai terlihat tegang.
“Kalau mereka salah hitungan, pesawat langsung masuk inti badai!“
Sementara Instruktur tetap diam sambil memerhatikan.
Di dalam kokpit, Leya masih berfokus penuh. “Speed stabil?“
“Altitude turun dua ratus kaki.“ Jawab Kaisar.
“Tarik sedikit.“ Leya kembali memberi arahan.
Kaisar mengangguk, pesawat kembali naik perlahan. Petir masih menyambar, tapi beberapa detik kemudian awan badai mulai menipis. Radar menunjukkan area yang lebih tenang.
“Kita berhasil keluar dari badai.“ Kaisar melirik ke arah Leya.
Pesawat akhirnya menembus sisi lain badai, layar di depan berubah menjadi langit malam yang lebih tenang. Alarm berhenti, kokpit kembali sunyi. Beberapa detik tak ada yang berbicara diantara keduanya.
Diluar ruang kontrol seseorang bertepuk tangan pelan, lalu yang lainnya juga ikut.
“Latihan selesai.“ Instruktur mematikan simulasi.
Layar kembali gelap, lampu simulator meredup. Leya melepas headset-nya lebih dulu, lalu ia bicara pada Kaisar. “Harusnya, bisa lebih cepat dari ini.“
“Kau serius?“ Kaisar tertawa, ia menoleh ke arah Leya. “Kita baru saja keluar dari badai simulasi level tinggi.“
Leya bangkit dari kursinya, “Itu baru latihan.“
Lalu wanita itu membuka pintu kokpit, sebelum keluar ia bicara lagi pada Kaisar. “Kalau ini pesawat sungguhan, aku sudah keluar dari badai tiga menit lebih cepat.“
Kaisar terdiam, lalu senyumnya muncul lagi. Bukan senyuman mengejek, lebih seperti mengagumi Leya dan semakin tertarik pada wanita itu. Pria itu berdiri dan mengikuti Leya keluar. Begitu mereka berdua keluar simulator, para trainee langsung melihat ke arah mereka. Beberapa dari para trainee itu tampak kagum, tapi ada juga yang terlihat kesal.
“Mereka terlalu sinkron.“ Salah satu trainee berbisik pelan.
“Iya, seolah sudah terbang bersama bertahun-tahun.“ Yang lain menimpali.
Kaisar berhenti di samping Leya, “Kerjasama yang buruk.
“Buruk?“ Leya melirik pria yang lebih muda darinya itu dengan tajam.
Kaisar mengangguk, “Karena kita tak bicara banyak.“
“Itu justru kerjasama yang bagus.“ Leya menjawab dingin.
Kaisar tertawa kecil. “Oke, kau menang.“
Saat mereka berjalan dari ruangan, seorang trainee tiba-tiba berdiri menghadang mereka. Pria itu tinggi dan terlihat kesal. Namanya Rafi, salah satu trainee terbaik sebelum Leya datang.
“Jangan terlalu percaya diri!“ Rafi menatap Leya dengan pandangan tajam.
Ruangan langsung sunyi.
“Apa maksudmu?“ Leya menatap Rafi dengan ekspresi datar, tapi nada suaranya terdengar dingin.
Rafi menyilangkan tangan, “Semua orang disini berlatih keras selama bertahun-tahun, lalu kau datang setelah enam tahun menghilang... dan langsung bertingkah seperti yang terbaik.“
Beberapa trainee terlihat sangat gugup, situasi mulai memanas.
“Kalau kau tidak suka padaku, buktikan saja di udara.“ Ucap Leya tak terintimidasi.
Rafi terlihat semakin kesal, tapi sebelum dia kembali bicara lagi, Kaisar tiba-tiba berbicara santai.
“Dia benar, daripada kau banyak bicara disini... “ Kaisar menatap Rafi dengan sinis. “Kenapa tidak kita buat latihan tanding?“
“Ide menarik.“ Instruktur yang tadi hanya diam saja, akhirnya berkata dari arah belakang mereka. Semua trainee termasuk Leya dan Kaisar menatap ke arah sang Instruktur.
Instruktur menatap ke arah Leya, Kaisar dan Rafi. “Besok, simulasi duel penerbangan!“
“Hah? Serius?!“ Para trainee langsung heboh.
“Tim Kataleya dan Kaisar, melawan tim Rafi dan pasangannya.“ Instruktur melanjutkan.
Ruangan dipenuhi bisikan, pertandingan seperti ini jarang terjadi.
Instruktur menutup tabletnya. “Kita lihat, siapa yang benar-benar layak berada di langit.“
Sementara itu, Kaisar menoleh sedikit ke arah Leya. “Sepertinya, kau baru saja mendapatkan musuh.“
“Aku tidak mencari musuh,“ Leya menjawab tenang, ia menatap Rafi dengan ekspresi dingin. “Tapi jika ada yang meragukan kemampuanku, aku tidak akan mundur.“
Kaisar tersenyum tipis, tiba-tiba saja akademi terasa jauh menarik baginya. Tempat yang biasanya membuatnya bosan itu, kini terasa berbeda sejak kehadiran Leya.
Besok akan ada duel pertama, dan semua orang menantikan satu hal. Siapa yang akan jatuh lebih dulu?
Sementara itu, Arkana baru saja tiba di bandara setelah penerbangannya dari Singapura. Begitu sampai di ruang kerjanya di maskapai, sebuah amplop resmi sudah menunggunya di atas meja... surat dari Pengadilan Agama.
Arkana membukanya dengan alis berkerut, beberapa detik kemudian wajahnya sontak berubah buruk. Rahangnya mengeras, tangannya mencengkram surat gugatan perceraian itu dengan amarah yang tertahan.
“Jadi kau benar-benar menggugatku, Leya...“ gumamnya dingin, kertas di tangannya hampir terlipat karena genggaman yang terlalu kuat. “Sialan...!“
tapi awas bikin gosip yg gak bener tentang Leya atau Kaisar, Bu wa bahaya untuk mu sendiri itu
kak author gx sxan di basmi aj si rafi ini ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭😁😁😁
krn di balik suami yg sukses pasti ad istri hebat yg berkorban ,,
bukan pelakor yg berkibar oleh angin sesaat ,,
saat angin berhenti ia akan mencoba trap berkibar dg cara apa aja Sekali pun dg cara yg kotor/Smile//Smile//Smile/